"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Diplomasi di Balik Kaca Gelap
Diplomasi di Balik Kaca Gelap
Suasana di dalam sedan mewah itu mendadak sunyi, hanya menyisakan desir halus pendingin udara yang meniupkan aroma kayu cendana dari parfum Wirawan. Tiara duduk merapat ke pintu mobil, jari-jemarinya meremas tali tasnya hingga buku jarinya memutih. Di sampingnya, Wirawan—pria yang selama ini dikenal sebagai sosok otoriter, kaku, dan tak tersentuh—kini tampak melemah, pundaknya sedikit merosot di balik kemeja batik sutranya.
"Tiara..." suara Wirawan rendah, bergetar karena rasa canggung yang luar biasa. "Saya benar-benar tidak menyangka... dunia ternyata sesempit ini."
Tiara memberanikan diri menoleh. Matanya yang biasanya penuh binar nakal kini tampak redup dan berair. "Saya juga, Om. Saya... saya mau minta maaf. Kata-kata saya di aplikasi itu... sangat tidak sopan kalau ditujukan ke Om."
Wirawan menggeleng perlahan. Dia mematikan mesin mobil, membuat kesunyian di parkiran apartemen itu terasa semakin menyesakkan. "Jangan minta maaf. Jujur saja, selama berminggu-minggu ini, pesan-pesan darimu adalah satu-satunya hal yang membuat saya ingin bangun di pagi hari."
Tiara tertegun. Dia tidak menyangka pria sekuat Wirawan akan mengakui kerapuhannya.
"Arum mungkin tidak tahu, Om... tapi hidup saya tidak semudah kelihatannya," bisik Tiara, suaranya mulai serak. "Ayah saya bangkrut setahun lalu. Dia sakit-sakitan sekarang. Setiap hari saya harus putar otak bagaimana bayar UKT, bagaimana tetap terlihat 'oke' di depan Arum agar dia tidak menjauh. Saya butuh sugar daddy bukan karena saya nakal, Om... tapi karena saya sudah lelah berjuang sendirian."
Wirawan menatap Tiara dengan pandangan yang mendalam, pandangan yang biasanya dia simpan hanya untuk dokumen-dokumen penting. Kali ini, dia melihat seorang gadis muda yang memikul beban yang terlalu berat untuk bahunya.
"Dan saya..." Wirawan menghela napas panjang, "saya adalah pria yang memiliki segalanya tapi tidak memiliki siapa-siapa. Istri saya sibuk dengan dunianya, Siska sedang berjuang melawan maut, dan Arum... dia seperti orang asing bagiku. Rumah mewah itu hanya kotak besar yang dingin, Tiara. Saya butuh seseorang yang tidak melihat saya sebagai 'ATM berjalan' atau 'pimpinan perusahaan'. Saya butuh seseorang yang bisa diajak bicara tanpa embel-embel tanggung jawab."
Wirawan meraih sebuah amplop cokelat tebal dari laci dasbor. Dia tidak menyodorkannya, tapi meletakkannya dengan lembut di pangkuan Tiara.
"Ambil ini. Ini bukan bayaran untuk apa pun. Anggap saja ini investasi saya untuk masa depanmu. Kamu tidak perlu mengirimkan foto-foto aneh, kamu tidak perlu menyerahkan tubuhmu. Saya hanya butuh satu hal..." Wirawan menjeda, matanya menatap Tiara dengan penuh harap. "Tetaplah jadi teman bicara saya. Jadilah 'Tiara' yang membuat saya tertawa lewat ponsel itu."
Tiara menyentuh amplop itu, air matanya jatuh satu per satu. "Kenapa Om baik banget sama saya?"
"Karena saya melihat diri saya yang dulu ada padamu. Terjepit, tapi tetap ingin bertahan," jawab Wirawan tulus. "Tapi, kita harus sepakat. Arum tidak boleh tahu. Dia memiliki sifat yang... meledak-ledak. Rahasia ini harus terkubur di dalam mobil ini."
Tiara mengangguk mantap. "Saya janji, Mas Wirawan."
Saat Tiara hendak keluar, tangannya meraba gagang pintu yang terasa asing. Wirawan refleks membungkuk ke arah Tiara untuk membantunya menarik tuas pembuka pintu. Di ruang yang sangat sempit itu, gerakan Wirawan membuat tubuhnya condong tepat di depan Tiara.
Tanpa sengaja, punggung tangan Wirawan yang besar dan hangat bersentuhan dengan telapak tangan Tiara yang halus di atas paha gadis itu.
Zzzzap!
Seketika, sebuah getaran aneh yang sangat kuat merambat ke seluruh saraf mereka. Seperti sengatan listrik yang tidak hanya terasa di kulit, tapi menggetarkan ulu hati. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Tiara bisa merasakan embusan napas Wirawan yang teratur namun mulai memberat, sementara Wirawan seolah terbius oleh aroma muda dan segar yang menguar dari leher Tiara.
Mata mereka bertautan dalam kegelapan. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba membakar logika. Wirawan menatap bibir Tiara yang sedikit terbuka, sementara Tiara merasakan dorongan aneh untuk bersandar pada dada bidang pria matang itu.
"Hati-hati di jalan... Tiara," bisik Wirawan dengan suara yang mendadak berubah serak dan dalam, penuh dengan ketegangan seksual yang tertahan.
"Terima kasih... Mas," balas Tiara hampir tak terdengar.
Tiara segera keluar dari mobil dengan jantung yang berdegup kencang seperti genderang perang. Dia lari tanpa menoleh ke belakang, memegang dadanya yang terasa sesak. Sementara di dalam mobil, Wirawan mencengkeram kemudi dengan sangat kuat, mencoba menenangkan "badai" yang baru saja muncul hanya karena satu sentuhan singkat.
Malam Hari - Rumah Arum
Aku baru saja selesai mandi saat Papa masuk ke kamarku. Wajahnya tampak lebih segar dari biasanya, tapi ada sorot mata yang sulit kujelaskan.
"Arum, ini untukmu. Hadiah karena kamu sudah rajin kuliah," ucap Papa sambil memberikan sebuah tas Hermès merah marun yang sangat mewah.
Aku menjerit kegirangan, langsung memeluk Papa. "Ya ampun, Pa! Makasih banget! Papa emang paling oke!"
Papa mengusap kepalaku, tapi pikirannya seolah melayang jauh. Dia tidak tahu kalau aku sedang sibuk menghancurkan Raka lewat VCS, dan aku tidak tahu kalau Papa baru saja memberikan beasiswa "rahasia" pada sahabatku setelah sebuah setruman mematikan.
"Makin banyak rahasia, makin hangat rumah ini," gumamku sambil menatap bayanganku di cermin dengan tas baru. Ternyata, pengkhianatan memang ada di dalam darah keluarga ini.
jngan y thor