Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis yang Pernah Ia Kenal
POV Zayn Devandra
Zayn berdiri beberapa saat di ambang pintu ruang belajar, tanpa berniat langsung masuk. Tatapannya tertuju pada sosok Aluna yang duduk tegak di kursinya, berhadapan dengan guru pembimbing yang sejak tadi menjelaskan materi dengan penuh kesabaran.
Ruangan itu tenang. Terlalu tenang.
Namun ketenangan itu terasa berbeda hari ini.
Biasanya, Aluna hanya akan diam, menunduk, dan menjawab seperlunya. Seolah setiap kata yang keluar dari bibirnya harus melalui pertimbangan panjang. Seolah ia takut melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Tetapi sekarang…
Zayn sedikit menyipitkan matanya.
Ada sesuatu yang berubah.
“Nona Aluna, mohon ulangi kembali apa yang baru saja saya jelaskan,” ujar sang guru dengan nada sabar.
Aluna terdiam sejenak, lalu menghela napas ringan.
“Baik, Pak,” jawabnya.
Ia mulai mengulang penjelasan tersebut dengan cukup lancar, meskipun sesekali terdengar seperti sedang menahan sesuatu—entah itu tawa atau komentar yang ingin ia keluarkan.
Zayn bersandar ringan di kusen pintu.
Ia mengenali ekspresi itu.
Ekspresi seseorang yang sedang menahan diri untuk tidak bersikap… terlalu jujur.
Dan itu membuatnya penasaran.
Setelah penjelasan selesai, sang guru mengangguk puas.
“Cukup baik. Namun, Anda masih perlu lebih fokus agar tidak kehilangan poin-poin penting.”
Aluna mengangguk.
“Baik, Pak. Saya akan berusaha.”
Namun beberapa detik setelah itu, gadis itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap sang guru dengan ekspresi polos yang… mencurigakan.
“Pak,” panggilnya.
“Ya?”
Aluna tersenyum tipis.
“Bolehkah saya bertanya sesuatu di luar materi?”
Sang guru tampak ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk.
“Silakan.”
Zayn mengangkat alisnya sedikit.
Ia bisa menebak ke mana arah percakapan ini.
Aluna mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, lalu berkata dengan nada ringan,
“Kenapa guru pembimbing saya harus… Bapak?”
Sang guru terlihat sedikit terkejut.
“Maaf, memang kenapa?”
Aluna segera melambaikan tangannya kecil.
“Maksud saya, bukan berarti saya meragukan kemampuan Bapak. Hanya saja…”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih santai,
“Kenapa tidak yang lebih muda saja? Atau… yang lebih tampan, mungkin?”
Ruangan itu mendadak hening.
Zayn memejamkan matanya sejenak, menahan sesuatu—antara ingin menegur atau justru tertawa.
Benar saja.
Ini Aluna yang sebenarnya.
Sang guru terbatuk kecil, jelas tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.
“Nona Aluna, saya di sini untuk mengajar, bukan untuk… memenuhi kriteria tersebut.”
Aluna mengangguk cepat, wajahnya tampak serius—terlalu serius untuk seseorang yang baru saja melontarkan pertanyaan itu.
“Tentu, Pak. Saya hanya bertanya. Karena, jujur saja, belajar akan terasa lebih menyenangkan jika didukung pemandangan yang baik, bukan?”
Zayn akhirnya menggeleng pelan, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Aluna.”
Suaranya tegas, namun tidak meninggi.
Aluna langsung menoleh.
Ekspresinya berubah seketika, dari santai menjadi sedikit canggung.
“Zayn,” sapanya, berusaha kembali bersikap formal.
Zayn berdiri beberapa langkah darinya, menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
“Kamu seharusnya fokus pada pelajaranmu,” ujarnya datar. “Bukan membuat komentar yang tidak perlu.”
Aluna menunduk sedikit.
“Baik.aku hanya berkelakar.”
“Ini bukan tempat untuk berkelakar.”
Nada suara Zayn tetap tenang, tetapi cukup tegas untuk memberi batas.
Aluna terdiam.
Namun beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajahnya lagi.
“Akan tetapi,” katanya hati-hati, “aku hanya merasa bahwa Tuan Misra Devandra tidak bisa diajak kompromi dalam hal apa pun.”
Zayn menghela napas pelan.
“Itu memang sifat beliau,apalagi berkompromi denganmu” jawabnya singkat.
Aluna mengerucutkan bibirnya sedikit.
“Semua harus sempurna. Semua harus sesuai aturan. Bahkan untuk hal sekecil memilih guru pun tidak ada ruang untuk… preferensi.”
Zayn menatapnya lebih lama kali ini.
Ada sesuatu dalam nada suara Aluna.
Bukan sekadar keluhan.
Melainkan… kehidupan.
Sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat pada gadis itu.
Ia menggeleng pelan, kali ini dengan lebih ringan.
“Kamu tetap harus menghormati keputusan beliau,” katanya. “Dan menjalankan tanggung jawabmu dengan baik, belajar dengan baik ,jangan terlalu banyak berkomentar.”
Aluna mengangguk, meskipun terlihat tidak sepenuhnya puas.
“Baik.”
Sang guru yang sejak tadi diam akhirnya berdeham pelan.
“Mungkin kita bisa melanjutkan pelajaran?”
Zayn mengangguk singkat.
“Silakan.”
Namun ia tidak langsung pergi.
Ia tetap berdiri di sana, memperhatikan Aluna yang kembali mencoba fokus pada buku di hadapannya.
Beberapa menit berlalu.
Dan di tengah keseriusan itu, tanpa sadar, Aluna menghela napas kecil, lalu bergumam sangat pelan—hampir tidak terdengar.
“Padahal kalau lebih tampan, saya pasti lebih semangat belajar…”
Zayn menahan napasnya.
Lalu perlahan… ia menggeleng lagi.
Namun kali ini—
Ada sesuatu yang berbeda.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Senyuman kecil yang bahkan ia sendiri tidak sadari sejak kapan terakhir kali muncul.
Karena di hadapannya sekarang…
Bukan lagi gadis yang selalu diam dan menunduk.
Bukan gadis yang terlihat kehilangan dirinya sendiri.
Melainkan…
Aluna.
Gadis yang dulu pernah ia lihat.
Sepuluh tahun yang lalu.
Ingatan itu datang begitu saja.
Sebuah desa kecil, dengan jalan tanah dan udara yang jauh lebih jujur dibandingkan kota ini.
Zayn masih muda saat itu. Ia datang bersama Pak Barun untuk liburan ke kampung halamannya
Dan di sanalah ia pertama kali melihatnya.
Seorang gadis kecil yang berlari tanpa alas kaki, tertawa tanpa beban, dan berbicara tanpa takut.
Gadis yang bahkan berani menatapnya lurus-lurus dan bertanya,
“Apakah Tuan dari kota selalu seserius itu,kaku dan membosankan?”
Saat itu, Zayn hanya terdiam.mungkin Aluna lupa pernah bertemu Zayn sekarang
Tidak ada yang pernah berbicara padanya seperti itu.
Namun anehnya…
Ia tidak merasa tersinggung.
Sebaliknya, ia justru merasa… tertarik.
Gadis itu berbeda.
Dan sekarang—
Zayn kembali ke kenyataan.
Tatapannya kembali tertuju pada Aluna yang sedang menulis sesuatu dengan serius, meskipun sesekali masih terlihat mengerutkan kening atau menghela napas kecil.
Ia masih sama.
Di balik semua tekanan, aturan, dan batasan yang membungkusnya—
Gadis itu masih ada.
Dan perlahan…
Ia mulai kembali.
Zayn memalingkan wajahnya, seolah tidak ingin terlalu lama memperhatikan.
“Lanjutkan pelajaranmu dengan baik,” ujarnya singkat.
“Baiklah,mungkin kamu sebaiknya pergi saja ,aku tidak fokus jika di perhatikan seperti itu” jawab Aluna.
Zayn pun berbalik dan berjalan keluar dari ruangan.
Namun langkahnya sedikit lebih ringan dari biasanya.
Dan senyuman tipis itu…
Masih tersisa di wajahnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
Ia tidak melihat Aluna sebagai beban.
Melainkan…
Sebagai seseorang yang mulai hidup kembali.