Hidup Kinan berubah ketika pergantian CEO terjadi di kantor ia bekerja. Walaupun ia hanya seorang office girl, namun CEO yang baru tampak tak menyukainya. Berbagai alasan dibuat sang CEO untuk membuat kerja Kinan menjadi sulit. Hingga pada saat ia melakukan kesalahan sepele namun berdampak hingga ia dipecat. Kebenciannya kepada sang CEO pun semakin menjadi.
Raditya Abhimanyu, CEO tampan dan (tentunya) kaya raya kembali pulang dari Amerika dan menjadi pimpinan perusahaan konstruksi besar milik ayahnya. Raditya adalah pria dingin yang "mati rasa". Segala hal bisa ia dapatkan membuatnya ingin mencari hal baru untuk hidupnya. Untuk itu ia memulai sebuah petualangan. Petualangan yang membuat ia mengetahui sebuah rahasia yang sangat penting untuk hidupnya.
Bagaimana pertemuan Raditya dan Kinan terjadi?
Apakah mereka berakhir saling jatuh cinta?
Ini novel romantis komedi pertama saya. Semoga banyak yang suka dan menikmatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armasita Wardhojo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HATI YANG LULUH
Kinan mengamati setiap sudut rumah yang sangat luas ini. Seorang pelayan menghidangkan teh hijau di cangkir yang terlihat mahal. Rangkaian bunga segar nan cantik menghiasi meja kayu di depan Kinan. Sudah 10 menit ia berada disini, namun ia masih sendiri.
Tadi pagi ketika ia hendak keluar rumah sepulang dari hotel, dua orang laki-laki datang kerumahnya. Mereka bilang, mereka suruhan Bu Merliana. Kinan akhirnya dibawa kerumah keluarga Abhimanyu oleh dua orang tadi. Entah apa yang akan dihadapi Kinan, namun ia tahu pasti, ini pasti tentang kejadian semalam. Ponsel Kinan tertinggal dirumahnya. Raditya pasti tengah bingung mencarinya.
Seorang pelayan datang menghampiri Kinan, ia membawa setelan blouse sifon berwarna kuning dan celana panjang berwarna putih. Dengan tersenyum pelayan itu berkata,
"Nona, Bu Merliana meminta Nona untuk memakai baju ini sekarang"
Kinan melihat penampilannya. Ia memang hanya menggunakan celana kain berwarna hitam dan kemeja putih. Ia memang hendak mengikuti interview kerja. Tapi apakah itu tak cukup sopan? memangnya kenapa ia harus berganti pakaian? Pertanyaan itu mengusik pikirannya, namun ia memilih untuk diam saja. Menuruti segala yang diperintahkan Bu Merliana.
Lima menit berselang, ia telah berganti pakaian. Seorang wanita berambut coklat dengan jambul tinggi menghampirinya.
"Nona, saya akan menata rambut dan merias wajah anda"
Kinan kembali menurut. Wanita itu bekerja dengan sangat terampil. Layaknya Make up artist ternama. Selagi Kinan sedang berdandan, seorang pelayan datang membawa sepasang sepatu berhak tinggi berwarna putih juga tas tangan berwarna senada. Ia lalu menatap Kinan dengan takjub.
"Nona, anda cantik sekali"
Kinan kini tengah bersiap. Ia kembali duduk di tempat semula. Dengan teh yang masih belum ia minum. Bu Merliana datang menghampirinya. Ia sontak berdiri.
"Apa kau tak suka teh hijau?" tanya Bu Merliana seketika melirik cangkir Kinan yang masih penuh.
"Saya hanya belum sempat meminumnya" jawab Kinan.
"Kau sudah sarapan?"
Kinan menggeleng pelan. Bu Merliana melihat jam dinding, pukul 10.15.
"Ayo kita makan terlebih dahulu. Hari ini jadwal kita akan sangat padat" ujarnya lalu menyuruh Kinan untuk mengikutinya.
...***...
Di dalam mobil yang sangat nyaman itu, Kinan masih membisu. Bu Merliana belum mengajaknya bicara sepatah katapun. Ia pun agak ragu untuk memulai pembicaraan. Ia bahkan tak tahu kemana mereka akan pergi. Dan entah kenapa sedari tadi ia hanya menuruti perintah Bu Merliana.
Mobil berhenti di sebuah restoran bergaya arsitektur China. Kinan mengernyitkan dahi, ia teringat sesuatu. Ini adalah restoran tempat ia dan Radit makan malam untuk pertama kalinya. Restoran dimana ia makan dengan gratis. Ini adalah restoran milik keluarga Raditya.
Bu Merliana masuk terlebih dahulu, disusul Kinan di belakangnya. Seorang pria paruh baya berjalan tergopoh menyongsong mereka.
"Nyonya, selamat datang. Maafkan saya terlambat menyapa" ujar pria itu.
"Tak apa Pak Ibnu. Tolong siapkan meja untuk dua orang" ucap Bu Merliana. Pak Ibnu menatap Kinan, ia pun seolah teringat sesuatu. Ia lalu menunjuk Kinan sembari membuka mulut seolah akan mengatakan sesuatu.
"Kenapa? Kau sudah bertemu calon menantuku sebelumnya?"
Kinan tercengang tak percaya mendengar ucapan Bu Merliana. Pak Ibnu yang mendengar itu tiba-tiba menunduk. Ia teringat janjinya pada Raditya untuk merahasiakannya saat itu.
"Mari saya antar ke meja, Nyonya!" ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Jantung Kinan berdegup kencang. Ia yang tadinya santai, entah kenapa sekarang berubah menjadi sangat gugup. Bu Merliana agaknya menyadari kecanggungan yang dirasakan Kinan. Ia mencoba untuk memulai pembicaraan.
"Kinan, maafkan aku" ucapnya dengan tegas namun elegan.
Kinan tak menjawab. Ia bingung kenapa tiba-tiba Bu Merliana meminta maaf kepadanya.
"Aku adalah wanita yang tak pernah makan mie instan dengan telur untuk sarapan. Aku tidak pernah menyetir mobil sendiri dan aku tak pernah mencuci baju seumur hidupku. Aku terlahir kaya raya hingga sekarang. Aku tak memahami kehidupan lain selain itu. Oleh karenanya aku tak bisa memahami kehidupanmu. Yang aku pahami adalah kita berbeda sangat jauh. Dan perbedaan ini kutakutkan akan merusak kehidupanku. Itulah yang membutakan nuraniku sebagai Ibu. Aku tega membiarkan Juliana berjuang sendirian hingga akhir hidupnya. Aku bahkan tak tahu ia menahan kesakitan ketika melahirkan. Aku adalah ibu yang jahat"
Bu Merliana tercekat. Seolah tak mampu lagi bersuara. Matanya mulai berkaca-kaca. Kinan yakin, wanita itu sedang menahan diri untuk tidak menangis. Namun dilihat dari sembab matanya, perempuan itu pasti menangis semalaman.
Hidangan datang. Pak Ibnu dibantu dua pelayan menyajikan makanan di atas meja. Perut Kinan keroncongan hanya dengan menghirup aroma lezat makanan di depannya.
"Aku juga berhutang banyak hal padamu. Aku ingin memberimu restoran ini untuk kau kelola" ucap Bu Merliana.
Pak Ibnu yang mendengar itu terkejut hingga mangkok yang dibawanya terjatuh dan tumpah diatas meja.
"Maaf..maafkan saya Nyonya!" ucap Pak Ibnu dengan gemetaran. Untunglah sup yang tumpah tak seberapa, jadi meja bisa dibersihkan hanya dengan mengelap saja.
"Oh iya Pak Ibnu, tolong bantu Kinan nanti ya"
"Baik Nyonya!" jawab Pak Ibnu sembari melirik Kinan.
Pak Ibnu beserta kedua pelayannya membungkuk sebelum meninggalkan Bu Merliana dan Kinan. Bu Merliana menyuapkan sup sirip hiu yang tadi sedikit ditumpahkan oleh Pak Ibnu.
"Entah kenapa aku bahkan makan sup yang sudah berantakan ini. Hatiku begitu sedih hingga aku tak bisa marah-marah"
"Kenapa anda melakukan ini?" tanya Kinan.
"Bicaralah santai denganku. Panggil aku Ibu"
"Saya minta maaf karena tidak bisa menepati janji saya untuk menjauhi Raditya"
"Tak apa. Kau melakukannya karena ingin menyelamatkan Shanju."
"Ibu tahu itu?"
"Nuri yang memberitahu ku semuanya"
Kinan terdiam. Ia mengaduk mie berkuah kental. Ia ingin menanyakan banyak hal namun ia terlalu takut untuk melihat Bu Merliana.
"Aku bersalah padamu. Aku lah yang menyuruh orang untuk membakar kedai mie milikmu. Aku minta maaf."
"Saya tahu itu, Ibu" jawab Kinan dengan santai.
"Saya tahu itu dari awal. Kebakaran itu disengaja, bahkan polisi tak melanjutkan lagi penyelidikan. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang mampu membeli segalanya"
"Lalu kenapa kau diam saja?"
"Karena Ibu adalah seseorang yang sangat penting bagi Raditya. Saya hanya tak ingin Radit bertengkar dengan ibunya. Karena itu pasti akan membuatnya sedih. Saya tidak bisa melihat Raditya sedih"
Bu Merliana tercengang. Ia merasa tertampar dengan ucapan Kinan. Benar apa yang dikatakan Raditya, ia salah menilai wanita yang berada di depannya itu. Wanita ini memiliki hati yang baik.
"Jika Ibu memberi saya restoran ini untuk mengganti kedai saya, maaf saya harus menolaknya. Ibu telah memberi saya 2 Milyar dengan cuma-cuma. Saya hanya ingin Ibu memaafkan Raditya atas tindakannya semalam. Saya mohon, jangan membencinya."
"Tidak. Aku tidak membencinya. Aku tak mau kehilangan anakku untuk kedua kalinya. Aku merestui hubungan kalian. Menikahlah dengan Raditya secepatnya." Bu Merliana tersenyum lebar. Ia merasa lega telah mengatakannya.
"Terima kasih Ibu"
"Namun ada syarat yang harus kau penuhi"
Kinan tak menjawab, ia tak tahu jika ada syarat yang diajukan Bu Merliana. Apakah syarat itu akan sulit?
"Kau harus melanjutkan pendidikanmu. Aku akan membiayainya hingga kau sarjana. Lalu kau akan mengelola restoran ini, jangan menolaknya karena tak ada pilihan lain. Aku dan Pak Bastian telah memutuskan untuk tinggal di luar kota. Kami membeli sebuah villa di daerah pegunungan dan kami akan menghabiskan masa tua kami disana. Kau dan Raditya akan mengurus semuanya disini. Mulai dari perusahaan, restoran, hotel dan rumah. Uruslah dengan sebaik mungkin untuk masa depan Shanju dan anak-anak kalian nanti."
Kinan tertegun. Mimpi apa ia semalam? Tunggu, semalam ia tak ingat bermimpi apa, namun ia ingat telah melakukan apa dengan Raditya. Semua terjadi begitu cepat. Tuhan telah melunakkan hati wanita yang terkenal kaku itu. Bu Merliana yang ada didepannya sangat berbeda dengan Bu Merliana yang beberapa bulan lalu menemuinya. Bahkan yang semalam ia temui.
"Oh iya, kalau kau ada waktu buatkan aku Sup ayam. Kau kan yang membuat sup ayam ketika aku masuk rumah sakit?"
Kinan tersenyum sambil mengangguk. Ia sangat bahagia hari ini.
...***...
*Semalam,
Bu Merliana tak bisa memejamkan mata sedikitpun. Dirinya dipenuhi dengan kekalutan. Emosi nya memuncak. Tak terbayangkan bagaimana esok ia harus menghadapi orang di luar sana. Nama baiknya telah tercoreng, ia mungkin telah menjadi buah bibir.
Entah apa yang mendorong kakinya untuk melangkah menuju kamar Juliana. Sejak anak perempuannya pergi, ia tak pernah sekalipun masuk melihat kamar itu. Rasa sakit hatinya menentang ia untuk melihat kamar Juliana, agar ia tak lagi mengingat anak sulungnya itu.
Air matanya jatuh, tepat ketika gagang pintu ia buka. Seketika kenangan tentang Juliana menyeruak. Di kamar ini ia sering bermain Barbie dengan Juliana. Menguncir rambutnya, mendongeng, menemaninya belajar.
Tangan Bu Merliana meraih sebingkai foto masa kecil Juliana yang tengah ia gendong. Mata anak itu berbinar indah, dan senyumnya merekah dengan mempesona.
"Ibu, kita sedang difoto. Ayo tersenyum!"
Kalimat itu yang ia ucapkan saat itu. Bu Merliana ingat betul. Ia menatap wajah Juliana sambil tersenyum bahagia
"Satu..dua..tiga!" ucap Pak Bastian sambil menekan tombol kamera.
Kaki Bu Merliana tiba-tiba lemas. Ia terjatuh di lantai dengan berurai air mata. Bu Merliana menangis meraung-raung. Menyesali apa yang ia perbuat. Waktu tak bisa berulang kembali dan yang tersisa hanyalah penyesalan.
Bu Merliana melihat brankas kecil. Ia membukanya. Brankas itu tak terkunci. Raditya sengaja menonaktifkannya. Apa ia ingin ayah dan ibunya melihat isi di dalamnya?
Bu Merliana melihat satu persatu foto yang ada di dalam brankas. Ia juga membaca buku harian Juliana. Ia semakin menangis sejadi-jadinya. Pak Bastian mengintip dari balik pintu. Ia tak ingin mengganggu waktu istrinya untuk mengenang almarhum putrinya.
Beristirahatlah dengan tenang, Juli*.
...***...
Mau ngorbanin anakmu yg tinggal satu2nya ini ya Nyonya, demi status dan gengsimu?
Apa Shandy ingin memanfaatkan Shanju, utk mendapatkan uang dari orang tua Juliana?