Adella Mahendra, gadis cantik dengan segudang prestasi. Kehidupannya bagaikan salah naik angkot, oper sana oper sini, pindah sana pindah sini.
Bagi sebagian orang, mungkin akan merasa senang jika berada di posisi Adel, tetapi tidak bagi Adel yang membuat dirinya harus di putar putar karena memiliki tiga orang tua yang sangat menyayanginya. Ditambah lagi dengan seseorang yang telah lama mencintainya dan begitu posesif terhadapnya.
Lanjut baca yuk, gimana jungkir baliknya Adel tetapi dengan sejuta pesona nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keseruan Pagi
"Pagi sayang" sapa Dokter Vikky yang tiba tiba sudah berada di samping Papi Surya
"Astagfirullah.....kaget aku" ucap Adel yang barusan keluar dari kamar mandi sambil mengelus dada "Untung penampakannya ganteng, kalau gak aku lempar pake handuk"
"Jangan galak galak sayang, cantiknya ilang ntar" goda Dokter Vikky
"Iya di gondol kucing"
"Sini maem dulu"
Adel mengeryitkan alisnya pasalnya ini masih jam 5 pagi, tetapi Dokter Vikky sudah membawa sarapan. Adel melihat Dokter Vikky membuka kotak bekal satu persatu, di sana ada dua buah kotak
"Dari Bunda, masakin spesial buat anak gadisnya"
"Bunda??? kapan Mas pulangnya?" Adel kaget karena tadi malam dia sempat terbangun dan menyelimuti Dokter tampan itu
"Jam 3 an mas pulang sayang, udah sini maem dulu, masih harus ke rumah Mamah kan?"
Adel mengangguk. Memang niatnya bangun pagi ke rumah dulu, karena harus ganti baju dan ambil buku pelajaran.
"Sini..." Dokter Vikky menepuk kursi di sampingnya di depan Papi Surya. Mereka kini duduk bertiga di sofa.
"Bubur?" tanya Adel
"Ini buat Papi, Papi belum boleh makan nasi, lambungnya belum sembuh betul, dan Papi gak boleh makan pedas dan minum kopi dulu"
Adel dan Papi Surya mengangguk, lalu Adel mengambil bubur dari tangan Dokter Vikky "Aku suapin ya Pi"
Sementara Dokter Vikky mengambil satu kotak lagi yang berisi nasi goreng seafood kesukaan Adel
"Akkk....maem sayang, mas suapin" tanpa sadar Adel membuka mulutnya
"Enak Mas, masakan Bunda Aira dari dulu memang enak, ah jadi kangen Bunda deh"
"Main aja Del, kamu juga belum kesana kan setelah pulang dari Jerman" ucap Papi Surya
"Iya Pi, tapi ntar kalau Papi dah pulang aku main, gak apa apa kan Mas?" Adel melirik ke arah Dokter Vikky
"Gak apa apa, Bunda tau kok kamu lagi jagain Papi, dan Bunda titip salam gak bisa jenguk Papi"
Adel menyuapi Papi Surya, dan begitu juga Dokter Vikky menyuapi Adel.
"Eh kok...." Adel mengambil kotak makan yang ada di tangan Dokter Vikky, lalu menyuapinya
"Gantian, mas juga belum maem, buka mulutnya dulu Pak Dokter"
Dokter Vikky dengan senangnya membuka mulutnya, dia tidak menyangkan gadis kecil dan manjanya bisa sehangat ini
"Jangan liatin aku terus, gak buat mas kenyang"
"Gak buat Mas kenyang tapi bisa buat Mas jatuh cinta"
~
Dokter Vikky mengantarkan Adel ke Sekolah, tetapi sebelumnya ke rumah Papah Ken untuk ganti seragam dan ambil buku pelajaran
"Mas turun dulu ya, aku buatin kopi" pinta Adel dengan manjanya, entah kenapa jika didekat Dokter Vikky, Adel sangat manja
"Tentu Han...."
"Assalamualaikum, Adel pulang" suara lantang Adel mengangetkan semua orang yang kini sedang duduk tenang untuk memulai sarapan
"Waalaikumsalam"
"Adel, sarapan dulu nak" Mam Delima menarik kursi di sebelahnya
Cup
Adel mengecup pipi Mam Delima "Udah sarapan, mau buat kopi dulu"
"Kopi?? tumben Adel minum kopi pagi pagi Mam?" tanya Kenza heran, karena setaunya Adel kalau pagi minum susu bukan minum kopi
Belum sempat rasa heran Kenza terjawab, sudah ada suara salam dari depan
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab semua nya dengan ekspresi terkejut melihat seseorang yang sudah berjalan dari pintu dan menghampiri meja makan
Dokter Vikky salim kepada Papah Kenzo dan Mamah Delima, dan juga tak lupa menyapa si kembar Kenzi dan Kenza
"Duduk Vik, kapan pulang?" tanya Papah Ken yang memang sudah tau jika Dokter Vikky sedang seminar di luar kota
"Kemarin Pah"
"Langsung nemuin Adel pastinya" ujar Kenza
"Tadinya sih iya, tapi ketemu sendiri ketika di Rumah Sakit"
"Oh pantes, Mam heran ruangan Surya jadi ruang inap khusus keluarga, rupanya ulah kamu nak" Mam Delima mengingat ingat kembali kemarin sore dirinya berkunjung ke Rumah Sakit
Dokter Vikky mengangguk "Papi Surya juga orang tua Vikky Mam"
"Ngobrol terus kapan mulai sarapannya" Adella menyahut dari dapur, dengan membawa segelas kopi untuk Dokter Vikky
"Minum dulu Pak Dokter" ucapnya manja "Aku ke atas dulu"
"Makasih Nyonya Vikky"
"Ehem....ehem...ehem.....romantisnya" ledek Kenza
"Loh Del,.kirain kopi untuk Papah loh"
"Kirain juga untuk Bang Kenzi"
"Hm....Pap dan Bang Ke sudah tiap hari aku buatin kopi, jadi jangan protes dan jangan ngiri"
Setelah mengucapkan itu, Adel langsung ke atas untuk ganti baju dan mengambil buku pelajaran
Di ruang makan, suasana tampak ramai dengan candaan yang mengarah ke Adel
"Diminum Kak kopinya" tawar Kenzi
"Adel gak bisa masak, tapi bisa buat kopi dan kopi buatannya enak" lanjut Kenzi lagi memuji Adel
"Oh ya, jadi penasaran" Dokter Vikky kemudian menyruput kopi buatan Adel, memang rasanya beda dengan racikan kopi kopi yang pernah dia minum
"Gimana Kak?" tanya Kenzi lagi
"Enak....beneran enak" jawab Dokter Vikky dengan kembali menyruput kopinya
"Enak gak enak tetep enak ya Kak, kan yang buat seseorang yang disayang" ledek Kenza
"Enggak Za, beneran ini enak banget, Kakak belum pernah minum kopi seenak ini, ini pas banget kopinya dan gulanya"
"Dan pas yang buatnya kan Pak Dokter?" teriak Adel dari atas, sengaja menggoda Dokter Vikky
"Tentu Honey"
"Kamu bener Vik, Papah aja kopinya minta dibuatin Adel, buatan Mam gak seenak buatan Adel"
"Hmmm....semua pada manja di rumah ini minta kopinya dibuatin ma aku Mas" Adel turun dari tangga kemudian berjalan menghampiri si mbok yang sudah membawa kan dia susu
"Makasih mbok"
"Pak Dokter hayuk berangkat, udah siang"
"Semuanya aku sekolah dulu ya"
Cup
Cup
Cup
Cup
Cup
Adel mencium pipi Mam Delima, Papah Kenzo, Bang Kenzi dan Kak Kenza, tapi khusus Mam Delima pipi kanan dan kiri
"Buat Mas mana Han?"
"Mas mau juga"
Cup
Adel mencium pipi kanan dan kiri Dokter Vikky tapi bukan dengan bibirnya, melainkan dengan tangannya. Sontak semua yang ada di meja makan tertawa melihat tingkah Adel dan juga Dokter Vikky
"Awas kamu han" bisik Dokter Vikky
"Belum muhrim Vik" ledek Papah Kenzo
"Ya udah gandeng aja kalau gitu" tanpa menunggu jawaban Adel, Dokter Vikky langsung menautkan jari jarinya dengan jari jari Adel, Adel juga tidak menolak, semakin erat dan nyaman saja.