"Derajat kita berbeda, hidup kita tidaklah sama, aku tak pantas untukmu, walau aku mencintaimu"
Pada awalnya Nisa lebih dulu mengenal Ryan, saat ia menggantikan posisi bibinya sebagai seorang baby sitter untuk menjaga Viona, gadis kecil anak dari seorang Ryan Brawster.
Semakin hari Viona mulai merasa nyaman saat berada didekat Nisa, hingga membuat Viona ingin menjadikan Nisa sebagai ibu sambungnya. Namun, ternyata keinginan itu ditentang oleh Katty yang sudah menjodohkan Ryan anaknya dengan seorang wanita yang bernama Merry.
Akankah takdir menyatukan Nisa dan Ryan?
Apa keinginan Viona bisa terwujud?
Ikuti kisah mereka yang berliku dan penuh haru dalam menuju kebahagiaan.
Terima kasih semua.
Jangan lupa vote dan like ya.
Selamat membaca!
Terima kasih ya all.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghinaan
Selamat membaca!
Nisa mulai memberanikan diri untuk mendekati Katty dan Viona yang masih terlihat berpelukkan. Walau gugup, tapi Nisa tak mungkin bila tidak menyapa Katty, apalagi Katty adalah orang tua dari pria yang akan menjadi suaminya nanti, itulah yang ada di dalam pikiran Nisa kala itu.
Semakin Nisa mendekat, kedua mata Katty semakin tajam menatap wajah wanita yang saat ini membuat amarah dalam dirinya, mulai merayap naik.
"Selama pagi, Nyonya," ucap Nisa dengan penuh keraguan.
"Iya selamat pagi juga, kamu itu keponakan Mia ya?" tanya Katty yang sudah melepas pelukan Viona. Namun, ia masih berusaha ramah karena saat ini masih ada Viona didekatnya. Katty tidak mau menunjukkan amarahnya di depan cucu kesayangannya itu.
"Iya betul Nyonya. Saya Nisa," jawab wanita itu coba menepikan rasa gugupnya.
Tiba-tiba Viona mendekat ke arah Nisa dan memeluk kedua kaki wanita itu dengan senyum manis yang terlukis di wajahnya.
"Ini Mommy aku, Oma. Ayah akan segera menikahi Aunty," celutuk Viona yang membuat Nisa kembali gugup, raut wajahnya kini sudah merona merah, menahan rasa malunya.
Katty yang mendengar apa yang dikatakan oleh Viona, menjadi terlihat geram terhadap Nisa. Rahangnya seketika mengeras dengan sorot mata yang lebih tajam dari sebelumnya. Sementara itu Merry sendiri hanya memasang wajah penuh rasa heran, akan maksud perkataan Viona.
"Mungkin itulah alasan Viona sudah begitu dekat dengan Nisa? Tapi apa iya, saat ini Ryan telah mencintai wanita ini?" batin Merry penuh tanda tanya.
"Sayang, kamu main dulu ya dengan Aunty Merry, karena Oma ingin bicara berdua dengan calon Mommy kamu ini," ucap Katty yang diakhir kalimatnya terdengar begitu gemas terhadap Nisa.
Nisa mulai menyadari ketidaksukaan yang saat ini ditunjukkan oleh Katty.
"Kenapa sepertinya wanita ini tampak tidak menyukaiku?" gumam Nisa dengan kening yang sudah mengerut dalam.
Setelah mendengar perintah Katty, Merry pun menuntun langkah Viona untuk keluar dari kamar. Walau ia tampak heran atas permintaan Katty.
"Sebenarnya apa yang ingin dikatakan Mommy kepada wanita ini?" batin Merry yang terus melangkah bersama Viona keluar dari kamar.
Setelah Katty memastikan keberadaan Viona yang sudah menjauh darinya. Wanita itu langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. Kedua matanya kini kembali menatap wajah Nisa yang semakin gugup dan terlihat bingung.
"Kamu pasti bertanya-tanya untuk apa saya menyuruh Viona, agar tidak berada di kamar ini."
Nisa masih diam tanpa mampu menjawab apa yang dikatakan oleh Katty.
"Karena saya tidak ingin Viona mendengar, apa yang akan saya katakan ini!" sambung Katty sembari melangkah memutari tubuh Nisa, dengan sorot mata yang terkesan merendahkan sosok wanita yang kini sudah tampak gugup.
"Maksudnya Nyonya?" tanya Nisa memberanikan dirinya untuk menjawab perkataan, yang terlontar dari mulut Katty.
Tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat pada sebelah pipi Nisa, hingga membuat wajah wanita itu berpaling dari menatapnya. Tamparan yang bukan hanya terasa perih dan panas di pipinya, tapi juga terasa begitu menyakitkan di dalam hatinya, membuat kedua mata Nisa, tampak mulai berkaca-kaca.
"Apa salah saya Nyonya?" tanya Nisa sambil memegangi pipinya.
"Salah kamu adalah karena terlalu banyak bermimpi! Kamu itu hanya baby sitter di sini, kamu tahu baby sitter itu apa? Baby sitter itu sama seperti pembantu!" ketus Katty dengan penuh penekanan.
Penghinaan yang terucap dari kemarahan Katty, membuat Nisa tak kuasa menahan air mata yang sudah menganak di kelopak matanya.
"Untuk apa kamu tangisi? Semua ini adalah kenyataan yang harus kamu terima! Kamu itu hanya seorang pembantu dan sebagai pembantu, jangan pernah bermimpi terlalu tinggi untuk bisa menjadi Nyonya di rumah ini. Sekali pembantu, selamanya status itu tidak akan pernah berubah, karena saya tidak sudi memiliki menantu seperti kamu."
Nisa menahan perih di dalam hatinya dengan sekuat tenaganya. Ia berusaha untuk tidak terlihat lemah di depan Katty, walau saat ini kedua kakinya mulai terasa lemah untuk menopang raganya.
"Sekarang kamu pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi!" titah Katty dengan amarah yang sudah memuncak dan sudah benar-benar menguasai dirinya.
Amarah itu menuntun tangannya untuk kembali mengayun ke arah wajah Nisa. Namun, untuk kali ini Nisa tak tinggal diam, ia menahan sebelah tangan Katty dengan sisa tenaganya lalu menghempaskannya.
"Cukup penghinaan yang kau ucapkan Nyonya Katty! Aku akan pergi dari sini tanpa harus kau perintahkan. Satu yang perlu kamu ketahui, bahwa aku tidak pernah sekalipun merayu anakmu, karena Tuan Ryanlah yang terlebih dulu mendekatiku!"
"Pergi kau sekarang!" ucap Katty yang kembali mengusir Nisa.
Nisa pun mulai melangkah untuk keluar dari kamar, tanpa mengambil tas yang masih berada di dalam kamarnya. Ia memilih untuk langsung keluar dari rumah dengan membawa luka yang teramat perih di dalam hatinya.
"Maafkan Mommy, Viona. Ini mungkin sudah takdirnya, karena benar kata Omamu, jika Mommy memang tidak pantas untuk Ayahmu. Namun, Mommy akan selalu menyayangimu, walau raga kita tak lagi bersama," batin Nisa begitu pedih.
Kepedihan yang membuat bulir kesedihan tak henti-hentinya, membasahi wajah cantik Nisa yang saat ini terlihat begitu sendu.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️