Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Rahasia di Balik Pintu Kamar
Sebelum meninggalkan rumah Hana, Gisel memegang kedua tangan gadis itu dengan erat. Tatapannya serius, jauh dari kesan main-main. "Hana, rahasiakan pertemuan kita hari ini. Jangan bilang siapa pun, termasuk Raka. Tante butuh waktu untuk memikirkan cara terbaik membantu kamu," bisik Gisel.
Gisel menyelipkan amplop berisi sedikit uang ke tangan Hana sebagai bantuan darurat, lalu ia bergegas pergi. Di sepanjang jalan pulang, Gisel hanya bisa melamun. Pikirannya kacau balau. Ia merasa penderitaannya dulu tidak ada apa-apanya dibanding neraka yang harus dilalui Hana selama bertahun-tahun.
"Gila... Hana hebat banget bisa bertahan sejauh ini," gumam Gisel sambil menyeka sudut matanya yang basah.
Sesampainya di rumah, hari sudah gelap. Gisel melangkah masuk ke kamar dengan hati-hati. "Duh... kok merinding sih?" ucap Gisel pelan sambil mengusap lengannya.
"Malam-malam begini... dari mana saja kamu?"
"Waaaa!" Gisel berteriak kaget dan hampir melompat. Ia membalikkan badan dan melihat sosok Dewa duduk diam di sofa kamar yang gelap gulita.
"Mas! Ngapain sih duduk gelap-gelapan begini? Kayak jelangkung tahu nggak!" omel Gisel sambil buru-buru menyalakan lampu kamar.
Cahaya lampu kini menerangi wajah Dewa yang tampak kaku dan dingin. "Kata Bibir, kamu sudah pergi sejak aku berangkat kerja tadi pagi. Kamu ke mana seharian ini, Gisel?"
Gisel menelan ludah, otaknya berputar cepat mencari alasan. "Em... itu... ada sedikit urusan, Mas."
"Urusan? Urusan apa sampai malam begini?" kejar Dewa, matanya menyipit penuh selidik.
"Iya, urusan penting pokoknya! Udah ah, aku mau mandi, gerah banget!" Gisel mencoba kabur menuju kamar mandi untuk menghindari interogasi lebih lanjut.
"Gisel! Aku belum selesai bicara!" tegas Dewa sambil berdiri.
Gisel berhenti di depan pintu kamar mandi, lalu menoleh dengan senyum nakalnya yang muncul kembali. "Ya sudah, kalau Mas masih mau lanjut ngobrol, mending kita lanjut di dalam kamar mandi aja gimana? Mau sekalian mandiin aku nggak?" goda Gisel sambil mengedipkan mata.
Dewa langsung terdiam. Ia membuang muka dan kembali duduk di sofa dengan wajah kaku, tak sanggup meladeni godaan ceplas-ceplos istrinya.
Gisel tertawa renyah sambil menutup pintu kamar mandi. "Selamet... selamet... Untung dia gampang banget kena skakmat," bisik Gisel lega. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya sambil bergumam sendiri.
Berikut adalah narasi lanjutan untuk Bab 33 yang menutup malam itu dengan kesalahpahaman kocak khas Gisel yang smart tapi polos.
Dua bulan berlalu, dan rahasia tentang Hana mulai terasa seperti bisul yang siap meledak di kepala Gisel. Ia sudah tidak tahan menyimpannya sendiri. Malam itu, dengan jantung berdebar, Gisel memberanikan diri mendekati Dewa yang masih berkutat dengan pekerjaannya di ranjang.
"Mas... sibuk gak?" tanya Gisel sambil duduk di tepi tempat tidur, memainkan ujung sprei.
Dewa menoleh sekilas. "Kenapa?"
"Boleh aku ngobrol sedikit?"
Melihat raut wajah Gisel yang tidak biasa, Dewa langsung menutup laptopnya. Ia melepas kacamata bacanya dan menaruhnya di nakas. "Bicaralah," ucap Dewa singkat, memberikan perhatian penuh.
Gisel pun menarik napas panjang. Ia menumpahkan semuanya—dari A sampai Z. Ia menceritakan tentang Hana yang diperkosa kakak tirinya, tentang Baim anak kecil yang lucu itu, hingga tentang ibu tiri yang kejam. Gisel bicara berapi-api, berharap suaminya yang hebat ini akan langsung mengerahkan pengacara atau polisi.
Namun, setelah semua cerita dramatis itu selesai, Dewa hanya bereaksi datar. "Hem..."
Gisel melotot. "Kok 'hem' doang sih, Mas?!"
"Lalu?" tanya Dewa santai, seolah baru saja mendengar laporan cuaca.
"Ih, nyebelin banget sih!
Tapi dengan cepat, Dewa menarik tangan Gisel hingga gadis itu terduduk kembali di dekatnya. Dewa mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu tepat di telinga Gisel. Hembusan napas hangatnya menyebar dari leher hingga telinga, membuat bulu kuduk Gisel meremang seketika.
"Semua itu... tergantung usaha kamu," bisik Dewa dengan suara berat yang menggoda.
Gisel mematung. Otaknya yang smart mendadak macet total. Ia berbalik menatap Dewa dengan tatapan bingung yang sangat polos. "Usaha? Maksudnya aku harus kerja di mana lagi, Mas? Apa aku harus cari loker di perusahaan Mas buat bayar pengacara Hana?"
Dewa terdiam. Ia menatap Gisel dengan tatapan tak percaya. Niat hati ingin meminta "jatah" atau servis lebih sebagai imbalan bantuan, eh istrinya malah mengira dia disuruh cari kerja sampingan.
Dewa bingung, Gisel makin bingung, bahkan penulisnya pun ikut bingung dengan jalur pikiran Gisel yang melenceng jauh dari kode-kode romantis.
"Gisel... bukan kerja di kantor," desis Dewa sambil memijat pangkal hidungnya, merasa gagal total menjadi pria penggoda malam itu.
Gisel malah makin semangat. "Terus apa? Jualan pulsa? Atau bantu cuci mobil Mas setiap pagi? Oke deh, asal Mas bantu Hana!"
Dewa hanya bisa menghela napas panjang dan menarik selimut untuk menutupi wajahnya. "Tidur, Gisel. Tidur. Besok aku bantu urus semuanya sebelum kamu benar-benar daftar jadi cleaning service di kantorku."