Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Lembut Sei Bellissima di Telinga Alessa
Dentang halus piring-porselen bersulur emas murni yang dibersihkan oleh para pelayan menandakan berakhirnya ritual makan malam fasyun ekstrem di ruang makan privat Paviliun Timur. Hidangan Wagyu A5 Tartare dan sup konsome jamur murni telah sukses berpindah ke dalam lambung kasta pekerja milik Alessa, menyisakan kehangatan yang kontras dengan atmosfer kaku khas aliansi Alberto. Jam dinding marmer kini merayap menuju pukul delapan malam, memantulkan kilau keemasan lampu kristal di atas permukaan meja makan Nero Marquina sepanjang sepuluh meter yang kembali bersih berkilap.
Di seberang meja, Giovanni Alberto bergerak mundur dari posisi duduknya dengan keanggunan kaku seorang predator tertinggi. Tuksedo hitam kustomnya tidak menyisakan satu kerutan pun, membingkai postur tubuh tegapnya yang sarat akan silsilah otoritas mutlak dunia malam. Alih-alih langsung memanggil Dion untuk menyerahkan berkas paspor internasional kustom seperti skenario operasional biasanya, pria paling berpengaruh di ibu kota itu justru melangkah perlahan mengitari meja marmer hitam tersebut.
Langkah kakinya di atas hamparan karpet Persia sewarna krem tidak mengeluarkan suara sedikit pun—sebuah keterampilan taktis militer yang didapat dari doktrin bunker bawah tanah Milan. Aroma parfum mahal oud dan kehangatan ambergris miliknya bergerak lebih cepat mendahului langkahnya, menyergap indra penciuman Alessa yang masih duduk bersandar di kursi roda kulit Italianya.
Alessa merasakan gelombang intimidasi jenis baru merayap naik ke sela-sela tulang rusuknya. Gaun malam kustom sutra beludru kasmir berwarna merah marun (crimson red) yang membungkus tubuh kurusnya mendadak terasa sedikit lebih berat. Jantungnya berdegup dengan frekuensi kosmik yang tidak beraturan saat bayangan tegap Giovanni kian mendekat, memotong jarak aman spasial yang biasanya dipertahankan oleh pria itu dengan ketelitian seorang investor saham.
Kesedihan yang teramat mendalam dan rasa keterasingan sebagai anak yatim piatu yang terbuang dari Surabaya sempat berbisik lirih di dalam batin Alessa. Di bawah tatapan dingin Il Miliardario, dia kembali teringat betapa kontrasnya silsilah hidup mereka. Dia adalah gadis semprul penuh lebam yang melarikan diri tanpa alas kaki dari sabetan ikat pinggang, sementara pria di sampingnya ini adalah pemilik sangkar emas raksasa yang sanggup meratakan masa lalunya dengan tanah hanya dalam hitungan jam linear.
“Ibu... Ayah... Alessa bener-bener gak tahu harus kabur ke mana lagi,” ratap batin Alessa, rasa sesak yang masif membuat dadanya kembali terasa menarik jahitan mikro di punggungnya. “Monster berjas mahal ini makin dekat. Kenapa tatapannya malam ini bener-bener kriminil, seolah-olah seluruh sisa hidup Alessa sudah resmi menjadi aset sitaan yang gak boleh disentuh oleh siapa pun di dunia luar?”
Amarah dingin terhadap takdir yang selalu melemparnya ke titik ekstrem berpadu dengan kebingungan psikologis yang mencekik. Namun, tepat ketika sekring mentalnya hampir putus akibat kedekatan fisik yang tidak lazim ini, tameng sarkasme radikal di dalam otaknya langsung menyala di garda terdepan. Menertawakan situasi tegang adalah satu-satunya instrumen kewarasan yang dia miliki untuk menolak tunduk pada dominasi absolut Giovanni.
Alessa memajukan kepalanya, mendongak menantang sepasang manik mata hitam kelam Giovanni yang kini telah berdiri tepat di samping kursi rodanya.
"Mas Bos Giovanni..." celetuk Alessa, nadanya datar penuh ironi yang menyengat, memecah kesunyian masif ruangan marmer tersebut. "Lu kalau jalan pelan-pelan tanpa suara begini motifnya apa ya, Mas? Mau menguji kekuatan fungsi jantung gue setelah dikasih makan daging sapi mewah seharga motor matic tadi? Atau ini bagian dari prosedur interogasi kasta tinggi agar gue mendadak mengaku sebagai agen ganda penyelundup tepung roti toko Ko Alung?"
Giovanni tidak langsung menjawab. Dia justru menundukkan tubuh tegapnya yang kaku laksana pahatan marmer kuno dengan gerakan yang sangat lambat, menurunkan ketinggian wajah tampannya hingga berada tepat di samping kepala Alessa. Kedekatan ini begitu ekstrem hingga Alessa bisa merasakan embusan napas hangat pria itu yang beraroma mint dan tembakau premium di permukaan kulit pipinya yang masih dihiasi lebam keunguan.
Tangan kanan Giovanni yang halus dan bebas dari bekas luka kerja kasar terulur perlahan, menyentuh pinggiran sandaran kursi roda kulit Italia Alessa, mengunci ruang gerak gadis bergaun merah itu seutuhnya di dalam wilayah proteksi mutlaknya.
Kemudian, dengan nada suara yang sangat rendah, berat, dan bergetar dengan jenis kehangatan anomali yang belum pernah dikeluarkan oleh sistem operasinya sejak tragedi berdarah Milan, Giovanni mendekatkan bibirnya ke dekat daun telinga Alessa yang terbingkai hijab sutra merah marunnya.
"Sei bellissima, Alessa," bisik Giovanni Alberto lirih.
Tiga kata dalam bahasa Italia itu mengalir laksana arus listrik tegangan rendah yang langsung melumpuhkan seluruh barisan sekring logika di kepala Alessa. Kata-kata itu diucapkan dengan artikulasi yang begitu presisi, dingin namun sarat akan intensitas kepemilikan mutlak yang absolut—sebuah pengakuan kaku dari seorang miliarder kaku yang sistem sensorik fungsionalnya telah menyerah seutuhnya pada keindahan gotik modern sang gadis sarkas malam ini.
Gagap budaya jilid empat berskala kosmik seketika menghantam kesadaran Alessa secara frontal. Kebingungan massal domestik melanda sistem saraf pusatnya. Otaknya yang biasanya sangat taktis memproduksi analogi komedi gelap mendadak mengalami blank screen darurat selama beberapa detik linear.
“Barusan... barusan si kanebo kering termahal di ibu kota ini ngomong apa?” batin Alessa berteriak panik, matanya mengerjap kaku tanpa berkedip menatap dinding marmer di depannya. “Sei... sei apa katanya? Kedengarannya mirip merek kompor gas dua tungku atau nama bumbu penyedap rasa kasta tertinggi di toko grosir Terminal Pasar Turi!”
Sensasi hangat dari bisikan lembut itu bener-bener merusak tatanan rasionalitas Alessa, meninggalkan getaran aneh yang menjalar hingga ke ujung jari kakinya yang dibungkus sepatu ortopedi kustom. Setelah mengunci tatapannya yang sempat bergetar saat melihat gaun merah tadi, intervensi verbal Giovanni malam ini sukses mencatatkan kekalahan mutlak pertama bagi pertahanan mental Alessa.
Untuk mengembalikan kendali atas sisa-sisa harga diri kelas pekerjanya, Alessa menarik napas dalam-dalam, mengabaikan rasa linu di punggungnya, lalu memalingkan wajahnya sedikit hingga mata cokelatnya bertemu langsung dengan kedalaman manik mata hitam kelam Giovanni yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
"Mas Bos..." kata Alessa parau, sudut bibirnya memaksakan seulas senyuman ironis yang kaku untuk menyembunyikan kepanikan biologisnya. "Lu kalau mau mengucapkan mantra hipnotis finansial buat menguras sisa-sisa kewarasan gue, tolong pakai bahasa Indonesia yang disempurnakan dong, Mas. Sei bellissima itu artinya apa sih? Jangan-jangan itu sejenis makian kasta tinggi dalam silsilah mafia Italia yang artinya 'Gadis semprul berwajah lebam yang kebanyakan protes' ya? Atau itu kode rahasia untuk memanggil tim pembersihan massal Dion agar segera menyeret gue ke sektor logistik utara karena kelakuan gue terlalu merusak estetika kaku malam ini?"
Mendengar respons sarkasme radikal Alessa yang tetap menyengat di tengah situasi intim tersebut, Giovanni tidak menjauhkan wajahnya. Ekspresi wajahnya yang sedingin es kutub justru memperlihatkan riak kepuasan yang sangat pekat di balik manik matanya. Sifat kaku dan dinginnya kembali mendominasi, namun ada kelembutan manipulatif yang tidak terbantahkan dalam tatapannya.
"Artinya... kamu sangat cantik, Gadis Sarkas," desis Giovanni rendah, suaranya memotong keheningan malam dengan wewenang mutlak yang tak terbantahkan. "Dalam standar fungsionalitas fasyun tertinggi aliansi Alberto, keindahan tidak diukur dari kesempurnaan fisik yang tanpa cela. Beludru kasmir merah itu dan lidah sarkasmu yang menolak mati di depan kekuasaanku... itulah definisi dari sei bellissima yang sesungguhnya. Sebuah keindahan yang liar yang tidak bisa dibeli pakai angka triliunan oleh kartel mana pun di dunia luar."
Giovanni perlahan menegakkan kembali tubuh tegapnya, merosokkan tangan kanannya ke dalam saku celana tuksedo hitamnya dengan keanggunan kaku yang absolut. Aura kematian dan otoritas tertinggi kembali mengelilingi tubuhnya, menegaskan kembali jarak kekuasaan yang masif di antara mereka di dalam sangkar emas ini.
"Aku mengucapkan kata-kata itu bukan untuk membuatmu kehilangan kapasitas bicaramu, Alessa," lanjut Giovanni datar, kembali ke mode kaisar bisnisnya yang tanpa toleransi kesalahan. "Aku mengucapkannya agar kamu sadar bahwa di bawah proteksi mutlak namaku, kamu tidak perlu lagi merasa kerdil atau terasing. Kasta visualmu malam ini telah resmi ditingkatkan seutuhnya."
Pintu ganda ruang makan terbuka kembali dengan bunyi klik halus. Dion melangkah masuk dengan langkah kaki konstan, menyerahkan sebuah paspor internasional baru berkover kulit domba hitam dengan lambang aliansi Alberto berlapis emas murni di bagian depannya.
"Nona Alessa," suara Dion terdengar mekanis, memecah sisa-sisa ketegangan domestik di antara kedua manusia tersebut. "Dokumen identitas fungsional baru Anda telah selesai diproses dengan efisiensi waktu sembilan puluh delapan persen. Mulai detik ini, silsilah lama Anda sebagai buron Surabaya dinyatakan mati secara hukum. Anda telah resmi terdaftar sebagai warga negara internasional dengan imunitas diplomatik kustom di bawah manajemen aliansi Alberto."
Alessa menerima paspor mewah itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Sentuhan kulit domba yang halus pada dokumen itu seolah mempertegas makna dari bisikan lembut sei bellissima dari Giovanni tadi—sebuah pengakuan bahwa pelariannya tanpa alas kaki bener-bener telah berakhir di sebuah titik tertinggi yang tidak pernah terbayangkan dalam silsilah kemiskinan struktural keluarganya.
"Mas Bos Giovanni..." bisik Alessa lirih, menatap paspor di tangannya lalu kembali memandang sang miliarder kaku yang sudah bersiap melangkah menuju pintu keluar. "Lu bener-bener tipe pria penguasa yang suka membolak-balikkan takdir orang menggunakan kertas berlapis emas dan kata-kata asing ya. Tapi makasih buat pujian kompor gasnya tadi, Mas Bos. Setidaknya, bisikan lembut lu sukses bikin jiwa miskin gue tahu kalau di duniaku yang serba kriminil ini... kata 'cantik' pun harus diucapkan dengan intonasi yang menyerupai ancaman pembunuhan karakter kasta tinggi."
Giovanni menghentikan langkah kakinya sejenak di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa mengubah ekspresi wajah lempengnya yang mirip kanebo kering dijemur di atas ruko. "Istirahatlah, Alessa. Pastikan besok pagi lukamu sudah pulih sepuluh persen lagi. Karena besok... prosesi pelatihan fungsionalmu sebagai asisten pribadiku akan dimulai tanpa ada kata toleransi untuk air mata lama."
Sosok pria paling berpengaruh itu menghilang di balik pintu mahoni hitam yang tertutup rapat tanpa suara dekoratif.
Alessa menyandarkan kembali punggungnya pada kursi roda kulit Italianya, memandangi paspor hitam berlapis emas di pangkuannya. Sebuah tawa pendek yang sangat kering namun dipenuhi oleh kelegaan massal yang luar biasa akhirnya lolos dari celah bibirnya yang pecah. Bisikan sei bellissima malam ini telah resmi mengunci silsilah hidup barunya ke dalam dimensi domestik Il Miliardario—sebuah awal babak baru di mana sang gadis semprul dari Surabaya siap menantang setiap jengkal kekakuan dunia malam sang miliarder Italia dengan senjata sarkasme radikalnya yang menolak untuk tunduk pada takdir.