Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Selamat tinggal, Tuan Muda. Selamat tinggal, Nona Wijaya!"
Detik-detik maut itu berlambat-lambat di mata Kirana. Dia melihat ujung senjata itu, melihat jari Rendra yang menekan ... dan dia melihat sekeliling ruangan dengan panik mencari jalan keluar. Matanya tertuju pada lampu gantung tua yang berat di atas kepala Rendra, yang gantungannya sudah longgar sejak kemarin dan ingin diperbaiki Arjuna tapi belum sempat.
Tanpa berpikir panjang, Kirana menyambar pot kecil berisi bunga kering di meja dekat kakinya, lalu melemparkannya sekuat tenaga bukan ke arah Rendra, tapi ke arah tali gantungan lampu itu.
PRANG!
Tali gantungan itu putus. Lampu besar beserta logam beratnya jatuh tepat di atas kepala Rendra.
Dentuman keras terdengar. Senjata itu meleset, pelurunya menembus langit-langit rumah, dan Rendra jatuh terguling kesakitan tertimpa benda berat itu, senjatanya terlempar jauh ke sudut ruangan.
"SEKARANG!" teriak Arjuna.
Dia langsung menarik tangan Kirana secepat kilat, berlari menerobos sisa-sisa penjahat yang linglung kaget, menabrak pintu belakang, dan melompat keluar ke gang sempit di belakang rumah.
Mereka berlari secepat mungkin, napas terengah-engah, jantung berdebar kencang. Di belakang mereka terdengar teriakan marah Rendra dan suara langkah kaki yang mengejar.
Di ujung gang, sebuah mobil melaju kencang dan berhenti mendadak tepat di depan mereka. Pintu samping terbuka. Pak Hendra mencondongkan badan keluar, wajahnya pucat ketakutan.
"Masuk! Cepat masuk!"
Arjuna dan Kirana melompat masuk ke dalam mobil persis saat beberapa penjahat muncul di ujung gang. Pak Hendra langsung menginjak gas sampai mentok, membawa mobil itu melesat menjauh meninggalkan lokasi kejadian, meninggalkan rumah kontrakan kecil yang kini tidak lagi aman.
Di dalam mobil yang melaju kencang itu, suasana hening sesaat. Hanya terdengar suara napas berat mereka bertiga.
Kirana bersandar lemas ke sandaran kursi, menatap tangan kirinya yang tergores sedikit dan berdarah. Arjuna langsung memegang tangan itu, memeriksanya dengan cemas luar biasa.
"Kau terluka ..." bisik Arjuna parau. Matanya menatap Kirana dengan campuran rasa takut, lega, dan kekaguman yang mendalam. "Kau gila ... kau benar-benar gila tadi. Kalau meleset sedikit saja ..."
Kirana tersenyum tipis, meski wajahnya masih pucat karena sisa adrenalin. Dia meremas tangan Arjuna yang dingin karena keringat
"Tapi aku tidak meleset, kan? Kita selamat. Kita masih punya bukti. Dan kita masih punya nyawa untuk melawan mereka lebih jauh lagi."
Pak Hendra yang menyetir di depan menghela napas panjang, suaranya berat dan sedih.
"Tuan Muda ... Nona ... tempat ini tidak aman lagi. Identitas kalian sudah terbuka. Ratna sudah main habis-habisan. Dia tidak peduli hukum, dia tidak peduli muka. Dia mau kalian mati."
Arjuna menatap jalanan kota yang bergerak cepat di luar jendela. Tatapannya makin tajam dan dingin. Rasa amarah yang belum pernah dia rasakan sebelumnya meluap di dadanya. Amarah karena rumah kecil mereka dirusak, amarah karena nyawa wanita yang dicintainya terancam, amarah karena kejahatan yang berani berjalan terang-terangan.
"Kalau dia mau main kotor ... kita akan main lebih kotor lagi," ucap Arjuna pelan namun nadanya mengerikan. "Dia pikir karena dia punya uang dan kekuasaan, dia bisa atur segalanya? Dia salah besar."
Arjuna menoleh menatap Kirana, matanya berkilat penuh rencana baru.
"Kita tidak akan sembunyi lagi, Kirana. Sembunyi cuma bikin kita jadi sasaran empuk. Mulai sekarang ... kita akan bergerak lebih cepat, lebih keras, dan lebih kejam dari mereka. Kita bongkar semua jaringan gelapnya. Kita serang aset-asetnya satu per satu. Kita buat dia sibuk mempertahankan dirinya sendiri sampai lupa mau menyerang kita."
Kirana mengangguk mantap, senyum menantang kembali menghiasi bibirnya.
"Aku siap. Di mana pun tempat baru kita, apa pun risikonya. Aku ikut."
Pak Hendra kembali berbicara, suaranya lebih tenang namun serius.
"Ada satu tempat, Tuan Muda. Tempat yang aman. Tempat yang dulunya markas rahasia mendiang Pak Arya. Tempat yang bahkan Ratna sendiri tidak tahu keberadaannya. Tempat di mana semua dokumen asli disimpan, dan tempat di mana rencana besar dibentuk. Pak Arya pernah bilang, kalau saatnya tiba dan kebenaran terungkap ... di situlah kita harus berkumpul."
Mata Kirana melebar. Dia ingat tempat itu. Tempat yang ayahnya sering sebut sebagai "Kastel di Tanah Kosong".
"Bengkel tua itu ..." bisik Kirana. "Bengkel besar yang sudah lama ditinggalkan di pinggir hutan, jauh dari kota."
"Ya," jawab Pak Hendra mantap. "Di situlah kita akan pindah. Di situlah kita bangun markas baru. Dari tempat terpencil itu ... kita akan atur strategi terakhir untuk meruntuhkan kekuasaan Ratna Adhitama sampai ke akar-akarnya."
Mobil itu membelok keluar dari jalan raya utama, meninggalkan hiruk-pikuk kota, menuju jalan yang makin sepi dan makin gelap. Menuju awal dari babak perang yang jauh lebih berat, jauh lebih berbahaya, namun juga jauh lebih menentukan.
Mereka selamat hari ini. Tapi mereka tahu ... perang baru saja benar-benar dimulai. Dan kali ini, tidak ada jalan tengah. Yang kalah akan binasa.
Bersambung ...
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️