NovelToon NovelToon
DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Siska bbt644

Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: SURAT ITU TIDAK BOLEH DIBACA

Siska berdiri mematung di depan meja kerja Ravi yang terbuat dari kayu jati hitam mengkilap. Tangan kanannya menggenggam erat selembar kertas tua yang pinggirannya sudah menguning. Jantungnya berdebar tidak karuan, seolah setiap detik yang berlalu membuat darahnya mendidih.

Surat itu.

Surat utang Ayah yang selama ini ia cari mati-matian. Surat yang menjadi alasan kenapa hidupnya tiba-tiba dijual ke pria dingin di depannya.

Ravi duduk di kursi eksekutifnya, tatapannya tajam menusuk seperti pisau. Ia tidak marah. Justru itu yang membuat Siska takut. Karena ketika Ravi marah, ia masih bisa berteriak, masih bisa membantah. Tapi ketika Ravi diam seperti ini, artinya badai besar akan datang.

“Jadi ini alasan lo?” suara Ravi rendah, tapi setiap kata jatuh seperti palu godam. “Lo nikah sama gue bukan karena cinta. Bukan karena lo butuh suami. Tapi karena utang bapak lo.”

Siska menelan ludah. Tenggorokannya kering. Ia ingin menyangkal, ingin berteriak bahwa tidak sesederhana itu. Tapi apa gunanya? Surat di tangannya sudah berbicara lebih lantang dari seribu kata.

“Aku… aku nggak punya pilihan, Ravi,” jawab Siska pelan, suaranya bergetar. “Kalau aku nggak tanda tangan kontrak itu, Ayahku bakal dipenjara. Rumah kami bakal disita. Aku nggak bisa lihat itu terjadi.”

Ravi tertawa. Tapi bukan tawa yang menyenangkan. Tawa itu dingin, kosong, dan penuh luka.

“Jadi gue cuma jadi ATM berjalan buat keluarga lo?” Ravi berdiri, langkahnya perlahan mendekati Siska. “Gue kira lo beda, Siska. Gue kira lo nikah sama gue karena lo lihat gue sebagai manusia, bukan dompet.”

Siska mundur satu langkah. Dadanya sesak. Ia tahu Ravi berhak marah. Tapi mendengar kata-kata itu keluar dari mulut suaminya sendiri, rasanya seperti ditampar pakai fakta.

“Aku nggak pernah minta lo cinta aku,” bisik Siska. “Aku cuma minta waktu. Waktu buat lunasin semua ini.”

Ravi berhenti tepat di depan Siska. Tingginya yang 188 cm membuat Siska harus mendongak. Mata mereka bertatapan. Di mata Ravi, ada kemarahan. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang lain. Sesomething yang Siska takut untuk namai.

“Keterlambatan,” kata Ravi tiba-tiba. “Lo telat dua hari bayar uang bulanan ke Ayah lo bulan lalu. Gue yang nutupin. Lo pikir gue nggak tahu?”

Siska terbelalak.

“Gue cek semua aliran dana yang keluar dari rekening gue, Siska. Termasuk transfer 50 juta ke rekening bapak lo yang bernama Hendra Wijaya. Jangan anggap gue bodoh.”

Siska merasa dunia berputar. Jadi selama ini Ravi sudah tahu? Lalu kenapa ia masih bersikap dingin? Kenapa ia tidak langsung mengusir Siska?

Sebelum Siska bisa menjawab, pintu ruang kerja terbuka dengan kasar.

“Ravi! Siska!”

Suara Bu Rima memenuhi ruangan. Wajahnya merah padam, napasnya tersengal-sengal seperti baru lari maraton. Di belakangnya berdiri dua orang pria bertubuh besar dengan setelan hitam. Mata mereka kosong, tidak ada emosi.

“Akhirnya gue nemu lo, anak durhaka!” Bu Rima menunjuk Siska dengan jari gemetar. “Lo kira bisa kabur dari tanggung jawab? Utang Ayah lo sudah jatuh tempo tiga hari lalu. Kalau nggak dibayar sekarang, rumah lo gue lelang besok pagi!”

Siska merasa lututnya lemas. Ia menggenggam surat itu lebih erat.

“Mama, cukup,” kata Ravi dingin. “Ini urusan rumah tangga saya.”

“Urusan rumah tangga?” Bu Rima menyeringai. “Jangan pura-pura jadi suami baik, Ravi. Gue tahu lo cuma nikahin dia buat balas dendam ke Hendra Wijaya. Jangan kira gue nggak tahu masa lalu lo dengan keluarga itu.”

Ravi menegang. Rahangnya mengeras.

Siska menatap Ravi bingung. Balas dendam? Apa maksud Bu Rima? Ravi punya masalah dengan Ayahnya?

Sebelum ia bisa bertanya, Bu Rima sudah memberi isyarat pada dua pria di belakangnya.

“Bawa dia,” perintah Bu Rima. “Kalau dia melawan, patahkan tangannya.”

Dua pria itu maju. Siska mundur, punggungnya menabrak meja. Surat di tangannya hampir lepas.

“JANGAN SENTUH DIA!”

Suara Ravi menggelegar. Seketika ruangan menjadi hening. Dua pria itu berhenti, menoleh ke Ravi ragu.

Ravi berjalan maju, berdiri di depan Siska, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

“Dia istri gue,” kata Ravi, suaranya datar tapi penuh ancaman. “Kalau ada satu rambut pun yang jatuh dari kepalanya, gue pastikan kalian berdua nggak akan bisa kerja lagi di Jakarta.”

Bu Rima mendesis kesal. “Lo milih dia daripada gue, Ravi? Setelah semua yang gue lakukan buat lo?”

Ravi tidak menjawab. Ia hanya menatap ibunya dengan tatapan kosong.

Bu Rima menghela napas panjang. Ia tahu, kalau sudah begini, Ravi tidak akan mundur.

“Baik,” kata Bu Rima akhirnya. “Gue kasih lo waktu 24 jam. Kalau besok jam 10 pagi utang itu belum lunas, gue nggak peduli lo suami dia atau bukan. Rumah itu tetap gue sita.”

Setelah itu, Bu Rima berbalik dan pergi, diikuti dua pengawalnya. Pintu tertutup dengan suara keras yang membuat Siska tersentak.

Hening.

Hanya suara napas Siska yang terdengar cepat dan tidak beraturan.

Ravi berbalik. Ia menatap Siska dari atas ke bawah, lalu pandangannya berhenti pada surat di tangan Siska.

“Kasih ke gue,” kata Ravi, mengulurkan tangan.

Siska menggeleng. “Nggak. Ini satu-satunya bukti kalau Ayahku nggak bohong.”

Ravi mendekat. Jari-jarinya menyentuh pergelangan tangan Siska. Sentuhannya dingin, tapi membuat seluruh tubuh Siska merinding.

“Kasih ke gue, Siska,” ulang Ravi, kali ini lebih pelan. “Kalau lo nggak mau gue baca isi surat ini, lo harus tanda tangan surat yang gue siapkan.”

Siska menatap Ravi bingung. “Surat apa?”

Ravi mengambil sebuah map cokelat dari laci mejanya. Ia membuka map itu dan mengeluarkan selembar kertas.

“Surat penyerahan hak asuh utang,” kata Ravi. “Mulai sekarang, utang Ayah lo pindah ke nama gue. Lo nggak perlu takut lagi. Tapi ada syaratnya.”

Siska mengerutkan kening. “Syarat apa?”

Ravi menatap mata Siska dalam-dalam.

“Lo harus berhenti merahasiakan sesuatu dari gue. Dan lo harus jujur… kenapa lo sampai segitunya takut Ayah lo dipenjara?”

Siska terdiam.

Ia tahu, begitu ia tanda tangan surat itu, hidupnya akan berubah selamanya. Utang Ayahnya lunas, tapi ia juga akan terikat pada Ravi lebih dalam lagi. Tidak ada jalan keluar.

Di luar ruangan, hujan mulai turun. Suara rintiknya menampar kaca jendela.

Ravi menunggu. Pena di tangannya sudah siap.

Siska menatap surat utang di tangannya, lalu menatap surat penyerahan hak asuh di tangan Ravi.

Ia harus memilih.

Dan waktu, tidak pernah menunggu siapa pun.

“Ravi…” Siska membuka mulut, suaranya hampir tidak terdengar. “Kalau aku tanda tangan… apakah kamu akan berhenti membenciku?”

Ravi tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Siska, lalu berbisik:

“Gue nggak benci lo, Siska. Gue benci kenyataan kalau lo lebih percaya surat itu daripada gue.”

Siska menutup mata. Air matanya hampir tumpah.

Ia mengulurkan tangan.

Tapi sebelum jarinya menyentuh pena, pintu ruang kerja terbuka lagi.

Seorang asisten masuk dengan napas terengah-engah.

“Tuan Ravi! Ada telepon dari rumah sakit! Bapak Hendra… beliau pingsan!”

Dunia Siska runtuh.

Surat di tangannya jatuh ke lantai.

[Bersambung ke Bab 34]

1
Erniati Filiang
apaan sih ceritanya kok lama banget
Siska bbt644: Aduh Kak Erniati maaf banget bikin nunggu lama 😭🙏
Maya janji gak ngaret lagi. Bab 4 udah maya tulis,
malam ini jam 8 Maya up langsung.
Rahasia Kamar 301 dibongkar semua di bab 4 Kak.
Jangan kabur ya Kak, makasih udah setia baca ❤️
total 1 replies
Bundanya Rayfin
harusnya jgn terlalu lancang siska
Siska bbt644: Iya Bun 😭Maya emang keceplosan karena panik.
Doain ya Bun biar Maya gak lancang lagi di bab depan.
Makasih udah sayang sama Maya ❤️ Sehat2 Bunda & Rayfin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!