NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Kobaran di Tengah Sawah

Api itu datang begitu cepat.

Aisha tidak sempat berteriak lagi. Satu detik ia melihat percikan kecil di kegelapan sawah, detik berikutnya kobaran api sudah melahap dinding belakang vila. Asap tebal mulai masuk melalui celah-celah jendela, membawa bau bakar yang menyengat.

“Api! Cepat keluar!” teriak Arka.

Aisha menggendong Baskara yang masih setengah sadar. Anak itu terbatuk-batuk, matanya terbuka lebar penuh ketakutan. “Bu, ada apa? Kok panas?”

“Tidak usah takut, Nak. Ibu di sini.”

Arka berlari membuka pintu depan. Udara malam yang dingin menyambut mereka, tapi di belakang, panas api semakin mendekat. Mereka bertiga berlari keluar, menjauh dari vila yang mulai dilalap si jingga.

Aisha jatuh tersungkur di tanah berlumpur. Baskara terlepas dari gendongannya, berguling di sawah yang basah. Arka berbalik, meraih Baskara, lalu membantu Aisha berdiri.

“Ke jalan raya! Cepat!” perintah Arka.

Mereka berlari di kegelapan malam, hanya diterangi oleh cahaya api dari belakang. Tanah sawah becek, setiap langkah terasa seperti menarik ribuan beban. Aisha merasakan sendalnya terlepas, tapi ia tidak berhenti. Ia tidak peduli meski kakinya terluka oleh jerami dan batu.

Baskara menangis di pelukan Arka. “Ayah, aku takut! Apanya besar banget!”

“Tutup mata, Nak! Ayah akan selamatkan kamu!”

Dari kejauhan, Aisha mendengar suara tawa. Tawa yang dingin, yang familiar. Mia. Wanita itu berdiri di pematang sawah, menyaksikan mereka berlari dari kobaran api. Di tangannya masih ada korek api lain, siap dilemparkan ke mana pun mereka pergi.

“Mia! Hentikan!” teriak Arka.

“Hentikan? Ini baru permulaan, Kak!” balas Mia. “Kau pikir kau bisa kabur? Lihat sekelilingmu! Tidak ada siapa pun di sini yang akan menolongmu!”

Arka tidak berhenti. Ia terus berlari, membawa Baskara, dengan Aisha di belakangnya. Tapi Aisha mulai kehabisan napas. Paru-parunya terasa terbakar—bukan hanya karena asap, tapi juga karena rasa takut yang mencekik.

Tiba-tiba, Aisha tersandung akar pohon. Ia jatuh, lututnya berdarah, lumpur membanjiri bajunya. Arka berbalik, wajahnya panik.

“Aisha, bangun!”

“Kau pergi dulu! Bawa Baskara!” teriak Aisha. “Aku menyusul!”

“Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!”

“Arka, ini bukan waktunya berdebat! Bawa anak kita ke tempat aman! Aku akan baik-baik saja!”

Arka ragu. Matanya berkaca-kaca. Tapi Baskara yang masih di pelukannya berteriak, “Bu! Ibu jangan tinggal!”

“Ibu tidak tinggal, Nak. Ibu hanya perlu istirahat sebentar. Ayah akan menjemput Ibu nanti.”

Aisha memohon pada Arka dengan matanya. Akhirnya Arka mengangguk, lalu berlari lagi dengan Baskara, meninggalkan Aisha yang duduk di lumpur sawah.

Aisha memejamkan mata. Ia mendengar suara api yang masih berkobar di kejauhan. Ia mendengar suara tawa Mia yang semakin dekat.

“Kau korbankan dirimu untuk mereka?” suara Mia terdengar dari atas. Wanita itu berdiri di hadapan Aisha, senyumnya lebar, matanya gelap. “Mulia sekali. Tapi sia-sia. Aku akan tetap mengejar mereka. Tidak peduli seberapa jauh mereka lari.”

Aisha membuka mata. Ia menatap Mia—wanita yang dulu pernah datang ke rumahnya, wanita yang dulu memintanya bertanya pada Arka tentang kebenaran. Kini wanita itu berdiri di depannya dengan wajah yang penuh luka, luka yang tidak terlihat oleh mata telanjang.

“Mia,” Aisha berkata, suaranya serak. “Apa yang kau cari sebenarnya? Balas dendam? Atau keadilan? Atau hanya ingin seseorang merasakan sakit yang sama dengan yang kau rasakan?”

Mia tertawa. Tawa yang pahit. “Apa bedanya?”

“Karena jika kau hanya ingin balas dendam, kau tidak akan pernah puas. Jika kau ingin keadilan, ada cara yang lebih baik daripada membakar vila yang berisi anak kecil.”

Wajah Mia berubah. Untuk sesaat, ada keraguan di matanya. Tapi dengan cepat, keraguan itu lenyap, digantikan oleh amarah yang lebih besar.

“Jangan kuliahkan aku tentang keadilan, Aisha. Kau yang berselingkuh dari suamimu, kau yang menghancurkan keluargamu sendiri. Kau tidak lebih baik dariku.”

“Aku tahu aku tidak lebih baik. Tapi aku tidak membakar rumah yang berisi anak-anak.”

Mia menginjak tanah di samping kepala Aisha. “Diam! Kau tidak tahu apa yang aku alami! Bertahun-tahun aku disiksa, dijadikan budak, dirampas masa depanku! Sementara Arka hidup bahagia di Jakarta dengan istri cantik dan anak sempurna! Di mana keadilan?”

“Tapi Baskara tidak bersalah, Mia. Dia anak-anak. Dia keponakanmu.”

Mia terdiam. Tangannya yang memegang korek api mulai gemetar.

“Aku tahu,” bisiknya akhirnya. “Aku tahu dia tidak bersalah. Tapi dia adalah satu-satunya hal yang paling berharga bagi Arka. Jika aku mengambil Baskara, Arka akan merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan ketika dia mengambil hidupku.”

“Arka tidak mengambil hidupmu. Dia hanya... dia hanya pengecut. Dia takut. Tapi dia tidak pernah bermaksud menyakitimu.”

“Ketakutan tidak membenarkan keheningan, Aisha. Diam adalah bentuk persetujuan. Dengan diam, Arka membiarkan keluarga angkatku melakukan apa pun padaku.”

Aisha tidak bisa membantah. Mia benar. Diam Arka selama bertahun-tahun adalah bentuk pengkhianatan yang tidak kalah menyakitkan.

Tapi sekarang bukan saatnya berdebat siapa yang paling benar atau paling salah. Sekarang adalah saatnya menyelamatkan Baskara.

“Mia,” Aisha berkata lebih lembut. “Jika kau benar-benar ingin keadilan, jangan lakukan ini. Bicaralah dengan Arka. Bawa dia ke pengadilan. Biarkan dia mempertanggungjawabkan kesalahannya secara hukum. Tapi jangan libatkan Baskara. Dia masih kecil. Dia tidak mengerti apa pun tentang dendam dan keadilan.”

Mia menunduk. Air mata jatuh dari matanya. “Kau pikir aku belum mencoba? Aku sudah melapor ke polisi. Aku sudah membawa bukti. Tapi mereka tidak percaya padaku. Mereka bilang aku gila. Mereka bilang aku hanya mencari perhatian. Tidak ada yang percaya ceritaku, Aisha. Tidak ada.”

Aisha merasakan sakit di dadanya. Ia tahu rasanya tidak dipercaya. Ia tahu rasanya dihakimi tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan.

“Aku percaya padamu, Mia.”

Mia tersentak. “Apa?”

“Aku percaya ceritamu. Aku percaya kau menderita. Dan aku percaya kau berhak atas keadilan. Tapi ini bukan caranya.”

Mia mengusap air matanya dengan kasar. “Kau hanya bilang begitu karena kau takut.”

“Aku memang takut. Aku takut kehilangan anakku. Tapi itu tidak membuat ucapanku tidak tulus.”

Mereka berdua diam. Di kejauhan, suara api mulai mereda. Mungkin vila itu sudah rata dengan tanah. Mungkin tetangga mulai berdatangan. Aisha tidak tahu. Yang ia tahu, Mia berdiri di hadapannya dengan ragu.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari belakang. Arka berlari kembali, tanpa Baskara.

“Aisha! Aku sudah meninggalkan Baskara dengan Tono. Dia aman.”

Arka berhenti ketika melihat Mia berdiri di hadapan Aisha. Wajahnya berubah—antara takut dan marah.

“Mia,” panggil Arka pelan. “Lepaskan dia. Ini antara aku dan kau. Jangan libatkan Aisha.”

Mia menoleh pada Arka. Matanya menyala. “Akhirnya kau kembali. Aku pikir kau akan lari lagi, seperti yang selalu kau lakukan.”

“Aku tidak lari. Aku hanya melindungi anakku.”

“Melindungi anakmu? Di mana kau ketika aku membutuhkan perlindungan? Di mana kau ketika keluarga angkatmu menjualku seperti binatang?”

Arka menunduk. “Aku salah, Mia. Aku tahu aku salah. Dan aku minta maaf. Tapi tolong, jangan sakiti Aisha. Jangan sakiti Baskara. Mereka tidak bersalah.”

Mia tertawa getir. “Maaf? Kau pikir maaf cukup? Setelah dua puluh tahun aku menderita, kau pikir kata 'maaf' bisa menyembuhkan semuanya?”

“Tidak. Tapi setidaknya itu awal. Aku tidak akan lari lagi, Mia. Aku akan hadapi semua konsekuensinya. Tapi lepaskan Aisha.”

Mia menatap Arka lama. Lalu ia menoleh pada Aisha yang masih duduk di lumpur.

“Kau beruntung, Aisha. Suamimu—meskipun pengecut—ternyata masih punya sedikit keberanian untuk kembali.”

Mia melangkah mundur. Ia melemparkan korek api yang tersisa ke sawah basah, di mana api tidak akan menyala.

“Baik. Aku tidak akan menyakiti Baskara. Tapi ini bukan selesai, Arka. Aku akan memastikan semua orang tahu apa yang kau lakukan padaku. Aku akan memastikan kau kehilangan segalanya.”

Mia berbalik, berjalan menjauh ke kegelapan malam. Aisha hendak mengejar, tapi Arka menahan.

“Biarkan dia pergi, Aisha. Kita tidak bisa menghentikannya sekarang.”

“Tapi dia akan kembali. Dia akan mengancam lagi.”

“Aku tahu. Tapi sekarang kita harus selamatkan diri kita dulu.”

Arka membantu Aisha berdiri. Kakinya berdarah, bajunya penuh lumpur, rambutnya kusut. Tapi ia tersenyum tipis.

“Kau baik-baik saja?” tanya Arka.

“Aku baik-baik saja. Baskara?”

“Aman. Tono membawanya ke desa tetangga.”

Mereka berjalan berdua di kegelapan sawah, meninggalkan vila yang masih menyisakan kepulan asap di langit malam.

---

Di desa tetangga, Baskara duduk di kursi teras rumah Tono, memeluk bantal kecil. Matanya merah, wajahnya masih basah oleh air mata. Ketika melihat Aisha dan Arka datang, ia berlari dan memeluk ibunya erat-erat.

“Bu, Ibu nggak apa-apa?” isaknya.

“Ibu baik-baik saja, Nak. Lihat, Ibu masih utuh.”

Baskara memeluk Aisha lama. Kemudian ia memeluk Arka. “Ayah jangan pergi lagi. Aku takut.”

Arka membelai rambut Baskara. “Ayah tidak akan pergi, Nak. Ayah janji.”

Tono berdiri di ambang pintu, wajahnya serius. “Kita harus pindah lagi. Mia mungkin tahu tempat ini. Aku punya tempat lain yang lebih aman, di timur pulau. Tapi perjalanannya jauh. Mungkin kita berangkat besok pagi.”

Aisha mengangguk. “Baik. Kita ikut.”

Mereka bermalam di rumah Tono malam itu. Aisha tidak tidur. Ia duduk di samping Baskara yang terlelap di dipan sempit, memandangi wajah anaknya yang tenang meskipun hari itu penuh teror.

Arka masuk ke ruangan itu, duduk di kursi di seberang Aisha.

“Aisha,” panggilnya pelan. “Maafkan aku. Semua ini terjadi karena aku. Karena masa laluku yang tidak pernah selesai.”

Aisha menggeleng. “Ini bukan hanya salahmu, Arka. Aku juga punya andil dalam kekacauan ini. Jika aku tidak berselingkuh, mungkin kita masih tinggal di rumah kita yang dulu. Mungkin Mia tidak akan semudah itu menemukan kita.”

“Kita tidak akan pernah tahu.”

“Ya. Kita tidak akan pernah tahu. Tapi yang kita tahu sekarang, kita harus melindungi Baskara. Apa pun yang terjadi.”

Arka mengangguk. Mereka berdua menatap Baskara yang tertidur dengan posisi miring, satu tangan menjulur keluar selimut.

“Dia mirip kau,” kata Arka tiba-tiba.

Aisha tersenyum. “Dia mirip kita berdua.”

Mereka terdiam lagi. Di luar, burung hantu bersuara, menambah suasana malam yang mencekam.

---

Pukul tiga dini hari, ponsel satelit Tono berdering. Tono mengangkatnya, berbicara sebentar, lalu wajahnya berubah pucat.

Ia berjalan ke ruang tamu tempat Arka dan Aisha masih terjaga. “Kita harus pergi sekarang. Mia tahu kita di sini. Dia sedang dalam perjalanan.”

Aisha berdiri, jantungnya berdegup kencang. “Bagaimana dia tahu?”

“Aku tidak tahu. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Aku akan memobilisasi tim keamanan. Kita akan ke tempat persembunyian darurat di hutan.”

Arka menggendong Baskara yang masih terlelap. Mereka berempat keluar rumah, masuk ke mobil Tono.

Mobil itu melaju kencang di jalan desa yang gelap, meninggalkan rumah Tono dengan lampu yang masih menyala.

Di belakang mereka, lampu mobil lain muncul dari kejauhan. Mendekat. Semakin cepat.

“Dia mengejar kita!” teriak Aisha.

Tono menekan gas lebih dalam. “Berpegangan!”

Mobil itu melaju kencang, melewati tikungan tajam, melewati jembatan sempit. Aisha memejamkan mata, berdoa dalam hati.

Tiba-tiba, suara letusan terdengar. Ban belakang mobil meletus.

Mobil oleng. Tono berusaha mengendalikan setir, tapi kehilangan kendali.

Mereka terjun ke sawah di sisi jalan.

Aisha merasakan benturan keras, lalu gelap.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!