"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: JANJI DI PERSIMPANGAN MAUT
Suara mesin motor kesayanganku menderu membelah jalanan pinggiran kota yang mulai temaram. Di balik jaket kulit yang sudah mulai kusam, aku bisa merasakan detak jantungku yang berpacu tak keruan. Berkali-kali kulirik jam di pergelangan tangan; sudah lewat tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Di jok belakang, sebuah kotak kado berbungkus kertas warna-warni terikat erat—sebuah kado yang sebenarnya di luar kemampuanku bulan ini, tapi aku tak punya pilihan.
"Ayah, kalau pulang harus bawa boneka yang matanya besar itu ya? Kinaya nggak mau tidur kalau nggak ada temannya!" Suara kecil putriku itu terus terngiang, menghantui setiap putaran gas yang kutarik. Ada nada memaksa yang tidak biasa dari permintaannya pagi tadi, seolah dia sedang menyalurkan seluruh energi gelisahnya pada benda itu. Aku harus menebus rasa bersalahku karena terlalu sibuk bekerja dengan boneka sialan ini.
"Tunggu sebentar lagi, Sayang. Ayah pulang," gumamku di balik helm, mencoba mengalahkan deru angin yang menghantam dada. Aku menambah kecepatan saat lampu hijau di perempatan depan mulai berkedip, tanpa menyadari bahwa maut sedang mengintai di tikungan buta itu. Sebuah truk kontainer melaju liar dari arah kiri, seolah-olah remnya baru saja menyerah pada takdir yang gelap.
Hanya ada waktu satu detik. Suara decitan ban yang beradu dengan aspal panas memekakkan telinga, disusul oleh dentum logam yang remuk berkeping-keping. Tubuhku terlempar, melayang di udara seolah waktu sedang melambat. Hal terakhir yang kulihat sebelum segalanya menjadi gelap adalah kotak kado itu—hancur, dengan bagian kepala boneka yang menyembul keluar dari kertas kado yang sobek, menatapku dengan mata plastiknya yang dingin.
Bau antiseptik yang menyengat adalah hal pertama yang menyambut kesadaranku. Aku merasa tubuhku sangat berat, seperti tertimbun tumpukan beton. Di tengah rasa pening yang hebat, aku sempat melihat kilatan lampu neon rumah sakit yang melintas cepat di atas kepalaku. Aku mendengar teriakan panik dan derap langkah kaki yang terburu-buru. Rasanya sangat kacau, tapi anehnya, aku tidak merasa sakit. Hanya rasa kantuk yang luar biasa hebat yang kemudian menyeret kesadaranku kembali ke lubang hitam yang paling sunyi.
Entah berapa lama aku tertidur. Saat mataku kembali terbuka, rumah sakit itu mendadak sunyi. Ruangan itu begitu terang, disinari cahaya matahari yang pucat dari balik jendela, tapi tak ada lagi suara hiruk-pikuk dokter atau detak mesin jantung. Aku turun dari ranjang dengan linglung. Kakiku terasa ringan, seolah beban ribuan ton tadi hanyalah mimpi buruk yang lewat. Aku melangkah keluar ke koridor rumah sakit, mencari seseorang—siapa saja—untuk menanyakan kabar putriku.
"Kinaya? Ayah sudah bangun!" panggilku lirih, menyusuri lorong yang kosong melompong. Aku melihat sebuah cangkir kopi yang masih mengepulkan uap di meja resepsionis, tapi kursinya kosong. Aku terus berjalan keluar menuju lobi, berharap menemukan istri dan anakku yang biasanya setia menunggu di ruang tunggu. Namun, yang kutemukan hanyalah kesunyian yang membeku.
Aku berjalan keluar menuju area parkir. Di sana, mobil-mobil berhenti di tengah jalan dengan pintu terbuka lebar, seolah pengemudinya baru saja diculik dalam sekejap mata. Aku mulai panik. Apakah terjadi evakuasi massal saat aku operasi? Aku berlari menuju rumahku yang hanya berjarak beberapa blok dari sana, berharap Kinaya sedang duduk di teras menunggu bonekanya.
Namun, rumah itu pun sunyi. Pintunya terbuka, beberapa krayon berserakan di lantai, tapi tak ada suara tawa Kinaya yang biasanya memenuhi ruangan. Dengan tangan gemetar, aku mengambil spidol di atas meja belajar Kinaya. Aku menuliskan pesan besar di dinding ruang tamu, berharap jika istriku pulang, dia akan melihatnya: AYAH DI SINI. KALIAN DI MANA? Aku belum menyadari, bahwa di dunia yang nyata, putri kecilku sedang duduk bersimpuh di depan dinding yang sama, menatap kosong saat tulisan hitam itu muncul perlahan, seolah ditulis oleh jemari yang sudah tak bernyawa.