Di saat Alice selalu merasakan kekecewaan dari keluarga dan hubungan asmaranya, Carlos datang dalam hidup Alice untuk mengantikan rasa kecewanya menjadi kebahagiaan.. Namun di saat Alice sudah percaya dan memberanikan dirinya untuk berharap bisa bahagia di tengah kecewanya terhadap keluarganya, Carlos menghilang.. Carlos pergi tanpa meninggalkan jejak, seketika membuat Alice mempercayai jika di dunia ini tidak ada yang bisa membuatnya bahagia
Bab 22
Mungkin sebagian orang akan bertanya - tanya kenapa kedua anak Carlos bisa langsung memanggil Alice Mami. Padahal baru pertama kali berjumpa, ketika Carlos bertanya kepada anaknya kenapa mereka mau memanggil Alice Mami jawaban mereka adalah karena di dekat Alice ada perasaan yang aman seperti di lindungi.
Mereka merasa di sayang karena waktu mereka main, walaupun pandangan mata Alice ke tabnya mengerjakan sesuatu tapi bisa sambil mengelusi rambut Liam dan Lillian bergantian ia mengelus rambut mereka.
Membuat Liam dan Lillian merasa tidak di abaikan, karena menurut cerita teman - temannya.. mereka sering di abaikan oleh mamanya saat mama mereka sedang bekerja. Mama mereka tidak pernah ada di sebelah mereka ketika mereka main. Dan Alice sangat sabar menghadapi drama makan Lillian yang sedikit berantakan.
Hari ini mereka mendengar Alice membela mereka, dan menyebutkan mereka anaknya dan itu membuat Liam dan Lillian merasa sangat bahagia. Mereka tidak akan melupakan mama mereka, tapi walaupun mereka baru sekali bertemu dengan Alice. Cara Alice memperlakukan mereka dengan baik dan tulus membuat mereka ingin memanggil Alice dengan sebutan Mami.
Alice dan anak kembarnya sampai di Restoran, ia langsung meminta tolong ke Icha untuk memesankan spaghetti bolognese tidak pakai keju dan jamur minumnya jus jeruk hangat untuk di antarkan ke kantornya.
Ketika sampai di ruangannya, pintu ruangan Ella di ketuk dan masuklah Maria sambil menenteng paper bag berukuran sedang.
“Lice, ada titipan untuk Liam dan Lillian.” Ucap Maria sambil menyerahkan paper bagnya.
“Oke.. terima kasih.” Ucap Alice sambil melihat ke dalam tas paper bagnya.
Alice melihat ada baju ganti untuk Liam dan Lillian. Lalu ia memanggil Liam dan Lillian untuk masuk ke ruangan pribadinya yang ada di ruang kerjannya.
“Mar.. tolong ke supermarket depan beli sabun dan shampoo untuk anak - anak tolong pilihkan wanginya yang tidak terlalu mencolok ya.. kalau bisa yang ini aja.” Ucap Alice meminta tolong ke Maria sambil menampilkan foto dari ponselnya.
“Oke..” ucap Maria dengan cepat ia langsung keluar dari ruangan Alice dan pergi untuk membeli pesanan Alice.
Alice tersenyum melihat Liam dan Lillian mewarnai buku yang di siapkan oleh Alice, untungnya semalam mereka memang sengaja meninggalkannya di ruangan Alice. Seakan tahu akan selalu datang ke ruangan ini, makanya mereka meninggalkan tas yang di siapkan Alice di ruangannya Alice.
Alice menemani mereka mewarnai, sambil sesekali mengelus kepala Liam dan Lillian..
“Happy?” Tanya Alice
“Happy.. karena ada mami yang menemani kami.” Ucap Liam
Lillian menganggukkan kepalanya dengan cepat membenarkan apa yang di katakan Liam..
“Maaf ya aunty padahal kita baru saja bertemu tapi kami sudah manggil mami.” Ucap Liam sambil menundukkan kepalanya.
“Tidak tahu kenapa, di dekat mami Lillian merasa di sayang, aman dan kami merasa tidak di abaikan.. walaupun Lilli tahu mami pasti banyak pekerjaan, walaupun mami melakukan pekerjaan sambil menemani kami bermain, tapi mami tidak pernah mengabaikan keberadaan kami.” Ucap Lillian.
Alice merasa pemikiran mereka itu dari keadaan yang mendewasakan mereka.
“Terima kasih ya, kalian sudah membuat mami jadi mami kalian.” Ucap Alice sambil memeluk Liam dan Lillian, ia merasa terharu dengan ucapan Liam dan Lillian.
Tidak lama Maria datang dan memberi pesanan yang di minta Alice, “yuk Liam dan Lillian, kita bersih - bersih dulu habis itu baru makan siang.” Ucap Alice sembari tersenyum menatap Liam dan Lillian.
Liam dan Lillian langsung membereskan buku dan pensil warna lalu memasukan ke dalam tas kembali. Setelah selesai mereka mengenggam tangan Alice dan mereka berjalan ke ruang pribadi untuk membersihkan diri..
Setelah selesai mandi, mereka langsung makan siangnya.. mereka makan dengan lahap, setelah makan mereka melanjutkan kegiatan mewarnai.. Alice yang duduk di samping Liam, tiba - tiba terkejut dengan gerakan Liam yang tidur dengan menjadikan paha Alice sebagai bantalnya. Lalu di susul oleh Lillian juga melakukan hal yang sama.
“Ngantuk ya? Pindah ke ruangan pribadi mami saja yuk, biar kalian nyaman bobo siangnya.” Ajak Alice, Liam dan Lillian langsung berdiri dan berjalan pelan ke ruang pribadinya Alice.
Untungnya tadi ia sudah menghidupkan ACnya, mereka langsung naik ke ranjang dan Alice menyelimuti tubuh mereka berdua.
“Mami selalu di depan, jadi tidur yang nyenyak ya.” Ucap Alice sambil tersenyum tipis melihat Liam dan Lillian..
“Iya mi.. kami tidur dulu ya, Liam sangat mengantuk.” Ucap Liam sambil menguap.
Sedangkan Lillian sudah tertidur ketika ia terbaring di ranjang. Alice tersenyum melihat mereka sangat nyaman di dekatnya sampai - sampai bisa tertidur seperti ini. Alice dengan pelan keluar dari ruangan pribadinya, pintunya tidak di tutup rapat. Agar ia bisa mendengar kalau salah satu dari anak kembar itu terbangun.
Mumpung Liam dan Lillian sedang tidur siang, Alice memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan sisa pekerjaannya.. ketika ia sedang membaca berkas ponselnya berdering, ia tidak melihat lagi siapa yang menelepon dan langsung saja ia mengangkat telepon itu..
“Halo..” sapa Alice pada penelepon itu, matanya masih fokus dengan berkas yang ada di depannya
“Halo.. selamat siang nona Alice, ini saya Carlos.” Ucap Carlos sang penelepon.
Alice sedikit terkejut dan canggung tapi ia dengan cepat ia menguasai dirinya agar tidak terlalu gugup. Tetap sambil membaca berkas yang fokusnya sudah tidak ke berkas tersebut.
“Oh.. iya pak.. ada apa?” Tanya Alice setelah terdiam sebentar
‘Hehehe.. dia terdiam sebentar.’ Ucap Carlos dalam hati sambil tersenyum kecil..
“Saya minta maaf, kemungkinan saya akan lebih malam menjemput Liam dan Lillian. Jika lewat jam 5 saya tidak menjemput, mama saya yang akan menjemput mereka.” Jawab Carlos..
“Oh baik.. nanti akan saya minta tolong bagian depan menunggu mama anda.” Ucap Alice
“Baik terima kasih.” Ucap Carlos yang tanpa menunggu tanggapan dari Alice langsung mematikan teleponnya.
Alice hanya tersenyum melihat tingkah sang penelepon, lalu ia melanjutkan memeriksa berkas yang ada di depannya. Tidak terasa hari sudah sore, Liam duluan yang mulai terbangun.. ia melihat ke sekeliling ruangan itu dan ia langsung ingat mereka lagi dengan Alice. Liam tersenyum lalu dengan langkah pelan ia turun dari ranjang.
Lalu berjalan pelan keluar dari kamar itu.. ia melihat Alice sedang Fokus ke layar komputer, ia bisa mendengar ketikan keyboard yang menandakan pekerjaan sang mami belum selesai..
“Mami.” Panggil Liam dengan pelan
Alice berhenti dan melihat ke arah Liam yang sedang memandang ke arahnya. Ia tersenyum dan langsung berhenti lalu menghampiri Liam..
“Gimana bobonya, nyenyak nggak? Adik sudah bangun?” Tanya Alice sambil mengelus kepala Liam dengan sangat lembut.
Liam terdiam sejenak dan memandang Alice dengan mata berkaca - kaca. Alice sedikit terkejut melihat Liam yang sudah berkaca - kaca matanya.
“Ada apa hm? Abang mimpi buruk ya?” Tanya Alice lagi
Liam hanya menggelengkan kepalanya dan langsung memeluk Alice sambil terisak. Alice hanya membiarkan Liam menangis sambil mengelus punggungnya dengan lembut.
“Mami tahu kamu pasti berpikir kamu harus jadi abang yang kuat untuk melindungi adik.. tapi sekali - kali boleh loh abang bersikap manja dan merasa capek. Tapi setelah itu harus kembali jadi abang yang kuat agar bisa melindungi adiknya.” Ucap Alice sambil mengelus punggung Liam
Liam hanya menganggukan kepalanya dengan pundaknya bergetat pelan.. Alice merenggangkan pelukannya dan membingkai wajah Liam dengan kedua tangannya.
“Abang bisa cerita ke mami, jika abang merasa capek.. abang juga bisa manja, jadilah diri abang sendiri.” Ucap Alice sendiri.
“Abang happy ada mami, maaf ya mami abang enggak bisa jaga adik.. iya mami abang akan cerita kok, tapi abang takut tidak bisa jaga adik dan buat mami kecewa.” Ucap Liam sambil menatap Alice
“Abang hebat loh.. abang sudah menjaga adik.. abang pasti bisa menjaga adik, tapi sebelum menjaga adik. Abang juga harus menjaga diri abang sendiri dengan baik. Mami tidak akan kecewa karena mami pecaya abang adalah abang yang terbaik.” Ucap Alice sambil mengelus kepala Liam.
Interaksi itu pun membuat Gisell enggan untuk masuk ke ruangan Alice, ia juga mendengar semuanya apa yang di bicarakan oleh Alice dan Liam. Gisell merasa senang jika ada yang menyayangi kedua cucunya. Semalam ketika ia pulang kedua cucunya dengan semangat menceritakan tentang Alice.
“Yuk sini abang minum dulu.” Ajak Alice sambil mengenggam tangan Liam menuju sofa untuk mengambil gelas air putih. Lalu tiba - tiba di pangkuan Alice terasa berat. Ia langsung melihat ke arah pangkuannya yang sudah ada Lillian yang tiduran di pahannya.
Alice tersenyum lebar melihat tingkah Lillian.. sepertinya hari ni Liam dan Lillian menjadi sangat manja. Dan ia sangat bahagia melihat anak - anaknya manja dengannya.