Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kultivasi Hancur
Kapal terbang terus melaju cepat menembus langit senja. Cahaya jingga di ufuk barat perlahan meredup, berganti dengan kegelapan malam. Bintang bintang mulai bermunculan satu per satu. Ketika senja hampir berakhir, kapal itu akhirnya sampai di Kota Baishi.
Sima Yanzhen mengarahkan kapal langsung menuju kediaman Klan Liu. Tapi saat kapal mulai turun dan pemandangan di bawah terlihat jelas, sesuatu yang salah langsung terasa.
Lin Han berdiri di tepi kapal, matanya menatap ke bawah. Lalu matanya melebar. Lin Feng yang berdiri di sampingnya juga mengalami hal yang sama. Liu Bei di haluan kapal membeku. Semua orang di atas kapal itu tersentak dengan keterkejutan yang sama.
Halaman Klan Liu yang biasanya bersih dan teratur, sekarang dipenuhi oleh tubuh tubuh yang tergeletak. Para pelayan, beberapa tetua yang tinggal, dan di tengah tengahnya, dua sosok yang sangat mereka kenal. Ji Lianyue dan Hong Jie. Keduanya terbaring tidak bergerak di atas lantai batu.
Lin Han melompat dari kapal sebelum kapal itu benar benar mendarat. Tubuhnya terjun bebas dan mendarat dengan keras di halaman.
"Ibu!"
Ia berlari menuju Ji Lianyue. Setelah sampai dia berutut di samping tubuh ibunya. Tangannya gemetar menyentuh wajah ibunya yang pucat, darah mengalir dari pelipis dan sudut bibir wanita itu.
Lin Feng mendarat tepat di sampingnya. Liu Bei juga turun dengan cepat, berlari menuju Hong Jie. Yang lainnya menyusul, menyebar membantu para tetua dan pelayan yang terluka.
Lin Feng tidak membuang waktu. Ia membentuk segel tangan dan menyalurkan Qi-nya ke tubuh istrinya, memeriksa kondisi di dalam. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah pucat. Matanya melebar dengan ekspresi yang tidak pernah dilihat Lin Han sebelumnya dari ayahnya.
"Kultivasinya hancur. Meridiannya rusak parah. Delapan jalur utama... semuanya putus."
Lin Han sangat terkejut mendengar kata kata itu. Kemudian ia memeluk tubuh ibunya, mendekapnya erat.
"Ayah, cepat rawat Ibu! Lakukan sesuatu!"
Lin Feng mengangguk dengan wajah tegang, ia mengangkat tubuh istrinya dengan hati hati lalu berjalan cepat menuju kamar tamu terdekat, Lin Han mengikuti di belakangnya tanpa mengatakan apa apa lagi, sementara itu Liu Bei dan para tetua lainnya juga mulai mengangkat korban lain, Hong Jie yang terluka parah, Liu Jia yang lengannya patah dan tubuhnya penuh luka, pAra tetua yang tinggal juga dalam kondisi tidak jauh berbeda.
Tidak ada yang bertanya siapa penyerangnya, tidak ada yang berdiskusi tentang apa yang terjadi, semua orang hanya fokus pada satu hal, menyelamatkan nyawa yang masih bisa diselamatkan, para praktisi yang baru pulang dari Gunung Jati, meskipun tubuh mereka sendiri kelelahan dan banyak yang terluka, berusaha ikut membantu sebisanya.
Waktu berlalu, malam semakin kelam. Lin Han tetap di samping ibunya, memegang tangannya yang dingin.
Beberapa tetua masuk ke ruangan tempat Ji Lianyue dirawat. Salah satu tetua berbicara dengan suara pelan.
"Kami sudah mengumpulkan informasi dari saksi mata yang selamat. Penyerangnya dua orang, pergerakannya sangat cepat, dan aura mereka tidak terdeteksi sama sekali. Kemungkinan besar mereka menggunakan artefak penyamaran aura tingkat Core Formation."
Lin Han mendengar setiap kata itu, dia ingat dalam pikirannya. Matanya tetap tertuju pada wajah ibunya yang pucat.
Tetua itu melanjutkan. "Mereka masuk dengan mudah, sepert sudah tahu kapan waktu yang tepat untuk menyerang."
Liu Bei yang berdiri di sudut ruangan mengepalkan tangannya hingga kuku kuku jarinya memutih, rahangnya mengeras. Tapi ia tidak mengatakan apa apa.
Tetua itu menyelesaikan laporannya lalu keluar ruangan.
Lin Han masih duduk di samping ibunya yang sudah diobati seadanya. Perban melilit kepala dan dada wanita itu, napasnya lemah dan tidak teratur.
Lin Feng duduk di sisi lain ranjang. Wajahnya kosong, tapi air mata mengalir pelan di pipinya. Ia menatap istrinya, lalu menatap putranya.
"Delapan meridian rusak, kultivasi hancur total. Untuk selamat... bisa saja. Tapi... umurnya mungkin tidak akan lama. Bisa hidup lima tahun lagi sudah sebuah keajaiban."
Lin Feng menghela napas yang terdengar seperti tangisan tertahan.
"Di tempat terpencil seperti Kota Bilou dan Baishi, tidak ada yang bisa menangani hal seperti ini. Praktisi tertinggi hanya di tingkat Foundation Establishment. Pengetahuan kami terbatas, sumber daya hampir tidak ada."
Ia menatap putranya dengan mata merah. "Ayah tidak tahu apa yang harus dilakukan."
Lin Han terkejut, karena mendengar kata kata yang keluar dari mulut ayahnya, pria yang selama ini selalu menjadi tiang kokoh dalam hidupnya. Pria yang selalu punya jawaban untuk setiap masalah.
Sekarang pria itu mengatakan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Lin Han yang hampir tidak pernah menangis, kini menangis. Air mata mengalir deras di pipinya, ia mengangkat tangan ibunya dan menciumnya. Tidak ada suara isakan, hanya getaran tubuh dan air mata yang terus jatuh membasahi tangan wanita yang telah melahirkannya.
Lin Feng juga sama, hanya air mata dan tubuh yang gemetar. Luka menganga di dadanya sendiri masih belum sembuh total, tapi ia tidak peduli. Kondisi istrinya jauh lebih buruk daripada lukanya, dan jauh lebih menyakitkan.
Tiba tiba suara keras terdengar dari luar ruangan.
"Kurang ajar! Berani sekali seseorang menyerang sekutu Sekte Yanguo, di saat aku sedang menjalankan misi di sini! Ini sangat keterlaluan!"
Suara itu milik Sima Yanzhen.
Lin Han dan Lin Feng saling bertatapan, lalu mereka berdua bangkit dan keluar kamar.
Di halaman, mereka melihat Liu Bei, Sima Yanzhen, dan para tetua klan berkumpul. Wajah semua orang muram. Obor obor dinyalakan, memberikan penerangan terbatas di malam yang gelap.
Liu Bei berbicara dengan suara yang dalam dan berat.
"Istriku kultivasinya hancur, dantiannya rusak, bahkan dia juga terkena racun. Racun yang tidak mungkin untuk orang terpencil sembuhkan. Keponakanku Liu Jia, tubuhnya terluka sangat parah sekali. Lalu anakku Liu Mei..."
Suaranya tercekat. "Dia tidak ada di antara korban. Dia pasti diculik."
Lin Han mendengar kata 'Liu Mei diculik'. Tubuhnya terasa seperti dihantam petir. Ia mematung di tempatnya, tatapannya kosong.
Sima Yanzhen mengibas kasar tangannya sendiri. Wajahnya merah padam, entah karena marah sungguhan atau pura pura.
"Kurang ajar sekali pelakunya! Siapa yang berani melakukan hal sekeji ini! Aku... Sima Yanzhen, murid utama Sekte Yanguo, pasti akan mencari pelakunya sampai ke lubang semut sekalipun!"
Liu Bei menundukkan kepalanya, menangkupkan kedua tangannya dengan hormat.
"Tuan Muda Sima, terima kasih banyak. Anda tidak perlu melakukan sesuatu yang lebih jauh, ini urusan keluarga kami."
Sima Yanzhen mengibaskan lengannya dengan gerakan dramatis.
"Tidak! Ini juga urusanku!"
Lalu dia mengepalkan tangannya keras.
"Pelakunya berani melakukan hal buruk pada keluarga mu, sementara Sekte Yanguo menjalin kerja sama dengan kedua kota. Aku akan membuat orang itu mendapatkan bayaran setimpal atas penghinaan ini!"
Liu Bei dan para tetua yang hadir terharu mendengar kata kata itu. Beberapa bahkan menitikkan air mata.
Sima Yanzhen berbalik, siap pergi.
"Aku akan kembali ke sekte untuk melaporkan ini pada guruku. Jika aku mendapatkan informasi tentang pelakunya... aku akan memberikan kabar pada Klan Liu dan Klan Lin."
Ia mendekati kapal terbangnya yang masih melayang rendah. Sebelum naik, ia berbalik dan menangkupkan kedua tangannya.
"Patriark Liu... Patriark Lin.... dan Lin Han. Saya pamit untuk kembali ke sekte. Tentang bayaran atas kerja kerasku, Penguasa Kota Baishi dan Bilou yang akan membayarnya."
Lin Feng dan Liu Bei mengangguk. "Terima kasih, Tuan Muda."
Sima Yanzhen mengangguk lalu naik.
Kapal terbangnya melesat cepat ke atas, menghilang di balik kegelapan malam.
...---...
...Tingkat Kultivasi...
tp gw seneng sm murid sekte, mereka rebutan tp ttp rasional, mereka gak ada niat membunuh( sejauh ini) ..