NovelToon NovelToon
Wanita-wanita Suamiku

Wanita-wanita Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:302.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: d'nafray

Hati wanita mana yang tidak sakit saat mengetahui bukan satu-satunya wanita di hidup suaminya?
Tapi aku tidak akan menangis, aku akan membuat akulah satu-satunya wanita di hidup suamiku. Untuk pernikahanku, untuk anak-anakku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon d'nafray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Jangan Pergi

yang nebak bapaknya Hendra cibta sama Ibu Winda, sabar ya😊

tunggu saja scene dari bapaknya Hendra😉

sekarang ikuti perang dingin dulu ya

.

.

.

Ibu datang di hari kedua setelah kepulangan bayiku dari rumah sakit. Sorot matanya sedih, wajahnya tampak lelah. Ibu meminta maaf padaku karena sudah melibatkanku dalam permainan balas dendamnya tapi Ibu sangat bersyukur melihat putranya mendapatkan kebahagian bersamaku. Ibu meminta suamiku menalak Alina secepatnya.

Sebenarnya aku senang, tapi aku menahan diri untuk bersorak gembira. Sebagai wanita, aku bisa merasakan bagaimana perasaan Alina. Mencintai tanpa dicintai, menyakitkan. Bagaimana dia bisa bertahan begitu lama? Apalagi dengan kondisi penyakitnya.

"Kapan kamu akan bicara dengan Alina, Mas?" tanyaku.

Suamiku itu tampak tidak memikirkan status istri pertamanya sama sekali. Dia belum menemui Alina sejak pertemuan kami dengan Ibu waktu lalu bahkan dia selalu me-reject panggilan Alina. Berkali-kali istri pertama suamiku itu menghubungiku, memintaku agar suamiku mau menemuinya. Tapi tiap kali aku membahas hal tersebut, Mas Hendra acuh tak acuh.

"Apakah kamu memang tidak berniat mempertahankan kami, Mas?" tanyaku dengan penuh amarah.

Seketika Mas Hendra terhenyak menatapku. Dia membaringkan bayi kami di tempat tidur kemudian menghampiriku. "Apa yang kamu katakan?"

Aku menepis tanganya yang akan menggenggam tanganku dengan kasar. Entah kenapa hatiku sangat marah. Aku merasa dia memang tidak berniat mengakhiri semuanya.

Mas Hendra mengerang kesal. "Kenapa semuanya selalu menekanku?"

Aku terperangah menatapnya. Kemarahanku meningkat. "Kamu seolah menggantungkan status Alina."

"Apa salah Alina?" gumamnya.

Aku masih menatap suamiku tidak percaya. Air mataku menetes. "Kalau begitu lepaskan saja aku," ucapku lirih.

Tanpa mau mendengarnya lagi, aku keluar kamar. Hatiku sesak dipenuhi amarah. Ku hapus air mataku dengan cepat sebelum Kenzo dan Arka melihatnya. Kedua putraku itu tersenyum saat melihatku, membuatku ikut tersenyum.

"Mana adik?" tanya Arka.

"Lagi bobok, ditemani Ayah. Kalian mau temani adik juga?"

Kenzo dan Arka bersorak gembira. Mereka berjalan cepat memasuki kamarku. Ku tarik napas dalam-dalam untuk melegakan hatiku yang sesak.

Ya Allah, jangan uji aku lagi. Aku ingin semua kerumitan ini berakhir.

Ku langkahkan kakiku ke arah taman bagian samping rumah. Aku ingat, dulu jika Mama merasa sedih mengingat Papa yang telah pergi, Mama selalu pergi ke taman ini. Mama selalu menatap bunga-bunga yang ditanam Papa kemudian menangis.

Ma, apakah Mama sudah bertemu dengan Papa? batinku sambil menghapus air mataku.

Aku masih memejamkan mata saat sepasang lengan memelukku erat dari belakang. Air mataku bertambah deras.

"Maaf. Bukan itu maksudku. Aku hanya kasihan padanya. Dia adikku. Aku belum siap menemuinya."

Mas Hendra membalik tubuhku dan memeluk erat. Hatiku masih marah, kecewa dan tentu saja sakit. Aku hanya membisu saat dia menghapus air mataku.

***

Keesokan harinya, Alina datang ke rumah. Saat anak-anakku ke sekolah dan suamiku pergi bekerja. Sepertinya dia memang memilih waktu yang tepat untuk mengobrol denganku.

"Sudah puas kamu membuatku jauh dari suamiku?" tanyanya dingin. "Aku tidak akan pernah rela Mas Hendra meninggalkanku. Mas Hendra tidak akan menceraikanku. Mas Hendra akan tetap jadi suamiku."

Bukannya cemas, aku malah malas mendengarnya. Terserahlah dia mau bilang apa.

"Kembalikan suamiku."

"Apakah kamu tidak lelah menunggunya? Mas Hendra mungkin menyayangimu, tapi itu tidak bisa mengubah perasaannya padamu."

Alina menatapku marah. "Kenapa? Kamu takut Mas Hendra mulai mencintaiku?"

"Sebenarnya aku juga sudah muak berada di lingkaran rumit ini, Alina tapi aku harus memperjuangkan hak anak-anakku. Mereka harus mendapatkan ayahnya. Aku tidak mau mereka kehilangana sosok ayahnya di usia mereka yang masih terlalu kecil."

"Fajar juga butuh ayahnya." Suara Alina melengking tidak terima.

"Fajar bukan anak kandung Mas Hendra. Sebenarnya Fajar juga bukan prioritas Mas Hendra."

"Fajar anakku. Itu artinya dia juga anak Mas Hendra."

"Benarkah?" tanyaku dengan tatapan sinis.

"Apa maksudmu?"

"Kasihan Fajar, jangan memanfaatkannya. Dia masih terlalu kecil untuk masuk dalam kerumitan ini."

"Kamu hanya takut, Rania."

"Apa yang harus ku takuti? Aku tahu sebenarnya Mas Hendra lebih mencintaiku dan anak-anak kandungnya." Aku menekankan kata anak-anak kandungnya agar Alina semakin geram. "Dia hanya belum siap menyampaikannya padamu. Seharusnya kamu lebih tahu diri. Jika kamu memang menganggap Mas Hendra kakakmu, kamu tidak akan memposisikannya seperti ini. Jika kamu memang mencintainya, jangan menyiksanya."

Napas Alina memburu. "Keterlaluan kamu, Rania. Mas Hendra tidak akan menceraikanku. Aku akan tetap menjadi istrinya."

"Ambil saja jika kamu bisa," ucapku kesal.

Sejenak aku melihatnya terkejut dengan jawabanku kemudian dia tersenyum sinis. Biarlah, aku lelah. Lebih baik aku fokus mengasuh bayi perempuanku dan memperhatikan dua jagoanku. Mengabaikan rasa sakit hatiku, mengatur emosionalku agar tidak memengaruhi produksi ASI-ku. Anak-anakku jauh lebih penting, terutama si bayi. Mau suamiku pulang terlambat atau tidak pulang sekalipun, terserah.

Seperti malam ini, suamiku baru pulang pukul sebelas malam. Jangan salahkan aku jika aku berburuk sangka padanya. Dia tidak mengabariku seharian ini dan aku ... Aku juga sudah malas mencari tahu. Entahlah, rasa kecewaku sudah menggunung.

Aku masih terjaga saat suamiku memasuki kamar sementara bayiku terlelap di tempat tidur box-nya. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Mas Hendra berbaring di sampingku. Dia memelukku dari belakang. Tubuhku tersentak merasakan panas yang menguar dari tubuhnya. Aku yang tadinya pura-pura tidur segera membalikkan badan dan memegang dahinya.

"Badan kamu panas banget, Mas," ucapku panik.

Mas Hendra hanya tersenyum dengan mata terpejam. "Akhirnya aku mendapat perhatianmu. Sudah dua minggu kamu diemin aku, sayang."

Aku menghela napas. Benar, sejak kedatangan Alina aku sudah mulai mengabaikan suamiku karena rasa marah dan kecewa yang ku pendam. Hanya di depan anak-anak saja aku bersikap seolah kami baik-baik saja. Padahal tidak ada komunikasi di antara kami. Lebih tepatnya, aku yang menutup diri dan mengabaikan semua perhatiannya.

"Kamu sudah makan?"

Mas Hendra hanya menggeleng. "Perutku sakit."

"Sudah minum obat?"

"Hanya kamu obatku."

Dasar dokter edan! Saat sakit begini masih juga bisa gombal!

"Aku buatin bubur dulu."

Mas Hendra mengerang. "Nggak usah. Aku hanya ingin istirahat. Boleh minta peluk?"

Hhh, baiklah, baiklah! Aku kembali berbaring dan membiarkannya memelukku erat. Tak lama kemudian ku dengar dengkuran halusnya.

Apa kami yang harus pergi, Mas? batinku sedih. Aku tidak mau melihat hati anak-anakku hancur jika mereka tahu ayahnya mempunyai dua istri.

"Maafkan aku, Rania. Maaf. Maaf."

Mas Hendra meracau dengan tubuh menggigil. Matanya masih terpejam dengan bibir yang pucat. Panas tubuhnya meningkat bahkan air mata keluar dari sudut matanya. Dia terus saja mengucapkan kata maaf untukku hingga aku menepuk pipinya agar dia bangun.

"Mas, ayo minum obat dulu."

Aku memaksanya bangun dan berusaha menyandarkan tubuh besarnya ke kepala ranjang. Setengah terpejam dia menatapku.

"Jangan pergi, Rania."

Aku melepas genggaman tangannya dengan paksa dan mengambil obat penurun demam di kotak obat. "Minum dulu obatnya." Dengan cepat aku memasukkan obat itu ke mulutnya dan membantunya minum.

"Jangan pergi."

"Istirahat."

"Jangan pergi."

Gemas sekali mendengar racauannya. Kalau sudah begini saja bilangnya jangan pergi. Waktu aku mendesaknya untuk melepas Alina, dia diam saja. Ku biarkan dia kembali memelukku erat dengan mulutnya yang masih meracau hingga berhenti sendiri. Mungkin obatnya sudah bekerja.

Aku menantapnya yang sudah terlelap. Kantung matanya menghitam. Wajah itu tampak lelah sekali. Apa yang sudah terjadi padanya dua minggu ini? Aku terlalu marah dan benar-benar mengabaikannya dua minggu ini. Setiap pagi aku hanya mengurus anak-anak, membiarkan dia menyiapkan keperluannya sendiri sebelum berangkat kerja. Di depan anak-anak dia menunjukkan sikap yang lebih manis, membuatku bertambah jengkel tapi aku menahannya. Berharap Kenzo dan Arka tidak mencurugai perang dinginku pada ayahnya.

Jika anak-anak sudah tidak di dekat kami, aku memilih menjauhinya. Aku tahu dia diam-diam menatapku sedih dan aku tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Salah sendiri tidak bisa memilih keputusan tegas.

***

Aku mempunyai dua bayi pagi ini, satu bayi mungil dan satu bayi besar. Untungnya bayi mungilku tidak rewel. Mulai subuh tadi Mas Hendra muntah-muntah dan masih demam. Jika kembali tidur, dia pasti meracau tidak karuan.

"Ran," panggilnya dengan suara serak. Matanya masih terpejam. Dia baru bangun setelah kembali tidur subuh tadi. "Ran."

Ku baringkan bayiku ke dalam box-nya. Dia sudah terlelap setelah menyusu.

"Haus?" tanyaku setelah aku duduk di tepi ranjang.

Mas Hendra mengangguk. Aku membantunya bangun dan bersandar ke kepala ranjang. Dia menghabiskan segelas air yang ku berikan.

"Makan ya, aku sudah buatin bubur tadi."

Begitu melihatnya mengangguk, aku segera bangun dan keluar kamar untuk menyiapkan sarapannya. Hatiku memang masih jengkel padanya tapi aku tidak bisa mengabaikannya dengan keadaan seperti itu. Dia hanya menatapku selama aku menyuapinya sampai membantunya minum obat.

"Istirahatlah, Mas."

Mata suamiku kembali terpejam setelah aku membaringkan tubuhnya. Dari ekor mataku aku bisa melihat ada sebuah panggilan di ponselnya yang diletakan di nakas. Ponselnya dalam keadaan silent, hanya layar ponselnya yang menyala.

Alina.

Mau apalagi dia?

Aku menolak panggilannya dan mematikan benda pipih itu. Biar saja dia marah. Semalam aku sudah berpikir, mengapa aku yang harus pergi? Mengapa bukan Alina saja? Jika suamiku belum siap menghadapinya, aku yang akan maju. Bukankah sebelumnya aku sudah yakin akan menghadapi badai itu. Anak-anakku harus mendapatkan ayahnya dengan utuh. Biarpun aku yang membuat Alina pergi.

-bersambung-

di part berikutnya ada drama😁

1
Kustri
salahmu sendiri menginginkan pasangan koq g sayang ama kita, nikmati aja cinta bertepuk sblh tanganmu hahaaa, dasar egois
Kustri
bodoh'a rania, sdh tau alina tak diinginkan hendra, jgn sok baik krn hatimu menolak, syukuri & jlni kebahagiaan dgn klgamu skrg

alina, terima aja krn hendra itu kan TERPAKSA menikahimu, SADAR dong

u/ elin, ceraikan stlh anak'a lahir & tes DNA
Kustri
temuilah si farhan klu rania milikmu, pengecut jgn dipelihara ndra! 😤
Kustri
1001 istri sesabar itu
Sondang Sartika Lumbanraja
Penyakit mu lalu jadikan alasan untuk menandakan cinta orang lain mampus lah kau
Sondang Sartika Lumbanraja
Keluarga Hendra semua nya egois pangeran Alina juga egois makanya bibit beber bobot itu perlu ya agar kejadian gini tak terjadi. kenapa Alina bisa seegois itu memaksakan cinta nya dengan alasan sakit nya bukan nya tobat dapat ujian sakit yg parah tapi malah menyakiti orang yg dicintai tapi itu Alina lakukan tidak lepas dari orang tuanya yg juga egois emaknya Alina menikah ama suami teman nya kannnn jadi emak nya ama Alina satu selver.semoga dapat karma nya kalian semua
Sondang Sartika Lumbanraja
bener suami mu milik mu pertahan kan krn aku sudah mengalami nya ku pertahan kan milikku
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
gk dilanjut nih?
Dian Wurijanti
ceritane mbulettokoh waniitaxbodoh banget gak msk akal
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
ditunggu extra part selanjutnya thor
BuDie: maaf, ide belum muncul, masih bagi waktu😁
total 1 replies
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
emng cafe mahal gk ada cctv gitu
enolla sorey
mmg blm tamat kan thor, penadaran siapa yg ditelepon mas Hendra yg minta di beri obat penenang....jgn2 Alina msh hidup y Thor???
BuDie: idenya belum fix😁
total 1 replies
Adyit Oleng
seru baget tor
Maria Magdalena Indarti
perasaan crita diulang2 lagi.
Maria Magdalena Indarti
flashback lg ya.
Maria Magdalena Indarti
Hendra harus tegas menceraikan Alina.
Maria Magdalena Indarti
critanya agak ruwet tp suami krg tegas sehingga jd bnyk masalah.
Tri Soen
Duuuuh Rania bisa gak ingat gitu yak 🤭😂 ditunggu Up selanjutnya ya
Tri Soen
Suka banget kalau Hendra lagi dimode cemburu ...ikutan ngakak nich 😀😂😂
Tri Soen
Udah tau Alina jahat masih aja dibela ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!