NovelToon NovelToon
UNDYING

UNDYING

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: yersya

"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."

"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."

"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."

"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Hari-hari berikutnya menjelma menjadi pusaran kesibukan yang tiada henti.

Jadwal Arisya bukan sekadar padat, melainkan nyaris tak masuk akal untuk ukuran seorang remaja. Dari rapat direksi internal Aethel Capital di pagi hari, makan siang formal dengan para bankir swasta, hingga menghadiri jamuan makan malam dan pesta privat para pengusaha muda di hotel-hotel berbintang lima Jakarta. Arisya melompat dari satu peran ke peran lainnya tanpa jeda.

Aku, sebagai sekretaris sekaligus pengawalnya, terus berdiri tegak di sampingnya. Mengamati gerak-gerik setiap orang di sekeliling kami, membawakan tablet dokumen, hingga memasang tatapan dingin yang cukup untuk membuat para pria hidung belang di pesta-pesta itu berpikir dua kali sebelum mencoba mendekati Arisya.

Melihat tumpukan berkas dan padatnya agenda Arisya hingga larut malam, kini aku mengerti sepenuhnya kenapa gadis itu sering tidur seperti mayat dan bangun kesiangan jika tidak ada jadwal pagi.

Hingga akhirnya, di hari kelima, perang dingin yang dilancarkan Arisya membuahkan hasil.

Suplai bahan bangunan utama di kawasan Bekasi mendadak tersendat parah. Proyek Central Park Residence milik Hendra terancam berhenti total, mengundang ancaman penalti triliunan rupiah dari para pembeli unit. Seperti dugaan Arisya, PT Nusantara Konstruksi Tama menolak mentah-mentah proposal kemitraan Hendra karena skala proyek yang dianggap terlalu kecil.

Telepon Arisya berdering tak henti-henti sejak kemarin sore. Hendra mengemis untuk mengadakan diskusi ulang. Arisya menyetujuinya, menentukan tempat di restoran yang sama pada pukul 14.00 WIB.

Namun kini, waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Dan kami masih santai duduk di dalam mobil Rolls-Royce yang terparkir di dalam garasi apartemen.

"Kita sudah terlambat satu setengah jam," ujarku datar dari kursi belakang, memecah keheningan sembari melirik jam tangan hitam di pergelangan tanganku. "Sopir bahkan belum menyalakan mesin."

Arisya, yang sedang santai mengoleskan lipstik tipis di depan cermin kecilnya, hanya bergumam pelan. "Aku tahu."

"Kau sengaja?" tanyaku menaikkan sebelah alis. "Kenapa?"

Arisya menutup cermin lipstiknya dengan suara klik pelan, lalu menoleh padaku dengan tatapan mata yang amat dingin dan penuh perhitungan.

"Dalam negosiasi, orang yang mendesak adalah orang yang kalah, Luna," tutur Arisya tenang. "Tiga hari lalu, Hendra merasa berada di atas angin karena dia pikir dialah yang memegang kendali atas waktu dan pilihanku. Hari ini, aku ingin membalik posisi itu. Biarkan rasa cemas memakan habis sisa keangkuhannya."

Ia menyandarkan punggungnya, menatap ke luar jendela. "Makin lama dia menunggu di ruangan itu, makin panik otaknya membayangkan proyeknya gulung tikar. Saat kita datang nanti, dia tidak akan berpikir untuk menawar lagi. Dia hanya akan berpikir bagaimana caranya agar aku menyelamatkannya."

Aku menatapnya sejenak, lalu mengangguk tipis. "Permainan psikologis yang kejam."

Arisya menyunggingkan senyum tipis. "Hanya memberi pelajaran kecil."

Pukul 16.00 WIB. Tepat dua jam dari jadwal yang disepakati.

Pintu VIP Room dibuka oleh pengawal. Suasana di dalam ruangan terasa begitu pekat dan berat. Suhu pendingin udara seolah tak mampu mendinginkan suasana hati dua pria yang sudah duduk di sana selama dua jam penuh.

Hendra tampak berantakan. Dasi mewahnya sudah dikendurkan, kemejanya sedikit kusut, dan cangkir-cangkir kopi kosong menumpuk di atas meja. Di sampingnya, Kevin tak lagi memasang wajah menyebalkan; pemuda itu terus meremas jemarinya sendiri dengan raut tegang.

Saat kami melangkah masuk, Hendra langsung berdiri spontan.

"Nona Arisya!" serunya, ada nada emosi yang tertahan di tenggorokannya, namun bercampur ketakutan yang sangat jelas. "Kami sudah menunggu di sini sejak jam dua siang!"

Arisya tidak meminta maaf. Ia bahkan tidak berkedip. Dengan santai, ia menarik kursi di hadapan Hendra, lalu duduk dengan gerakan sangat anggun. Aku berdiri tegap tepat di belakang sebelah kanannya, menyilangkan tangan di depan tubuh sembari memberi tatapan dingin menekan pada Kevin.

"Jadwalku sangat padat hari ini, Pak Hendra," sahut Arisya datar, suaranya mengalun tenang tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Lagipula, lima hari lalu Anda yang menunda pertemuan secara sepihak. Saya berasumsi waktu bukan masalah besar bagi Anda."

Hendra tertegun. Tenggorokannya naik turun, menelan ludah dengan susah payah. Ia ingin marah, namun posisi tawar perusahaan yang di ujung tanduk menahannya mentah-mentah.

"Baik... Baiklah, mari kita lupakan soal waktu," ucap Hendra terengah, lalu menyodorkan berkas baru ke tengah meja dengan tangan yang sedikit gemetar. "Kami... kami sudah meninjau ulang proposal Aethel Capital. Kami setuju untuk memberikan 25% ekuitas dan kendali logistik, asal dana pendanaan 40% itu cair minggu ini."

Arisya bahkan tidak menyentuh berkas itu. Ia hanya meliriknya sekilas dengan pandangan meremehkan.

"Itu adalah penawaran lima hari lalu, Pak Hendra," potong Arisya dingin.

Hendra membeku. "M-maksud Anda?"

"Lima hari lalu, proyek Anda belum berada di ambang kemangkrakan," Arisya memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan jemarinya yang lentik, menatap Hendra lurus-lurus. "Saat ini, harga saham Graha Megah Mandiri di pasaran merosot akibat rumor tersendatnya material. Risiko investasi saya membengkak dua kali lipat."

"Lalu... apa mau Anda sekarang, Nona?" sela Kevin dengan suara mencicit, benar-benar sudah kehilangan taji kepemimpinannya.

Arisya mengalihkan pandangannya pada Kevin, menyunggingkan senyum manis yang mematikan.

"51% kepemilikan saham penuh atas proyek Central Park Residence. Aethel Capital memegang kendali direksi utama. Dan biaya operasional akan dipangkas 15% dari rencana awal Anda."

"APA?!" Hendra membelalakkan mata, memukul meja. "51%?! Itu sama saja Anda mengambil alih proyek saya!"

"Memang," sahut Arisya tanpa ragu sedikit pun. Suaranya tidak membesar, namun setiap kata yang keluar menghantam ruangan bagaikan ketukan palu hakim. "Anda bisa menolak tawaran saya sekarang, Pak Hendra. Tapi saya pastikan, besok pagi, berita tentang berhentinya proyek Anda akan muncul di media nasional. Dan dalam dua minggu, perusahaan Anda akan dinyatakan pailit."

Hendra terduduk lemas di kursinya. Wajahnya pucat pasi, tak ada lagi sisa keangkuhan dari pria paruh baya yang minggu lalu meremehkan dua remaja di depannya.

Ia menatap Arisya, lalu melirikku yang berdiri bagaikan algojo bisu di belakang Arisya. Ruangan itu kini sepenuhnya berada di bawah kendali mutlak Arisya.

"Saya... beri saya waktu lima menit untuk berpikir," bisik Hendra serak, suaranya nyaris pecah.

Arisya bersandar kembali ke kursinya, menyilangkan kaki dengan elegan. "Anda punya waktu tiga menit, Pak Hendra. Lewat dari itu, saya akan berjalan keluar dari ruangan ini."

Aku menatap Arisya dari belakang. Di balik wajah cantiknya, gadis ini benar-benar telah tumbuh menjadi sosok pemimpin yang sangat dominan.

Hendra memegangi pelipisnya yang berdenyut hebat. Wajahnya yang pucat pasi menatap kosong lembar dokumen di atas meja, jiwanya terhempas oleh tekanan waktu tiga menit yang diberikan Arisya.

Namun, di sampingnya, Kevin sudah mencapai batas histeria. Urat-urat di leher pemuda itu menegang, dadanya naik turun dihinggapi amarah yang membakar habis sisa akal sehatnya. Di matanya, yang berdiri di hadapannya hanyalah dua orang gadis remaja yang kebetulan beruntung memiliki modal besar.

"TUTUP MULUTMU, BANGSAT!"

Kevin berteriak histeris, mendobrak kursinya hingga terpental ke belakang. Matanya membelalak liar saat ia melompati meja, menerjang maju dengan kedua tangannya terulur ke arah leher Arisya!

"KEVIN, JANGAN!" jerit Hendra panik.

Arisya bahkan tidak sempat berkedip. Namun, sebelum jemari Kevin menyentuh sehelai pun serat pakaian Arisya, bayangan tubuhku sudah menyusup ke dalam jarak pandangnya.

Refleks yang terpatri dari ratusan kali pertarungan di penjara mengambil alih tubuhku secara otomatis. Dengan gerakan kilat, tangan kiriku menyambar pergelangan tangan Kevin yang terulur, sementara telapak tangan kananku menghantam keras rusuk bagian sampingnya untuk menghentikan momentum pendorongnya.

BUG!

Sebelum Kevin sempat mengerang, aku memutar poros tubuhku seratus delapan puluh derajat, menyelipkan bahuku di bawah ketiaknya, lalu mengungkit seluruh bobot tubuhnya melompati punggungku.

DUBRAKKK!

Punggung dan belakang kepala Kevin menghantam lantai semen berlapis karpet tebal itu dengan sangat telak. Benturan keras itu membuat kaca-kaca jendela di VIP room berguncang tipis. Udara di paru-paru Kevin terhempas keluar sekaligus, membuatnya melotot dan menganga tanpa sanggup mengeluarkan suara.

"Kevin!" Hendra menjerit histeris, hendak berlari menghampiri anaknya.

"Jangan bergerak," desisku dingin tanpa menoleh. Suaraku begitu rendah, namun sarat akan ancaman yang membekukan langkah Hendra di tempat.

Aku menunduk, menatap Kevin yang terlentang memegangi dadanya. Tanpa pamer ekspresi, aku melangkah satu tapak, lalu berlutut dan menyambar pergelangan tangan kanan Kevin yang terkulai. Aku memutarnya ke sudut yang salah, lalu menekan siku bagian dalamnya menggunakan lututku.

KREK!

"ARGHHHHHH! TANGAN-TANGANKU! AMPUN!"

Jeritan melengking Kevin memecah keheningan ruangan. Tulang engsel tangannya bergeser secara paksa.

Hendra jatuh berlutut di lantai, memegangi kepalanya sendiri sembari menangis histeris. "Tolong! Jangan bunuh anak saya! Saya mohon! Kami setuju! 51% kepemilikan, kendali direksi, pemangkasan operasional, kami serahkan semuanya! Tolong lepaskan dia!"

Di balik raut wajahnya yang tetap anggun dan tenang, Arisya sebenarnya sempat tersentak kaget. Pupil mata hazelnya membesar tipis menyaksikan betapa cepat dan brutalnya tindakanku. Namun, sebagai seorang pembisnis ulung, ia menyembunyikan keterkejutannya dengan sempurna dalam hitungan detik.

Arisya berdiri perlahan dari kursinya, merapikan gaunnya yang tak berkerut sedikit pun, lalu menatap Hendra dari atas.

"Keputusan yang sangat bijak, Pak Hendra," ujar Arisya dengan nada dingin tanpa ampun. Ia mengambil pena mewah dari dalam tasnya, lalu melemparnya tepat di depan dada Hendra yang gemetaran. "Tanda tangani berkas kemitraan baru ini sekarang. Sebelum sekretarisku memutuskan untuk mematahkan tangannya yang satu lagi."

Dengan tangan yang bersimbah peluh dingin dan gemetar hebat, Hendra menandatangani berkas akuisisi itu di atas lantai, di samping anaknya yang masih mengerang kesakitan.

Sepuluh menit kemudian, kami sudah kembali berada di dalam kabin kedap suara mobil Rolls-Royce yang sedang melaju tenang meninggalkan restoran.

Suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi. Arisya duduk menyilangkan kakinya, mengamati berkas perjanjian bernilai ratusan miliar yang baru saja ditandatangani secara paksa.

Setelah beberapa saat diam, Arisya menghembuskan napas panjang, lalu memutar kepalanya menatapku lurus-lurus.

"Jujur saja... aku sangat terkejut tadi," akuinya jujur, raut anggunnya perlahan luntur digantikan ekspresi keheranan. "Aku tahu kau jago berkelahi, Luna. Tapi sampai mematahkan tangannya di tempat... kenapa kau melakukannya? Bukankah membantingnya saja sudah cukup untuk menghentikannya?"

Aku duduk bersandar di kursi kulit, menatap lurus ke arah jalanan dari balik kaca mobil.

"Pria seperti dia tidak akan pernah kapok jika hanya digertak," sahutku datar, suaranya mengalun dingin tanpa penyesalan. "Kalau aku cuma membantingnya, dia akan menganggap itu kesialan sesaat. Dia akan mencari kesempatan lain untuk membalas dendam padamu nanti—mungkin saat kau sedang sendiri."

Aku menoleh, menatap mata hazel milik Arisya.

"Aku mematahkan tangannya agar rasa sakit itu tertanam di otak bawah sadarnya. Setiap kali dia melihatmu atau mendengarkan namamu nanti, yang akan dia rasakan bukan lagi amarah... tapi rasa takut pada bayangan lengannya yang patah. Itu cara paling efisien untuk memastikan dia tidak akan pernah menyentuhmu lagi."

Arisya terdiam mendengarkan penjelasanku. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dengan binar mata yang sulit diartikan—campuran antara rasa kagum dan sedikit ngeri atas pola pikir yang terbentuk dari kegelapan penjara.

​Namun, mengabaikan ketegangan yang baru saja mencair, Arisya mendadak mengerutkan keningnya. Teringat akan sesuatu, ia menudingkan telunjuk cantiknya tepat ke depan wajahku.

​"Tapi tunggu dulu... bukankah beberapa hari lalu saat pertemuan pertama yang ditunda itu, kau bilang hanya akan mematahkan jarinya?!" serunya, menuntut penjelasan dengan raut wajah menuduh.

​Aku mengedipkan mata dua kali, menatap jemarinya yang menggantung di udara. "Satu jari itu rencana awal," jawabku polos tanpa dosa. "Tapi berhubung dia tadi nekat melompati meja dan mencoba mencekikmu, otomatis biayanya naik jadi satu lengan utuh. Itu namanya penyesuaian anggaran bahaya."

​"Penyesuaian anggaran bahaya gundulmu!" Arisya membelalakkan mata, tak percaya dengan logika konyol yang keluar dari mulutku dengan raut setenang itu. "Kau pikir ini bisnis grosir diskon kekerasan?!"

​"Tentu saja bukan," balasku jujur, memiringkan kepala. "Grosir itu kalau sekalian dengan kaki kirinya. Berhubung aku masih berbaik hati, jadi kututup di paket satu lengan saja."

​"Luna, astaga, kau ini sekretaris atau penjagal?!" Arisya menepuk jidatnya sendiri, menghembuskan napas berat sembari menggeleng-gelengkan kepala.

​Melihat reaksi heboh dan kepasrahan wajah cantiknya yang merona kesal, tawaku mendadak lolos tipis di balik bibir. Ketegangan yang tadinya pekat di dalam mobil seketika sirna, berganti menjadi momen canggung namun menggelitik di antara kami berdua.

​Arisya yang tadinya hendak mengomel lagi, mendadak menghentikan kalimatnya. Ia menatap tawa tipisku yang jarang terjadi itu, hingga perlahan kejengkolannya menguap begitu saja.

​Seketika, bibir mungil Arisya melukiskan seulas senyum lembut.

​"Ternyata... kau benar-benar menjalankan tugasmu sebagai pengawalku dengan sangat serius ya, Luna," bisiknya halus, ada kehangatan murni dalam nadanya.

Aku mengalihkan pandanganku kembali ke luar jendela, menutupi kecanggungan di dadaku. "Aku hanya tidak ingin majikanku mati sebelum gajiku cair."

Arisya tertawa renyah memecah keheningan kabin, lalu menyandarkan kepalanya santai ke bahuku. "Tenang saja, Sekretaris Luna. Gajimu akan kubayar berkali-kali lipat.”

Usapan kehangatan dari tawa Arisya dan sensasi ringan kepala gadis itu yang bersandar santai di bahuku mendadak membuat dadaku berdesir aneh.

Seketika, hangat merayap pelan menyelimuti kedua pipiku. Aku terpaku, pandanganku mengunci lurus ke kaca jendela luar, menatap pantulan samar wajahku sendiri yang sedikit kemerahan.

Sudah... berapa lama aku tidak merasakan kedekatan yang sehangat ini dengan seseorang?

Memori-memori lama yang berdebu mendadak mencuat dari tumpukan trauma di kepalaku. Dulu, sebelum garis waktuku hancur dan darah mewarnai jemariku, aku pernah memiliki momen-momen sederhana seperti ini. Tawa riang bersama Rania saat kami bersenda gurau di selasar sekolah, serta Siti yang selalu heboh menceritakan hal-hal konyol sembari merangkul bahuku...

Sengatan rindu dan rasa canggung yang teramat asing melelehkan pertahanan dingin di raut wajahku. Tanpa sadar, aku menggigit bibir bawahku, berusaha menyembunyikan senyuman tipis dan raut tersipu yang enggan pergi dari pipiku.

“Oho... lihat siapa yang mendadak jadi gadis remaja pemalu!”

Suara Sena memecah keheningan di alam bawah sadarku, menyuarakan cemoohan yang sarat akan tawa geli dan rasa gemas yang menyebalkan.

“Tuan putri kita yang biasanya menginjak kepala orang tanpa berkedip, sekarang malah merona merah hanya karena ada gadis kaya yang menempel di bahunya? Hahaha! Menggelikan sekali, Luna! Mana sosok 'penguasa penjara' yang kejam itu, hm?”

Diamlah, Sena, batinku cepat, mencoba menekan rona di wajahku sembari menghembuskan napas pelan.

Meski ejekan Sena terus menggema di kepala, aku tidak memindahkan posisiku. Aku tetap membiarkan Arisya bersandar nyaman di bahuku, menikmati sekilas kehangatan dunia nyata yang sudah sangat lama tidak kukecap.

1
Sarah
For real. 😂
Sarah
Unik sekali, konflik bab 1: Mencari Paman. 😂😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!