NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Rahasia Kalung Yang Sama

​Zuttt!

​Denyutan tajam di pangkal kepala Vina semakin menjadi-jadi. Pandangannya berputar lambat, dan dalam sekejap, dinding kamar mewah Nyonya Besar Laksmana seolah runtuh, digantikan oleh hamparan rumput hijau yang luas di bawah langit sore yang benderang.

​Dalam fragmen memori yang mendadak melesat masuk, Vina melihat dirinya sendiri saat masih kecil. Vina kecil, dengan kuncir dua dan gaun katun sederhana yang agak usang, sedang berdiri di bawah sebuah pohon ceri yang besar dan rindang. Di atas dahan pohon tersebut, seorang anak laki-laki dengan pakaian beludru yang terlihat sangat mahal dan rapi sedang memanjat dengan lincah.

​"Vina! Tangkap kalau bisa! Kamu pendek sekali, tidak akan bisa menyusulku ke atas sini! Hahaha!" ejek anak laki-laki itu dari atas dahan, menjulurkan lidahnya dan tertawa riang.

​"Kakak! Turun! Nanti kalau jatuh bagaimana? Aku tidak mau ikut dimarahi ya!" teriak Vina kecil dari bawah, berkacak pinggang dengan wajah cemberut namun matanya memancarkan rasa sayang dan keceriaan yang murni.

​Anak laki-laki itu tertawa meledek, dan saat tubuhnya bergerak bersandar pada batang pohon, sebuah benda di lehernya bergoyang tertimpa sinar matahari. Benda itu adalah sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap elang yang sangat unik dan khas. Dan ketika Vina kecil menunduk untuk memandangi dadanya sendiri, di lehernya pun melingkar sebuah kalung yang memiliki bentuk dan ukiran yang sama persis. Sepasang kalung kembar.

​Guncangan lembut.

​"Vina...? Vina, kamu mendengar Ibu, Nak?"

​Suara lembut Nyonya Besar Laksmana dan guncangan pelan di lengannya seketika membuyarkan seluruh ingatan masa lalu itu. Vina tersentak, mengerjapkan matanya berkali-kali. Sensasi dingin dan napasnya yang sempat tertahan perlahan kembali normal. Ruangan kembali berubah menjadi kamar tidur utama Nyonya Besar yang megah.

​Nyonya Besar menatap menantunya dengan kening berkerut cemas. "Ada apa, Vina? Wajahmu mendadak pucat sekali setelah melihat foto ini. Apa kepalamu sakit lagi? Racunnya tidak bereaksi lagi, kan?"

​Vina memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya dan menggeleng pelan, mencoba menenangkan ibu mertuanya. "Tidak apa-apa, Ibu. Vina tidak apa-apa. Hanya... hanya mendadak sedikit pusing karena silau saja tadi."

​"Duh, syukurlah. Ibu sempat takut terjadi sesuatu padamu lagi," desah Nyonya Besar lega.

​Wanita paruh baya itu kemudian membalikkan halaman album foto kulit tersebut ke lembaran selanjutnya. Namun, baru saja halaman itu terbuka dan menampilkan sebuah foto potret tunggal berukuran besar, tubuh Vina seketika membeku total. Jantungnya serasa berhenti berdetak untuk satu detik yang panjang.

​Di dalam foto itu, berdiri seorang lelaki muda berwajah tampan dengan tatapan mata yang dingin namun sarat akan kesedihan. Lelaki muda itu mengenakan setelan jas hitam formal, dan di lehernya... melingkar dengan sangat jelas sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap elang. Kalung yang sama persis dengan yang ada di dalam ingatan masa kecil Vina barusan.

​"Ini..." Jari telunjuk Vina gemetar hebat saat ia mengarahkannya dan menunjuk tepat pada sosok lelaki di dalam foto itu. Suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. "Ini... siapa, Ibu?"

​Nyonya Besar Laksmana menatap foto itu dengan pandangan mata yang seketika berubah menjadi sangat sayu dan dipenuhi rasa rindu yang mendalam sebagai seorang ibu.

​"Ini Dimas," jawab Nyonya Besar dengan helaan napas berat dan parau. "Foto ini diambil tepat pada hari ia memutuskan untuk pergi dari rumah ini dan memilih untuk menetap di Amerika selamanya."

​"Kak Dimas...?" bisik Vina lirih, mengulangi nama itu dengan dada yang bergemuruh hebat.

​"Iya," angguk Nyonya Besar, jemarinya mengusap pelan permukaan foto Dimas. "Saat itu, Ibu benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka bertengkar hebat sekali di aula bawah. Radit dan Dimas... Ibu tidak pernah melihat mereka berdua saling membenci seperti hari itu. Pertengkaran itu begitu besar dan mengerikan hingga membuat Dimas memilih untuk memutuskan hubungan, mengemas seluruh barangnya, dan pergi dari rumah ini tanpa pernah mau kembali lagi."

​Sebuah hantaman kebingungan dan rasa penasaran yang luar biasa mendadak menyerang benak Vina. Kalung itu... ingatan itu... semuanya terasa saling terhubung, namun terasa sangat kabur dan membingungkan. Vina tahu, ada sesuatu yang harus segera ia pastikan di kamarnya sendiri sekarang juga.

​Vina segera menguasai dirinya dan perlahan bergeser mundur, bersiap untuk pamit.

​"Oh... oh iya, Ibu," ucap Vina sedikit terbata-bata, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya. "Vina... Vina ke kamar dulu ya, Bu. Sepertinya Vina baru teringat kalau lupa mengantarkan beberapa pakaian kotor Mas Radit ke bawah biar para pelayan bisa langsung mencucinya hari ini."

​Nyonya Besar mendongak dan tersenyum hangat, sama sekali tidak menaruh rasa curiga pada perubahan sikap menantunya. "Baiklah, Nak Vina. Pergilah, urus keperluan suamimu. Dan... terima kasih banyak untuk cemilan dan kejutan kue tradisionalnya tadi, ya. Ibu sangat suka."

​"Iya, Ibu, sama-sama. Vina pamit dulu," jawab Vina sambil membungkuk hormat dan melangkah mundur ke arah pintu. "Jika nanti Ibu membutuhkan sesuatu atau ingin cemilan lagi, Ibu bisa langsung panggil Vina di kamar atau lewat Ica, ya."

​Nyonya Besar Laksmana mengangguk lembut dengan senyuman yang terus menghiasi wajah tuanya. Vina pun melangkah keluar, menutup pintu kayu jati kamar utama itu dengan sangat perlahan dan rapat.

​Begitu pintu tertutup, Vina tidak membuang waktu lagi. Dengan napas yang memburu penuh ketegangan, ia setengah berlari menyusuri koridor lantai dua menuju kamar tidurnya bersama Radit.

​Cklek!

​Vina masuk dan langsung mengunci pintu kamar dari dalam. Jantungnya bertalu-talu dengan sangat kencang di dalam rongga dadanya. Ia berjalan cepat mendekati meja rias dan membungkuk di depan sebuah laci kayu kecil yang berada di sudut paling bawah. Tangannya yang gemetar bergerak membuka laci tersebut, mengais ke bagian paling dalam di balik tumpukan buku catatan harian lamanya dari kampung.

​Jari-jari lentiknya menyentuh sebuah kotak beludru kecil berwarna merah yang sudah agak berdebu. Vina menarik kotak itu keluar, lalu dengan napas yang tertahan, ia membuka tutupnya.

​Di dalam kotak itu, terbaring sebuah kalung perak tua. Liontinnya berbentuk ukiran sayap elang yang sangat detail dan kokoh. Vina mengangkat kalung tersebut dengan kedua tangannya, membawanya ke bawah temaram cahaya lampu kamar.

​Benda ini adalah satu-satunya barang berharga yang selalu ia simpan sejak kecil, barang yang selalu ia bawa dari kampung halamannya dan tidak pernah ia izinkan siapa pun untuk menyentuhnya. Dan hari ini, mata Vina menyaksikan dengan kepala dan kesadarannya sendiri, bahwa kalung di tangannya ini memiliki bentuk, ukuran, dan guratan yang sama persis dan identik dengan kalung yang dikenakan oleh Dimas di dalam foto album milik Nyonya Besar tadi.

​Air mata Vina perlahan menetes membasahi pipinya, menjatuhi liontin perak di genggamannya. Kebingungan dan kenyataan pahit mendadak berputar-putar di dalam otaknya yang terasa mau pecah.

​"Apa... Apa Kak Dimas adalah kekasih masa kecilku yang selama ini hilang dari ingatanku...?" bisik Vina dengan suara yang bergetar hebat dan parau ditelan keheningan kamar. "Tapi... kenapa aku tidak bisa mengingat wajahnya dengan jelas? Kenapa ingatan ini begitu buram dan menyakitkan...?"

​Vina meremas kalung tersebut dan mendekapkannya erat-erat di depan dadanya yang terasa sangat sesak dan menyiksa.

​"Jika Kak Dimas adalah orang dari masa laluku yang memiliki kalung kembar ini... lalu... lalu... Gimana tentang hubungan kami setelah ini?" ratap Vina dalam hati, menyadari sebuah kenyataan mengerikan bahwa takdir pernikahan dan cintanya dengan Radit kini berada di ambang jurang rahasia masa lalu yang siap menghancurkan kebahagiaan mereka sewaktu-waktu.

1
Ris Ris.25
Mila.. Tuh banyak kaca..😊
Putri Ayu/PqxxyZ: waduuhhh🤣
total 1 replies
Nalara amora
semoga Nerima baik keluarga mas raditt😭😭🙏
takut mlh di usirr😭😭🙏
Nalara amora: aduhh takot nih ka😭
total 2 replies
Nalara amora
curiga bgt nih sana Mila 😭
Nalara amora: hahahah iya nih kaa😭🤣🙏
total 2 replies
Ris Ris.25
Ada niat jahat
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih.. mencurigakan sekali kan?🤣
total 1 replies
Nalara amora
aduhh salting nya mas raditt 🤭🤭
Nalara amora
jadi kalung yg di mba vina itu kalung mas Radit kah😭🤭
Nalara amora
cintaa segi tiga kah mereka kaa😭
Nalara amora: aduhh semoga aja milih mas radittt😭🤭
total 2 replies
Nalara amora
aduhh ngakak sama mas Radit nih 🤭
itu mas dimas mau buat skenario sendiri kah😭
Mustafa
anaknya tomboy sekali ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ: nah betul sekali..
total 1 replies
Ris Ris.25
waduhh susah ya
Putri Ayu/PqxxyZ
iya nih refresing otak dulu
Putri Ayu/PqxxyZ
waduuhh
Nalara amora
aduh makin ga suka nih sama mas dimas 😭🙏
Nalara amora
aduhh teka teki nih😭
Nalara amora
aduh makin bimbang, sebenarnya mas dimas apa mas Radit nihh😭
mba vina sini mba cerita, aku nanti yg tanya tanya deh ke mas Radit sama mas dimas nya😭🙏
Nalara amora
pikiran orang tuanya mas Radit plis, ngakak bgt😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
anjayyyy.. kosakata nya loh ada bumbu gombalan, 👍
Arni Arlinawati pratiwi
eh.. roti sobek, 😍
Arni Arlinawati pratiwi
masih di simak banyak waktu ko tenang..
Arni Arlinawati pratiwi
ayam liar.. bejir cuma judul, langsung di galakin anak orang,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!