⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Setuju
"Eh? Pacar Silvi pa?" tanyaku memastikan.
"Iya dong pacar kamu. Selama ini kan kamu ga pernah nyeritain pacar kamu," ucap papa sembari mengambil sesendok nasi.
"Iya juga. Selama ini kamu cuma ngasih tau kalau kamu punya pacar, mama juga penasaran pacar kamu itu orangnya gimana," ucap mama.
"Hm.. namanya Rendi. Dia sekarang sudah kelas 3."
"Kelas 3? Kalau gitu berarti dia lebih tua dong?" tanya mama. Aku mengangguk sembari menyuap sesendok nasi itu ke dalam mulutku.
"Terus? Dia orangnya gimana?" Kini giliran papa yang bertanya.
"Rendi itu baik banget, di sekolah dia itu ketua osis lho pah!" seruku.
"Oh ya? Bagus dong. Papa suka kalau gitu," ucap papa.
"Tapi pa! Awalnya Silvi pikir Rendi itu anak orang kaya. Soalnya di sekolah Rendi itu terkenal banget! Silvi gak nyangka Rendi itu orang yang biasa-biasa aja," ujarku.
"Biasa-biasa aja? Maksud kamu?!" tanya papa dengan sedikit menyergah. Mungkin ini hanya perasaanku, entah mengapa papa terlihat terkejut sesaat mendengar ceritaku. Meski begitu aku memilih untuk tidak menghiraukan hal itu dan hanya fokus terhadap ceritaku.
"Iya pah, Rendi itu cuma berasal dari keluarga biasa. Silvi pernah main ke rumah Rendi, rumahnya Rendi itu kecil banget kalau dibandingkan dengan rumah kita-"
Klang!
Aku tersentak kaget. Seketika aku pun menoleh ke arah papa. Papa baru saja menghentakkan sendoknya ke atas piring. Raut wajah yang papa tunjukkan tampak menyeramkan. Sorot mata papa yang tajam seolah-olah mampu menghancurkan meja makan.
Aku menelan ludah. Raut wajah papa yang sebelumnya hangat itu kini tak terlihat lagi di mataku. Papa terlihat serius. Pandangan papa kini hanya fokus terhadapku. Aku jadi mulai merasa takut.
Aku melirik ke arah mama. Aku ingin bertanya dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Apa yang terjadi pada papa? Kenapa papa tiba-tiba marah? Aku ingin menanyakan itu, tetapi mama justru terlihat kebingungan dengan situasi yang sedang terjadi saat ini.
Pandanganku beralih kembali ke papa. Dengan takut-takut, aku berusaha memaksakan pita suaraku untuk dapat mengeluarkan sepatah kata.
"Pa-papa, papa kenapa?" tanyaku ragu.
"Silvi, kamu bilang rumahnya itu kecil kalau dibandingkan dengan rumah kita kan?" tanya papa dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Aku bergidik ngeri. Papa terlihat serius. Senyuman yang sejak tadi terus ada di wajah papa kini telah sirna.
"I-iya, kamar Silvi aja kayaknya jauh lebih besar daripada rumah Rendi-"
BRAK
"Pa-papa?"
Papa memukul meja. Tiada senyuman atau pun suasana hangat yang terpancar dari raut wajah papa. Mama yang sejak tadi hanya diam melihat situasi kini pada akhirnya angkat bicara.
"Pa? Papa kenapa? Jangan gitu dong, anak kita kan jadi takut," ucap mama.
Pandangan papa beralih dariku ke mama. Mama tersenyum sembari menatap kedua mata papa. Papa menghela nafas panjang. Papa berusaha meredam emosinya yang sejak tadi ingin meledak-ledak.
"Hah.. Silvi sayang.. satu-satunya anak papa yang cantik.."
"I-iya pa?" sahutku.
"Papa ga mau kamu pacaran sama anak yang namanya Rendi itu."
Aku tersentak kaget. Apa papa baru saja berkata bahwa papa tidak merestui hubunganku dengan Rendi? Tapi mengapa? Bukankah tadi papa berkata bahwa dirinya menyukai Rendi?
"Lho? Kok gitu pa?" tanyaku.
"Kamu bilang dia cuma orang biasa kan? Anak itu ga pantas untuk bisa bersanding dengan keluarga kita yang termasuk golongan atas Silvi," ujar papa.
Papa lalu diam. Kening papa tampak mengerut. Aku tidak tau apakah ekspresi yang papa tunjukkan itu adalah sebuah kemarahan atau kekecewaan. Dadaku terasa sesak. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
"Cuma karna itu? Cuma karna Rendi bukan berasal dari keluarga kaya papa jadi ga suka sama Rendi?!" Tanpa sadar aku meninggikan suaraku.
Pikiranku kacau. Perasaan marah bercampur kekecewaan yang besar menyatu memenuhi diriku. Aku sungguh tidak terima dengan ucapan papa.
Aku menoleh ke arah mama. Berharap agar mama bisa berbicara dengan papa dan membujuk papa untuk bisa merestui hubunganku dengan Rendi. Namun yang aku temukan justru adalah mama yang tengah mengerutkan keningnya sembari menatapku. Jantungku berdegup kencang. Aku gelisah sekaligus tak percaya dengan apa yang aku lihat.
"Mama juga.. ga setuju kalau aku sama Rendi? Cuma karna Rendi itu bukan anak orang kaya? Huh! Silvi benci sama papa dan mama!"
BRAK
Tanpa sadar aku memukul meja makan. Aku bangkit dari dudukku dan langsung bergegas pergi saat itu juga. Aku benar-benar kesal! Aku tak percaya mama dan papa baru saja membuatku kecewa.
Sebenarnya apa pentingnya anak yang berasal dari keluarga kaya? Bagiku yang penting itu adalah orangnya! Bukan latar keluarganya! Apa gunanya anak yang berasal dari keluarga kaya jika aku tidak mencintainya? Orang yang kusukai dan kucintai hanyalah Rendi Seorang!
Kuhentakkan kakiku di setiap langkahku. Aku bisa merasakan tatapan yang mama dan papa tujukan padaku sesaat aku menaiki anak tangga. Namun aku lebih memilih untuk tidak menghiraukannya.
BRAK
Kubanting pintu kamarku dengan cukup keras. Tak lupa kukunci pintu kamarku. Aku tidak ingin jika mama sampai masuk ke kamarku. Nantinya mama pasti akan datang kemari untuk bisa membujukku. Aku tidak mau! Saat ini aku sedang tidak ingin melihat mama dan papa.
Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Kini aku hanya bisa menangis sembari memeluk bantal. Aku benar-benar marah dan kecewa. Namun aku juga merasa bingung dengan perasaanku sendiri.
"Huhu.. hiks.."
Tangisanku ini.. apakah aku sampai menangis begini karena hubunganku yang tidak direstui oleh mama dan papa? Atau karena diriku merasa tidak rela jika Rendi yang telah mengambil kesucianku ini akhirnya tidak bisa bersamaku?
Mama dan papa tidak tau apa-apa. Rendi sudah mendapatkan mahkota suciku yang berharga. Rendi harus bersamaku! Rendi harus menikahiku karena dia sudah merasakan tubuhku!
Ting
Ponselku berbunyi. Kulepas pelukanku dari bantal gulingku, lalu kuraih ponselku yang berada di atas meja. Aku berusaha untuk duduk sembari menyeka air mataku.
💬 Rendi : Kamu udah gapapa kan Sil? Apa masih sakit? Tadi kepala sekolah nelfon, beliau bilang aku bakalan jadi perwakilan sekolah untuk olimpiade matematika nanti.
"Pesan dari Rendi.." ucapku lirih.
Mataku sayu. Pasti saat ini mataku sudah memerah. Aku juga bisa merasakan hidungku yang sembab karena baru saja menangis.
Rendi ditunjuk oleh kepala sekolah secara langsung? Wah pacarku memang luar biasa!
Tanpa kusadari kini bibirku telah melengkung membentuk senyuman. Sosok Rendi yang sangat gembira sudah terbayang di benakku. Aku pun jadi ikut senang hanya dengan membayangkannya saja.