Hidup mewah tidak menjanjikan seseorang akan bahagia, sama seperti yang di alami Ardin. Anak tunggal dari keluarga kaya, namun kurang mendapatkan kasih sayang.
Ketika ulang tahunya yang ke 23 tahun, orang tuanya malah mengatakan bahwa mereka sudah bercerai.
Setelah 6 bulan perceraian Papanya menikah lagi, sedangkan sang Mama tidak tahu di mana keberadaannya sekarang.
Banyak kejutan yang terjadi di kehidupan Ardin, hingga hari di mana dirinya dilamar oleh sahabatnya sendiri, rasa haru serta keterkejutan bercampur kala itu, moment yang sunggu tidak bisa di lupakan selama hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harmilmil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Setelah menunggu 1 jam lamanya akhirnya direktur itu memberikan gaji Ardin dengan embel embel harus mau di ajak makan siang, dengan terpaksa Ardin mengiyakan saja dari pada urusannya bertambah panjang. Setelah sampai di depan meja kerjanya kembali ponsel Ardin bergetar tanda ada yang menelepon.
"Hallo" ucapnya kepada sang penelfon.
"Ar, nanti makan siang bareng kita ya" ucap sang penelfon.
"gak bisa Ra, hari ini direktur minta makan siang bareng" jawab Ardin malas.
"*W*ah, pasti banyak maunya tu, hati hati loh Ar" Raina Malah menggoda sahabatnya.
"Kalau emang mau makan siang bareng, kamu ke kantin rumah sakit ku saja, biar kita sama sama, aku malas kalau harus makan cuma berdua dengan direktur itu" Ardin mencabik kesal.
"*G*ue sih mau aja, tapi Kevin pasti gak mau, lo tau kan phobia dia kagak ilang ilang dari dulu" ucap Raina di balik telfon.
"Astaga aku lupa, yaudah masuk dari pintu samping saja, Kevin pasti mau tuh" jawab Ardin.
"*O*kedeh, sampai ketemu makan siang" dengan cepat Raina memutus sambungan telfonnya.
Jam makan siang sudah tiba sekarang Ardin tengah uring uringan di ruangannya. Tak lama terdengar suara ketukan pintu dengan malas Ardin membuka pintu ruangan kerjanya. Betapa terkejut dirinya saat mendapati pak direktur berdiri di depan pintu ruang kerjanya dengan senyuman.
"Ah! Bapak, kenapa repot repot kesini, harusnya tinggal telfon pasti saya akan langsung ke kantin" ucap Ardin malas.
"Tidak masalah, jarang jarang saya mau datang ke ruangan karyawan" jawabnya santai.
"Kalau begitu mari pak" Ardin berusaha untuk tetap tersenyum.
Mereka berdua sudah duduk di kantin rumah sakit. Hanya tinggal menunggu kedua sahabat Ardin dan pesanan mereka datang saja. Tak lama pesanan mereka datang di susul dengan kedua sahabat Ardin.
"Kalian siapa? " tanya direktur itu kepada dua sahabat Ardin.
"Perkenalkan, nama saya Kevin di sebelah saya Raina, kami berdua sahabat karib Ardin" ucap Kevin dengan senyum mengejek.
Wajah direktur itu berubah kesal, awalnya dia hanya ingin makan berdua dengan Ardin selagi punya kesempatan malah datang dua pengganggu.
Dengan segera Kevin duduk di sebelah Ardin sedangkan Raina di sebelah direktur itu.
"Kenapa kalian mengganggu saja" ucap direktur itu kesal.
"Pak, tidak boleh antara laki laki dan perempuan duduk berduaan, nanti ketiganya setan! Jadi dari pada ketiganya setan, mending kami saja" Ucap Raina dengan santai. Sedangkan Ardin tengah menahan tawanya melihat ekspresi Raina dan Direktur itu.
"Sudah sudah jangan berdebat lagi, mending sekarang makan" Ucap Kevin yang tengah sibuk menyendok makanan Ardin.
Ardin yang melihat makanannya malah di makan Kevin dengan segera memukul lengan Kevin.
"Kalau lapar itu pesan makanan Vin, jangan punya ku yang kamu makan" Ardin mencibir kesal.
"Udah udah, biar gue yang pesan makanan, masih sama kaya yang di makan Kevin kan Ar" Raina berucap.
"Iya" jawab Ardin kesal. Sedangkan Kevin hanya terkekeh sambil melanjutkan makannya.
Angga, melihat itu bertambah kesal, seakan dirinya tahu bahwa Kevin tidak hanya menganggap Ardin sebagai sahabat tapi lebih, bisa di lihat dari tatapan matanya saat berbicara dengan Ardin.
Angga adalah nama direktur rumah sakit di mana Ardin bekerja.
Raina sudah kembali dengan mampan berisi makanan mereka dirinya sengaja membawa makanan itu secara langsung. Setelah meletakkan makanan di depan Ardin bergantian dengan dirinya setelah itu mereka menikmati makanan masing masing dengan keadaan diam.
Setelah selesai makan, Angga membuka suara lebih dulu.
"Sehabis makan kalian langsung pulang kan" tanya Angga memastikan.
"Enggak dong pak, kalau menurut agama Islam sehabis makan itu seharusnya duduk terlebih dahulu" jawab Kevin gamblang.
"Maksud saya, setelah ini, kalian akan pulang kan" tanya Angga lagi.
"Tentu, tidak mungkin kami menginap di rumah sakit ini" kini Raina yang menjawab dengan nada tanpa dosa. Wajah Angga memerah, bukan karena malu tapi karena menahan marah.
"Kalau kalian tidak ada urusan di sini, silakan pergi" Angga berucap dengan wajah dingin.
"Jangan ngusir dong pak, kami masih merindukan sahabat kami" Cicit Kevin memeluk Ardin.
Membuat Angga semakin marah, dengan kesal Angga berdiri meninggalkan meja makan kantin rumah sakit.
Ketiga orang itu akhirnya tertawa lepas bersamaan. Apa lagi melihat ekspresi Angga tadi.
"Kalian jahat sekali, liatlah wajahnya tadi, sudah memerah menahan marah" ucap Ardin selesai tertawa.
"Biarkan saja Ar, dianya saja yang tidak gentel, masak kita becandain langsung marah, baperan" ujar Raina.
_
_
_
_
Jangan lupa kasi dukungan terus ke Author🤗
🙏🙏
Saling dukung yuk
Mampir yuk ke novel ku
"TROUBLE QUEEN"
Dia bukan mafia, bukan juga pembunuh berdarah dingin. Namun membunuh adalah hal yang selalu ia lakukan pada orang-orang yang menurutnya pantas.
Dia bukan mafia yang memiliki kekuasaan di dunia bawah. Tapi dia memiliki kekuasaan atas dunia ini. Hanya saja ia tidak tahu takdirnya.
Banyak misteri dan teka-teki yang entah kapan akan terungkap. Dia adalah sebuah misteri. Hidupnya adalah teka-teki. Jalan pikirannya tidak bisa ditebak.
Penasaran?
Cus baca☺
ditunggu feedbacknya di karyaku "emak, aku pengen kawin". terimakasih