💐💐 NOTED DARI AUTHOR, HATI - HATI DARAH TINGGI KALO BACA NOVEL INI💐💐😜
***
Mencintai dan Dicintai
Menyakiti dan Tersakiti
---
Malik dan Kania, disatukan dalam perjodohan namun tidak dalam suatu tekanan. Menerima dengan lapang dada perjodohan yang dilakukan oleh Kakeknya Malik atas dasar bakti pada sang kakek.
Tak ada benci pada awalnya meski butuh waktu saling menerima hingga rasa cinta diantara mereka mulai tumbuh dan bersemi.
Namun badai sedikit demi sedikit mulai menghantam mahligai rumah tangga mereka.
Akankah Malik dan Kania berpisah pada akhirnya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emaknya Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AC – 33
Happy reading ...
****
Flashback on
“Dari sini Kania lalu kemana, Pak?.”
Malik dan Dimas beserta Pak Cokro sudah sampai di tempat dimana Kania minta diturunkan siang tadi.
“Maaf Tuan, saya kurang memperhatikan. Karena saya langsung menjalankan mobil.”
Malik berdecak, kembali nampak putus asa.
“Lo tenang dulu, Lik. Tenang biar bisa berpikir jernih.”
Dimas coba menenangkan Sahabat sekaligus Bosnya itu.
“Mungkin Nyonya Kania bersama dua teman nya yang tadi ikut, Tuan.”
“Ah! Ivan dan Tian! Kenapa ga kepikiran sama mereka.” Malik langsung teringat kalau tadi dia juga melihat Ivan dan Tian di rumah Rika. “Dim, lo hubungi mereka. Gue ga punya nomornya.”
Dimas mengangguk. Ia juga tidak memiliki nomor telpon dua orang tersebut, namun dia tau siapa yang harus dihubungi untuk menanyakannya. “Halo, Bu Tari?.”
Sementara Dimas sedang mencari tau, Malik meraih ponsel dari dalam sakunya. Pak Cokro masih setia berdiri didekat mereka.
Flashback off
***
‘ 12 panggilan tak terjawab.’
‘Sayang, angkat telpon aku. Please .’
‘Sayang, aku di apartemen. Kamu dimana?.’
‘Sayang kamu dimana?....’
‘Pulang sayang, aku akan jelaskan semuanya.’
Rentetan pesan dari Malik masuk secara beruntun di ponsel Kania saat dia menghidupkan kembali ponselnya.
Beserta pesan suara yang juga masuk berikut pesan – pesan lainnya.
Kania sebenarnya enggan membaca, namun ada rasa penasaran dalam hatinya.
“Apa Malik mencarinya?.”
“Apa yang akan Malik katakan padanya?.”
Dan rangkaian pertanyaan akan keingin tahuan tentang apa yang sedang Malik lakukan saat ini.
‘Sayang, maafkan aku. Tapi aku punya alasan yang bisa aku jelaskan. Aku di apartemen sekarang. Kamu dimana?. Pulang sayang, atau katakan kamu dimana. Biar aku yang kesana. Pulang ya, aku akan jelaskan semua. Pulang Sayang, Kania ... aku mohon ....’
Suara Malik terdengar lesu dalam pesan suaranya. Sedikit serak.
Kania menghela nafasnya dengan berat. Tersenyum sinis.
Terry yang ada disampingnya ikut mendengarkan pesan suara dari Malik.
“Rencana lo selanjutnya apa Ni?. Kalo gue boleh tau”
Terry memberanikan diri untuk bertanya.
Kania tampak berpikir sejenak.
Tring.. Tring..
Ponsel Kania berdering.
Melihat Id si pemanggil namun tak segera menjawab.
**
“Alhamdulillah....”
Seraut kelegaan tampak diwajah Malik setelah semalaman ia tak tidur karena mencari Kania. Selama semalaman itupun ponsel Kania dan ketiga temannya seperti masih dinonaktifkan.
Ia dan Dimas yang masih setia menemaninya kini sudah berada di Penthouse pribadi Malik. Dimas sampai menginap disana namun ikutan tak tidur karena Malik yang terus saja gelisah soal Kania yang belum ada kabarnya.
“Kenapa Lik?. Ponsel Kania udah aktif?”
“Iya Dim. Pesan gue ke dia udah tertanda kalo Kania udah baca pesan. Berarti ponselnya udah aktif.”
“Ya udah, coba lo telpon dulu. Siapa tau dia udah tenang dan mau balik kesini.”
Malik mengangguk sambil berharap dengan sangat kalau Kania sudah mau menerima telponnya, meski tak ada satupun balasan pesan dari Kania.
***
“Halo.”
Kania menerima panggilan yang masuk ke ponselnya. Sedikit menjauh dari Terry yang sedang juga mengecek ponselnya.
“Kenapa?.” Ucap Kania yang sedang berbicara di telpon.
“......”
“Iya tadi gue telpon Kak Sisil. Minta izin pake Villa kalian.”
“.....”
“Sama temen – temen gue.”
“........”
“Udah deh, pokoknya gue pinjem ini Villa untuk sementara.”
“........”
“Ga usah sok tau. Ga ada apa – apa”
“......”
“Ya. Makasih. Salam buat Kak Sisil.”
Kania mematikan panggilannya dan kembali mendekati Terry.
****
“Ck!.”
Malik berdecak. Nampak sedikit kesal dalam gusarnya.
“Kenapa Lik?.”
“Sibuk nomornya.” Malik kembali mencoba. Lagi – lagi ia berdecak.
Dimas hanya memperhatikan Malik yang nampak gusar itu, begitu juga Bi Dian yang ikut tidak bisa tidur semalaman.
Melihat Malik yang gelisah , kacau dan Kania tidak pulang ke Penthouse mereka.
Bi Dian hanya bisa menduga – duga dalam hatinya soal adanya masalah antara kedua majikannya itu. Namun sungkan untuk bertanya.
Tiga kali Malik mencoba menghubungi nomor Kania namun nampaknya belum berhasil juga.
“Coba nomornya si Terry. Dia sama Kania, kan?. Kalau nomor Kania aktif bisa jadi nomor dia juga udah aktif”
“Oh iya bener juga. Mana nomornya.”
“Bentar” Dimas mencari nomor ponsel Terry pada daftar kontaknya, untuk diberikan pada Malik yang memang hanya menyimpan nomor orang – orang tertentu saja dalam ponselnya. “Gue kirim ke elo nomornya”
Malik mengangguk sambil langsung mengecek nomor Terry yang diberikan Dimas. “Coba lo telpon si Ivan dan Tian, Dim.”
“Oke.”
***
“Mampus!.” Terry langsung mengumpat saat ada panggilan masuk ke ponselnya yang bertuliskan ‘Pak Malik Abraham.’
Terry pun langsung gelagapan melihat panggilan dari Malik.
“Kenapa Ter?.” Tanya Kania yang melihat Air muka Terry yang nampak panik sambil memandangi ponselnya yang memang hanya dalam mode getar itu. Jadi Kania tidak tau kalau sedang ada panggilan masuk di ponsel Terry.
“Ini Laki lo.... eh Pak Malik maksud gue. Dia telpon gue, Ni”
****
“Halo.”
Tian menerima panggilan ke ponselnya.
“Halo Tian?.” Terdengar suara laki – laki dari sebrang ponsel. Yang nomornya tidak diketahui Tian. Jadi langsung ia terima panggilan tersebut. Sepertinya ia familiar dengan suara laki – laki tersebut.
“Siapa?” Ivan bertanya hanya dengan gerakan mulut tanpa suara.
Tian mengendikkan bahunya.
“Iya betul. Dengan siapa ini?.”
"Saya Dimas. Dimas Mustafa.”
Mata Tian membulat sempurna. Lalu ia spontan menepuk dahinya.
“Oh, iya Pak Dimas?.” Tian mencoba menetralkan suaranya agar tak terdengar kalau sebenarnya ia terkejut.
“Mampus!.” Umpat Ivan tanpa suara seraya melotot pada Tian yang mendapat telpon dari Dimas itu.
*****
“Siapa?.” Tanya Malik pada Dimas yang sedang berbicara di telpon. Karena Terry tidak menerima panggilannya dan belum membalas pesannya.
“Tian.” Jawab Dimas tanpa suara.
Malik mengkode dengan tangannya untuk memberikan ponsel Dimas padanya.
Dan Dimas langsung memberikan ponselnya pada Malik.
“Halo, Tian?. Gue Malik.”
“.....”
“Jujur sama gue, kalian sama Kania, kan?”
“....”
“Jangan bohong. Please gue perlu ketemu dia.”
“.....”
“GUE TAU LO SAMA DIA! LO DAN IVAN KEMARIN ADA DISANA, KAN?!” Hardik Malik dengan kerasnya pada Tian dalam sambungan telepon tersebut.
“.....”
“Lo sadar dengan siapa lo berbicara?!.”
“.....”
“Sekarang berikan ponsel lo Ke Kania”
“....”
“Shit!.”
Malik mengumpat karena Tian mematikan ponselnya secara sepihak.
“Sabar Lik”
Dimas coba kembali menenangkan Malik yang memberikan ponsel Dimas kembali pada yang punya dan ia beralih lagi ke ponselnya sendiri.
Malik mencoba terus untuk menghubungi Kania. Dan Dimas berusaha menghubungi ketiga teman Kania yang dia pastikan kalau mereka sedang bersama dengan Kania saat ini.
"Ah bego!." Dimas menepuk dahinya. Malik sedikit teralihkan.
"Kenapa?." Tanya Malik.
"Kenapa ga dilacak aja itu GPS si Kania, Lik. Sini laptop lo" Jawab Dimas.
"Ah ****! Kenapa baru keingetan sekarang?!." Malik masuk ke kamar untuk mengambil laptopnya.
Sesegera mungkin memberikan ke Dimas yang lumayan jago untuk mengotak - atik yang namanya gadget.
Lima menit berlalu ...
"Gimana?." Tanya Malik.
"Wait" Jawab Dimas singkat karena masih serius depan laptop. "Harusnya lo pasang tracker ponsel istri lo itu, Lik."
"Ga pernah terlintas dalam otak gue kalau hal seperti ini akan terjadi!." Sahut Malik dengan ketus.
"Ya, ya . Sorry"
Beberapa menit sudah dihabiskan Dimas dengan tangannya yang masih sibuk pada mouse dan keypad laptop.
"Lama banget, Dim!."
"Sabar, bentar lagi."
***
TBC..
Dlu wajar Kania marah dan kecewa tp dia Menghindari masalah itu yg disesali dari Kania, kalau masih cinta dan perluas diperbaiki kenapa tdk dioertahankan krn pada dasarnya Malik tdk menyentuh Erika, tp Kania memlih mengakhiri dan menghindar. kalau masih mencintai kenapa cari org lain utk pelampiasan itu namanya kamu menyakiti org lain dan melibatkan Jhon dalam masalah mu padahal hati kamu belum move on. seandainya Kania sdh ikhlas dgn perpisahan dan sdh move on barulah memulai hubungan baru bukan cari pengganti dan pd akhirnya kau menyakitinya yg ga tahu masa lalumu.
mntul thorr
smngtt trz thorr dg karya" nya dn sukses sll
trlepas malik da,alsn mnikhi rika ...hrsny jgn lh ap pun itu alsn nya sm sj mnghkianati prnikh ny dg kania... mna ad istri d madu dsarr mlik egois dn muna