NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adrian posesif

BAB 15 — Adrian Posesif

Hari itu matahari bersinar cukup terang, tapi suasana hati Dr. Adrian Vale mendadak berubah gelap mendung sejak bel istirahat berbunyi.

Adrian berdiri di balkon lantai dua gedung fakultas, memegang secangkir kopi hitam yang sudah dingin tak tersentuh. Matanya yang tajam tidak lepas memandang ke arah halaman kampus yang ramai di bawah sana.

Dan pemandangan yang dilihatnya cukup untuk membuat darahnya mendidih dan rasanya ingin meledak saat itu juga.

Di meja panjang di bawah pohon rindang, duduklah Alena.

Gadis itu terlihat cantik seperti biasa, dengan seragam rapi dan senyum manis yang selalu berhasil membuat hati Adrian meleleh. Tapi masalahnya... saat ini senyum itu dihadiahkan bukan untuknya, dan tertawa itu didengarkan oleh orang lain.

Seorang pria berdiri di hadapan Alena.

Ethan. Mahasiswa tahun ketiga yang dikenal populer, tampan, dan cukup berani. Pria itu bersandar santai di tepi meja, membungkuk sedikit agar sejajar dengan wajah Alena, dan terlihat sedang mengucapkan sesuatu dengan nada menggoda.

Alena tertawa. Tawa renyah yang membuat bahu gadis itu terguncang kecil.

Dan yang paling membuat rahang Adrian mengeras sampai bunyi krak... Ethan dengan beraninya mengulurkan tangan dan merapikan kerah baju Alena yang sedikit berantakan! Sentuhan yang sangat akrab, sangat santai, dan sangat menyebalkan di mata Adrian.

"Hey Alena, jangan sama si dosen galak itu terus dong. Dia kan galak banget. Nanti aku traktir makan siang enak di luar, yuk?" suara Ethan terdengar cukup jelas sampai ke telinga Adrian yang pendengarannya tajam.

Alena terlihat malu-malu, dia menepuk pelan lengan Ethan sambil mencoba menolak sopan, tapi tatapannya ramah. "Ah, masa sih. Nggak ah, aku ada kerjaan."

"Yaaa, cuma makan doang kok. bentar aja, gak samai malam kok ." goda Ethan lagi.

Di atas sana, Adrian mematikan pandangannya. Dia tidak mau melihat lebih jauh lagi. Dia memutar badan dan berjalan pergi dengan langkah lebar dan kasar, meninggalkan kopinya yang tumpah sedikit karena cengkeraman tangannya yang kuat.

Mata pria itu menyala-nyala merah. Rasa cemburu dan posesif yang selama ini dia coba tahan, kini meluap-luap tak terkendali.

Berani-beraninya dia menyentuhnya. Berani-beraninya dia mengajaknya keluar. Berani-beraninya dia menggoda wanitanya!

 

❄️ Malam yang Dingin

Malam harinya, seperti biasa Alena datang ke apartemen Adrian. Tapi suasana di dalam sana... jauh lebih dingin daripada udara London di luar.

Adrian sudah ada di sana, duduk di sofa dengan wajah datar, tatapan kosong, dan mulut yang terkunci rapat. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum, tidak ada tawaran kopi hangat seperti biasanya.

Hanya ada diam. Diam yang mencekik dan menakutkan.

"Malam, Adrian..." sapa Alena pelan sambil meletakkan tasnya, merasakan aura negatif yang tebal di ruangan itu. "Kok diam aja? Kenapa mukanya masam banget gitu?"

Adrian tidak menjawab. Dia hanya meneguk gelas winenya sekali habis setengah, lalu meletakkannya kembali di meja dengan suara brak yang cukup keras.

Alena menghela napas, mulai mengerti arahnya. Dia tahu pria ini pasti melihat kejadian siang tadi.

"Karena Ethan ya?" tanya Alena memberanikan diri mendekat. "Itu cuma teman kok. Dia cuma ngajak makan doang."

"Teman?" Adrian akhirnya bersuara. Suaranya rendah, bergetar, dan penuh amarah yang ditahan. Dia mendongak, menatap Alena dengan mata yang gelap dan tajam. "Teman sampai berani pegang-pegang kerah baju? Teman sampai berani ajak jalan seenaknya di depanku?!"

"Dia cuma bercanda..."

"TAPI AKU MERASA ITU TIDAK LUCU!" bentak Adrian tiba-tiba, membuat Alena tersentak mundur.

Pria itu berdiri tegak, lalu dengan langkah cepat dia sudah berada di depan Alena. Tangannya mencengkeram kedua pergelangan tangan gadis itu kuat-kuat, menariknya agar mendekat hingga dada mereka bersentuhan.

Napas Adrian panas dan memburu, menandakan betapa dia sangat marah dan sangat cemburu.

"Kau tahu kan betapa aku tidak suka saat ada pria lain mendekatimu? Apa kau tau betapa sakit dan tidak enaknya saat meliat mu sama orang lain, dan membuatku gila melihat pria lain berdiri terlalu dekat denganmu?!"

"Aku..." Alena tidak tau harus berkata apa di bawah tatapan tajam itu, jantungnya berdegup kencang bukan main.

"Lihat aku, Alena!" pinta Adrian tegas, dagunya mencengkeram wajah gadis itu agar menatap matanya. "Aku ini pria, Len. Aku punya ego. Aku punya rasa memiliki yang besar. Setiap kali ada laki-laki lain yang menatapmu, setiap kali ada yang berani menyentuh kulitmu, setiap kali ada yang berani membuatmu tertawa... aku ingin menghancurkan mereka semua!"

Adrian mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh bibir Alena, bisikannya terdengar serak, berat, dan sangat dominan.

"Aku tidak suka berbagi. Aku tidak suka melihat milikku diperhatikan orang lain."

 

🔥 Ciuman Cemburu

Tanpa menunggu jawaban, Adrian menarik pinggang Alena dan langsung menyambar bibir gadis itu dengan dahsyat!

Ciuman marah, ciuman cemburu, ciuman tuntutan.

"Mmmghh!!" Alena meronta pelan kaget, tapi tangannya segera mencengkeram baju Adrian, menyerah pada kekuatan pria itu.

Adrian menciumnya dengan rakus, seolah ingin menghapus jejak siapapun yang pernah ada di sana. Tangannya bergerak liar meremas punggung dan pinggang Alena, membimbing gadis itu mundur sampai punggungnya menghantam dinding ruang tamu.

"Ahh... Adrian... sakit..." rintih Alena di sela ciuman.

"Sakit? biarkan saja ini adalah hukuman untukmu !" desis Adrian di rahang gadis itu, lalu dia mencium dan menghisap kulit leher Alena dengan keras, sengaja meninggalkan bekas merah membekas yang jelas. "Biar semua orang tahu kau punya tanda kepemilikan! Biar tahu kau milik siapa!"

"Ahh! Jangan... nanti kelihatan..."

"Biarkan saja! Aku mau mereka tahu!" Adrian mendongak, menatap mata Alena yang berkaca-kaca dan memerah. Napas mereka bercampur menjadi satu, panas dan liar.

Dengan suara berat, penuh otoritas, dan penuh penekanan yang tak bisa dibantah, Adrian berbisik tepat di bibir gadis itu.

"Aku tidak berbagi..."

Jari-jarinya mengusap bibir Alena yang bengkak merah kasar namun penuh gairah.

"Kau milikku. Tubuhmu, hatimu, senyummu, waktumu... semuanya milikku satu-satunya. Tidak ada satupun laki-laki lain yang berhak menyentuhmu, apalagi mengajakmu makan. apa kau Mengerti?!"

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!