Naura, gadis cantik penuh keceriaan dan kebahagiaan. dalam menikmati masa indah remajanya. namun semua berakhir dalam sekejap mata. disaat sang ayah Hendro ketahuan korupsi di sebuah anak perusahaan Besar.
Puncak kehancuran Naura, dimulai ketika kedua orang tua nya meminta supaya membujuk dan menggoda sang CEO supaya mencabut tuntutan nya. namun Naura salah sasaran karena tidak mengenal wajah sesungguhnya sang CEO. dia melakukan hubungan terlarang dengan sang asisten Dion.
Ikuti kisah selanjutnya, dimana nantinya Naura akan dilema menentukan pilihan antara Dion dan cinta pertama nya yang datang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu dengan Lisa
"Silahkan duduk." ucap Frans dingin, dia tahu jika Lisa ragu menatap kearahnya, seperti tidak mengenalinya.
"I..iiya Tuan." duduk dihadapan Frans sambil menunduk dan meremas-remas jemari tangannya yang tersa dingin.
Melihat wajah polos dan lugu Lisa, tiba-tiba membuat Frans sangat senang, diapun membatalkan niatnya semula, yang ingin berterus terang tentang jati dirinya yang sesungguhnya. bahwa dia adalah Frans kakak yang selalu dicari-cari oleh Lisa.
Nama dan data diri Frans yang sesungguhnya menang telah diganti oleh Berliana, saat Frans menyanggupi menjadi anak angkat yang sah oleh Berliana. hanya Dika dan Berliana lah yang tahu tentang itu semua. alasan Berliana cukup simpel, melindungi Frans sehingga panggilan nya berubah menjadi Farrel Hardiansyah, yang menyelipkan nama suaminya untuk nama panjang Farrel.
"Aku menyayangimu Lisa, aku akan melindungi dan menjagamu dek, namun kamu tidak bisa mengenaliku sama sekali. mulai sekarang aku akan membuatmu mengenaliku dengan perasaan dan kata hatimu. tanpa aku harus memberi tahukan jati diriku yang sesungguhnya." Frans mengulum senyum sambil memperhatikan tingkah Lisa yang terlihat begitu menggemaskan.
"Jadi nama panggilan mu Lisa." ucap Frans sambil memperhatikan! bolak-balik CV data pribadi Lisa, yang tadi dibawakan Dika.
"Iya Tuan."
"Kamu tahukan kesalahanmu hari ini.?" terdengar suara Frans yang dingin.
"Tahu Tuan, dan saya benar-benar minta maaf dan tidak sengaja." ucap Lisa hati-hati.
"Dasar orang kaya sombong, aku juga tidak sengaja. untuk apa dia masih mempermasalahkan kejadian itu. apa coba yang diharapkan nya dariku yang hanya OB diperusahaan ini. apa waktunya yang berharga itu tidak akan terbuang sia-sia, ternyata aku salah. wajah tampan nya tidak sesuai dengan kepribadian nya." Lisa perang bathin sendiri
"Kamu lagi mikirin apa, kenapa bibirmu terlihat aneh dan monyong seperti itu?" tanya Frans, yang membuat Lisa langsung gelagapan ! memegangi mulutnya.
"Aku akan memberikanmu hukuman atas perbuatanmu itu.!"
Lisa langsung mengangkat wajahnya, dan menatap kearah Frans bingung dan tidak terima.
"Tuan pimpinan perusahaan yang terhormat, daya rasa salah saya tidak terlalu berat dan tidak sengaja. lagian saya sudah meminta maaf berkali-kali kepada Anda, apa itu masih kurang.?" protes Lisa karena mersa diperlukan semena-mena.
"Kamu benar, permintaan maafmu saja tidak cukup gadis kecil. Karena kamu merusak jas mahalku dengan air bekas peralatan bersih-bersih yang kamu bawa, tapi jika kamu sanggup mengganti jas ku yang harga nya hampir mendekati lima ratus juta itu, baiklah aku akan berdamai dengan mu." tersenyum angkuh menatap wajah Lisa yang cemberut dan kesal.
"Apa, Tuan pikir saya punya uang sebanyak itu, uang satu juta pun saya tidak pegang saat ini." terang Lisa sedih dan bingung harus berbuat apa.
"Sekarang kamu tidak punya pilihan lain, selain menerima apa yang aku putuskan." terang Frans.
"Baiklah." ucap Lisa pasrah dan terlihat putus asa.
Senyum kemenangan tersungging di bibir Frans, "kalau begitu kamu baca dan perhatikan seksama beberapa poin ini sebelum tanda tangan," menyerahkan berkas pada Lisa.
Gadis itu membaca poin-poin yang tertulis di selembar kertas tersebut, matanya membulat seakan-akan tidak percaya, namun dia bisa apa untuk bertahan hidup di kota besar ini saja dia sudah bersyukur.
Disana tertulis, poin pertama, jika Lisa harus menjadi asisten kedua setelah Dika dikantor itu.
Poin kedua, Lisa harus siapdan bersedia tinggal di bersama Farrel selaku pihak pertama yang dirugikan.
Poin ketiga, patuh dan tidak protes dengan apapun perkataan Farrel.
"Kalau sudah paham dan setuju, langsung tanda tangan." ucap Frans sambil berusaha menyembunyikan senyumnya, melihat wajah Lisa yang kesal.
Sorenya pas akan pulang kerja, Lisa melihat Jo yang terlihat muram dan sedih.
"Jo, kamu kenapa berubah seperti kucing kehilangan bulu-bulu nya ta' u" goda Lisa duduk di pantry tempat nongkrong mereka. dibandingkan Ob yang lainnya, Jo lah yang paling dekat dengan Lisa.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu disini Lisa.?" tanya Jo penasaran saat Lisa dipanggil oleh Dika tadi.
"Ah tidak ada masalah apapun kok Jo." berusaha menyembunyikan dari Jo.
"Lisa besok aku dipindahkan ke kantor cabang yang dikota X," ucapnya sedih.
"Wah itu kan berita bagus, bukan kah selama ini kamu berharap sekali agar bisa dipindahkan kesana, biar dekat dengan keluarga mu." ucap Lisa.
"Iya itu dulu Lisa, sebelum aku menyukaimu." terang Jo
"Apa Jo. kamu menyukai ku.?"
"Ya Lisa." ucap Jo berterus terang.
"Maafkan aku Jo, karena hariku sudah dimiliki seseorang, yang masih belum aku temukan keberadaan nya sampai sekarang." balas Lisa sedih.
"Aku mengerti Lisa, aku hanya berharap suatu saat kamu bisa membuka hatimu untukku, karena aku akan selalu menerimamu." terang Jo.
Lisa tersenyum manis pada sahabat nya itu.
"Jo semoga kamu sukses ditempat kerjamu yang baru ya, dan aku berharap keinginan terbesarnya untuk meneruskan pendidikan mu terwujud."
"Aku juga berharap hal yang sama untukmu Lisa, semoga saja kamu juga bisa menggapai mimpi dan cita-cita mu dikota ini,!"
"Aamiin" balas mereka bersamaan.
Jo pulang duluan dari Lisa, setelah beberes Lisa mrpengambil tas Selempang nya dan bersiap pergi menuju rumah kos kecil dan sempit itu, namun baru beberapa langkah beranjak dari area gedung perusahaan, mobil mewah keluaran terbaru berhenti di depan nya.
"Cepat naik." terdengar suara Frans yang menurunkan sedikit kaca mobilnya.
"Maaf Tuan, saya sudah biasa berjalan kaki." tolak Lisa.
"Hey gadis kecil, kamu sudah lupa ya pada perjanjian yang baru saja kamu tanda tangani." ucap Frans dengan nada ditekankan.
Lisa langsung tergagap, "ba...baik Tuan." naik keatas mobil, membuka pintu depan nya, duduk disebelah Arka yang akan menyetir.
"Siapa yang memberimu perintah, untuk duduk didepan.!"
Lisa kembali turun, dan membuka pintu belakang sambil gemetar duduk dengan jarak yang begitu dekat dengan Presdir. membuat jantungnya berdetak tidak menentu dengan persaan yang berkecamuk.
Tetap semangat
Di tunggu cerita selanjutnya
Ttg hub Frans dan Lisa, ttg Sari dll
Tetap jaga kesehatan