Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.
Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.
Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.
Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.
Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Malam di pinggiran Los Angeles pecah menjadi neraka horizontal. Pertempuran urban antara Unit Wraith dan sisa-sisa kekuatan Kartel Sinaloa berlangsung brutal di balik kabut asap air mata dan mesiu.
Tiga tim taktis di bawah komando Kingdom Kyle Stone berhasil menyapu bersih sarang-sarang milisi selatan dalam waktu kurang dari tiga jam.
Namun, perang di gang-gang sempit yang dipenuhi jebakan ranjau dan kawat berduri tidak pernah berjalan tanpa bayaran.
Dalam serbuan terakhir di sebuah gudang kontainer pelabuhan, sebuah ledakan granat paku meruntuhkan dinding pembatas besi.
Kyle, yang saat itu sedang memasang badan untuk melindungi Rekannya, bergerak sepersekian detik terlalu lambat.
Serpihan pelat baja yang tajam melesat bagai pisau terbang, merobek celana taktisnya dan menyayat dalam daging paha kanan bagian luar hingga darah segar mengalir deras, membasahi bot militernya.
Meskipun Kyle masih bisa berdiri tegak dengan sisa kekuatan masifnya, Jaxx menolak mengambil risiko.
"Sialan, Alpha K! Luka sayatanmu terlalu dalam, arteri besarmu bisa terancam jika tidak segera dijahit oleh ahli bedah terbaik!" bentak Jaxx melompati tumpukan mayat musuh.
"Aku tidak apa-apa, Jaxx. Ini hanya goresan," geram Kyle, rahangnya mengeras menahan perih yang membakar kakinya.
"Persetan dengan goresan! Kita kembali ke pusat kota sekarang!" Jaxx langsung memberi isyarat kepada tim medis Wraith untuk menyuntikkan obat penahan rasa sakit darurat, sebelum memapah tubuh itu masuk ke dalam mobil van hitam antipeluru.
...----------------...
Di Rumah Sakit Pusat Los Angeles, suasana lantai utama masih sibuk akibat sisa korban kerusuhan pagi tadi. Dr. Emmeline Valerio baru saja hendak merebahkan tubuhnya yang lemas di sofa ruang staf setelah menyelesaikan operasi maraton, ketika pintu ruangannya digedor kasar.
Direktur Utama Rumah Sakit masuk dengan wajah pucat pasi, dikawal oleh dua agen dinas rahasia berbaju hitam.
"Dokter Valerio, maaf mengganggu istirahat Anda, tapi ini darurat tingkat tinggi," ujar Direktur dengan suara bergetar.
"Ada seorang pasien VIP yang baru saja tiba melalui jalur belakang pangkalan logistik. Dia mengalami luka robek parah di kaki akibat pecahan material ledakan. Walikota sendiri yang meminta agar pasien ini tidak dibawa ke UGD umum untuk menghindari perhatian media dan kejaran musuh."
Emmeline mengerutkan keningnya, keangkuhan aristokratnya terusik. "Jika dia kritis, seharusnya dia masuk ke ruang trauma UGD, bukan disembunyikan."
"Tidak bisa, Dr. Emme. Pria ini... dia bukan orang sembarangan. Kehadirannya di sini bisa memicu kepanikan jika identitasnya bocor ke publik. Sesuai usulan saya kepada Walikota, hanya Anda dokter bedah terbaik yang memiliki reputasi paling bersih dan bisa menjaga rahasia ini. Tolong, ikuti saya ke ruang VIP lantai paling atas," desak sang Direktur.
Emmeline menghela napas panjang. Jiwa medisnya tidak bisa menolak tugas, meskipun hatinya diliputi firasat buruk yang mendalam. Dia segera menyambar jubah dokternya dan melangkah cepat mengikuti Direktur menuju lift khusus yang dijaga ketat oleh aparat bersenjata lengkap.
Pintu gantung kayu ek ruang VIP lantai tujuh dibuka dengan desisan halus. Suasana di dalam ruangan luas itu terasa sangat mencekam.
Di sudut ruangan, Walikota Los Angeles berdiri gelisah sambil terus menelepon seseorang, sementara beberapa pria bertubuh tegap dengan seragam taktis hitam pekat tanpa logo berjaga di setiap sudut mati.
Di atas brankar besar di tengah ruangan, seorang pria raksasa sedang bersandar dengan posisi setengah duduk. Celana taktis hitamnya telah digunting hingga ke pangkal paha, menampilkan luka sayatan horizontal yang sangat panjang, menganga lebar, dan terus merembeskan darah merah pekat ke atas sprei steril.
Emmeline melangkah masuk dengan langkah anggunnya. Namun, begitu matanya menangkap postur masif pria di atas brankar dan aroma cedarwood familier yang mengubur bau obat-obatan, langkah kakinya seketika terkunci di atas lantai marmer.
Jantung Emmeline serasa berhenti berdetak. Matanya membelalak sempurna, bibirnya bergetar di balik masker medis yang ia kenakan.
Kingdom Kyle Stone.
Pria jahanam yang beberapa jam lalu berbicara manis tentang "anak-anak Daddy" melalui panggilan video, kini terbaring di depannya dengan tubuh mandi darah.
Kyle, yang menyadari kehadiran kekasihnya, sama sekali tidak menunjukkan wajah kesakitan.
Sepasang mata kelamnya justru menyala terang, dipenuhi binar kepuasan yang posesif. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat santai, seolah-olah dia tidak sedang terluka parah.
"Hai, Dokter," suara Kyle bergemuruh rendah, terdengar begitu santai di tengah ketegangan ruangan.
Emmeline tidak bisa menahan dirinya lagi. Mengabaikan keberadaan Direktur, Walikota, dan seluruh pasukan bersenjata di ruangan itu, Emmeline melangkah lebar mendekati brankar.
Seluruh protokol ketenangan seorang dokter bedah elite yang biasa ia agungkan menguap begitu saja, digantikan oleh gelombang kemarahan dan rasa syok yang luar biasa.
"Kau... kau benar-benar bajingan gila, Kyle Stone!" bentak Emmeline, suaranya melengking tinggi penuh emosi, membuat tiga perawat senior yang berdiri di belakangnya tersentak kaget.
Emmeline menyambar sarung tangan lateks dengan kasar, lalu memeriksa luka di paha Kyle.
Begitu melihat kedalaman robekan yang nyaris mengekspos tulang paha pria itu, napas Emmeline memburu. Air mata kemarahan hampir saja lolos dari sudut matanya.
"Kau bilang kau tidak akan terluka! Kau berjanji akan kembali dua bulan lagi dalam kondisi utuh! Lalu apa ini?! Jika sayatan ini bergeser dua milimeter saja ke dalam, arteri femoralismu akan putus dan kau bisa mati kehabisan darah di jalanan!"
Jaxx, yang berdiri di samping brankar, langsung melotot tak percaya. Mulutnya setengah terbuka melihat drama yang tersaji di depannya.
Sebagai tangan kanan Unit Wraith, dia tahu betul siapa Alpha K.
Kyle Stone adalah kapten berdarah dingin yang ditakuti oleh militer hitam diseluruh Distrik pusat. Pria yang biasanya akan mematahkan leher siapa saja yang berani meninggikan suara di depannya.
Namun, pemandangan di depan Jaxx saat ini benar-benar tidak masuk akal. Ketua Tim Alpha K yang terkenal kejam dan cuek itu hanya diam saja, memasang wajah pasrah, dan membiarkan dirinya dimarahi habis-habisan oleh seorang dokter wanita cantik berwajah aristokrat.
"Maafkan aku, Emme. Medannya sedikit kotor tadi," ucap Kyle lembut, suaranya terdengar sangat manis dan manja, sebuah nada yang belum pernah didengar oleh Jaxx seumur hidupnya bekerja bersama Kyle.
Sebelum Emmeline sempat menyemburkan makian berikutnya, tangan kekar Kyle yang dipenuhi jaringan parut tiba-tiba melesat keluar.
Mengabaikan rasa sakit di kakinya, Kyle mencengkeram pergelangan tangan Emmeline yang bersarung tangan steril, menariknya mendekat, lalu mendaratkan sebuah kecupan tipis yang hangat dan posesif di punggung tangan Emmeline.
"Aku merindukanmu," bisik Kyle tepat di depan wajah Emmeline, matanya mengunci pandangan sang dokter dengan kepemilikan yang absolut.
Wajah Emmeline seketika memerah sempurna karena malu dan kesal. Dia menyentak tangannya lepas dari genggaman Kyle. "Diam kau, Stone! Jangan bergerak sedikit pun atau aku akan menjahit kakimu tanpa obat bius!"
Di belakang mereka, tiga orang perawat senior yang bertugas mendampingi Emmeline saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sangat bingung dan penuh spekulasi.
"Hei... apa pria ini suami Dr. Emmeline?" bisik perawat pertama dengan suara sangat rendah.
"Bukan! Bukankah suami Dokter Emmeline adalah Tuan Edward Snowden, pengusaha borjuis?" sahut perawat kedua bingung.
"Lalu siapa pria mengerikan ini? Lihat bagaimana Walikota bahkan berdiri di sudut seperti tidak berani mengganggunya. Apa dia anggota pasukan khusus atau bodyguard pribadi Walikota?" timpal perawat ketiga dengan mata berbinar penasaran.
Walikota Los Angeles yang mendengar keributan itu akhirnya melangkah mendekat, mencoba mencairkan suasana. "Dr. Valerio... mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Pria ini adalah... aset terpenting kita malam ini. Tanpa dia dan timnya, pinggiran kota kita mungkin sudah hancur total oleh kartel."
Emmeline mengabaikan ucapan Walikota. Fokusnya kini murni tertuju pada luka robek di kaki Kyle. Dia mengabaikan segala protokol medis formal yang biasanya mengharuskan pasien VIP menandatangani dokumen persetujuan terlebih dahulu.
"Kalian semua, keluar dari ruangan ini sekarang juga," perintah Emmeline dingin dan tegas kepada Walikota dan Jaxx. "Hanya para perawat senior yang boleh tinggal. Aku harus melakukan debridemen dan penjahitan berlapis sekarang. Ruangan ini harus steril dari senjata kalian."
Jaxx menatap Kyle, meminta kode. Kyle hanya memberikan anggukan kecil, tanda bahwa perintah Emmeline adalah hukum mutlak yang harus dituruti di ruangan ini.
"Kami tunggu di luar, Alpha K," ujar Jaxx, memberikan hormat militer singkat sebelum menggiring Walikota dan Direktur keluar dari kamar VIP.
Begitu pintu tertutup, Emmeline mengambil jarum bedah dan benang otot dengan tangan yang kini kembali stabil berkat fokus medisnya. Dia membungkuk di atas paha Kyle, mulai membersihkan sisa mesiu dan darah dari luka sayatan itu.
"Ini akan sangat sakit, K," bisik Emmeline, nadanya melunak, menyiratkan rasa sayang dan kekhawatiran yang mendalam yang tidak bisa ia sembunyikan lagi dari pria yang telah menjerat hatinya itu.
Kyle hanya menatap wajah cantik Emmeline yang berada dekat dengan dadanya, mengabaikan sensasi perih saat jarum mulai menembus dagingnya. "Suntikan cintamu jauh lebih mematikan dari ini, Emme. Menjahitlah dengan rapi, karena aku harus segera bangkit lagi untuk bertemu suamimu."
Emmeline hanya mendengus, namun di dalam hatinya, sebuah kehangatan aneh merayap liar, menyadari bahwa di tengah badai darah yang melanda kota ini, sang kekasih telah kembali ke pelukannya jauh lebih cepat dari yang dijanjikan.