SQUEL TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Kisah tentang ketulusan ....
Dan sungguh setelah kesulitan terdapat kemudahan.
Sebuah peristiwa nahas mempertemukan dua sosok terpaut usia 20 tahun.
Keduanya patah hati dan merana sebab kehilangan orang tercinta. Hingga kekosongan itu saling melengkapi ...
Kebersamaan perlahan menumbuhkan benih-benih cinta itu ...
Rasa yang sekian lama seolah mati, kini memiliki tempat berlabuh.
Mampu kah hubungan itu mudah ditempuh?
"Setiap melihatmu aku seakan sedang melihat Dia ... Dan darimu aku kembali tau ada ekspresi wajah bernama senyum dan ada sebuah rasa bersama bahagia ...." (Dimas)
"Siapa sebetulnya pemilih wajah ini? Apakah ia begitu berarti untuk Om?" (Shofie)
Selain kisah kedua tokoh di atas, kisah anak-anak Dimas juga akan ditampilkan di sini❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERBINCANG
Shofi yang awalnya ragu mengikis rasa itu. Ia berfikir dan merasa tak ada alasan takut pada pria matang di hadapannya. Ia mengikuti langkah kaki itu hingga pintu kaca itu terbuka dan sebuah sofa terlihat di sana.
"Ayo sini!"
Dengan ragu Shofi mendekat, Dimas tampak duduk di sofa menepuk tempat kosong di sisinya. Shofi duduk dan menerima teh hangat yang disodorkan Dimas.
Sungguh setiap aktifitas Dimas menarik netra Shofi. Dimas meniup kemudian menyesap kopi itu dengan tenang, pandangan mata itu fokus pada cangkir di tangannya. Seketika wajah itu terangkat dan menangkap wajah Shofi yang menatapnya, Shofi tampak salah tingkah dan membuang wajahnya ke sembarang arah dengan cepat. Dimas tersenyum.
"Kenapa tidak diminum tehnya? Apa takut aku memasukkan sesuatu di dalamnya seperti di film-film itu?"
Bibir Shofi mengerucut, tentu tidak terlintas sedikit pun hal seperti itu di otaknya. Ia mendekatkan cangkir itu ke bibir setelahnya dan menyesap perlahan. "Manis!" spontan Shofi.
"Tentu manis, seperti yang meminum!" Dimas segera menyesap kembali kopinya dengan wajah biasa, ia tak sadar sedikit kata-kata manis itu telah membuat jantung Shofi seakan tak terkendali dan berdetak cepat menimbulkan desiran sesak.
Dimas meletakkan cangkirnya dan cangkir Shofi tak jauh dari sofa. Jemari itu dengan cepat menarik jemari Shofi dan menyapunya lembut. "Sering-seringlah menginap di sini agar aku tak kesepian!" lirih kata Dimas tak melepas tatapannya.
"Bahkan kita tau itu tidak baik!" ucap Shofi, Dimas tersenyum sambil mengangguk-angguk membenarkan kata Shofi.
"Semoga segalanya lekas beres dan aku bisa cepat meminangmu hingga kata tak baik itu akan berubah jadi baik!" Shofi kini yang tersenyum mendengar ucapan Dimas, bahkan tadi siang Dimas menggoda bahwa dirinyalah yang tak sabar melepas statusnya, namun nyatanya kini lelaki di hadapannya yang justru melontarkan ketidaksabaran itu.
"Untung masih ada pakaian yang kamu tinggal di sini, hingga bisa kamu pakai lagi dan tak harus bingung mencari pakaian ganti!" Dimas memperhatikan penampilan Shofi yang terbalut piyama atas bawah dengan bunga-bunga sakura menjadi lukisannya. Shofi mengangguk.
"Katakan, apa hari ini kamu merasa lelah? Keinginanku mengajak berbincang, apa mengganggumu?"
"Tidak!" Singkat Shofi yang sejujurnya juga senang berada di dekat Dimas.
"Hanya kata tidak? Kenapa kamu seolah tak banyak bicara? kemarilah!" Dimas menarik bahu itu hingga merapat di bahunya. Dimas meletakkan dagunya di bahu Shofi dan menghirup bahu itu setelahnya. "Harum," lirih Dimas di dekat telinga Shofi membuat hawa panas napas itu ia rasa dan desiran seketika membuat bulu di tubuhnya meremang.
"Mass ...." Shofi memajukan tubuhnya. Ia berfikir membahas apa sebaiknya untuk mengalihkan aktifitas lelaki di sampingnya.
"Kamu takut dekat denganku, hem?" tanya Dimas melihat perubahan sikap Shofi. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sandaran Sofa dengan sepasang lengan ia buka.
"Bukan be-gitu. Oh ya, Mas ... aku dengar dari Ira semenjak aku ke luar dari rumah ini Mas sering pulang larut. Boleh kutahu Mas ke mana?" Wajah itu menoleh menatap Dimas.
"Mencari secerah cahaya!" Dimas menarik alisnya ke atas menggoda Shofi.
"Maksud secercah cahaya a-pa? Mas tidak pergi ke tempat-tempat yang dilarang agama, kan? Tidak menghabiskan waktu dengan----- Ah tidak ma-af tentu Mas tidak akan seperti itu." Belum lagi tanya itu di jawab, Shofi memberi jawab sendiri atas asumsinya. Sesaat Shofi merasa bodoh dengan fikirnya.
"Kamu itu kenapa? Jangan berfikir macam-macam!" Lengan yang semula terbentang sudah berada di bahu Shofi dan menyapu lembut bahu itu.
"Andai Shofi tau bahwa selama ini aku sering berada di sekitaran kossannya, ahh ... Shofi tidak perlu tau ini. Bagaimana kekhawatiranku membiarkan ia hidup seorang diri!" batin Dimas.
"Ada apa, Mas?" ucap Shofi melihat kebungkaman Dimas.
"Bukan apa-apa! Kamu hanya perlu tau otakku masih waras dan bisa membentengi raga ini untuk tidak ke tempat yang tidak memberi manfaat untukku!"
"Lalu mas ke mana?" Shofi masih penasaran dengan ketidakgamblangan ucapan Dimas. Netra itu masih menatap lekat wajah Dimas mencari jawab.
"Mencarimu!"
"Hahh?"
"Aku bercanda, Sayang ...!" Wajah Shofi memerah saat kata sayang itu lolos dari bibir Dimas. Wajah itu tampak berbinar dengan rasa yang berusaha keras ia tutupi. Ego itu ada! Ia tak mau sebelum benar-benar sah, ia terus menampilkan seluruh rasa yang ia miliki.
"Hmm ... bagaimana jika sekarang ceritakan bagaimana Raihan atau Syafiq memasuki hatimu!" Dimas tampak serius dengan tanyanya.
"Maaf tapi aku sedang tak ingin membahas masa lalu!" lugas Shofi.
"Hmm ... oke! Atau ceritakan bagaimana pengalamanmu saat menjadi seorang dokter gigi!" Dimas berusaha tak masuk dalam ranah yang membuat Shofi tak nyaman.
Setelah terus menatap netra itu, Shofi akhirnya angkat bicara. "Menjadi dokter adalah cita-citaku! Aku rela bekerja ke sana ke mari untuk menutup biaya-biaya kuliahku yang selalu membuatku pening. Tapi aku bangga saat bisa mencapainya. Menjadi dokter gigi sungguh menyenangkanku, menyikapi banyak karakter manusia, sifat dan sosial yang berbeda. Yang paling aku sukai adalah saat menangani anak-anak kecil. Mereka lugu tanpa dosa, mereka kerap takut padaku awalnya, mereka akan bersembunyi di balik tubuh orang tuanya atau tetap menahan diri mematung di depan pintu menghindariku. Itu sebabnya aku memiliki banyak snack atau hadiah-hadiah kecil di ruang praktekku, cara merayu mereka." Shofi tersenyum dan melanjutkan katanya lagi.
"Sepertinya hanya itu yang bisa aku ceritakan, Mas! Cerita yang tak kudapati lagi di masa kini. Semua terkubur bersama jasad Karin yang menggantikan posisiku." Setelah sebelumnya raut berbinar ditangkap Dimas, kini raut pilu mewarnai wajah itu. Dan Dimas tak suka wajah itu bersedih. Ia seketika berusaha memperbaiki mood Shofi.
"Hemm ... ceritamu pasti mengandung modus!"
Shofi yang kaget dengan kata-kata Dimas menoleh. "Modus?"
"Jujur saja, inti dari semua ceritamu adalah kamu sudah sangat tak sabar memiliki anak bukan? Itu jelas sekali, Sayang! Setiap kali menceritakan pasien anak-anak itu wajahmu begitu berbinar. Benar bukan asumsiku?" ucap Dimas menangkup wajah Shofi. Kegetiran sebetulnya memenuhi otaknya tapi ia berusaha membuat Shofi ceria kembali. Dan betul saja wajah pilu Shofi seketika berubah menjadi raut malu atau lebih tepat menyangkal ucapan Dimas.
"Apa sih, Mas! Bukan begitu maksudku!" Shofi berusaha mengalihkan wajahnya namun jemari Dimas menahan rahang itu bergerak. Ia pindahkan sebelah tangannya ke puncak kepala Shofi dan menarik kepala itu masuk dalam dekapnya.
"Jangan bergerak! Tetap seperti ini!" lirih Dimas saat Shofi berusaha mengangkat wajahnya. Ia terpaksa menahan wajahnya di dada itu, dada yang harum dengan wangi khas yang Dimas miliki. Semakin erat jemari Dimas menahan tubuhnya, nyatanya semakin nyaman wajah itu bersandar di dada sang pria matang. Keduanya sama-sama terhanyut. Dimas berusaha menyamankan dan Shofi merasa ternyamankan.
Nyiur angin menyadarkan aktifitas keduanya. Shofi mendorong perlahan tubuh tegap itu, Dimas memahami. "Ma-af!" Shofi mengangguk.
"Aku akan ke kamarku!" Dimas masih menyapu bahu itu dan mengangguk setelahnya.
"Oh ya, Mas ... besok pagi jangan lupa Mas harus mengantarku ke kossan! Aku harus mengganti pakaianku sebelum ke Toko!" ucap Shofi menatap netra Dimas. Dimas tak melepas mata itu.
"Tunggu Shof!" ucap Dimas saat Shofi mengangkat tubuhnya.
"Besok kamu tidak akan ke Toko!" Mata Shofi membulat. "Tidak lagi?"
"Iya, ada seseorang yang harus kita temui esok!"
"Si-a-pa?"
"Fura!"
"Fu-ra?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
⛅Happy reading😘😘
⛅Banyakin komen biar mood Bubu On terus ya guys❤❤
makanya jadi orang jgn lemah gitu