Tidak pernah terbayangkan jika perempuan urakan sepertiku pada akhir nya bisa menikah dengan lelaki pilihan papa yang katanya tampan, baik dan kaya melintir.
Aku terinspirasi dari pernikahan adikku yang berakhir bahagia karena pilihan papa.
Awalnya semua berjalan sesuai harapan, akad nikah yang sakral, resepsi yang mewah dan perlakuan suamiku yang teramat sangat baik. Tapi itu hanya mimpi selama dua hari di hidupku.
Enrico Putra Deisanto, seorang pengusaha dalam bidang farmasi yang menikahiku saat ini. Dia membawaku pulang ke sebuah rumah megah bak istana dengan puluhan pembantu.
Disinilah kisah hitamku dimulai, aku yang mencintainya pada pandangan pertama harus rela mengubur mimpiku untuk hidup bahagia dengan nya. Akhirnya aku tahu dia menikahiku karena paksaan ibu nya yang sedang sakit parah dan bukan kemauan nya sendiri.
Penderitaanku tak berhenti di situ, dengan santainya dia membawa pulang seorang perempuan yang akan tinggal satu rumah dengan kami. Seorang perempuan yang katanya sangat dia sayangi. Kalian tidak akan bisa membayangkan bagaimana jika seorang suami membawa perempuan lain di depan istri sah nya.
ini kisah saya,
ini cerita saya,
saya pemeran utamanya,
lalu apa posisi perempuan itu?
Aku harap dia hanya pemeran pembantu atau pelengkap latar yang hanya bisa diam, aku tetaplah pemilik suamiku yang sah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
CHELSEA ARBIANSYAH POINT OF VIEW:
🦋🦋🦋
“Sekalipun kamu gendut seperti kuda nil, aku tetap cinta,” pernyataan cinta yang diselipi kata kata kuda nil nyaris membuat pipiku memerah sempurna. Aku bahkan tak berani melihat nya.
“Aku mau menidurkan Erika dulu,” kataku cepat seraya meninggalkan enrico dan mencari mbak darmi.
Aku melangkahkan kakiku mencari sosok mbak darmi yang sedang menimang Erika dengan lagu lagu jawa nya. Dia melihatku dan menghentikan nyanyian nya.
“Dia sudah tidur, non. Habis dua botol susu, pantes saja pipi nya mengembang mirip bakpao,” kata mbak darmi yang membuatku terkekeh.
“Makasih ya mbak,” kataku membawa Erika masuk ke kamarku.
Kamarku? Maksudku kamar enrico yang kami tempati dulu ketika masih bersama. Aku melihat banyak perubahan pada kamar yang luas itu. Terdapat box bayi, lemari bayi dan banyak sekali peralatan serta keperluan bayi bertengger di sana. Ini lebih mirip kamar bayi daripada kamar enrico. Nuansa pink menjadi background kamar ini sekarang.
Tidak berhenti di warna pink, masih banyak boneka boneka juga yang bertengger di sana. Aku meletakkan Erika di box bayi dengan hati hati supaya bayi cantik itu tidak terbangun. Dengan perlahan ku jatuhkan tubuhku juga di kasur empuk berwarna pink dengan motif flamingo. Ini benar benar berbeda dengan selera enrico.
CEKLEK…
Enrico masuk ke dalam kamar dengan senyuman nya. Dia mulai duduk di sampingku seraya melihatku yang sedang memperhatikan suasana kamar saat ini.
“Apa kamu menyukai nya?”Tanya enrico.
“Hem,” jawabku mengiyakan.
“Syukurlah kalau kamu suka, terimakasih sudah mau menerimaku kembali,”
“Menerima kembali? Aku hanya mengikuti kemauan Erika yang ingin bersama papa nya,”
“Jadi Erika yang bilang ingin tinggal di sini?” kata enrico terkekeh dan mulai mencium pipiku.
“Hem,” kataku mulai mengusap rambut nya yang ku rindukan.
“Jadi mommy-nya tidak ingin tinggal dengan papa-nya Erika?”
“Tidak,” kataku mulai tidak bisa menyembunyikan senyumku.
“Kalau begitu aku akan membuat mommy-nya ingin tinggal di sini selamanya,” kata enrico mulai mencium bibirku lembut.
“Berusahalah,” kataku mulai membalas ciuman nya.
“Tentu, aku akan berusaha keras malam ini,” kata nya masih focus membalas ciumanku dengan napas yang memburu. Tangan nya mulai meraba setiap inchi tubuhku.
“Kamu belum mengunci pintu nya,” kataku serak di sela sela ciuman kami.
“Siapa yang berani masuk tanpa ijin, biarkan ini sudah malam,”
“Ini masih sore, masih jam 7 malam,”
“Kita lakukan sebelum Erika bangun,” kata enrico mulai sibuk membuka baju nya.
“Aku sedang lelah, baru saja datang dari kota dingin,” sahutku yang masih meneima serangan nya dan membuatku melenguh merasakan kenikmatan yang dia beri.
“Lebih lelah siapa? Aku juga baru sampai dari kota dingin dan baru pulang kerja,”
“Kalau begitu kita sama sama capek dan tidak perlu melakukan ini,”
“Kamu tidak perlu melakukan apapun, cukup diam saja. Biar aku yang melakukan,” kata enrico mulai menyatukan tubuh kami.
Dan papa si Erika itu melakukan berulangkali meskipun tadi dia bilang sedang lelah. Aku mengusap wajah nya yang memejamkan mata di sampingku seraya masih mengeratkan pelukan nya di perut rataku. Dia menyelimuti tubuh kami yang sama sama polos nya.
“Terimakasih,” bisik nya seraya menciumi pipiku.
“Ini tidak gratis,” sahutku cepat.
“Kamu minta apa?” Tanya nya terkekeh mengusap bibirku yang bengkak karena ulah nya.
“Jalan jalan di kota ini seharian besok,”
“Hem,”
“Aku ingin merasakan jadi istri orang kaya besok,”
“Baiklah,” kata enrico semakin mengeratkan pelukan nya.
“Jangan terlalu erat, aku sangat lelah,” kataku tersenyum seraya mengusap dagu-nya.
“Lelah? Dari tadi kamu hanya diam dan mendesah, aku saja yang bekerja. Lelah darimana?” celetuk enrico yang membuatku terkekeh.
“Ya Tuhan,” keluhku cepat.
“Ada apa?” Tanya enrico heran.
“Hey, aku tidak minum pil kb loh ya, bagaimana ini? Kamu juga kenapa tidak pakai ****** saja tadi?”
“Seperti tidak punya suami saja, apa salah nya membuatkan adik untuk Erika supaya dia ada teman nya,” kata enrico mengusap perut rataku lagi di balik selimut.
“Jangan bercanda, aku serius takut punya bayi lagi,”
“Maafkan aku yang tidak ada disampingmu saat kamu melahirkan,”
“Aku memang melahirkan dengan operasi, tapi aku tidak bisa menahan sakit nya saat bius habis,” kataku mulai mengusap tangan enrico yang masih mengusap perutku.
“Maafkan aku, nanti aku janji akan menemanimu di kelahiran anak kedua kita,” kata nya mengecup pipiku lagi.
“Satu saja cukup,”
“Jangan bilang begitu, aku bahkan ingin punya anak banyak,”
“Kamu akan kerepotan merawat nya,”
“Tapi aku tidak ingin kesepian saat kita tua nanti, lihatlah ibuku yang hanya punya dua anak, dia kesepian saat sendiri di rumah. Dan kamu, ayah bundamu bahkan hanya memilikimu saja,” kata enrico.
“Tapi ayah dan bundaku tidak pernah merasa kehilanganku saat aku lebih memilih tinggal dengan papa,”
“Kamu tidak tahu di dalam hati nya, mana mungkin mereka bicara. Ibuku juga tidak pernah mengatakan padaku jika dia kesepian,” kata enrico membuatku memikiran ayah dan bundaku yang bahkan hanya sebulan sekali menjenguk Erika.
“Mana ponselku?” tanyaku pada enrico.
“Ada apa?”
“Aku ingin mengabari ayah dan bundaku jika aku ada di kota yang sama dengan mereka,”
“Ini sudah tengah malam, besok pagi saja. Atau besok pagi aku akan mengantar kalian ke rumah ayah dan bundamu,”
“Terimakasih,” kataku lirih.
“Aku yang terimakasih karena kamu mau menerimaku lagi,”
“Tapi berjanjilah jika tidak akan merahasiakan sesuatu lagi hingga salah paham,”
“Aku berjanji, dan kamu juga harus berjanji tidak boleh kabur lagi apalagi mengajukan surat cerai ke pengadilan nggak jelas. Kamu bisa menanyakan apapun padaku, ku harap kamu akan percaya padaku saja,”
“Apa kamu bisa dipercaya?” tanyaku terkekeh.
“Tentu saja,” kata enrico mencium ujung rambutku.
“Tidurlah, kenapa malam ini kamu jadi cerewet sekali?” Tanya enrico.
“Bukan nya daridulu aku memang cerewet,” protesku.
“Kenapa di kota dingin kamu mendiamkanku jika kamu memang cerewet?” kata enrico menatap dalam mataku.
Tiba tiba suara tangisan Erika mengagetkan kami. Dengan cepat enrico memakai bathrobe nya untuk mengambil baby Erika dari box bayi dan menyerahkan nya padaku untuk ku beri asi.
Setelah baby erika kenyang dan tertidur lagi, enrico mulai meletakkan erika di box bayi nya.
"Tidurlah, ini sudah malam," kata enrico mengusap lembut pipiku kemudian mengechek ponsel nya.
"Jangan sibuk dengan ponsel," kataku masih menatapnya.
"Kenapa tidak kemarin kemarin saja posesive-nya," kata enrico terkekeh seraya meletakkan ponsel nya kembali.
Jangan lupa like, comment and vote ya guys 🙏😁
Aku mampir yahh dengan like dan rate nya, Jangan lupa mampir dan feedback ke novel ku yahh ❤Sabda Rindu❤
Terimakasih ditunggu kehadirannya 🥰