Aku ingin menjadi satu-satunya tempat pulang yang paling kau rindukan.
Untuk kita saling merawat dan membenahi kepingan hati yang hancur karena cinta masa lalu mu.
Aku adalah satu-satunya jiwa yang bahkan tidak memperdulikan tekanan batinku sendiri demi cinta yang telah ditakdirkan untukku.
Aku akan menaklukan hatimu, melepas lelah mu, mengukir tawamu, membuang duka mu.
Hingga kita bahagia.
Kisah ini mengisahkan pengorbanan seorang istri dalam meyakinkan hati suaminya. Berperang dengan masa lalunya. Dan menerima perjodohan yang telah di atur matang oleh kedua keluarga berketurunan Ningrat.
Sanggupkah seorang Roro Dwini Hadiningrat memperjuangkan cintanya...?
Mari, ikuti kisah ku.
Terima Kasih🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : MENERIMA KARMA
Berkali-kali Bimo membuang kasar cairan yang tanpa permisi keluar dari hidung mancungnya. Dan entah sudah tarikan tisue yang keberapa kali Bimo gunakan dengan geram untuk menghapus airmata penyesalannya.
"Cinta Dwini bahkan lebih besar dari pada Anin. Sungguh aku telah buta karena hal yang tidak jelas. Mengapa, aku tidak membuka hatiku sedikit saja untuk Dwini, saat ia masih di sini. Ada apa dengan aku. Bahkan Dwini lebih cantik, putih, mapan, pintar juga pandai merawat suami. Perawan lagi. Kenapa tidak aku coba saja terlebih dahulu, setelah kami sudah sah menjadi suami istri. Pasti tidak ada acara pemerkosaan segala, dasar sial." Umpat Bimo pada dirinya sendiri.
Bimo berulang-ulang menekan ponselnya untuk menghubungi istri cantiknya itu. Tetapi selalu jurusan yang anda tuju tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi. Hal itu mebuat pikiran Bimo melanglang buana tentang istrinya. Semua itu membuatnya susah tidur dan sangat merasa tidak enak.
"Mungkin ini adalah karma yang harus aku terima, karena telah menelantarkan istriku. Ini adalah dosa ku." Batin Bimo yang tiba-tiba malam itu membuka sajadahnya untuk melakukan tahajud di tengah malam buta.
Bimo memohon ampunan sekaligus memohon hidayah pada Allah SWT, untuk kelanjutan rumah tangganya yang ia rusak sendiri, karena ulahnya yang kekank-kanakan.
"Ya Allah, Engkau sebaik-baiknya Tuhan tempat ku memohon ampunan. Betapa ya Allah aku telah menyiakan karunia padaku, istri yang baik lagi salehah. Ampuni aku ya Tuhan, mohon petunjukmu ya Robb. Aku tidak ingin kehilangannya, aku ingin bertaubat. Bimbing aku di jalan keridhoan-Mu ya Allah. Lemah lembutkan hatinya, agar mampu memaafkan kesalahanku. Berikan aku kesempatan untuk mencintainya ya Allah... kali ini biar aku yang memohon padamu ya maha besar Allah, ijinkan aku memiliki hatinya. Jadikan aku satu-satunya lelaki yang kuat untuk tempat ia bersandar ya Allah. Engkau satu-satunya tempat ku mengadu, Ya Allahuakbar."
Betapa Bimo bersungut-sungut memohon pengampunan dari Tuhan agar istrinya memaafkannya kembali.
Tidak banyak yang bisa Bimo lakukan di desa ini, kecuali bekerja dan bekerja. Beraktivitas dengan warga desa juga sesekali ia lakukan, untuk menolak rasa jenuh dalam kesendiriannya.
Sebulan berlalu, istrinya tanpa kabar. Ponselnya masih tidak dapat di hubungi, dan ponsel Bimo pun tidak pernah ia hubungi.
Bimo mengartikan semua ini adalah bagian dari karma yang harus ia terima saja, sebagai hukuman atas perlakuannya pada istrinya.
Berkas kepindahan Bimo mendapat kelancaran, sedapat mungkin Bimo meyakinkan ibunya agar ayahnya pun menggunakan koneksinya agar ia bisa segera dapat di pindah ke Surabaya. Bimo tidak menutupi dari ibunya bahwa kini menantu kesayangannya tersebut sudah tinggal di Surabaya, namun tidak semua kisah rumah tangganya ia kisahkan pada ibunya.
Hanya Bimo mengatakan, Dwini terlanjur mendapat panggilan kerja di Surabaya sehingga ia di tuntut untuk mulai aktif bekerja di sana, dan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Di Surabaya.
Dwini sengaja tidak memberitahukan suaminya jika kini ia telah memiliki ponsel dan nomor yang baru untuk menghindar suaminya.
Untuk pekerjaan, Dwini kini memang telah mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan swasta pada divisi HRD.
Bukan perkara yang sulit bagi seorang Dwini yang memang telah memiliki pengalaman kerja serta berijazah yang tinggi untuk memiliki pekejaaan baru.
Diam-diam Dwini juga membeli sebuah mobil mewah. Menurutnya, ini saatnya untuk mencintai dirinya sendiri. Sekuat-kuatnya kita mengharapkan orang lain mencintai kita, yang bisa saja berujung kecewa yang mendalam seperti pengalamannya. Diri kita sendirilah yang paling berhak memberi cinta pada diri sendiri.
Di perusahaan Dwini langsung menjadi sebuah tranding topic. Tentu saja karena kecantikannya juga penampilannya yang sangat fashionable.
Dwini memang tidak pernah menggunakan pakaian di atas lutut, ia kerap kali menggunakan rok sebetis di bawah lutut, tetapi pakaian slimfit itu tentu saja tidak dapat mengingkari betapa pakaian itu hanya mengelabui dan menutup guratan sexy tubuh wanita yang berstatus sudah menikah pada KTPnya itu.
Dwini di terima di perusahaan itu, melewati proses lamaran yang tidak sebentar, dan melewati beberapa interview beberapa kali. Sehingga di perusahaan tersebut ia sama sekali tidak memiliki koneksi atau orang dalam yang ia kenal sebelumnya.
Ia murni di terima karena hasil nilai tertinggi, dan itu sangat terpampang nyata pada papan pengumuman yang selalu update pada perusahaan tersebut.
Menjadi karyawan baru membuat Dwini lebih berhati-hati lagi dalam berbicara dan memilih teman. Bagaimanapun ia adalah seorang istri seorang perwira dan anak seorang jendral. Bahwa ia selalu harus menjaga nama baik ayah dan suaminya.
Lagi pula ia adalah wanita yang sudah menikah bukan seorang janda, sehingga ia memilih untuk tidak membina hubungan akrab pada lawan jenis.
There adalah salah satu karyawan yang terlihat cuek dan acuh tak acuh dengan orang lain. Justru, Dwini merasa butuh orang seperti itu untuk menjadi temannya.
Untuk meminimalisir segala bentuk gosip atau semacamnya, namun di tempat kerja harus tetap memiliki seseorang yang ia percayai, jika suatu saat ia akan mengalami kesulitan.
"Hai...perkenalkan namaku Roro Dwini Hadiningrat. Panggil saja Dwini. Boleh berteman dengan mu?" sapa Dwini lebih dahulu pada seorang gadis berkacamata besar berbingkai hitam, yang duduk di sebelah meja kerjanya.
"Oh... saya There Thilia Saroh. Panggil saja There. Terima kasih mau berteman denganku." Jawabnya dengan senyum lebar menampilkan giginya yang berpagar tebal itu. Hampir mirip Beti La Pea.
"Sudah lama bekerja di sini The...?" tanya Dwini memulai obrolan di waktu istirahat mereka dan suasana perusahaan itu tampak sepi.
"Sudah 2 tahun. Kak...maaf apa aku boleh memanggilmu kakak? Karena maaf sepertinya kakak adalah wanita dewasa."
Ujar There tanpa saringan.
"Silahkan, aku tidak hanya dewasa, tetapi memang sudah tua, usiaku tahun depan adalah 30 tahun. Dan kamu, tentu masih sangat muda belia...?" tanya Dwini pada gadis di depannya itu.
"Hihi... ia Kak Dwini. Sebenarnya aku tidak muda belia seperti yang kakak bilang, usiaku sudah 27 tahun. Mungkin karena penampilanku yang imut ini membuat aku terlihat seperti masih sangat muda." Jawabnya dengan penuh percaya diri.
"OMG...mahkluk aneh apalagi ini." Batin Dwini dalam hati. ternyaa anak ni selaian culun juga memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi, pantas saja ia seperti tidak punya teman di divisi ini.
"Mengapa ruangan ini sepi, kemana yang lain?" tanya Dwini pada There.
"Ini jam makan siang, biasanya mereka bersama sama makan di kantin belakang di lantai dasar. Kakak tidak makan siang?" tanya There.
"Tidak, aku jarang makan makanan luar, aku terbiasa membawa bekal The. Kamu mau makan di kantin juga? Atau berbagi bekal ku?" tawar Dwini so akrab
"Wah... kita sama kak. Aku juga selalu membawa bekal ke kantor, karena penampilanku ini aku sering menjadi bahan tertawaan teman teman ketika aku berjalan. Kakak pasti belum lihat cara jalanku kan." Ucapnya seraya berdiri dan mulai berjalan maju mundur bak seorang peragawati.
Dan Dwini menutup mulutnya dengan kedua tangannya, terperanggah saat melihat There berjalan di hadapannya.
Bersambung...
*semua kesalahan suami diperjelas salah dan dibuat dicap kesalahan fatal dan harus dapat balasan dulu
tapi kesalahan istri malah dibenarkan dan dianggap bukan kesalahan
ini lah contoh pemikiran munafik wanita yang dibawa kedalam karya novel
dsini dengan pria lain ketemuan, berintrkasi sebagai teman yang fakta sudah sangat keterlaluan dianggap hal biasa
emang susah kalau pemikiran wanita egois dibawa kedalam novel