Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan Nyawa di Kegelapan
Cahaya lampu sorot yang sangat terang itu membuat mata Alana perih. Ia terpaksa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena pandangannya mendadak putih total.
Di sekeliling mereka, suasana area parkir bawah tanah yang tadinya sepi langsung berubah mencekam. Suara langkah kaki yang berat dari belasan orang bersenjata terdengar semakin mendekat, mengepung posisi mereka tanpa sisa celah.
Jefri dengan sigap langsung pasang badan di depan kursi roda elektrik Devano. Tangannya sudah meraba bagian dalam jas hitamnya, bersiap menarik senjata api miliknya kapan saja.
"Tuan Besar, berlindung di balik mobil sekarang!" teriak Jefri dengan nada suara yang tidak bisa menyembunyikan ketegangannya.
Namun, Devano sama sekali tidak bergerak maju ataupun mundur. Pria itu tetap duduk tegak dengan ekspresi wajah yang luar biasa tenang, seolah belasan moncong senapan laras panjang di depannya hanyalah mainan belaka.
Satu tangan kekar Devano bergerak cepat, mencengkeram lengan Alana dan menarik wanita itu ke dalam pangkuannya. Ia memeluk pinggang Alana dengan sangat erat, menyembunyikan kepala istrinya di dada bidangnya agar terhindar dari arah bidikan peluru.
Dari balik pendar lampu jip yang menyilaukan, seorang pria bertopeng hitam melangkah maju dengan angkuh. Tangannya memegang sebuah pistol premium dengan peredam suara yang mengarah tepat ke dada Devano.
"Jangan ada yang berani bergerak kalau tidak mau kepala bos kalian bolong!" teriak pria bertopeng itu dengan suara parau yang dibuat-buat.
Pandangannya kemudian beralih menatap Alana yang sedang gemetar ketakutan di dalam dekapan Devano.
"Tuan Devano, serahkan Alana Wijaya kepada kami sekarang juga kalau Anda masih ingin melihat matahari besok pagi," lanjut si pemimpin penyerang dengan nada penuh ancaman.
Mendengar namanya disebut, Alana merasa seluruh badannya mendadak lemas tak berdaya. Monolog batinnya didera rasa bersalah yang teramat besar hingga dadanya terasa sesak dan perih.
Lagi-lagi karena aku. Rendy Surya benar-benar gila, dia tidak akan berhenti sampai membuatku terlepas dari Tuan Devano, batin Alana dengan air mata yang mulai membasahi kemeja suaminya.
Alana mencoba memberontak kecil, berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Devano. Ia tidak mau pria yang telah menjadi pelindungnya ini terluka atau mati konyol hanya demi menyelamatkan dirinya.
"Tuan... lepaskan aku. Biarkan aku ikut mereka saja, asal Anda aman," cicit Alana dengan suara parau yang tenggelam di antara isak tangisnya.
Mendengar ucapan pasrah dari istrinya, rahang Devano langsung mengeras sempurna. Cengkeraman tangannya di pinggang Alana justru semakin mengencang, memberikan tekanan posesif yang begitu kuat seolah menegaskan kepemilikan mutlaknya.
"Diam dan jangan banyak tingkah, Alana. Kamu tidak akan pergi ke mana pun tanpa izin dariku," desis Devano dengan suara serak yang sangat rendah namun sarat akan kemarahan yang tertahan.
Devano kemudian mendongak, menatap langsung ke arah pemimpin pria bertopeng di depannya dengan pandangan mata yang begitu tajam dan dingin.
"Keluarga Surya rupanya sudah sangat miskin sampai harus menyewa pembunuh bayaran murahan seperti kalian," ucap Devano dengan nada meremehkan yang sangat kentara.
Pemimpin penyerang itu merasa tersinggung dengan ucapan santai Devano. Ia mengokang pistolnya dengan kasar, siap menarik pelatuk kapan saja.
"Sombong sekali kamu, Devano! Kamu pikir statusmu sebagai CEO Adhitama Group bisa menyelamatkanmu di tempat gelap ini?!" bentak pria bertopeng itu dengan penuh emosi.
"Rendy Surya sudah mengatur semua ini dengan matang. Rapat pleno di atas hancur, dan di bawah sini kamu akan kehilangan istrimu!" lanjutnya lagi sambil tertawa sinis.
Devano tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata. Tangan kanannya yang bebas perlahan menyentuh salah satu tombol rahasia yang berada di bawah sandaran tangan kursi roda elektriknya.
Klik.
Seketika itu juga, sistem pertahanan otomatis dari mobil sedan mewah antipeluru milik Devano langsung aktif. Bagian kolong mobil menembakkan beberapa tabung gas air mata berkekuatan tinggi ke segala arah dengan kecepatan luar biasa.
Boom! Boom!
Suara ledakan kecil dari tabung gas air mata menggema keras, memenuhi area parkir bawah tanah dengan asap putih yang sangat tebal dan pekat dalam hitungan detik.
Lampu sorot dari mobil jip musuh mendadak tidak berguna karena pandangan semua orang langsung terhalang oleh kabut asap yang menyesakkan dada dan membuat mata perih.
"Sialan! Mereka melepaskan gas air mata! Tembak mereka sekarang!" teriak pemimpin penyerang di tengah batuk-batuknya yang hebat.
Suara rentetan tembakan laras panjang langsung pecah dan menggema brutal di dalam ruangan luas tersebut, merusak dinding beton dan menghancurkan kaca-kaca mobil di sekitar lokasi.
Di tengah kekacauan dan suara desingan peluru yang mengerikan itu, Jefri bersama para pengawal setianya bergerak dengan sangat taktis dan cepat. Mereka menembak balik musuh dengan akurasi tinggi di balik kabut asap.
Alana menjerit histeris sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat saat suara tembakan saling bersahutan di dekat posisinya berada. Tubuhnya gemetar hebat, dan ia merasa ajalnya sudah sangat dekat malam ini.
Namun, di tengah badai peluru yang mematikan itu, tubuh kekar Devano tetap menjadi tameng hidup yang kokoh di atas tubuhnya. Pria itu membalikkan posisi kursi rodanya, membelakangi arah datangnya peluru untuk memastikan tidak ada satu pun serpihan kaca yang bisa melukai kulit Alana.
Devano meraba wajah Alana dengan telapak tangannya yang lebar dan hangat, lalu menyeka air mata yang mengalir di pipi istrinya dengan gestur protektif yang sangat cepat.
"Aku sudah katakan, tutup matamu dan jangan dengarkan apa pun selain suaraku," bisik Devano dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh gairah posesif yang pekat di depan bibir Alana.
Alana hanya bisa mengangguk pasrah dalam dekapan suaminya, meresapi rasa hangat dan aroma maskulin dari tubuh Devano yang entah mengapa perlahan-lahan mulai meredakan rasa panik di dalam hatinya.
Pertempuran jarak dekat di area parkir bawah tanah itu berlangsung sangat cepat dan brutal selama kurang dari tiga menit.
Berkat kesigapan tim keamanan Jefri, sebagian besar pria bertopeng sewaan Keluarga Surya berhasil dilumpuhkan dan tersungkur di atas lantai marmer yang kini dipenuhi selongsong peluru. Asap putih dari gas air mata pun perlahan-lahan mulai menipis ditiup angin dari blower sirkulasi gedung.
Jefri berjalan cepat mendekati Devano sambil memegang pistolnya yang masih terasa panas. "Tuan Besar, area perimeter utama sudah berhasil kami amankan kembali. Mobil jip musuh juga sudah diblokir oleh tim bantuan di pintu keluar luar."
Devano mengangguk pelan, memberikan isyarat agar Jefri segera membuka pintu mobil sedan antipeluru mereka untuk mengevakuasi Alana secepatnya dari tempat terkutuk ini.
Namun, tepat di saat Alana hendak diturunkan dari pangkuan Devano untuk masuk ke dalam kursi belakang mobil, sebuah pergerakan tak terduga terjadi di balik pilar beton nomor dua belas.
Salah satu penyerang bertopeng yang ternyata hanya berpura-pura mati sejak tadi, tiba-tiba bangkit berdiri dengan sisa tenaga terakhirnya.
Pria itu menarik sebuah pistol laras pendek dari balik pinggangnya, lalu membidikkan senjatanya langsung ke arah punggung Alana yang posisinya sedang membelakangi pilar beton tersebut. Jarak mereka terlalu dekat, kurang dari tiga meter, membuat Jefri dan pengawal lainnya tidak memiliki waktu untuk menembak balik.
"Mati kamu, jalang sialan!" teriak penyerang itu dengan mata yang merah akibat sisa gas air mata.
Mendengar teriakan itu, Alana refeks membalikkan tubuhnya ke belakang dengan mata yang terbelalak sempurna karena melihat moncong pistol yang sudah siap menembak dadanya.
Namun, di detik yang sama, terjadi sebuah keajaiban yang di luar nalar manusia sehat. Devano Adhitama—pria yang selama ini dikenal lumpuh total dan harus bergantung pada kursi roda elektrik—tiba-tiba bergerak dengan kecepatan kilat.
Pria itu melompat bangkit berdiri dari kursi rodanya dengan kedua kaki yang kokoh, lalu memutar tubuh besarnya untuk memasang badannya sendiri tepat di depan tubuh Alana sebagai perisai terakhir.
Dor!
Suara tembakan tunggal yang sangat keras menggema memekakkan telinga, disusul dengan teperciknya cairan darah segar berwarna merah pekat yang langsung membasahi permukaan gaun putih gading milik Alana.