NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Mantan

Benih Rahasia Sang Mantan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:59.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.

Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.

5 tahun berlalu~

Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Razam tahu, itu pasti petugas jaringan untuk memeriksa koneksi internetnya. Setelah menjelaskan pada Ria, Razam bergegas keluar untuk membukakan.

"Permisi, saya dari kantor wifi," jelas pria dibalik masker hitam serta topinya.

Razam mengangguk. "Oh ya, silahkan masuk, Mas! Pusatnya ada di sisi pintu kamar saya. Nanti masuk saja nggak papa. Karena mulai hari ini semua pekerjaan saya kerjakan di rumah. Jadi, jaringannya harus lebih cepat."

Petugas jaringan itu mengangguk. Sambil membawa alat dalam kotak, pria itu segera masuk ke dalam.

Ria menyipitkan mata, "Siapa, sayang?"

"Oh, dia hanya petugas jaringan saja. Kamu tahu sendiri 'kan, Tan... Aku mulai sekarang kerja dari rumah. Asal Tante tahu, Ezar sudah menghubungi perusahaan untuk mencari keberadaanku." Razam sedikit kesal.

Ria membelai wajah kekasihnya. Gairahnya sudah tak dapat tertahan lagi. Ia menarik lengan Razam untuk di ajaknya menyingkir di teras balkon. Kedua hasrat yang saling mencari kepuasan masing-masing itu, kini menciptakan suasana lebih tegang. Bahkan, tanpa rasa malu lagi, wanita tua itu duduk di pangkuan berondongnya, dan tengah sama-sama menciptakan suasana hangat tersendiri.

Siluet keduanya dari balik dinding kaca itu mampu membuat petugas jaringan tadi sampai geleng-geleng. "Ya Allah... Sudah tua bukanya tobat, itu malah mainan kuda lumping ama berondong. Dunia ini memang sudah tua."

Begitu selesai, petugas tadi segera berjalan menghampiri kedua orang di balkon yang tengah dimabuk asmara.

Tok!

Tok!

Melihat itu, Ria cepat-cepat turun dari pangkuan Razam sambil membenarkan penampilanya.

"Maaf, permisi Pak... Saya pamit dulu. Nanti semisal ada masalah lagi, langsung hubungi pihak kantor."

Razam yang sudah telanjang dada segera bangkit. "Oh, ya, Mas... Terimakasih."

Petugas jaringan itu segera keluar sambil bergidik ngeri. "Sangat menjijikan. Di bayar berapa juta sampai rela jadi gigolonya nenek-nenek. Hiii...."

Pintu Apartement Razam sudah tertutup kembali. Petugas tadi berjalan lurus di sebuah lorong, dan kini tampak menemui seseorang yang tengah menunggunya sejak tadi.

"Permisi, Pak Dewa...."

Dewa membalikan badan. "Bagaimana? Lancar?"

Petugas tadi mengangguk. "Ini, ponselnya, Pak Dewa. Camera tersembunyi sudah saya pasang di segala titik rumah itu. Dan Anda dapat melihat sendiri tingkah menjijikan kedua pasangan itu."

Dewa tersenyum miring sambil memasukan gawai tadi pada saku jaketnya. "Bonus kamu sudah saya kirimkan. Senang dapat bekerja sama dengan kamu."

"Baik, sama-sama, Pak Dewa. Mari...."

Kedua pria itu langsung berpencar dengan sendiri-sendiri.

"Rekaman ini akan menghancurkan hidup kamu, wanita murahan! Tunggu saja kekalahanmu, Ria! Kamu dulu begitu tega membunuh mentalku secara keji. Dan sekarang gantian kamu yang harus merasakan bagaimana terpuruk di antara obat-obatan!" puas berambisi, Dewa segera melajukan kembali mobilnya meninggalkan losmen parkir.

*

*

Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam,

Di luar, hujan lebat masih enggan reda. Hawa dingin itu mampu menusuk melalui celah pori-pori kulit.

Miranda tak dapat memejamkan matanya. Entah mengapa perasaanya mendadak cemas. Kakinya seolah ingin keluar, mengajaknya untuk melihat; sedang apa Ezar di dalam.

Lagi-lagi Miranda kalah dengan pertahanannya. Wanita cantik itu turun dari ranjang. Ia menyibak kordennya lagi, dan ternyata Ezar sudah terlelap diatas kursi agak panjang, dan hanya berselimutkan hawa dingin.

Mungkin saking lelahnya seharian kerja, meeting sana sini di tambah perseteruannya dengan sang Ibu yang menambah beban pikiranya, sambil bersedap tangan itu, dengkuran halus menyamai napasnya.

Ezar meringkuk, bangku itu tak mampu mencakup tubuh besarnya. Miranda hanya dapat bergeleng lemah sambil berlalu ke dalam lagi.

"Dia kaya nggak punya rumah dan keluarga. Bisa-bisanya ketiduran di teras rumah orang. Menyebalkan sekali...." gerutunya.

Meskipun begitu, kedua tangan Miranda meraih sebuah selimut yang tak terlalu tebal, dan juga bantal sofa untuk ia bawa keluar.

Ceklek!

Saking nyenyaknya, pria tampan itu sampai tak menyadari jika saat ini Miranda tengah berdiri di depanya. Lalu, pandangan Miranda mengedar keadaan luar, hujan masih bertahta sangat deras. Tapi setidaknya gemuruh petir itu sudah reda.

"Ini kapan ya redanya, hujan... Biar nih orang cepetan pulang! Kasian banget kursi aku dia menampung badan yang kaya titan," gerutunya. Di tengah rasa kesal itu, Miranda meletakan selimut serta bantal tadi pada tubuh sang mantan.

Beberapa menit itu, Ezar terjaga. Ada sesuatu yang menimpa tubuhnya. Sebuah selimut dan bantal? Ezar mendongak ke arah pintu sekilas. Senyum pria itu merekah tipis, lalu segera mungkin memakai selimut dan menaruh bantal pada kepalanya. "Aku tahu, kamu pasti tidak tega melihat aku, Miranda."

Kembali terpejam, Ezar mengeratkan selimutnya penuh rasa nyaman.

Watu bergulir sangat cepat, tak di sangka, suara Adzan Shubuh sudah menggema di kawasan komplek Miranda.

Allaahu Akbar... Allaahu Akbar...."

Ezar terjaga. Pria itu mengerjabkan mata, lalu berusaha bangkit sambil merentangkan otot-ototnya. Tidur di bangku yang cukup kecil membuat badanya terasa sakit. Pria itu masih duduk, mengumpulkan nyawanya sejenak, lalu bangkit untuk melipat selimut tadi.

Ezar menatap dalam. Siluet cahaya membentang menerangi ruang tamu. Dan dirinya yakin, Miranda sudah bangun, atau mungkin melaksanakan kewajibannya sebagai muslim untuk sholat.

Terkadang, ada perasaan berdesir menjalar. Sejak dulu pun ia tahu jika kiblat mereka tak sama. Apalagi cara mereka saat berdoa. Ezar tertunduk. Tanganya reflek menyentuh kedua titik pundak serta dahinya. Matanya terpejam sejenak, batinya bermunajat.

"Tuhan... Jagalah Miranda. Jika memang takdir akan membawa kita bersama lagi... Maka izinkan yang terjadi tidak akan menimbulkan rasa sakit di kemudian hari. Tapi jika memang Miranda bukan lah takdir hambamu ini... Maka biarkanlah hamba merela dengan tidak mengambil dia dari Tuhan nya."

Sementara di dalam, Miranda bersimpuh di atas sajadahnya. Kedua tanganya mengadah, mulutnya bergetar sangat lirih.

"Ya Allah... Tidak ada hal kebetulan di dunia ini. Engkau pertemukan hamba dengan dia bukan tanpa sebab. Mungkin kedatangan dia sebagai ujian hidup agar hamba lebih tegar. Akan tetapi... Mampukah hamba lebih lama menyimpan rahasia ini, Ya Allah. Berdosakan hamba menjaga rahasia tentang putra hamba?! Berdosa kah hamba menjauhkan seorang darah daging dari Ayah kandungnya sendiri? Ataukah... Dengan pertemuan ini ada maksud yang sebentar lagi engkau segera kehendaki, hamba hanya dapat pasrah Ya Allah...."

Selimut tadi sudah terlipat, dan Ezar letakan pada bangku. Sebelum beranjak pulang, sekali lagi ia menatap lamat kearah dalam. Senyum getirnya memenuhi bibir.

Mendengar suara motor Ezar sudah pergi, barulah Miranda keluar. Ia tatap keadaan sekitar yang tak lagi sama. Selimut itu ia gapai, dan parfum mahal Ezar masih tertinggal disana. Tanpa sadar, Miranda berhasil menghirup pelan aroma itu. Aroma menyakitkan yang selama ini Ezar tinggalkan dalam hatinya.

*

*

Pagi buta itu, Ezar tanpa sengaja melihat mobil Mamahnya yang berhenti di lampu merah. Matanya menyipit, dari manakah Mamahnya itu.

Setelah membuntuti, mobil Ria berhasil tiba di rumah. Wanita parubaya itu melepas heelsnya, dan berjalan mengendap. Ia sangka tak ada siapa pun yang mengetahui kepergiannya. Tapi siapa sangka, Ezar memilih mematikan motornya, dan menuntun motor itu menuju garasi.

Lampu rumah tiba-tiba menyala merekah.

Deg!

Ria berhenti di ruang tamu.

"Darimana saja kamu?"

1
Naufal hanifah
bagus
Ig:@septi.sari21: maciihhh kak😍✋
total 1 replies
SisAzalea
adakah " Jauh kan tanganmu?"
Nessa
👍🏻👍🏻
Sarinah Quinn
di sini yang jahat menang telak author dukung Sinta dan ezar sedangkan Miranda yg hancur in s
ezar yg tanggung jawab Arya sama dewa, Sinta yang berjaya modal air mata dan ngancam bundir. gak sesuai ekspektasi sih tapi apa lah pembaca hak penuh author 🙏
Sarinah Quinn: terserah author nya. takdir nya di tangan author hanya gak ikhlas SJ gt Thor Sinta SM ezar. kalau nanti ezar di pertemukan dengan orang yg di cintai nya mungkin etis juga ini kn terpaksa nikah nya. tapi lagi lagi kn pembaca ini hanya pembaca thor mengikuti alur nya saja 🙏🥰
total 2 replies
Yunita Sophi
aahh aq kira Miranda akan nikah dgn Ezar...
Ig:@septi.sari21: sad ending ceritanya kak💔🥀
tapi sama-sama bahagia kok😍
total 1 replies
Yunita Sophi
keren thor ceritanya 👍
tia
👍👍👍👍👍
tia
lanjut thor
ardiana dili
lanjut
Dew666
🎈🎈🎈🎈
ardiana dili
lanjut
Nessa
nexxttt..
Yunita Sophi
bagus Ezar... libas aja tuh cewek barber tukang fitnah..
tia
lanjut thor,,
Yunita Sophi
kak thor cepat lanjutin yah... jadi makin penisirin ini...😄
Yunita Sophi
ciah Ezar punya modal nama Tama di bawa bawa..😄
Yunita Sophi
kata Dewa dia ikut agama mamah nya... terus papah nya beda gitu yah thor..
Yunita Sophi
semangat Zar...
Yunita Sophi
👏👏👏👏👏 seru nih tante 😄😄😄
Yunita Sophi
Ria mau kaya apa pun di lakukan... merebut suami kakak,membunuh kakak tp setelah berhasil menguasai malah selingkuh ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!