Pernikahan adalah hal yang diinginkan banyak orang, sayangnya pernikahan Aina Putri Arman tak semulus seperti yang di harapkan sebelumnya.
Calon suaminya tidak datang dan akhirnya, Davian Kin Sanjaya menggantikan posisi calon suami Aina di pelaminan.
Adakah sesuatu yang membuat calon suami Aina tidak hadir dalam pernikahannya sendiri?
Lalu bagaimana kehidupan rumah tangan Davian dan Aina selanjutnya?
Sekuel dari Takdir Janda Muda.
Ini adalah cerita hiburan semata, semoga suka😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Menyusup
Alee sengaja mengambil libur hari ini, ia berniat akan menggabungkan liburnya esok dengan saat ini, ada urusan yang harus ia kerjakan dan ia harus segera mengerjakannya.
Dengan berpenampilan santai, di tambah jaket hoodie berwarna hitam melekat di tubuhnya, Alee mengenakan topinya untuk membatasi orang melihat wajahnya, ia juga mengenakan kacamata hitam dan siap untuk melakukan sesuatu.
**
Sudah seminggu papanya ia rawat dan syukurlah, Arman terlihat lebih segar daripada sebelumnya. Terlihat sekali pria itu bahagia berada di sisi Aina dan Davian, senyumnya selalu terpancar pada wajahnya yang sudah keriput.
Sesekali dokter keluarga Davian berkunjung untuk memastikan kesehatan Arman. Penjelasannya sangat membuat Aina begitu lega dan lebih tenang karena mendapati papanya sudah lebih sehat terlebih psikisnya yang sebelumnya terguncang.
"Pa, Aina senang sekali papa ada di sini. Lihatlah, tubuh papa lebih berisi sekarang. Segera sembuh ya pa, nanti kita akan makan sup kacang merah kesukaan papa bersama seperti dulu!"
Arman tersenyum kemudian mengangguk pelan.
"Baiklah, papa sama pak Suta dulu, Aina mau mandi sebentar!"
Kemudian Aina meminta Suta, perawat Arman untuk menemani papanya dan ia kembali ke dalam kamarnya.
Tangannya sudah meraih gagang pintu, namun tertahan lantaran tangan seseorang menahan lengannya.
Aina menoleh dan seketika terkejut mendapati Alee berada di dalam rumahnya.
"Al-!"
Tangan Alee segera membungkam mulut Aina dan membawanya masuk ke dalam kamar Aina secara paksa.
Alee mengunci pintu kamar Aina, membuat Aina meronta melihat kelakuan Alee yang menurutnya tidak sopan.
Ia memegang lengan Alee hendak melepas bungkaman di mulutnya, namun tidak berhasil.
Alee berbicara lirih di dekat telinga Aina.
"Tolong jangan berteriak atau apapun, aku hanya ingin bicara denganmu sebentar, apa kau bisa berjanji!"
Aina hanya bisa menggerakkan matanya lalu kemudian mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Alee, agar ia pun segera terlepas dari tangan Alee.
"Okay," ucap Alee dan melepaskan tangannya di tubuh dan mulut Aina.
Tatapan keduanya bertemu. Mata Alee terlihat satu sedang mata Aina terlihat cukup tegas. Sesaat batin Alee berkata, pandanganmu sudah mulai berubah padaku, Aina.
"Al, jika kau ke sini untuk membahas hubungan kita, aku masih pada pendirian ku, jadi lebih baik lupakan saja perasaanmu sekarang kepadaku!" kata Aina tanpa memandang mata Alee. Sejujurnya dia juga tidak tega mengatakan kalimat itu, tapi ia sudah bersuami, tak mungkin ia lebih mementingkan Alee daripada Davian.
Alee masih bungkam.
"Aku mohon pergilah dari sini, jika ada orang yang melihat, aku akan dalam masalah yang besar!"
"Aina, sampai detik ini aku masih tidak percaya jika kita sudah berpisah seperti ini. Apa kau yakin tidak ingin kembali kepadaku? Aku masih sangat mencintaimu, Na?"
"...!"
Alee memegang tangan Aina, namun wanita itu segera menjauhkan tangannya." Ini semua karena mamamu, dia yang merencanakan agar kita gagal menikah dan suamimu itu mengambil alih posisiku sebagai pengantin prianya, percayalah, mereka bekerja sama!"
Sesaat hati Aina tergoyahkan lantaran mendengar konspirasi yang dulu sempat ia pikirkan sebelumnya." Aku percaya pada suamiku!" ucapnya menunduk.
Alee menggeleng." Tidak. Tapi kau masih ragu pada suamimu, dan itulah yang di tunjukkan wajahmu!"
"Kau benar," Aina tak mengelak, ia menatap tajam Alee," Aku pernah memikirkan itu semua sebelumnya, tapi aku meyakini suamiku tidak melakukannya. Aku akan mempercayainya Al, dan tolong pergilah, aku tidak mau ada masalah yang menghampiriku lagi, please!" tangannya refleks mendorong tubuh Alee agar ia keluar dari kamarnya.
Tanpa permisi Alee merengkuh tubuh Aina dan menenggelamkan tubuh wanita itu ada tubuh kekarnya.
"Al, kau sudah melewati batas!" Aina meronta dan terus mendorong dada Alee sekuat tenaga.
"Biarkan aku memelukmu, aku benar-benar merindukanmu, Na!" suara Alee bergetar seakan ia menahan tangisnya di dada. Ia merasakan tubuh wanita yang sangat ia cintai, dan sekilas bayangan indah masa lalu menari di benaknya.
Walau merasakan hal yang sama, tapi Aina terus berusaha melepaskan tubuhnya. Ia menginjak kaki Alee sekuat tenaga, membuat pria itu memekik kesakitan sehingga Aina dapat terlepas dari pelukan Alee.
"Jika kau tidak keluar, maka aku yang akan keluar dari kamar ini!" tegas Aina, dan Alee masih menggeleng, berharap Aina mau meninggalkan rumah itu bersama dengannya.
"Ikutlah denganku, kita mulai kehidupan kita bersama lagi seperti dulu!"
"Itu sudah tidak mungkin Al, cobalah untuk mengerti posisiku!" ucap Aina dengan cukup keras.
Di luar kamar, Suta mendengar suara Aina yang cukup keras walau ia tak mendengar kata-katanya dengan jelas. Suta mendekati kamar Aina dan mengetuk nya.
"Nona Aina, apa kau baik-baik saja?" tanyanya sedikit khawatir.
"Iya Pak Suta, aku baik-baik saja!" ucap Aina dari dalam.
Suta pun cukup lega dan pergi dari sana menuju ke lantai bawah.
"Kau dengar Al, jika kau tidak segera pergi, aku pasti akan dalam masalah, jadi tolong pergilah!"
"Aina," nada suara Alee masih memohon agar wanita itu bisa ikut dengannya.
Aina menghela napasnya panjang, jika pun ini semua terjadi beberapa bulan lalu mungkin Aina akan memilih ikut dengan Alee, tapi saat ini Davian lah yang menggantikan Alee di hatinya tanpa ia ketahui kapan pria baik itu masuk dalam hati dan pikirannya.
"Sorry," ucap Aina lirih." Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu Al. Dan aku tidak akan pernah melupakan masa lalu kita yang bahagia. Saat ini, kita hanya bisa mengikuti takdir yang di tentukan Yang di Atas. I hope your understand!"
Alee mendongak kecewa. Tangannya mengusap kasar wajahnya yang mulai di tumbuhi rambut-rambut kecil di dagu dan di atas bibirnya.
"Bisakah kita hanya berteman saja!" kata Aina lagi.
"Aku tidak tahu!" ucap Alee cepat. Ia segera berbalik membuka pintu dan keluar dari kamar Aina.
Aina lega, akan tetapi ia tak bisa menahan air matanya yang ingin meleleh.
Beberapa menit kemudian bi Inah dan pak Suta memasuki kamar Aina yang terbuka.
"Aina, aku melihat ada pria turun dari tangga, apa kau tidak apa-apa?" ucap bi Inah yang tampak khawatir karena Aina menangis.
"Iya Nona, bi Inah tidak tahu kapan dia datang, tapi tiba-tiba saja dia keluar rumah, dan saat aku menegurnya dia tidak menjawab sama sekali. Apa dia melakukan sesuatu padamu?"
Aina menggeleng cepat." Aku tidak apa, tolong jangan beritahu Davian jika dia kemari. Dia adalah temanku dan dia ada urusan denganku!"
ucapnya sembari mengusap air mata di pipinya.
"Tapi kau menangis sayang, ini tidak baik!" terlihat bi Inah sangat khawatir sekali dengan keadaan Aina.
Terlihat jelas kedatangan pria itu membawa dampak buruk bagi Nyonya mereka.
untuk penjahatnya tidak di hukum
jd kurang gereget dan kurang puas endingnya..