Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi bisu di balik pintu
Di dalam keheningan ruang pribadi istana yang megah, Permaisuri Suhita duduk berhadapan dengan Raja Indra. Tatapan matanya lurus, memancarkan keseriusan yang tidak bisa dibantah saat membahas masa depan putra mahkota mereka.
"Suamiku.." panggil Suhita memecah keheningan.
"Aku pikir, begitu Cakra pulang dari tugasnya nanti, kita harus segera melangsungkan acara pertunangan mereka."
Raja Indra yang sedang membaca sebuah gulungan perkamen menghentikan gerakannya. Ia menghela napas panjang, lalu menatap sang permaisuri dengan dahi berkerut.
"Suhita, apa kau yakin putramu itu akan setuju? Apa kau pernah menanyakan pendapatnya satu kali pun?" tanya Raja Indra dengan nada sangsi.
Suhita sedikit menegakkan punggungnya. "Raja... Pangeran Cakra itu terlalu berbakti pada kerajaan ini. Hidupnya hanya tentang pedang dan taktik perang. Dia bahkan tidak mengerti bagaimana cara mencintai seseorang. Tentu saja kita sebagai orang tua yang harus turun tangan. Dan bagiku, tidak ada gadis lain yang lebih pantas mendampinginya selain Putri Rani."
Mendengar penuturan istrinya, Raja Indra tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sarat akan beban pikiran.
"Cakra memang anak yang keras, Suhita. Tapi, baik kau maupun aku, kita tidak pernah benar-benar tahu apa isi hati anak itu. Dan jika kau meminta pendapatku?" Raja Indra menjeda kalimatnya sejenak, menatap lekat manik mata Suhita.
"Aku hanya akan merestuinya jika pangeran Cakra sendiri yang menyetujuinya."
Suhita mendengus halus, namun senyum penuh percaya diri terukir di bibirnya. Ia sangat yakin bisa meluluhkan kekerasan hati putranya demi kepentingan kerajaan.
"Baiklah, Raja," ujar Suhita mantap. "Begitu Cakra menginjakkan kakinya di istana ini, kau sendiri yang akan memastikannya langsung dari mulutnya."
***
Riu memegang lengan Cakra dan setengah menariknya keluar meninggalkan Nayan dan Ana yang masih berada di dalam rumah .
Begitu sampai di luar, Riu langsung berbalik menatap Cakra dengan wajah frustrasi.
"Apa-apaan ini, Pangeran?!" desis Riu setengah berbisik. "Rumah ini bukanlah panti asuhan atau tempat penampungan. Pangeran..., kita ini sedang menjalankan tugas, bukan sedang membangun sebuah keluarga! Kita berada di sini untuk melaksanakan perintah penting dari Baginda Raja!"
Cakra menepis pelan tangan Riu dari lengannya. Wajahnya tetap tenang tanpa riak emosi. "Tentu saja kita tetap menjalankannya, Riu."
"Tapi Pangeran..."
"Riu, bukankah kehadiran anak itu justru sangat membantu penyamaran kita? Orang-orang akan semakin percaya kalau kita hanyalah rakyat jelata biasa yang hidup luntang-lantung." potong Cakra dengan nada dingin yang tak terbantahkan.
Riu mengembuskan napas kasar. Ia ingin sekali melayangkan protes keras dan mendebat logika pangerannya itu, namun nyalinya mendadak ciut menatap kilatan mata Cakra.
"Sudahlah Riu ! Kau jangan banyak bicara. Ikuti saja apa pun perintahku," ujar Cakra tajam. Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu menatap Riu dengan seringai tipis yang mengintimidasi.
"Atau... kalau kau terlalu banyak drama lagi, akan aku tumbalkan jantungmu pada Sedra , wanita gila itu ."
Riu terlonjak kaget. Mendengar nama Sedra disebut, bulu kuduknya seketika meremang hebat. Ia tahu betul betapa mengerikannya sosok yang dijuluki dewi kematian itu. Ancaman Cakra barusan sukses mengunci mulutnya rapat-rapat.
Tanpa memperdulikan Riu yang masih berdiri mematung ketakutan, Cakra berbalik dan melangkah santai kembali masuk ke dalam rumah.
Riu hanya bisa menatap nanar punggung Cakra yang mulai menjauh sembari mengusap tengkuknya yang merinding. "Aku rasa..." gumam Riu sangat lirih pada dirinya sendiri .
"Pangeran benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya gara-gara gadis itu."
***
Langkah kaki Pangeran Elias mengikis kesunyian perbukitan yang sunyi dan berkabut. Di puncak bukit yang terisolasi itu, ia menemui seorang Guru Besar—satu-satunya sosok misterius yang berhasil membantunya menemukan cara untuk melumpuhkan kekuatan pendekar dari dalam tubuh Sedra.
Di dalam dekapannya, Elias membawa sebuah benda yang sangat berharga. Sebuah pedang pusaka milik Sedra. Pedang berornamen kuno yang haus darah, saksi bisu yang selalu menemani sang dewi kematian di setiap medan pertempuran.
"Guru.." panggil Elias pelan namun sarat akan ambisi sembari meletakkan pedang itu di hadapan sang guru.
"Ini adalah pedang Sedra."
Guru Besar yang sedang bermeditasi itu perlahan membuka matanya. Tatapannya yang tajam langsung mengunci bilah pedang di hadapannya. "Apa dia sudah meminum habis ramuan pelumpuh itu?"
Elias mengangguk pasti. Senyum kepuasan samar terukir di wajahnya.
"Pangeran..." panggil sang Guru dengan suara yang terdengar berat dan dalam.
"Pedang ini memang berisi sebagian besar kekuatannya yang kini terkunci. Namun, untuk bisa memindahkan seluruh energi dahsyat itu ke dalam tubuhmu... itu bukanlah perkara mudah."
"Apa pun persyaratannya, akan saya lakukan, Guru!" sahut Elias cepat tanpa keraguan sedikit pun. Obsesinya untuk menjadi yang terkuat telah menutup akal sehatnya.
Guru Besar itu menatap Elias lurus-lurus, mengukur seberapa besar tekad sang pangeran.
"Kau harus melakukan puasa batin dan bertapa di tempat ini untuk bisa menyerap serta menyatukan seluruh energi murni dari pedang ini ke dalam ragamu. Sedikit saja fokusmu terganggu, energi ini justru akan menghancurkanmu dari dalam."
***
Dengan sedikit tergesa-gesa Elias menyusuri lorong istana menuju ke kamar pribadinya . Di dalam ruangan, Wisya rupanya sudah menunggu kedatangannya.
"Pangeran, mengapa terburu-buru sekali?" tanya Wisya begitu melihat kedatangan Elias.
"Wisya, untuk beberapa hari ke depan aku tidak akan berada di istana," jawab Elias cepat tanpa basa-basi. Kilat ambisi terpancar jelas di matanya.
"Aku harus pergi bertapa untuk menyerap dan menguasai seluruh kekuatan Sedra." Ucap Elias .
Wisya melangkah mendekat. "Haruskah aku menemanimu ke sana, Pangeran?"
"Tidak perlu, Wisya. Kau harus tetap berada di istana ini untuk menjaga situasi agar tetap terkendali," tolak Elias tegas. Ia menatap Wisya dengan tatapan dalam .
"Dan yang paling penting... kau harus memastikan tidak ada satu pun saksi mata yang melihat saat aku menghabisi ayahku waktu itu ."
Wisya mengangguk patuh dengan senyum dingin. Rencana busuk mereka hampir sempurna.
Namun, tanpa mereka sadari, di balik pintu ruangan yang sedikit terbuka, seseorang di atas kursi roda membeku. Jantungnya berdegup kencang dipenuhi rasa ngeri dan tidak percaya.
Dia adalah Pangeran Yoka, kakak kandung Elias yang menderita kelumpuhan.
Tangan Yoka yang gemetar kini mengepal sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih. Air matanya luruh tanpa bisa dibendung, mengalir deras bersamaan dengan rasa tidak berdaya yang begitu menyiksa dadanya saat Semua rahasia keji itu terbongkar di depannya.
" Elias... aku tidak percaya kalau kau adalah adik kandungku. Bagaimana bisa kau berbuat sekeji ini ! " teriak Yoka dalam batinnya. Hatinya terasa teriris perih. Ia ingin sekali berteriak memanggil pengawal atau memaki kebiadaban adiknya, namun bibirnya terkunci rapat. Ia tidak bisa bicara dan terjebak dalam tubuhnya yang tidak berdaya.
Bersambung...
🪴🪴🪴