NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Gerbang Neraka dan Sumpah Darah Sang Betina

​Hujan badai tidak lagi sekadar turun membasahi bumi; air tumpah dari langit Lembah Marapi layaknya tirai raksasa yang mencoba mencuci dosa-dosa masa lalu. Petir menyambar liar, membelah angkasa dengan kilatan cahaya putih yang menyilaukan, diikuti oleh gelegar guntur yang menggetarkan tulang dada.

​Di tengah amukan alam tersebut, tiga siluet melesat membelah kegelapan halaman SMA Nusantara.

​Raka Bagaskara berada di posisi terdepan. Pemuda bertubuh tegap itu tidak mencoba menangkis hujan; ia membiarkan butiran air menghantam kulitnya yang mulai memancarkan suhu ratusan derajat. Setiap tetes hujan yang menyentuh bahu dan lengan Raka seketika mendesis, berubah menjadi kepulan uap panas yang tebal, menyamarkan pergerakannya.

​Di sayap kiri dan kanannya, Tio dan Adi berlari dengan postur yang merendah, nyaris merangkak. Mata kedua serigala kembar itu menyala dengan pendar merah kecokelatan yang mematikan. Taring-taring panjang telah membelah rahang mereka, dan kuku-kuku mereka telah berubah menjadi cakar yang menggores aspal basah.

​Target mereka hanya satu: pagar seng raksasa yang menutupi area ekskavasi sayap barat.

​"Tio! Adi! Mundur tiga langkah saat aku memukulnya!" raung Raka mengalahkan suara badai.

​Pemuda Cindaku itu tidak melambatkan larinya sedikit pun. Jaraknya dengan pagar seng kini tersisa kurang dari lima meter. Raka memejamkan mata sejenak, memusatkan seluruh Nafsu Rimba dan hawa panas dari dalam dadanya ke lengan kanannya. Urat-urat kehitaman menonjol, dan cakar obsidiannya memanjang dari balik kepalan tangannya.

​Tio dan Adi mengerem mendadak, menancapkan cakar mereka ke aspal untuk menahan laju tubuh, membiarkan Raka melesat sendirian.

​Raka menolakkan kakinya ke aspal, melompat melayang di udara, lalu menghantamkan tinjunya yang diselimuti uap mendidih tepat ke tengah-tengah pagar seng raksasa tersebut.

​KABOOOOM!

​Suara ledakan logam yang mengerikan merobek malam.

​Tinju Raka tidak sekadar mendobrak; hantaman termal itu melelehkan engsel dan pilar besi penyangga di baliknya. Pagar seng setinggi tiga meter itu terpelanting ke dalam, robek berkeping-keping layaknya kertas yang dihantam peluru meriam. Gelombang kejut (shockwave) dari hantaman Raka menyapu air hujan di sekitarnya dalam radius sepuluh meter, menciptakan area kering sesaat sebelum badai kembali mengambil alih.

​Pintu neraka telah terbuka.

​Namun, pemandangan di balik pagar yang rubuh itu membuat Raka, Tio, dan Adi membeku sejenak.

​Di bawah sisa-sisa tenda terpal yang koyak oleh badai, di sekitar bibir lubang katakombe purba, seratus lima puluh Marsose Darah berdiri menanti mereka.

​Tentara-tentara mayat hidup itu tidak berbaris secara acak seperti zombie murahan. Mereka membentuk formasi tempur infanteri era kolonial yang sangat rapi. Barisan depan berjongkok dengan senapan laras panjang berujung bayonet tajam, sementara barisan belakang berdiri dengan postur kaku, mata merah darah mereka menatap kosong ke depan. Seragam hijau lumut mereka yang lapuk menempel pada kulit pualam pucat yang kebal terhadap rasa sakit.

​"Demi leluhur..." gumam Adi, menelan ludah yang terasa sepahit empedu. "Mereka... mereka tidak kaget. Mereka sudah menunggu kita mendobrak gerbang."

​Dari atas tumpukan tanah galian di belakang formasi Marsose, Noni Anneliese berdiri di bawah payung rendanya, gaun merah darahnya berkibar tertiup angin badai. Wanita vampir itu tertawa melengking, sebuah suara yang menembus rintik hujan dan menusuk langsung ke gendang telinga.

​"Tembak," titah Anneliese dengan lambaian jemarinya yang lentik.

​KLIK! DOR! DOR! DOR!

​Barisan depan Marsose secara serempak menarik pelatuk. Puluhan pasak perak melesat menembus hujan dengan kecepatan mematikan, mengincar Raka, Tio, dan Adi.

​"Menyebar!" teriak Tio panik.

​Si kembar serigala melenting ke kiri dan ke kanan dengan kelincahan absolut, bergulingan di atas lumpur basah. Pasak-pasak perak itu menghantam aspal di belakang mereka, menciptakan lubang-lubang berasap.

​Raka, yang tidak secepat kawanan Ajag, menyilangkan kedua lengan di depan wajahnya, menebalkan otot-ototnya, dan mengeraskan lapisan kulitnya dengan Nafsu Rimba. Dua pasak perak menancap di lengan dan bahunya. Pemuda Cindaku itu mengerang tertahan. Bau daging hangus seketika tercium saat racun perak bereaksi dengan darahnya, namun Raka menolak untuk rubuh.

​"Tembak lagi," suara Anneliese kembali menggema.

​Para Marsose dengan cepat dan mekanis mengisi ulang senapan mereka.

​Namun, sebelum pelatuk kedua ditarik, kematian datang menjemput mereka dari arah atas.

​"Terlalu fokus pada pintu depan, Lintah Pucat!"

​Sebuah seruan tajam terdengar dari arah langit. Maya Bagaskara dan Gendis melompat terjun dari atap perpustakaan lantai dua.

​Maya melayang menembus hujan, mendarat tepat di tengah-tengah formasi barisan belakang Marsose. Pendar emas di matanya menyala terang. Dengan kedua kerambit peraknya yang dilapisi racun pinus, gadis Cindaku itu berputar layaknya gasing maut. Bilah melengkungnya menebas leher, memotong urat nadi, dan merobek persendian para mayat hidup dengan presisi bedah yang mengerikan. Setiap Marsose yang terkena sabetan kerambitnya langsung lumpuh, tubuh mereka membusuk menjadi abu sebelum sempat membalas serangan.

​Di saat yang sama, Gendis tidak mendarat dalam wujud manusianya. Di pertengahan udara, gadis itu melakukan Full-Shift. Tulang-tulangnya berderak memanjang, dan ia mendarat sebagai seekor serigala betina raksasa berbulu cokelat gelap yang luar biasa buas.

​Gendis menerkam barisan depan Marsose, menggigit senapan laras panjang mereka hingga patah berkeping-keping, lalu merobek dada mereka dengan cakar besarnya. Lolongan Gendis memecah formasi infanteri itu menjadi kekacauan total.

​Melihat celah formasi musuh telah hancur, Bumi Arka yang sedari tadi menunggu di balik pepohonan memberikan aba-aba.

​"Sekarang!" raung Sang Alpha.

​Bumi, Indra, dan Dara melesat masuk melalui gerbang seng yang telah didobrak Raka.

​Bumi tidak menahan diri. Sang Alpha Serigala menerjang dalam mode Half-Shift, menabrak tiga Marsose sekaligus layaknya buldoser berdaging. Ia mencengkeram tengkorak seorang Marsose dengan satu tangan, lalu meremukkannya hingga terdengar bunyi KRAK yang menjijikkan, sebelum menendang tubuh tanpa kepala itu ke arah rekan-rekannya. Kekuatan fisik Bumi di medan perang adalah sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding—ia tidak memiliki keanggunan, ia hanya memiliki insting pemusnahan murni.

​Di sebelah kanannya, Indra Bagaskara adalah perwujudan dari tiran neraka yang turun ke bumi.

​Sang Harimau Putih tidak menggunakan senjata. Kedua belah tangannya diselimuti oleh uap mendidih dan cakar obsidian yang memanjang hingga dua belas sentimeter. Setiap kali Indra mengayunkan tangannya, rintik hujan di sekitarnya menguap berdesis. Ia membelah mayat-mayat hidup itu layaknya membelah mentega panas. Bayonet yang diarahkan padanya meleleh sebelum sempat menembus kulitnya. Mata hazel-emasnya berkilat bengis, tanpa ampun, tanpa penyesalan.

​Dan di tengah-tengah dua badai pemusnah itu, berdirilah Dara Kirana.

​Dara tidak berlari membabi buta. Ia melangkah dengan ritme yang sangat teratur, matanya memancarkan ketenangan absolut yang sangat kontras dengan pembantaian di sekelilingnya.

​Napas Akar-nya tidak lagi ia gunakan untuk bersembunyi. Kini, ia menggunakan energi bumi itu sebagai senjata Area of Effect (AoE). Dara menancapkan kesadarannya ke genangan lumpur dan air hujan di bawah kakinya.

​Setiap kali para Marsose mencoba mendekatinya dari arah titik buta Bumi atau Indra, Dara hanya perlu menghentakkan tumitnya. Gelombang kejut berwarna biru benderang merambat melalui air hujan di tanah, menghantam telapak kaki para mayat hidup itu.

​Energi kehidupan murni itu bereaksi seperti asam keras bagi kaum vampir. Para Marsose yang kakinya terkena gelombang biru Dara seketika lumpuh, kaki mereka melepuh dan hancur, membuat mereka jatuh berlutut hingga dengan mudah dieksekusi oleh cakar Indra atau Bumi.

​Kehadiran Dara di tengah medan perang itu ibarat sebuah suar suci. Ia tidak membunuh secara langsung, namun radius lima meter di sekelilingnya adalah zona kematian mutlak bagi pasukan kegelapan Willem. Hawa dingin dari energi murninya sekaligus menetralisir racun perak yang beterbangan di udara, memastikan Indra, Bumi, dan kawanannya tidak kelelahan.

​"Pawang itu..." Anneliese memicingkan matanya dari atas gundukan tanah, rahangnya terkatup rapat menahan amarah. Senyum sadisnya telah lenyap. "Dia menahan formasi kita. Selama gadis itu memancarkan energi pemurniannya, racun Marsose tidak akan bisa melumpuhkan anjing dan kucing itu."

​Wanita bergaun merah itu melipat payung rendanya. Matanya yang merah darah berkilat penuh kebencian dan kelicikan.

​"Pisahkan dia dari pelindungnya," desis Anneliese, memberikan perintah khusus melalui telepati darah kepada unit elit di barisan belakang.

​Seketika itu juga, pola pertempuran berubah.

​Puluhan Marsose yang tadinya menyerang Bumi dan Indra secara individual, kini mengabaikan pertahanan mereka sendiri. Mereka melemparkan tubuh mereka secara harfiah ke arah kedua predator tersebut, membentuk dinding daging mati yang bertumpuk-tumpuk (meat-shield).

​"Menyingkir, bangsat!" raung Indra, meninju dada seorang Marsose hingga tembus ke belakang, namun sebelum ia sempat menarik tangannya, dua Marsose lain menubruk tubuhnya dari samping, mengunci pergerakannya.

​Bumi mengalami hal serupa. Tiga Marsose menancapkan bayonet mereka ke paha dan bahu sang Alpha secara bersamaan. Bumi meraung kesakitan, mencabik mereka dengan kalap, namun gelombang mayat hidup itu terus berdatangan seolah tidak ada habisnya, mendorong Bumi menjauh dari posisi Dara.

​Di atas atap, Maya dan Gendis yang sedang sibuk menyapu sisa-sisa sniper juga tertahan oleh barisan baru yang merayap naik melalui dinding beton.

​"Dara! Mundur!" teriak Raka dari kejauhan, masih sibuk mencabut pasak perak dari bahunya sambil menahan laju musuh bersama si kembar.

​Dara berdiri sendirian di tengah halaman berlumpur. Formasi perlindungannya telah hancur. Ia terisolasi.

​Dari arah kabut hujan di depannya, lima sosok Marsose Darah melangkah maju. Mereka tidak seperti prajurit biasa. Tubuh mereka jauh lebih tinggi, mengenakan zirah pelindung dada dari baja hitam, dan memegang tombak perak tebal bermata ganda. Mereka adalah Garda Praetoria milik Willem.

​Dara mengambil langkah mundur. Jantungnya berpacu liar. Ia memompa Napas Akar ke telapak tangannya, menembakkan seberkas cahaya biru yang menyilaukan ke arah dada salah satu Garda tersebut.

​Dzzzt! Cahaya biru itu menghantam zirah baja hitam sang Marsose, namun tidak menembusnya. Baja itu telah dilapisi oleh sihir penangkal. Sang Garda hanya terhuyung selangkah ke belakang, lalu kembali berjalan maju, menyeringai memamerkan taringnya.

​"Sial," umpat Dara, napasnya mulai terengah-engah. Menggunakan energi sebesar itu mulai membuat paru-parunya sesak.

​Kelimanya mengepung Dara dalam formasi bintang. Tombak perak mereka diturunkan, moncongnya diarahkan tepat ke jantung sang Ratu Penengah. Mereka tidak berniat menangkapnya hidup-hidup lagi; Anneliese telah memutuskan bahwa membunuh sang Pawang adalah satu-satunya cara memenangkan malam ini.

​"Indra! Bumi!" Dara menjerit, memecahkan batu obsidian di pergelangannya seperti yang diinstruksikan.

​Asap panas mengepul tebal dari pecahan batu itu, menciptakan tabir asap sementara. Namun, tombak perak di tangan kelima Garda itu terlalu panjang. Dalam hitungan detik, mereka menusukkan kelima tombak itu menembus tabir asap secara serempak.

​Dara memejamkan matanya, mengangkat lengannya yang diselimuti pendar biru lemah sebagai usaha pertahanan terakhir yang sia-sia.

​Namun, rasa sakit yang merobek daging itu tidak pernah ia rasakan.

​Sebaliknya, sebuah suara daging yang terkoyak paksa, diikuti oleh cipratan darah hangat yang mengenai wajah Dara, menghentikan waktu di sekelilingnya.

​Dara membuka matanya perlahan.

​Di hadapannya, berdiri menghalangi kelima ujung tombak perak itu... adalah sesosok serigala betina raksasa.

​Gendis.

​Gadis serigala itu telah melompat turun dari atap perpustakaan dengan kecepatan yang tidak masuk akal, mengabaikan hukum fisika dan rasa sakit, semata-mata untuk memosisikan tubuhnya sebagai perisai daging bagi Dara.

​Tiga dari lima tombak perak itu menancap dalam di tubuh serigala Gendis. Satu menembus paha kirinya, satu merobek tulang rusuknya, dan satu lagi menancap tepat di perutnya. Racun perak langsung menyebar seketika, membuat bulu-bulu cokelat sang serigala berubah menjadi kehitaman.

​Gendis memuntahkan darah segar dari moncongnya. Ia melolong tertahan, sebuah suara rintihan yang menyayat hati, sebelum akhirnya tubuh raksasanya ambruk menimpa aspal basah di depan kaki Dara.

​"GENDIS!"

​Teriakan Dara mengalahkan suara gemuruh guntur. Air mata pecah dari pelupuk matanya. Gadis fana itu jatuh berlutut di kubangan lumpur, menarik kepala serigala betina itu ke dalam pangkuannya tanpa memedulikan darah yang merendam jaket denimnya.

​Bumi yang melihat kejadian itu dari kejauhan membelalakkan matanya dengan horor absolut. "TIDAAAKKK!"

​Lolongan amarah dan duka meledak dari tenggorokan Sang Alpha Serigala. Lolongan itu memicu resonansi Jiwa Kawanan yang sangat mengerikan. Tio dan Adi yang berada di ujung lapangan ikut melolong bersahutan.

​Kekuatan Bumi berlipat ganda dalam sekejap mata. Dengan satu ayunan cakar yang dipenuhi amarah buta, ia membelah tiga Marsose yang menindihnya menjadi potongan daging mati. Ia melesat menerobos barisan musuh bagaikan meteor, disusul oleh Indra yang juga baru saja membakar belasan musuh di sekitarnya dengan Nafsu Rimba yang kini lepas kendali.

​Indra tiba lebih dulu. Sang Harimau Putih menerjang kelima Garda Praetoria itu dengan kebuasan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia tidak lagi menggunakan teknik; ia menangkap kepala dua Garda sekaligus, dan dengan satu hentakan kasar, ia menghancurkan tengkorak mereka beradu satu sama lain.

​Bumi menyusul di detik berikutnya, merobek dada Garda ketiga, menarik jantung hitamnya keluar, dan menendang Garda keempat hingga tulang belakangnya patah.

​Dalam sekejap mata, kelima algojo elit itu musnah di tangan dua Raja Hutan yang sedang mengamuk.

​Dara tidak memedulikan pertarungan di sekitarnya. Tangannya yang gemetar hebat menutupi luka terbuka di perut Gendis.

​Gendis, yang kondisinya semakin kritis, perlahan-lahan kehilangan wujud Full-Shift-nya. Tubuhnya menyusut, kembali menjadi wujud manusia. Gadis berkulit sawo matang itu terbatuk hebat, memuntahkan darah hitam dari sela-sela bibirnya. Wajahnya yang biasa angkuh dan sinis kini terlihat sangat damai.

​"Gendis... bertahanlah, kumohon. Aku akan menyembuhkanmu. Napas Akar... aku akan—" Dara menangis tersedu-sedu, memompa sisa energi birunya dengan kepanikan luar biasa.

​Namun, Gendis mengangkat tangannya yang berlumuran darah, menahan pergelangan tangan Dara yang berpendar biru.

​"Jangan..." bisik Gendis, suaranya sangat lemah, tersendat oleh cairan di paru-parunya. Serigala betina itu memaksakan sebuah senyum tipis yang tulus untuk pertama kalinya dalam hidupnya. "Jangan buang... umurmu untukku, Ratu. Kau... kau harus membunuh Willem... dengan energi itu."

​"Tidak! Kau berjanji akan menjadi saudariku, Gendis! Kau berjanji untuk berjalan di sampingku!" jerit Dara, air matanya menetes jatuh ke pipi Gendis.

​"Aku... aku menepati sumpahku, Dara," Gendis berbisik, matanya perlahan kehilangan fokus, menatap langit malam yang kelam. "Taringku... menjagamu... dari bayang-bayang."

​Bumi menjatuhkan dirinya ke lutut di sebelah tubuh Gendis. Alpha muda itu meraih tangan Gendis, matanya merah karena menahan tangis yang akan menghancurkan wibawanya.

​"Maafkan aku... Alpha," bisik Gendis untuk terakhir kalinya, menatap Bumi dengan sisa cintanya yang murni, tanpa tuntutan, tanpa pamrih. "Lindungi... kawanan kita..."

​Tangan Gendis terkulai lemah dari genggaman Bumi. Napasnya terhenti. Mata eksotis yang selalu menatap tajam itu kini kosong, tertutup perlahan oleh usapan lembut tangan Dara yang gemetar.

​Hujan terus turun dengan derasnya, namun tak mampu mencuci darah yang menggenang di bawah tubuh gadis serigala itu.

​Sebuah keheningan yang menyesakkan dada turun menyelimuti radius tersebut. Indra berdiri mematung di belakang Dara, rahangnya terkatup sangat rapat, tangannya yang dipenuhi darah hitam terkepal hingga meneteskan cairan ke tanah.

​Dara menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di dada Gendis yang tak lagi berdetak. Kematian ini... ini adalah harga dari peperangan yang selama ini hanya ia baca di dalam jurnal ibunya. Kini, harga itu dibayar lunas dengan nyawa seorang teman, seorang sekutu, seorang saudari.

​Dari balik tenda terpal yang rubuh, tawa melengking Anneliese kembali terdengar, mengejek duka mereka.

​Dara Kirana mengangkat wajahnya. Rambutnya basah kuyup menempel di pipinya. Air matanya telah bercampur dengan air hujan dan darah.

​Namun, di dalam mata cokelat gadis fana itu, tidak ada lagi ketakutan. Tidak ada lagi keraguan. Yang ada hanyalah sebuah kawah kebencian yang mendidih. Segel kelopak bunga di telapak tangannya meledak dengan pendar cahaya biru yang jauh lebih terang, lebih tajam, dan lebih mematikan dari apa pun yang pernah ia pancarkan sebelumnya.

​Sang Ratu Penengah telah bangkit sepenuhnya, dan malam ini, ia akan memastikan tidak ada satu pun lintah kolonial yang selamat melihat matahari terbit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!