NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: SISA AMARAH DAN DARAH YANG MENDIDIH

Malam itu, Jakarta tidak sedang baik-baik saja. Hujan yang turun bukan lagi rintik-rintik romantis, melainkan hantaman air yang kasar ke kaca mobil Rolls-Royce milik keluarga Wijaya. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, hampir mencekik.

Arka menyandarkan kepalanya di jok kulit yang dingin. Matanya terpejam, tapi di balik kelopaknya, dia masih melihat kilatan-kilatan saraf merah milik Surya Sanjaya yang baru saja dia putus paksa. Rasanya seperti ada silet yang sedang mengiris pelipisnya dari dalam.

Gila, batin Arka. Harganya semahal ini?

"Arka, minum dulu." Clarissa menyodorkan sebotol air mineral. Tangannya masih sedikit gemetar. Gadis yang biasanya selalu tampil sempurna sebagai putri konglomerat itu kini menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa takut, tapi ada kekaguman yang jauh lebih besar di sana.

Arka membuka mata. Pupil emasnya sudah memudar, menyisakan mata hitam pekat yang terlihat sangat lelah. Dia menerima botol itu, tapi saat jarinya bersentuhan dengan jari Clarissa, sebuah sengatan listrik statis terasa begitu nyata.

"Maaf," gumam Arka pendek. Suaranya serak, seolah dia baru saja menelan kerikil.

Hendra Wijaya, yang duduk di kursi depan samping sopir, akhirnya memutar tubuhnya. Wajah pria tua yang sudah kenyang makan asam garam dunia bisnis itu tampak sangat serius.

"Arka, dengar saya baik-baik," suara Hendra rendah, berat. "Apa yang kamu lakukan tadi di aula... itu bukan cuma soal bela diri atau trik sulap. Kamu menghancurkan masa depan pewaris tunggal Sanjaya Group di depan publik. Besok pagi, bukan cuma berita bisnis yang gempar, tapi dunia 'bawah tanah' juga bakal mulai mengendus namamu."

Arka meneguk airnya sampai habis, lalu meremas botol plastik itu sampai hancur di genggamannya. "Mereka yang mulai, Pak Hendra. Dia menghina orang tua saya. Di kamus saya, nggak ada kata ampun buat mulut sampah kayak gitu."

"Saya tahu. Dan saya tidak menyalahkanmu," potong Hendra cepat. "Tapi kamu harus paham satu hal. Sanjaya punya koneksi ke klan-klan bela diri kuno di utara. Tuan Han yang tadi bersamamu? Dia cuma pelayan kelas tiga. Yang akan datang setelah ini adalah monster yang sebenarnya."

Arka terdiam. Dia menatap ke luar jendela, ke arah lampu-lampu kota yang membias di aspal basah. Dia memikirkan tentang sistem "Mata Sakti" yang tiba-tiba bangkit di tubuhnya. Dia tahu dia punya potensi, tapi bab delapan tadi memberi dia pelajaran berharga: mesin yang hebat bakal meledak kalau dipaksa jalan tanpa pelumas yang cukup. Tubuhnya saat ini masih terlalu "manusia" untuk menampung kekuatan "dewa".

"Turunkan saya di depan gang itu, Pak," ucap Arka tiba-tiba saat mobil melewati sebuah kawasan pemukiman padat di pinggiran Jakarta Barat.

"Lho, kenapa nggak ke apartemen yang sudah saya siapkan?" tanya Clarissa panik.

"Belum saatnya," Arka tersenyum tipis, jenis senyum yang bikin Clarissa sadar kalau pemuda di sampingnya ini bukan lagi Arka yang bisa diatur-atur. "Saya butuh tempat yang nggak terdeteksi radar Sanjaya buat malam ini. Saya butuh... meditasi."

Arka turun di tengah guyuran hujan. Dia tidak memakai payung, membiarkan air dingin menusuk kulitnya, berharap rasa dingin itu bisa memadamkan api yang masih membara di kepalanya. Dia berjalan masuk ke sebuah gang sempit, menuju sebuah kontrakan kecil yang sudah lama dia tinggalkan semenjak dia mulai "beruntung" di meja lelang.

Begitu pintu kayu yang sudah agak lapuk itu terkunci, Arka langsung ambruk ke lantai semen yang dingin.

"Ugh... Akh!"

Darah segar merembes keluar dari hidungnya. Bukan cuma itu, dari sudut matanya, tetesan cairan merah kental ikut mengalir. Pemandangan itu mengerikan. Jika ada orang melihatnya, mereka akan mengira Arka sedang sekarat.

‘Peringatan: Energi mental mencapai batas kritis. Sinkronisasi Mata Dewa dengan jaringan saraf motorik tidak stabil. Harap lakukan pembersihan sumsum tulang belakang.’

Sebuah suara mekanis—datar tapi bergema di dalam kepalanya—muncul. Arka mengerang, dia segera duduk bersila.

"Pembersihan... sumsum?" Arka mendesis menahan sakit.

Dia mulai memfokuskan pikirannya. Dengan mata tertutup, dia justru bisa melihat ke dalam tubuhnya sendiri. Benar saja, di sepanjang tulang belakangnya, ada gumpalan energi hitam pekat yang menyumbat. Itu adalah sisa-sisa emosi negatif dan energi kotor dari serangan tadi.

Arka mulai menarik napas dengan pola tertentu yang entah dari mana dia tahu caranya. Setiap tarikan napas terasa seperti menarik benang berduri melalui sarafnya. Keringat dingin bercampur darah mulai membasahi kaos murahannya.

Satu jam... dua jam...

Tepat pada jam tiga pagi, sebuah ledakan energi kecil terjadi di dalam tubuh Arka. Suara ‘Krak’ terdengar jelas dari persendiannya. Rasa sakit yang tadi menyiksa mendadak lenyap, digantikan oleh sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

Arka membuka matanya. Kali ini, penglihatannya jauh lebih tajam. Dia bisa melihat debu yang menari di udara dalam kegelapan total. Dia bahkan bisa mendengar detak jantung tikus di balik dinding kontrakannya.

Dia berdiri, merasa tubuhnya jauh lebih ringan. Dia berjalan ke arah cermin retak di pojok ruangan. Di sana, pantulan wajahnya tampak berbeda. Garis rahangnya lebih tegas, dan matanya... matanya punya kedalaman yang seolah bisa menghisap jiwa siapa pun yang menatapnya terlalu lama.

"Sanjaya Group, ya?" Arka bergumam sendiri. Dia mengepalkan tangan, dan udara di sekitarnya seolah bergetar hebat. "Silakan kirim siapa pun. Aku sudah nggak sabar pengen tahu sesakti apa monster yang dibilang Pak Hendra itu."

Di tempat lain, di sebuah penthouse mewah di pusat kota, suasana jauh dari kata tenang.

Surya Sanjaya terbaring di tempat tidur medis dengan mata terbebat perban putih. Dia terus meracau, memaki, dan mencoba melempar barang apa pun yang bisa dia raba.

"BUNUH DIA! GUE MAU DIA MATI! CABUT MATANYA DAN BAWA KE GUE!" teriak Surya histeris.

Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi—Abraham Sanjaya, ayah Surya—menatap putranya dengan tatapan dingin. Tidak ada kesedihan di matanya, yang ada hanyalah amarah yang terpendam karena reputasi keluarganya baru saja diinjak-injak.

"Tuan Han," panggil Abraham tanpa menoleh.

"Saya di sini, Tuan Besar," Tuan Han maju, kepalanya tertunduk dalam. Luka memar di dadanya akibat dorongan Arka tadi masih membekas.

"Kamu bilang dia tidak menyentuh Surya sama sekali?"

"Benar, Tuan. Hanya gerakan jari... dan tiba-tiba Tuan Muda kehilangan penglihatannya. Itu bukan teknik bela diri biasa. Itu... Teknik Penghancur Saraf tingkat tinggi. Atau mungkin ilmu hitam."

Abraham mendengus. Dia mengambil sebuah ponsel satelit dan mendial sebuah nomor yang hanya ada di buku telepon rahasianya.

"Halo? Ki Jalu?"

Suara di seberang sana terdengar parau, seperti suara gesekan kayu kering.

Ada apa, Sanjaya? Tumben menghubungi di jam segini."

"Ada seekor tikus kecil yang punya mainan baru. Dia merusak putraku. Aku mau kamu kirim salah satu muridmu—tidak, kirim si 'Gagak Hitam'. Aku mau tikus ini dibawa hidup-hidup ke hadapanku. Aku ingin tahu, dari mana dia mendapatkan mata itu."

Di seberang sana, tawa kecil yang mengerikan terdengar.

Gagak Hitam? Kamu tahu harganya mahal, Sanjaya. Tapi baiklah... karena aku juga penasaran dengan orang yang bisa membuatmu panik."

Abraham menutup teleponnya. Dia menatap ke arah jendela, ke arah kegelapan malam Jakarta. "Arka... siapa pun kamu, kamu sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu. Kamu mungkin punya mata sakti, tapi kamu tidak tahu betapa luasnya jurang neraka yang baru saja kamu gali."

Kembali ke kontrakan Arka.

Arka baru saja hendak memejamkan mata untuk istirahat sejenak saat telinganya menangkap suara langkah kaki yang sangat halus di atas atap sengnya. Langkah itu tidak seperti langkah manusia biasa—sangat ringan, hampir seperti tanpa bobot.

Arka tersenyum dingin. Dia tidak beranjak dari tempat duduknya.

"Datang secepat ini?" bisiknya.

Dia mengambil sebutir kelereng bekas yang tergeletak di lantai. Tanpa menoleh ke atas, Arka menyentil kelereng itu dengan kekuatan penuh ke arah plafon tripleknya.

BUM!

Plafon itu berlubang, dan terdengar suara geraman tertahan dari atas sana. Arka berdiri, matanya mulai berpendar emas lagi, menembus kegelapan dan material bangunan.

"Turun secara terhormat, atau aku yang tarik kamu ke neraka sekarang juga?"

Malam baru saja dimulai, dan aroma darah mulai kembali memenuhi udara.

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
arc 1 tamat lanjut ke Arc 2
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!