NovelToon NovelToon
Born To Villain

Born To Villain

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Contest / Reinkarnasi / Isekai / Transmigrasi ke Dalam Novel / Chicklit / Tamat
Popularitas:143k
Nilai: 5
Nama Author: Charlie Nam

Tiba-tiba masuk dunia lain layaknya isekai-isekai yang lagi happening, Vina, seorang gadis muda salah satunya.

Namun ia reinkarnasi menjadi tokoh antagonis yang ia tidak suka. Vina pun antara tidak suka, tetapi terpaksa.

Dengan persetujuan Sang Pencipta agar Vina bisa kembali, Vina harus melakukan misi yang diberikan.

Misi apakah itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Charlie Nam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Mimpi Aneh (Henry)

"𝐌𝐚𝐬 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚," 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐝𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐧𝐚𝐦𝐚 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐤𝐞 𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐫𝐚𝐦𝐮𝐬𝐚𝐣𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭.

"𝐀𝐝𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝐦𝐚𝐬," 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐧𝐲𝐮𝐦.

"𝐎𝐤. 𝐓𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮, 𝐲𝐚," 𝐬𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐞𝐬𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐚𝐬𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐬𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐣𝐮𝐧𝐠.

𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐝𝐚𝐩𝐮𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐦𝐞𝐣𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐭𝐮𝐧𝐣𝐮𝐤 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐩𝐫𝐚𝐦𝐮𝐬𝐚𝐣𝐢 𝐭𝐚𝐝𝐢.

"𝐀𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐬𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐬𝐚𝐣𝐢𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢?"

"𝐈𝐲𝐚, 𝐩𝐚𝐤," 𝐥𝐞𝐥𝐚𝐤𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐤𝐚𝐠𝐞𝐭 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐫𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐚 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐥.

"𝐌𝐚𝐤𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐞𝐧𝐚𝐤, 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐩𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢."

𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐨𝐭𝐨𝐭 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐲𝐚.

"𝐀-𝐚𝐤𝐮..."

"𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐰𝐚𝐧, 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐮?" 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐝𝐮𝐤 𝐤𝐞 𝐛𝐚𝐰𝐚𝐡.

𝐏𝐫𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐬𝐢𝐚 50-𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠𝐮𝐬 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐥.

"𝐓𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐠𝐮𝐧𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐚𝐲𝐚𝐡!!"

𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐮𝐤𝐚𝐢 𝐬𝐢𝐟𝐚𝐭 𝐚𝐲𝐚𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐤𝐬𝐚 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐩𝐞𝐧𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐩𝐫𝐞𝐬𝐝𝐢𝐫 𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐚𝐲𝐚𝐡𝐧𝐲𝐚.

"𝐀𝐲𝐚𝐡 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐛𝐨𝐬𝐦𝐮 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐞𝐜𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧𝐦𝐮,"

𝐃𝐢𝐚 𝐬𝐞𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐦𝐩𝐮𝐫𝐢 𝐮𝐫𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐜𝐢𝐭𝐚-𝐜𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚?

𝐋𝐞𝐥𝐚𝐤𝐢 𝐩𝐚𝐫𝐮𝐡 𝐛𝐚𝐲𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐞𝐠𝐞𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐫𝐞𝐬𝐭𝐨𝐫𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐰𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐛𝐞𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚 𝐬𝐞𝐤𝐞𝐭𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐩𝐫𝐢𝐛𝐚𝐝𝐢𝐧𝐲𝐚.

𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐬𝐞𝐠𝐞𝐫𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐩𝐮𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐨𝐩𝐢 𝐤𝐨𝐤𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐦𝐛𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐫𝐚𝐡.

"𝐒𝐈𝐀𝐋𝐋!!" 𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐢𝐬𝐢𝐫 𝐫𝐚𝐦𝐛𝐮𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞 𝐚𝐭𝐚𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐞𝐥𝐚 𝐧𝐚𝐟𝐚𝐬 𝐤𝐚𝐬𝐚𝐫.

"𝐌𝐚𝐬... 𝐌𝐚𝐬 𝐛𝐚𝐢𝐤-𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐬𝐚𝐣𝐚?" 𝐮𝐜𝐚𝐩 𝐫𝐞𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐤𝐡𝐚𝐰𝐚𝐭𝐢𝐫.

𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐞𝐥𝐚 𝐧𝐚𝐟𝐚𝐬 𝐤𝐚𝐬𝐚𝐫.

"𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐚𝐝𝐚 𝐫𝐨𝐤𝐨𝐤, 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤?" 𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.

"𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐌𝐚𝐬 𝐚𝐥𝐞𝐫𝐠𝐢?" 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐞𝐥𝐚 𝐧𝐚𝐟𝐚𝐬 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐢.

𝐃𝐢𝐚 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐮𝐧𝐲𝐚𝐢 𝐚𝐥𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐬𝐚𝐩 𝐦𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐫𝐨𝐤𝐨𝐤.

𝐊𝐨𝐤𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐦𝐞𝐧 𝐦𝐢𝐧𝐭 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚. 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 2 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐦𝐞𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚. "𝐓𝐡𝐚𝐧𝐤𝐬."

"𝐀𝐤𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫," 𝐢𝐣𝐢𝐧 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐮𝐝𝐚𝐫𝐚 𝐬𝐞𝐠𝐚𝐫.

𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐞𝐥𝐚 𝐧𝐚𝐟𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐚𝐧𝐠. 𝐒𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐝𝐢 𝐭𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦, 𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐩𝐞𝐫𝐦𝐞𝐧 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧𝐲𝐚.

𝐋𝐞𝐥𝐚𝐤𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐬𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤𝐢 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐩𝐢. 𝐃𝐢𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐚𝐦𝐩𝐮 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐫𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠-𝐫𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠.

𝐈𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐡𝐚𝐧𝐝𝐩𝐡𝐨𝐧𝐞 𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐧𝐨𝐭𝐢𝐟𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢 𝐩𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐩𝐚 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐢𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.

"𝐊𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐚𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠?" 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐧𝐲𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐬𝐢 𝐩𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐚𝐝𝐢𝐤𝐧𝐲𝐚.

"𝐒𝐞𝐛𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐚𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠," 𝐛𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐩𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐭 𝐬𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐫𝐢𝐦 𝐩𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐝𝐢𝐤𝐧𝐲𝐚, 𝐭𝐢𝐛𝐚-𝐭𝐢𝐛𝐚 𝐚𝐝𝐢𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐥𝐞𝐩𝐨𝐧.

"𝐇𝐚𝐥𝐨-"

"𝐀𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐞𝐜𝐚𝐭?"

𝐓𝐞𝐫𝐧𝐲𝐚𝐭𝐚 𝐚𝐝𝐢𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐝𝐮𝐥𝐮 𝐝𝐚𝐫𝐢𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢.

"𝐌𝐚𝐮 𝐠𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐥𝐚𝐠𝐢..."

𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐫𝐚𝐡.

𝐁𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚 𝐤𝐚𝐛𝐮𝐫 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐧𝐞𝐠𝐞𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐢𝐚 𝐛𝐚𝐰𝐚. 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐤𝐨𝐤𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐡𝐞𝐛𝐚𝐭 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚.

𝐁𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐩𝐚𝐫𝐮𝐡 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐮𝐫 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚 3 𝐣𝐚𝐦 𝐚𝐭𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 4 𝐣𝐚𝐦. 𝐈𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐝𝐞𝐦𝐢 𝐢𝐦𝐩𝐢𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐤𝐨𝐤𝐢.

𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐚𝐲𝐚𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐤𝐮𝐢 𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐚𝐬 𝐚𝐧𝐚𝐤𝐧𝐲𝐚. 𝐏𝐚𝐝𝐚𝐡𝐚𝐥 𝐢𝐚 𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐤𝐨𝐤𝐢 𝐢𝐬𝐭𝐚𝐧𝐚 𝐧𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚 1 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐭𝐚𝐰𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚. 𝐖𝐚𝐥𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫, 𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚.

𝐓𝐢𝐛𝐚-𝐭𝐢𝐛𝐚 𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐤𝐮𝐭𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚.

𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐛𝐚𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐞𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐤𝐮𝐭𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚.

𝐏𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐞𝐧𝐚𝐤. 𝐈𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐤𝐞 𝐫𝐞𝐬𝐭𝐨𝐫𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐠𝐞𝐫𝐚 𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞 𝐫𝐮𝐦𝐚𝐡.

𝐏𝐞𝐦𝐮𝐝𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐞𝐠𝐞𝐫𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐜𝐞𝐩𝐚𝐭. 𝐈𝐚 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐢𝐤𝐮𝐭𝐢.

𝐒𝐞𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐰𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐭𝐮, 𝐧𝐚𝐦𝐮𝐧...

"𝐏𝐞𝐫𝐦𝐢𝐬𝐢," 𝐮𝐜𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐨𝐥𝐞𝐡.

𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐛𝐚𝐝𝐚𝐧, 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐜𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐢𝐬𝐭𝐞𝐫𝐢𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐝𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐧𝐣𝐚𝐭𝐚 𝐭𝐚𝐣𝐚𝐦.

𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐛𝐮𝐭 𝐬𝐞𝐧𝐣𝐚𝐭𝐚 𝐭𝐚𝐣𝐚𝐦 𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐭𝐧𝐲𝐚. 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐥𝐞𝐥𝐚𝐤𝐢 𝐢𝐭𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐞𝐫𝐢𝐤𝐬𝐚 𝐜𝐞𝐥𝐚𝐧𝐚 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐨𝐦𝐩𝐞𝐭 𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐧𝐲𝐚.

𝐈𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 4 𝐥𝐞𝐦𝐛𝐚𝐫 𝐰𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐡 𝐦𝐮𝐝𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐨𝐦𝐩𝐞𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐝𝐢 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.

"𝐊𝐚𝐮..." 𝐫𝐢𝐧𝐭𝐢𝐡 𝐃𝐢𝐤𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐤𝐢𝐭𝐚𝐧.

"𝐓-𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮..."

"𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧!!"

"TUNGGU!!" Henry terbangun dengan nafas terburu-buru.

Mimpi apa itu?

Benar-benar seperti nyata...

Ia melihat kedua tangannya dan perutnya. Masih aman.

Tetapi saat di mimpi, ketika orang itu secara random menusuk dirinya benar-benar sakit sekali.

Ia segera bangkit berdiri dan keluar dari kamarnya. Ketika ia keluar, ia bertemu dengan Frans yang sedang membantu Justin masak sarapan.

"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Henry dan berjalan seperti orang linglung.

"Emangnya tidak boleh?" tanyanya balik.

Ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci mukanya. Setelah ia membersihkan wajahnya agar tidak ngantuk, lelaki itu melihat cermin.

Henry merasa janggal saat melihat dirinya di cermin. Bayangan di cermin benar-benar berbeda dengannya.

Dia menggerakan eskpresi muka, namun bayangan di cermin tetap mengikutinya.

"HWAAAA!!" Justin dan Frans langsung terkejut dan segera menghampiri lelaki cerewet itu.

"Kamu kenapa?" Henry menunjuk ke arah cermin dan Justin sudah tau maksudnya.

"Sepertinya dia juga mengalami hal yang sama denganku," Justin membantu Henry bangkit berdiri dan, bertanya, " Apa yang kamu liat di cermin?"

" Aku... Aku lihat... Seseorang yang ada di mimpiku."

"Apa?"

"Sudah kuduga..." gumam Justin benar.

"A-apa yang benar?" tanyanya masih shock.

"Tunggu... Jadi kamu tau mimpimu lebih jelas?" tanya Frans dan Henry mengangguk.

Pria bermata merah itu menceritakan mimpinya kepada Justin dan Frans.

"Mimpimu tentang seorang bernama Dikta yang bekerja sebagai koki?" Henry mengangguk. Frans menoleh ke arah Justin.

"Mimpimu tentang laki-laki bernama Jovi yang habis patah hati gara-gara dikhianatin oleh seorang perempuan?" Justin mengangguk benar.

"Sebenarnya mimpi kalian tentang apa sih?" tanya Frans yang masih bingung.

"Suatu saat kamu akan tau mimpimu, Frans. Kalau tidak salah kau bilang menolong seseorang dari tanah longsor, bukan?"

Sementara Henry dan Frans sibuk dengan mimpi aneh, Justin berpikir keras. " Apa ini tentang organisasi itu?"

"Bukannya kata Patrick bilang kalau tidak ada mana dari mereka?"

"Iya, tapi walaupun tidak bisa merasakan kehadiran mereka, mungkin saja mereka sengaja menjebak kita."

"Ya. Aku setuju denganmu," ujar Frans menanggapi.

"Kalian tau, kan? Benda asing yang kita dapatkan? Sepertinya mereka sengaja untuk menguji kita apakah kita berhasil meredakan 'Perang Kematian' nanti."

Mereka berdua mengangguk setuju.

"Kita lihat nanti kelanjutannya."

...****************...

Seluruh karyawan berdiri menunggu di depan ruang kerja bosnya. Menunggu hasil apakah Anna berhasil menolak tawaran Laura atau tidak.

Pintu terbuka dan semuanya langsung bubar mencari kesibukan.

Laura berjalan meninggalkan kantor tersebut tanpa bilang sama sekali, Anna mengantarkan wanita dari kalangan bangsawan keluar gedung.

Mereka semua hanya bisa memandang kepergian Laura dan beberapa menit, Anna memasuki ruangan.

"Dia masih ingin menjadikan kalian model untuk butiknya."

Ketiga pemuda langsung lemas di tempat.

"Sudahlah... Terima saja. Aku akan menemani kalian."

"Kapan kita akan ke sana?" tanya Patrick benar-benar pasrah.

"Sekarang."

"Hah?! Sekarang?!" Anna tanpa dosanya mengangguk mengiyakan.

"Berarti terpaksa ditutup dong hari ini?" Anna mengangguk sekali lagi.

"Aku ikut, aku ikut!!" seru Cila antusias.

"Tidak boleh," ujar Anna tegas.

"Dah kalian siap-siap dan untuk yang lain, kalian boleh pulang hari ini."

Mereka bertiga saling pandang satu sama lain. Mereka tidak bisa bayangin apa yang akan terjadi nanti.

"Bagaimana ini?"

"Pasrah sajalah kita," jawab Henry benar-benar pasrah.

"Tuan Firlutz?" mereka semua menoleh ke arah pria berkacamata tersebut berdiri mematung.

"Kau baik-baik saja?" tanya Justin sedikit khawatir.

Wajahnya langsung pucat. "Tuan Firlutz?"

Anna yang baru keluar dari ruangan kerjanya untuk mengambil tasnya, melihat para karyawannya berkumpul membuat ia penasaran.

Patrick menunjuk ke arah depan. Mereka semuanya melihat seorang wanita penuh darah berdiri dengan lemas.

Seorang wanita yang Anna ketahui itu siapa.

"Kak Eli??!!" Anna berlari menghampiri kakak perempuan tersebut.

Eli langsung ambruk, namun Justin berhasil menangkap perempuan tersebut.

"Bawa dia ke ruang istirahat!!"

"Ivy!! Panggil dokter sekarang!!"

Mereka semua langsung panik. Ivy segera menghubungi dokter, Justin menggendong Eli dan bergegas menuju ke ruang istirahat.

Anna menyusul Justin ke ruang istirahat. Ia benar-benar panik, takut, dan khawatir bersamaan.

Bagaimana bisa kakaknya datang dengan penuh luka seperti itu?

Sementara itu, saking syoknya Patrick langsung terjatuh dengan lemasnya. Yang lainnya langsung membantu lelaki itu.

"Kamu baik-baik saja?" Wajahnya benar-benar pucat pasi.

Henry membawa Patrick ke ruang istirahat yang sama dengan Eli.

1
Raine
rada* gimana ya kalo penjabarannya pakai gereja trus berdoa kek dibikin mainan kek gitu, gak luculah thor, mungkin bisa diganti kek sistem aja kek,
Renata Maharani
masih kepikiran gitu🤣🤣🤣
Jenna Joni
sebenarnya ini arah ceritanya kemana thor
Jenna Joni
untuk udah canggih.....jd kata2nya pun mudah dimengerti.....gak kaya rengkarnasi lainnya yg masih terlalu bnyak kata2 kiasan yg bikin pusing....tapi ini masih awal ya thor....jd blm like2 bgt ...lanjut baca
Ida Blado
lah masa id^ntitasnya langsung di bongkar gitu aja
Ida Blado
lagian ana yg selalu nyakitin anlisha,ngapain jg ngancem Ben,walaupun faktanya alisha sekar\ng adalah vina,, tpi kn aneh aja,kesannya jadi sok sok an
Ida Blado
dulu aq baca blm kelar,karna menurutku anaeh cerita ini,,, punya anak di titipin saudaranya krn katanya keadaan istana lgi buruk,tpi nyatanya mereka punya anak lgi dn nyatanya masih hidup sehat walafiat.lbh anehnya lgi eea kerajaan serasa era reformasi,di mana pemimpinnya di pilih melalui suara rakyat.kalau kerajaan kan tinggal silsilah kelahiranya atau di lakukan pemilihan melalui para bangsawan dn melalui dukungan terbanyak jika pangerannya jg banyak.tpi di sini aneh,,, kalau emang mau frans jadi penerus tahtanya kan tinggal ungkapin kebeneranya siapa frans sebenernya,,, buat apa jg coba pakai acara pemilu segala,kan gk logis sama latar belakang ceritanya,,,
Wiwuk Putri
suami lucu = Justin?
Nasya Dwimar
Kayanya lebih enak kalo “membahagiakan kamu” dibanding “bahagiain kamu” soalnya di awal udh formal
Ida Blado
kenapa gk bikin cafe aja sih dari pada jasa kirim surat,kn gk tiap hari org kirim surat.
Ida Blado
menurutku aneh,,,jika sang raja mau anak pertama yg mewarisi tahta,kan tinggal di bawa balik dn kembalikan statusnya lalu ceritakan awal mulanya knp terpisah.knp malah biki n pemilu terbuka dgn status duke,kalau ini dunia kita yg demokratis mah wajar2nya krn tdk menganut sistem monarki,,,sungguh gk nyambung
Ida Blado
mungkinkah frans anaknya jg,,,kn gk masuk akal punya penerus malah org lain jg di jadiin kandidat.lah emangnya ini jaman demokrasi,,,,
Ida Blado
paling suka kalau ceweknya yg ngebatalin dri pada terkesan bucin
Ida Blado
persepsi aq kucing pembawa sial itu bener dong ya,,,nih org mati gara2 mau nolongin kucing,,,ckck
Wenny Deisshinta Rahmadani
ini namanya vina atau alexa?
Eka Nurmila
keempat pria dari masa lalu, ana dari masa depan
Eka Nurmila
kok bisa nih, ide saya bawa hp ke zaman kuno terwujud di novel ini. wah, batal buat novel tentang hp deh
Ririn Santi
Makanya, itu mulut dipasang rem dong hahahaha....
senja
kl kamu ya kamu, kl engkau ya engkau, konsisten Ka, jadi kesan karakter nya dapet.
senja
kl mau pake "Anna" gak perlu pake "Vina" lg Ka, kecuali kl menceritakan ttg perasaan Anna di masa lalu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!