Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Aku menggandeng erat tangan kekar pria di sampingku, menuntunnya melewati celah lapak-lapak sempit penjual ikan basah yang becek.
"Tabe', Tanta..." ucapku ramah pada beberapa ibu-ibu yang berkerumun. Mereka lantas bergeser sedikit, memberikan jalan untuk kami lewat.
"Oh, Mohamma! Ada bule nyasar ke sini pale!" seru Om penjual ikan seketika saat melihat perawakan tinggi besar Jalal. Ucapan spontannya itu sukses membuatku tertawa renyah.
"Kasi ikan yang ini dua kilo, Om," ucapku, lalu menoleh menatap Jalal sembari tersenyum geli.
"Oke, Cantik!" jawab si penjual ikan dengan nada bercanda yang renyah.
Namun, aku seketika tersentak kala merasakan remasan tangan suamiku mendadak mengerat begitu kuat. Aku refleks menoleh, mendongak menatap wajah Jalal. Pria itu mendadak terdiam kaku. Tidak ada lagi raut senyum ataupun keramahan yang tersisa di wajah tampannya. Tatapan matanya lurus dan datar menatap si penjual ikan.
'Ada apa dengannya? Apa dia marah?' tanyaku cemas dalam hati.
Om penjual ikan selesai menimbangkan pesananku, lalu membungkusnya ke dalam kantong plastik hitam. "Berapa semuanya, Om?" tanyaku pelan.
"Ya, lima puluh ribu," jawabnya ramah.
Aku tersenyum, perlahan melepaskan genggaman tanganku dari cengkeraman Jalal yang kaku untuk membuka dompet. Aku mengeluarkan selembar uang seratus ribu lalu menyerahkannya. "Oke, terima kasih," ucap si penjual setelah menyerahkan uang kembalian ke tanganku.
"Ayo, Pak, kita beli sayur ke sebelah sana," ajakku pelan sembari menyentuh lengannya.
Jalal hanya mengangguk singkat, lalu mengikuti langkahku dari belakang tanpa suara. Karena ini pasar di desa, para penjual sayur lebih memilih menggelar terpal seadanya di atas tanah lalu menyusun dagangan mereka di bawah. Aku memutuskan untuk membeli palola atau terong bulat yang biasa dijadikan lalapan atau pelengkap masakan khas kami.
"Sayurnya, Dek," sapa seorang ibu penjual sayur dengan ramah.
Aku mengajak suamiku yang masih setia membisu untuk mendekat. "Berapa palola-nya, Tanta?" tanyaku.
"Lima ribu satu kilo," jawabnya.
"Kasi satu kilo, Tanta." Ibu itu mengangguk cekatan, menimbangkan terong-terong bulat yang kelihatan masih sangat segar dan mengkilap.
Setelah membayar, aku menarik pelan lengan baju Jalal menuju lapak sayuran hijau di sebelahnya. "Berapa bayamnya?" tanyaku sembari membolak-balik ikatan sayur.
"Dua ikat lima ribu," jawab si penjual. Aku menyerahkan selembar uang lima ribu rupiah, lalu kembali bergeser untuk mencari sagu segar sebagai bahan utama mesonggi.
Setelah berhasil mendapatkan sagu, aku menarik lengan suamiku mendekati sebuah gerobak penjual nasi kuning yang aromanya sangat menggugah selera. "Bapak mau makan nasi kuning tidak?" tanyaku menengadah, mencoba mencairkan suasana kelam di antara kami.
Pria itu hanya mengangguk samar tanpa mau menatap mataku. Pandangannya lurus menunduk ke arah tanah.
"Pak? Bapak kenapa sih dari tadi?" tanyaku bingung sekaligus gemas.
Pria matang itu akhirnya melirikku sekilas, lalu menggelengkan kepala pelan tanpa sepatah kata pun. Aku hanya bisa terdiam, mengembuskan napas lesu melihat sifat keras kepalanya yang mendadak kumat.
"Mbak, nasi kuningnya lima bungkus ya. Empat bungkus pakai ayam, yang satu bungkus biasa saja tapi tolong tambahkan telur rebus," ucapku pada penjual nasi kuning. Mbak penjual itu tersenyum lalu dengan cekatan membungkus pesanan kami.
"Yasita!" tiba-tiba sebuah suara pria memanggil namaku dari arah belakang.
Aku refleks menoleh. Ternyata itu Ilham, teman sekelasku saat zaman SMA dulu. "Oh, Ilham!" jawabku spontan menyunggingkan senyum ramah.
"Astaga, lama tidak ketemu... makin cantik saja kau sekarang," godanya blak-blakan dengan logat khas kami.
"Oh, jelas toh..." jawabku bercanda sambil berlagak mengibas rambut panjangku ke belakang. "Mana istrimu?" tanyaku kemudian.
"Itu, lagi pilih-pilih baju di sebelah sana... biasa, perempuan!" ucapnya terkekeh. "Oh, paham..." jawabku ikut tertawa.
Ekspresi Ilham mendadak berubah sedikit serius, dia melangkah selangkah lebih dekat. "Yas, Fadli kemarin sempat tanyakan kamu... komorang masih suka kontak-kontakkan kah?" tanyanya penasaran.
Aku langsung mengernyitkan dahi mendengar nama itu disebut. "Tidak, lamami... Saya kira dia juga sudah menikah sekarang," jawabku cuek. Mengingat nama Fadli hanya membuatku kesal; ah, dasar cinta monyet zaman SMA.
"Yas, siapa itu di sebelahmu...?" tanya Ilham tiba-tiba dengan berbisik pelan, matanya melirik ke arah sampingku.
Aku seketika ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Ilham. Astaga! Aku hampir lupa kalau aku sedang mengajak Jalal blusukan ke pasar!
Kulihat wajah suamiku sudah benar-benar datar, mengeras, dan aura di sekitarnya tampak menghitam pekat seperti dasar panci yang gosong. Aku menyunggingkan senyum canggung yang dipaksakan pada Ilham. "Eh, Ilham... ini suamiku," cicitku teramat pelan dengan nada tidak enak hati.
"Hah?! Suamimu?! Ko sudah menikah kah?" tanya Ilham syok setengah mati dengan mata membelalak. Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Pikiranku sudah tidak fokus pada Ilham lagi, melainkan pada kemarahan suamiku yang sudah di ubun-ubun.
"Kapan ko menikah? Kenapa tidak undang-undang kita?" cecar Ilham beruntun.
"Acaranya mendadak... tapi tenang saja, nanti kalau ada acara syukuran di rumah, saya undang ko. Ada acara lulo-nya juga nanti," jelasku berusaha menenangkan.
Ilham langsung tersenyum lebar mendengar kata Lulo' itu disebut. "Oke mi kalau begitu, nanti pasti saya datang."
Aku mengangguk cepat, lalu bergegas membayar pesanan nasi kuningku yang kebetulan sudah selesai dibungkus. "Eh, duluan nah..." ucapku berpamitan pada Ilham, lalu segera berbalik dan menarik lengan Jalal untuk pergi dari tempat itu.
Sepanjang langkah kaki kami menuju parkiran, raut wajah Jalal tetap datar sempurna tanpa kata. Rasa takut yang amat sangat mendadak merayapi hatiku, hingga tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat untuk meredam debaran dada yang bergemuruh panik.