Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sementara Lingga nampak pasrah wajah tampannya mendapat salam panas dari ayahnya. Dia tidak melawan sedikitpun. Tahu betul kalau ayahnya sampai melakukan itu karna ada suatu hal yang menbuat beliau marah.
“Astagfirullah ….,” batin Pa Re meredam emosi ya sendiri. Bu Alice masih menangis sembari memegang tubuh suaminya agar tidak menghajar putranya lagi yang nampak diam dan pasrah.
“Maafin Lingga, Ma, Pa, Lingga tidak ada niatan untuk melakukan perbuatan jahat itu.”
“Bagaimana tidak ada niatan tidak merasa berdosa dan bersalah!” Sentak ayah Re masih berapi api. Tidak habis pikir dengan kelakuan putranya yang sangat tidak beretika.
“Lingga waktu itu dalam pengaruh obat, Pa, Lingga benar-benar tidak ada niatan untuk melampiaskan pada Sarah. Dia tiba-tiba datang di saat Lingga sedang kacau,” jelas Lingga melakukan pembelaan.
“Terus, semua salah Sarah begitu? Kamu sadar Lingga, terlepas kamu sadar atau tidak, kamu telah menghancurkan masa depan seorang gadis. Andai saja itu terjadi pada anak perempuan Papa, papa pasti akan membunuh lelaki brengsek itu!” Pa Re membuat perbandingan. Betapa pendek akal putranya berkata dan terus menyangkalnya.
“Semua kelakuanmu, itu karna pergaulan dan kebodohanmu. Seharusnya kamu bisa meredamnya dengan cara yang lain, bukan menjadi pria bejat yang tidak bertanggung jawab seperti ini. Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!” geram ayam Re bersungguh- sungguh.
“Maksud Papa?” tanya Lingga masih belum paham juga.
“Kamu harus bertanggung jawab. Nikahin Sarah, atau memilih mendekam di penjara!” ancam Ayah Re serius.
“Aku tidak mau menikahi Sarah,Pa, aku tidak mencintainya. Ini hanya sebuah kesalahan,” tolak Lingga begitu gamblang.
“Kalau begitu, pertanggungan jawabkan di penjara. Perbuatanmu itu tindakan asusila yang wajib di proses.”
“Papa tega melakukan itu. Mama mau menghancurkan masa depan Lingga!” Anak itu jelas tidak mau dua-duanya. Jika mungkin, masih tidak ingin menikah.
“Diam! Kamu harus menjadi anak yang bertanggung jawab. Cuma ada dua pilihan, atau papa tidak sudi menganggap kamu sebagai seorang anak. Memalukan!” hardik Ayah Re berapi-api. Begitu marah menghadapi putranya.
“Ma, tolong Lingga Ma, Lingga minta maaf, berani bersumpah Lingga tidak ada niat ngelakuin itu ke Sarah.” Lingga kembali bersimpuh menghadap ibunya.
“Maafkan mama, Nak, papa benar, minta maaflah pada Sarah dan Mbok Maryam, kukira dua wanita itu yang sangat sakit hati atas ulahmu. Mama tidak bisa menolongmu dalam kejahatan,” kata Bu Alice sangat kecewa.
Lingga terdiam terduduk lesu. Ikuti perkataan orang tuanya atau benar-benar terlempar dari keluarga. Lingga sekaan tidak mempunyai pilihan. Ayahnya jelas sangat marah, dan ibunya terlihat sangat begitu kecewa.
Setelah perdebatan yang sangat panjang berbuntut kekerasan. Ayah Re dan Mama Alice keluar dari kamar Lingga. Meninggalkan putranya yang nampak kacau. Duduk termenung seorang diri dengan perasaan kesal dan campur aduk. Pikiran semrawut , kalut luar biasa.
Bagaimana mungkin dia menikahi Sarah, sedangkan tidak ada cinta di dalamnya. Terus, bagaimana nasib percintaannya dengan kekasihnya. Haruskah dia menggadaikan perasaannya dan cintanya untuk sebuah kesalahan yang harus ia bayar. Lingga jelas kalut memikirkan itu semua. Susah sekali mengiyakan, apalgi menerima menjadi bagian dari hidupnya.
“Kenapa lo harus datang malam itu, mengacaukan semuanya. Brengsek!” umpat Lingga memutar memory malam kelam itu. Di mana dirinya melakukan tindakan asusila atas ketidak sengajaan. Parahnya berujung datangnya kehidupan baru di rahim perempuan itu. Yang jelas menjadi malapetaka untuk kehidupan masa depannya.
Lingga bangkit dengan hati memanas. Mengobati lukanya sendiri dengan perasaan lara. Lebih condong mengingat perlakuan ayah dan ibunya. Sakit melihat ibunya menangis.
“Sial, kenapa semua ini harus terjadi sama gue!” umpat Lingga sambil menahan perih di bibirnya yang jelas sedikit robek di sudut bibinya. Pak Re benar-benar menghajarnya tanpa ampun.