Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOSA PENGKHIANATAN
Lampu jarak jauh dimatikan. Aku bisa melihat sebuah mobil berwarna hitam berada didepanku, meski tidak terlalu jelas. Lampu yang dipancarkan mobil itu masih terlalu silau bagiku. Ditambah, lingkungan sekitar yang tidak memiliki lampu penerang jalan, membuat jarak pandangku menjadi pendek.
Seseorang baru saja keluar dari mobil. Rambutnya panjang bergelombang dengan pakaian yang begitu menawan. “Ini dia orangnya sayang.” Dia adalah seseorang yang kukenal. Sebenarnya aku sudah tau tentang situasi yang terjadi. Sekilas aku melihat muka pengendara motor yang mengarahkanku ke jalan sunyi ini. Dia juga merupakan orang yang kukenal. Meski aku tidak tau namanya, tapi aku tau kalau mereka memiliki hubungan. “Sayang!” Dia adalah Yasmine.
Ada alasan mengapa Yasmine memiliki pengaruh yang besar disekolah. Alasan yang sama, yang membuat banyak orang ketakutan sehingga tidak ingin berurusan dengannya. Hal itu berkaitan dengan pacarnya yang merupakan anak dari orang berjabatan tinggi disuatu instansi. Masalah bukan terletak pada orang tua pacar, melainkan pada pacar Yasmine itu sendiri. Dia dikenal suka melakukan tindakan kekerasan. Banyak kasus yang melibatkan dirinya. Orang tuanya berusaha sekeras mungkin menutupi keburukan pacar Yasmine, membuat dirinya selalu selamat dari penangkapan. Tidak ada yang berani padanya maupun Yasmine. Lebih baik tidak pernah terlibat dengan mereka.
Aku, orang yang mengganggu rencana terakhir Yasmine disekolah, pasti tidak akan dilepaskan begitu saja olehnya. Aku sudah ada dugaan sebelumnya kalau hal seperti ini akan terjadi. Aku hanya tidak menyangka akan secepat ini, dihari yang sama.
“Sabar napa!” Orang lain keluar dari mobil menyusul Yasmine, yang merupakan pacarnya. Dia juga orang yang kukenal. Malahan, aku sangat mengenalnya. Setidaknya dulu. Sebelum semua berubah. Dia adalah cowok yang cukup berotot, rambutnya pendek mendekati botak, sikapnya tegas, mirip seperti tentara. Benar – benar tidak berubah setelah 2 tahun. “Oh! Jadi ini orang yang bikin kamu kesel?”
“Iya, dia gangguin aku disekolah, sayang.”
Aku tidak tau apa yang Yasmine ceritakan tentangku pada Dimas. Aku yakin ceritanya dilebih -lebihkan. Aku bahkan tidak mengganggunya. Tapi, apapun yang dia katakan, sudah pasti aku akan celaka. Dia tipe orang yang selalu berusaha memenuhi keinginannya, walau itu hal buruk sekalipun, walau merugikan orang lain, dia tidak akan peduli, selama itu demi mencapai apa yang dia mau.
“Yo! Lama gak ketemu kawan!” Dimas tersenyum padaku. tentu bukan senyum bahagia, tapi senyuman mengejek. “Kalian! Coba liat nih ada siapa?!” Kulirik belakang, mereka semua mendekat kearahku, jumlahnya tiga orang. “Kawan lama nih!”
“Oh! Dia yang pernah kamu ceritain itu.”
“Iya, enaknya kita apain ya?”
“Kasih paham ajalah! Biar tau rasa!”
Mereka semua tertawa. Aku tidak tau apa yang lucu. Lagipula sekarang bukan saatnya memikirkan itu. Bagaimana caraku bisa keluar dari situasi ini? Meski aku sudah menduga kalau ada kemungkinan dikeroyok, bukan berarti aku tau cara selamat. Jujur aku tidak memikirkan sejauh itu. Tidak mungkin aku bisa membuat rencana dalam waktu singkat. Tidak mungkin juga aku berlatih lalu tiba - tiba menjadi kuat dan menghajar mereka satu persatu. Diam adalah satu – satunya yang bisa dilakukan sekarang.
Pukulan melayang begitu saja kearahku. Badan Dimas yang begitu besar, ditambah latihan yang sering dia lakukan, sudah lebih dari cukup baginya untuk menjatuhkanku dalam sekali serang, membuatku tergeletak di kobangan air. Bukannya aku tidak bisa olahraga, aku cukup lihai. Walaupun tidak sehebat orang – orang yang mendedikasikan dirinya untuk tubuh bugar, aku masih tergolong cukup bagus daripada orang yang jarang beraktivitas. Tapi, disini yang dibahas adalah Dimas. Dia adalah orang yang bisa mengalahkan tiga orang preman sekolah yang ada disebelahnya sekarang seorang diri. Perbedaannya sangat jauh.
Mungkin kalau aku bertarung satu lawan satu dengan teman Dimas, masih ada kemungkinan untukku menang, meski kecil. Paling tidak masih ada harapan. Kalau dalam kondisi sekarang, satu lawan satu dengan Dimas saja sudah pasti kalah, apalagi ada teman – temannya. Tidak ada harapan bagiku untuk selamat.
Aku yang tergeletak ditanah, ditendang secara bersamaan. Dibalik pakaianku yang sudah basah, aku merasakan sakit yang luar biasa. Aku tidak bisa berpikir. Secara otomatis tangan dan kakiku melindungi bagian perut dan kepala. Persis seperti kaki seribu yang berusaha melindungi diri dengan cara menggulungkan seluruh tubuh. Bagi mereka, aku adalah karung sampah yang layak untuk diinjak.
Aku kembali diingatkan bahwa betapa tidak berdayanya diriku. Perasaan bangga setelah berhasil mencegah Clarissa dituduh hanyalah salah satu bentuk dari kesombonganku. Merasa lebih baik dari orang – orang karena berani menegakkan keadilan, merasa sudah melakukan hal besar, berpikir kalau aku berada diatas mereka, padahal aku hanya bongkahan debu yang tidak pernah terlihat. Seharusnya aku sadar diri. Aku menerima tawaran datang ke pesta juga bukan karena diajak langsung oleh ketua kelas. Aku masih bisa menolak jika memang tidak ingin datang. Alasanku menerima adalah karena hal bodoh. Beranggapan bahwa hal kecil yang sudah kulakukan harus dirayakan dengan cara yang berbeda. Sekarang aku mendapatkan karmanya.
“Makanya! Lain kali jangan macam – macam!” Samar – samar kudengar Yasmine mengatakan kalimat tersebut ditengah kebisingan suara kaki orang – orang padaku. Aku juga merasa kalau dia memotoku. Sekilas aku melihat kilatan cahaya dari ponselnya. “Bagus nih buat kenang - kenangan.”
Tendangan berhenti. Aku yang tidak bisa bergerak lagi, akhirnya memiliki waktu untuk megambil napas. Seluruh tubuhku dipenuhi luka, bahkan tangan kananku yang tertindih badan sepertinya mati rasa. Mengapa ini terjadi padaku? Padahal baru saja sebelumnya aku mendapatkan kepercayaan diri. Baru saja aku merasakan hidup yang sebenarnya. Kenapa? Aku yang berusaha menjadi lebih baik, apakah pantas mendapatkan hukuman ini? Apa memang lebih baik aku selalu diam? Tidak berbuat apa – apa dan semua akan menjadi lebih baik? Siapapun itu, tolong berikan aku jawaban.
Seseorang mengacak rambutku, menariknya dengan keras sehingga aku bisa melihat wajahnya. Itu adalah Dimas. “Gimana? Enak gak?” Dia mengatakannya tepat didepan wajahku. Dia tidak berekspresi, tapi entah kenapa aku merasakan amarah dari kalimatnya. “Ayo! Bilang sesuatu!” Setelah kusadari, banyak bekas luka yang ada mukanya. Pasti dia jadi lebih sering berkelahi daripada saat berada dikelas 10. “Hah! Kenapa kamu senyum? APA YANG LUCU?!” Apa yang Dimas katakan? Siapa yang tersenyum? Senyum adalah ekspresi yang ditunjukkan saat bahagia, aku yang dipukuli sekarang tidak mungkin meraskan hal itu. “Kalian! Cepat pegangin dia! Masih belum paham ternyata!”
Sebelum teman – teman Dimas menahanku sepenuhnya, aku melihat pantulan air yang berada tepat dibawahku. Aku melihat diriku yang sudah sangat berantakan. Selain itu, aku juga melihat diriku yang tersenyum. Ternyata, benar apa yang dikatakan Dimas.
Pukulan pertama dilayangkan ke ulu hatiku. Pukulan kedua dilayangkan ke mukaku. Pukulan ketiga, aku sudah tidak tau lagi diarahkan kemana. Aku serasa berada dibawah alam sadar. Setiap pukulan yang kuterima dari Dimas membuatku sadar akan sesuatu, hal lucu yang kutertawakan. Aku akhirnya mengerti. Padahal jawaban yang kucari berada didepanku, kenapa aku baru menyadarinya? Aku memang bodoh, tidak menyadari sesuatu yang sudah pasti.
Dosa pengkhianatan.
Aku yang meninggalkan Dimas saat kelas 10 dengan sengaja, tidak memiliki hak untuk bahagia. Memilih lari daripadi berusaha untuk memperbaiki keadaan. Dari dulu, aku selalu memikirkannya. Bagaimana kehidupanku jika memilih tetap bersamanya? Apa yang terjadi kalau aku menjawab dengan jawaban yang berbeda? Mengorbankan uang yang kumiliki agar tetap bisa terus berteman. Mungkin saja itu semacam tes yang dia berikan untuk memastikan kesetianku pada pertemanan. Bisa juga dia memang benar – benar butuh saat itu. Tidak ada yang tau. Tidak ada yang memberi tauku. Aku tidak berusaha untuk mencari tau. Aku memang sampah yang tidak layak untuk bahagia.
Selanjutnya bagaimana?
Aku bisa saja diam sepanjang malam sampai mereka semua puas menghajarku. Hal terburuk yang bisa terjadi padaku adalah mati. Aku hanya bisa menerima tanpa bisa berbuat apa – apa …. TIDAK! Aku tidak mau itu. Masih ada sesuatu yang harus kulakukan. Sesuatu yang seharusnya sudah lama dilakukan. Aku tau kalau aku sudah terlambat. Aku tau tidak akan ada yang berubah meski aku bertindak. Tapi, aku tetap harus bisa – Sepertinya pukulan terakhir yang bisa kuterima akan segera mengenaiku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Hanya satu hal yang ingin kulakukan sekarang. Kupaksakan diriku untuk tersenyum agar bisa tersampaikan pada Dimas, “Maaf.”