[Trailer sudah tersedia di you tube author]
Antara cinta dan keimanan. Mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika benteng tinggi yang berdiri kokoh tidak runtuh. Dan mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika salah satu di antaranya tidak ada yang mengalah.
Pengorbanan, perjuangan dan cinta. Hal itu menyatu padu dalam sebuah untaian kata ‘cinta terlarang’ yang bagaimana pun tidak akan bisa disatukan jika syarat tidak dituntaskan.
Atas dasar ‘pengorbanan dan perjuangan’ mereka bisa menghapus kata ‘terlarang’ dalam kisah cintanya. Bersatu atau tidak, tergantung keputusan mereka.
“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka.”
—QS. Al-Mumtahanah: 10.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aidahlia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter #32
Jika katamu menjauh lebih baik. Apa kamu pernah berpikir kalau hatiku akan baik-baik saja setelah menjauh?
__________
Hari pertama sekolah adalah hari yang tidak mengenakkan bagi sebagian siswa ataupun siswi yang sudah dapat gelar SR, Sarjana Rebahan. Bahkan, hari pertama sekolah itu bisa menjadi hari yang memiliki kasus telat karena kesiangan lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Memang, jiwa kids zaman now itu kalau dikasih liburan pendek maunya liburan panjang, but, saat dia dapat liburan panjang malah malas buat sekolah lagi karena sudah nyaman liburan. Jadi mereka maunya apa?
Senyuman Syahla langsung merekah saat indra penglihatannya menangkap sosok perempuan yang ia rindukan, Husna.
"Syasyaku ...," ucap Husna seraya berlari ke arah Syahla seraya melebarkan tangannya.
"Nana, aku kangen masa."
"Aku juga." Di saat itu juga Husna memeluk Syahla.
"Kangen diceramahin kamu, kangen ngomelin kamu, kangen semuanya ...."
"Padahal kita enggak ketemu cuma tiga hari ya."
"Iya, alay nih, Nana."
"Enggak apa-apa, sama sahabat sendiri ini. Yaudah yuk langsung ke kelas aja."
"Yuk!"
***
Jika orang lain bilang cinta itu bisa merubah tanah yang kering menjadi lembab. Tidak bagi Syahla. Baginya, senyuman sahabat adalah kelembaban yang membuat hatinya terasa bahagia. Husna ini sudah tahu betul seperti apa Syahla, dia juga sudah paham betul kelemahan Syahla. Begitu juga sebaliknya.
Banyak orang yang bilang sulit mencari sahabat yang baik. Syahla bersyukur, Allah mempertemukannya dengan Husna. Memberikan julukan sahabat itu tidak mudah. Dimana dia yang sudah mengerti siapa dirimu dan tidak pernah menjauh saat tahu kekuranganmu. Dia yang tidak akan marah saat kamu marah, dia yang selalu bisa meredam emosimu. Sahabat adalah dia yang tidak pernah baper, saat ada kata-kata pedas yang kamu ucapkan demi kebaikannya. Sahabat itu seperti keluarga, dia sudah biasa dengan segala sikapmu yang berubah-ubah tanpa ada pemikiran untuk menjauh.
Oh ya, satu lagi. Sahabat tidak akan mengambil kebahagiaan sahabatnya. Zaman sekarang, banyak kasus sahabat yang makan sahabatnya sendiri. Gimana maksudnya? Contoh kecil dalam lingkungan adalah, merebut kekasih sahabatnya. Terkadang, cinta itu bisa merusak persahabatan. Hati-hatilah. Lebih baik fokus dalam pelajaran, jodoh akan Allah persiapkan.
"Sya, aku mau curhat."
"Curhat aja, kapan sih aku nolak curhatan kamu, tenang, telinga aku selalu terbuka kok, mulut aku yang bakal tertutup." Syahla langsung tersenyum.
"Terima kasih Allah, semoga persahabatan kita terus terjaga sampai surga-Mu," ucap Husna sambil memeluk lengan Syahla.
Suasana kelas sudah mulai ramai, satu persatu Syahla bisa melihat wajah teman-temannya yang sudah lama ia tidak lihat.
"Sya, salah enggak sih kagum sama seseorang?"
Syahla menautkan alisnya. "Enggak, tapi, bisa jadi salah juga, kamu, kamu lagi jatuh cinta ya?" Syahla langsung tersenyum jail.
Husna berusaha menahan senyumnya. "Syasya ... dengerin aku dulu."
"Iya-iya, sok atuh cerita."
"Janji ya jangan potong sebelum aku selesai ngomong? Ingat janji itu hutang. Kalau kamu langgar, nanti aku tagih sambil bawa kentongan di akhirat."
"Nana ...."
"Udah dengerin!"
"Iya-iya."
"Jadi tuh, aku, dari kelas sepuluh ...." Husna menghembuskan napasnya pelan. "Aku kagum sama teman kamu, War—" Husna mendekatkan bibirnya di telinga Syahla, ia segera berbisik, "Wardani."
Mata Syahla membulat, ia segera tutup mulutnya dengan tangan. Sementara Husna menampakkan raut melas.
"Aku bingung, selama ini aku simpan sendiri, aku cuma cerita sama Allah, tapi, rasanya, aku enggak enak sama Allah. Aku selalu jadiin dia topik pembicaraan. Aku rasanya mau berbagi, dan orang yang paling aku percayai, kamu, keluarga aku pasti bakal ngejek aku, jailin aku, kalau mereka tahu, kalau kamu, kamu selalu jaga baik semua curhatan aku."
"Aku, aku stuck, Sya. Aku enggak ngerti kenapa semakin hari, aku semakin gila. Dia selalu mempesona di mata aku. Akhlak dia, suara dia kalau lagi baca Al-Qur'an, salawat. Dia bisa dibanggain dari segi apapun. Wajah, prestasi, jabatan. Aku selalu berusaha lupain dia, tapi, semakin aku berusaha lupa malah semakin nambahin ingatan aku. Aku harus gimana, Sya?"
"Kadang ya, aku suka cemburu kalau ada perempuan lain yang deket dia, ter ... termasuk kamu, aku takut, Sya. Aku takut terbawa."
Syahla mengelus punggung Husna. "Cinta itu memang fitrah, Na. Enggak salah kamu kagum, enggak salah kamu cinta, apalagi sama laki-laki kayaj Wardani. Karena, kan, penilaian seseorang ke orang lain itu beda-beda. Mungkin, Wardani punya nilai spesial di hati kamu. Asal kamu bisa kondisiin diri kamu. Ali bin Abi Tholib dengan Fatimah Az-Zahra aja cinta diam-diam, kan? Sampai setan enggak bisa tahu perasaan mereka. Kamu harus tiru mereka. Kayaknya kamu harus baca kisah Fatimah dan Ali, nanti deh besok aku bawa bukunya."
Husna mengeratkan pelukannya di lengan Syahla. "Aku selalu bersyukur punya sahabat kayak kamu, semoga kamu enggak pernah kecewain aku ya, Sya."
Syahla tersenyum sambil mengangguk.
***
"Sekoteng baru mateng, eh ganteng baru dateng," ucap Rio seraya tersenyum lebar ke arah Artha.
Artha tersenyum miring. "Pala lu tuh belum mateng!"
"Kalau udah mateng Abang mau makan?"
"Geli gue, banyak kutunya pasti."
"Hei, aku pakai lekboi loh, rambutku terus berkilau."
PLAK.
"Pagi-pagi bikin gua enek puyeng tau enggak lu!" ucap Artha sambil mengambrukkan tubuhnya setelah menyelepet kepala Rio.
"Jangan bilang hari pertama udah tidur aja!" ucap Rio.
"Sadar, Bro. Tahun sudah berganti, apa lu enggak ada niatan untuk merubah diri menjadi baik? Lo harus inget, cowok males bakal dapet cewek males. Kalau lu doyan tidur kayak gini, nanti yang ada lu dapet bini doyan tidur. Nanti anak lu ikut-ikutan doyan tidur. Apa nanti julukan keluarga lu? Keluarga pecinta tidur?"
Artha menampakkan raut datar seraya menatap Rio yang baru saja selesai membeo.
"Udah? Udah ngocehnya?"
"Udahlah."
"Yaudah." Artha langsung mengambrukkan tubuhnya ke meja kembali. Kali ini ia menutup telinganya dengan jari telunjuk.
"Dasar pangeran tidur, kepatok ayam dah tuh inceran lu."
"Ayamnya nanti yang gua patok."
***
Husna menggenggam jemari Syahla. Wardani mendekat sambil tersenyum. Dia membawa satu mangkuk berisi baso dan satu gelas es teh.
"Boleh gabung enggak? Susah cari bangku kosong."
Husna langsung menunduk, tetapi tidak dengan Syahla. Begitulah realitanya. Menatap seseorang yang kita kagumi dari jarak dekat itu menakutkan, sedangkan, menatap seseorang yang kita kagumi dari jarak jauh, tanpa dia tahu, itu menyenangkan.
"Eh tumben kamu sendiri, Ihsan mana?"
"Dia di panggil pak Udin, kayaknya mau disuruh bantuin rekap data siswa, biasa diamah."
"Eh Husna lagi sakit, kok pucet?"
Syahla langsung menoleh cepat ke arah Husna yang sedaritadi menggengamnya, bahkan kini tangan yang Husna genggam sudah berkeringat.
"Kamu, enggak apa-apa, Na?"
"Em ... enggak, gak apa-apa kok," ucap Husna sambil melepas genggamannya dan mulai memakan makanannya.
Setelah habis, tiba-tiba Husna bangun lebih dulu. "Sya, aku ke toilet ya, kebelet." Tanpa menunggu persetujuan Syahla, dia langsung pergi.
Sekarang Syahla tahu, tidak sekali Husna melakukan ini ketika ada Wardani, berkali-kali. Sekarang Syahla tahu penyebabnya.
Saat Syahla hendak bangun untuk mengejar Husna, Wardani memanggilnya.
"Kenapa?"
"Aku mau cerita sama kamu."
Syahla menghembuskan napas pelan. Satu hari sudah dua orang yang mau bercerita. Menolak tidak enak, mengiyakan juga tidak enak dengan Husna, nanti dia ngiranya kalau Syahla sedang asyik-asyikan bersama laki-laki yang dia kagumi.
"Aku bakal dengerin, tapi enggak sekarang ya, ak ... aku juga mau ke toilet, maaf ya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warrahmatullah."
***
Ternyata Husna tidak ke toilet, dia malah pergi ke taman. Dia duduk termenung seraya menatap sepatunya.
"Kenapa sakit banget ya setiap lihat Wardani natap Syahla. Syahla pasti enggak tahu apa arti tatapan itu. Tapi aku paham. Karena aku pernah menatap seseorang seperti itu, tepatnya sama laki-laki yang sama, Wardani."
"Sekarang aku percaya kalau Allah maha pencemburu. Tapi kenapa? Kenapa aku suka sama dia yang suka sama sahabat aku? Di sisi lain aku mau benci sama Syahla, tapi dia enggak salah apa-apa. Dan, kalau aku benci sama Wardani juga, dia enggak salah. Justru, yang salah ini aku, kenapa aku malah buka hati aku. Aku tahu apa konsekuensinya, tapi aku malah lakuin. Bodoh banget sih!"
Tidak terasa Husna malah menangis.
"Tapi, tapi kenapa harus aku sih?"
Husna menghembuskan napanya pelan, ia hapus kasar airmatanya. Ia tidak mau menangis hanya karena satu laki-laki itu.
"Aku takut persahabatan aku sama Syahla hancur cuma karena ego aku."
"Aku enggak mau, dia udah kayak saudara aku sendiri. Aku enggak boleh kayak gini."
Husna langsung bangkit, saat ia membalikkan badan, seketika ia diam membeku.
"I ... ihsa ... san."
"Kamu suka sama Wardani? Eh, baru aja semalam nulis nama kamu di planner baru,",ucap Ihsan seraya terkekeh pelan.
"Planner?"
"Enggak aku bercanda."
"Eh ... kamu denger semua?"
"Enggak kok, kamu tenang aja."
"Kamu kok bisa ada di sini?"
"Tadi niatnya aku mau ke kantin, eh, dipanggil pak Udin, ini mau ke taman, mau ngerjain tugas dari dia, hitung-hitung cari berkah dari guru. Di taman kan enak tuh suasanannya. Kamu mau bantuin enggak?"
Ihsan, laki-laki yang sempat Husna anggap playboy malah berhati baik. Wardani yang selalu ia katakan playboy hanya di depan Syahla, padahal dialah laki-laki yang dia kagumi diam-diam. Allah menyimpan beribu kebaikan pada setiap insan, begitupun keburukan.
"Eh ... em ... boleh deh."
"Syukran katsiran."
***
Syahla sudah memutari setiap sudut kelas jurusan IPA, tapi Husna belum juga ditemui. Keringat sampai banjir memenuhi keningnya, napasnya pun kini mulai tersendat-sendat karena terlalu lama berjalan tanpa istirahat.
Mata Syahla terkunci sesaat saat melihat ke arah tengah taman. Taman di sekolahnya tidak terlalu ramai. Yang biasanya mengisi taman itu orang-orang pecinta buku, orang-orang yang lebih suka menyendiri, dan sebagian orang yang mau mengerjakan tugas. Dan kini, kini mata Syahla menangkap sosok yang sedaritadi ia cari-cari, Husna. Dia sedang duduk sambil memegang sebuah kertas, di depannya ada seorang laki-laki yang sangat tidak asing di mata Syahla, Ihsan. Ihsan sedang duduk juga, namun bedanya ia menulis, Husna membaca. Syahla langsung melesat ke arah mereka.
"Nana ... aku cari kamu kemana-mana, eh kamu ada di sini."
"Masyaallah, Bidadari, sayang keringatnya, kalau dijual, lebih harga berlian mah," ucap Ihsan asal sambil menatap wajah Syahla sebentar lalu beralih ke lembaran kertas yang ia pegang kembali.
"Aku bukan bidadari, Ihsan. Jauh bedanya, aku mah cuma partikel kecil di sempilan gigi."
"Jigong dong," sambar Husna.
"Urusan jigong mah paham bener ya," ucap Ihsan.
"Yaiyalah!" ucap Husna songong.
Melihat Syahla sudah basah dengan keringat, Husna langsung memberikan lembaran kertas yang ia pegang kepada Ihsan.
"Aku mau ke kelas, bye! Ayo, Syah."
"Dasar cewek!" gerutu Ihsan saat Husna sudah hilang dari tempat semulanya.
***
Di pertengahan pelajaran Artha dipanggil guru bagian kesiswaan untuk segera keruangannya. Bayangkan! Hari pertama masuk sekolah sudah dipanggil ke ruang BK. Untungnya hari ini guru pengajar tidak masuk ke kelas.
"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Cintaku," ucap Rio seraya menggenggam tangan kiri Artha.
Artha menyeringai geli. "Lu gabung sama cabe-cabean ya, O, tiap malem? Geli gua, jangan-jangan lu sekarang homo lagi." Artha langsung menepis pegangan tangan Rio.
"Iya, aku Homo Sapiens, Megantropus Paleojapanicus, Alfonso De Albuquerque."
"Seterah lu, O," ucap Artha jengah.
"Tha, gua, gua, gua, gua, gua."
"Ngomong lagi gua tonjok dada lu," celetuk Artha tanpa sadar. Seluruh sorot mata penghuni kelas langsung menuju ke arah Artha.
"Ih Artha, lu udah kaya cewek belah sono."
PLAK.
Setelah melemparkan Rio dengan LKS Artha langsung melesat keluar kelas menuju ruang BK.
***
Mata Syahla membulat saat melihat seorang laki-laki berpakaian rapih masuk kedalam ruang BK.
Belum lama dia kelihatan rapuh, brantakan, kok sekarang jadi rapih lagi?
Artha memasuki ruangan BK tanpa salam, tanpa mengucap permisi. Dia langsung masuk begitu saja dengan wajah datarnya.
"Ada apa, Bu? Perasaan saya enggak ngelakuin apa-apa dah," ucap Artha tiba-tiba.
Bu Asma tersenyum. "Kalian duduk dulu."
Ya, Syahla juga dipanggil ke ruang BK. Pengumuman ini berhasil memompa jantungnya saat di perjalanan menuju ruang BK.
"Kalian aman, tidak ada masalah apa-apa. Ibu cuma mau sampein amanah dari Kepsek. Di sebuah universitas ada seminar psikologi, beliau suruh kalian berdua yang wakilin sekolah. Biaya seminar ditanggung sekolah. Sebenarnya tidak kalian saja. Ada juga dari perwakilan jurusan Bahasa, tapi dia enggak bisa. Ada acara. Jadi pak Kepsek mutusin kalian berdua aja yang datang."
"Alasannya apa harus saya? Kalau Syahla sih wajar, terkenal pinter, lha saya?" ucap Artha.
"Kan klop, yang terkenal jarang bermasalah dengan yang sering bermasalah. Cocok ikut seminar psikolog," sambar Natha, Kepala Sekolah sekaligus Papa Artha yang tiba-tiba datang.
"Nah, udah jelas, kan? Yaudah, kalian berdua udah fix harus datang. Acaranya hari Sabtu jam satu. Kalian boleh ke kelas."
mampir and salken
Anty aidhon fii qolby daaiman, thor😍☺
Aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN by Ira. Yuk mampir kakak di jamin seru jangan lupa like dan commen
Menjadi sosok yang berbeda bukanlah hal yang baik namun tidak juga buruk. namun apa jadinya jika seorang gadis tiba-tiba bertemu dengan keluarga yang terpandang dan kaya. Namun dia harus merelakan identitas aslinya menghilang begitu saja? Aira adalah gadis yang kehilangan namanya semua orang memanggilnya dengan Aurelia sejak hari itu semua berubah, namun itu juga awal pertemuannya dengan Dekarsa bersaudara.
Zidan memiliki cacat di wajahnya hingga membuat orang-orang membencinya dan menyebutnya monster, dia di asingkan oleh orang tuanya sendiri dan karena itu ia memiliki dendam terhadap ibunya. Dia selalu kesepian sampai dia bertemu dengan sosok Aurelia yang selalu menyemangati dan mendukungnya, dia juga yang membatunya untuk tampil Tampa sebuah topeng mengerikan itu lagi.
smoga sukses selalu
panjang umur
dan sehat
nyesel aku baru baca novel ini...
yang aku pingin baca tuh novel kaya gini
aku lebih hobi baca2 daripada ngumpul2