"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
"Paksu, kalau nanti di pelaminan Ismut mendadak lupa gerakan hormat senjata dan malah ngasih pose finger heart ke para jenderal, Paksu bakal dapet hukuman mutasi ke pedalaman atau dicoret dari kartu keluarga?"
Pertanyaan yang terlampau acak dari bibir Calla seketika menghentikan gerakan tangan Alaric. Malam kembali melingkupi perumahan dinas pangkalan, membawa atmosfer sunyi yang merayap lambat. Di ruang tengah, Alaric baru saja menyelesaikan beberapa berkas laporan administrasi di atas meja kayu, sementara Calla duduk telungkup di atas karpet beludru tepat di bawah kaki suaminya.
Alaric menurunkan kacamata bacanya perlahan, menatap lurus ke bawah, tepat pada mata kucing istrinya yang sedang berkedip polos. "Jika kamu berani melakukan itu di depan Panglima, Calla, saya yang akan dihukum untuk membersihkan seluruh lapangan upacara dengan sikat gigi."
"Ih, kok Paksu yang dihukum sih? Kan yang salah Ismut!" Calla mendongak, merubah posisinya menjadi duduk berlutut, lalu menaruh kedua tangannya di atas paha kokoh Alaric yang terbalut celana kain santai. "Harusnya kan Ismut yang dihukum. Misalnya... dihukum kurung berdua di kamar sama Paksu selama seminggu penuh."
Alaric menghela napas panjang, sebuah helaan napas lambat yang sarat akan usaha keras untuk menahan diri. Sentuhan jemari lentik Calla di atas pahanya selalu berhasil mengacaukan fokus militernya dalam sekejap. "Itu bukan hukuman, Callanta. Itu namanya kamu yang sedang mengambil keuntungan."
"Hehehe, tahu aja deh Paksu Komandan seksi," cengenges Calla tanpa rasa bersalah.
Gadis itu mulai bergerak nakal, merangkak naik ke atas kursi sofa, menyelinap dengan sangat luwes ke dalam dekapan Alaric hingga ia duduk sepenuhnya di pangkuan bidang suaminya. Daster satin tipis berwarna putih gading yang dikenakannya malam ini terasa sangat dingin, kontras dengan suhu tubuh Alaric yang mendadak meningkat drastis.
"Calla, turun. Saya belum menyelesaikan laporan ini," ujar Alaric dengan suara bariton yang mendadak berubah menjadi agak berat dan serak.
"Nggak mau. Laporannya kan nggak bisa dipeluk, kalau Ismut bisa," bisik Calla frontal, sengaja mendekatkan wajahnya hingga hidung peseknya bergesekan manja dengan rahang tegas Alaric yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. "Paksu... Ismut mau nagih jatah malam. Hari ini kan Ismut udah jadi anak baik, nggak bikin dapur kebakaran."
Alaric memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pinggiran meja kayu dengan kencang. Aroma wangi stroberi dari rambut Calla yang baru selesai dikeringkan langsung menyergap indra penciumannya, menghancurkan seluruh sisa-sisa pertahanan yang sudah ia bangun sejak mandi air es tadi pagi.
"Kamu benar-benar tidak pernah jera, hm?" bisik Alaric rendah, membuka matanya yang kini telah menggelap sepenuhnya oleh kabut gairah yang teramat dalam.
"Ngapain jera kalau sama suami sendiri~" sahut Calla manja, mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Alaric, menatap bibir tipis suaminya dengan pandangan sayu yang sangat menggoda.
Tanpa memberikan aba-aba lagi, tangan besar Alaric yang kapalan langsung mencengkeram tengkuk Calla, menarik wajah istrinya maju dan langsung mengunci bibir ranum itu dengan pagutan yang teramat dalam dan intens.
"Emmh..." Calla melenguh pelan, seluruh tubuhnya seketika menegang sebelum akhirnya melemas sempurna di dalam dekapan raksasa Alaric.
Alaric menyesap belahan bibir Calla dengan tempo yang sangat lambat namun sarat akan dominasi pria dewasa yang telah lama menahan lapar. Lidahnya bergerak menyapu permukaan bibir istrinya, menuntut balasan yang sama dalamnya. Tangan kanan Alaric yang bebas perlahan turun, meremas pinggang ramping Calla di balik kain satin tipis, menarik tubuh mungil itu agar menempel tanpa celah pada dada bidangnya yang berotot keras.
Gesekan halus dari daster satin Calla dan kulit telanjang lengan Alaric memicu percikan gairah yang kian tak terkendali. Alaric mengerang rendah di sela-sela ciuman panas mereka, memiringkan kepalanya untuk memperdalam pagutan, menghisap sisa-sisa manis di dalam mulut Calla hingga istrinya itu kehabisan napas dan memukul pelan bahu bidangnya.
Alaric memutus ciuman itu dengan enggan, menyisakan benang saliva tipis di antara bibir mereka. Napasnya memburu hebat, parau dan terengah-engah tepat di depan wajah Calla yang sudah merah padam sempurna.
"Haaah... Calla... masuk ke kamar sekarang," perintah Alaric dengan suara yang teramat berat, serak, dan berbahaya.
"P-Paksu..." Calla menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca karena gairah, detak jantungnya berdentum anarki di dalam dada.
Alaric memejamkan mata, menumpu dahinya di bahu mulus Calla, mencoba menghentikan dorongan kejantanan di balik celananya yang sudah menegang maksimal dan terasa sangat menyakitkan. Pikiran tentang menjaga kesucian resepsi upacara beberapa hari lagi kembali menjadi rem darurat yang menyiksa batinnya.
"Saya... saya harus ke kamar mandi belakang," ujar Alaric kaku, suaranya bergetar menahan gejolak.
Dengan gerakan cepat yang dipaksakan, Alaric menurunkan Calla dari pangkuannya secara hati-hati, lalu bangkit berdiri dengan posisi sedikit membungkuk. Pria berusia 38 tahun itu berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi luar, meninggalkan ruang tengah dengan langkah kaku.
CEKLEK. GEJURRR!
Suara guyuran air es kembali terdengar nyaring di keheningan malam pangkalan. Calla yang masih terduduk di sofa langsung menarik bantal kursi, menutupi wajahnya yang panas dan tertawa cekikikan dengan gemas.
"Bwahaha! Aduh mampus, Paksu mandi air dingin lagi untuk kesekian kalinya!" seru Calla tertahan, memukul-mukul bantal dengan girang. "Lagian siapa suruh kaku banget jadi om-om tentara, kan Ismut cuma minta cium!"
"Heh, Kak Calla! Pagi-pagi mukanya kok cerah banget kayak habis dapet transferan miliaran rupiah?"
Suara ledekan Michelle yang baru muncul dari arah koridor kamar tamu langsung memecah keheningan dapur di keesokan paginya. Michelle berjalan lambat dengan kaos kebesaran dan celana tidurnya, langsung duduk di kursi meja makan sambil menopang dagu.
Calla yang sedang sibuk menata meja makan langsung menoleh, wajahnya segar benderang dengan senyuman yang teramat lebar. "Lebih dari miliaran rupiah, Michelle! Ini namanya pancaran energi istri bahagia karena dapet asupan glukosa alami semalam."
Michelle langsung memutar bola matanya malas, beralih menatap ke arah Alaric yang baru saja masuk ke dapur dengan seragam PDL loreng lengkapnya yang gagah dan rapi. Namun, ada yang berbeda; wajah sang Komandan tampak sedikit kuyu dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya.
"Kak Alaric, kamu oke kan? Kok mukanya pucat kayak kurang tidur gitu?" tanya Michelle curiga, menatap kakaknya bergantian dengan Calla.
Alaric menarik kursi di ujung meja, duduk dengan tegap lalu membetulkan posisi baret merahnya dengan gerakan kaku. "Saya tidak apa-apa, Michelle. Hanya kurang istirahat karena memeriksa berkas pangkalan sampai larut."
"Halah, berkas pangkalan atau berkasnya Kak Calla?" goda Michelle terpingkal-pingkal. "Aku semalam denger suara orang mandi malam-malam lho dari arah kamar mandi belakang. Dingin-dingin begini kok hobi banget guyur badan, Kak?"
Alaric langsung berdehem keras, menyembunyikan semburat merah yang mendadak merayap di telinga kokohnya. Pria itu mengambil sendok dengan kaku, mengabaikan tatapan jail adiknya. "Makan sarapanmu, Michelle. Jangan banyak bicara di meja makan."
"Tuh, dengerin kata Paksu, Michelle!" Calla ikut menimpali, langsung duduk di sebelah Alaric dan dengan manja menyenderkan kepalanya di bahu kokoh suaminya yang masih wangi minyak rambut militer. "Paksu itu mandinya rajin karena mau menjaga kebersihan di depan Ismut, tahu!"
Michelle menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, melihat tingkat kebucinan akut kakak iparnya yang tidak ada habisnya. "Terserah deh, Kak. Pokoknya kalian berdua buruan sah secara resepsi ya, biar aku nggak usah denger suara air gebur-gebur lagi setiap tengah malam!"
Calla hanya tertawa renyah, mempererat pelukan lengannya pada lengan berotot Alaric, sementara sang Komandan hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah menerima nasibnya yang harus kembali menghadapi godaan manis di hari-hari berikutnya.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨