Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Yang Penting Halal
Bab 32
Suara gamelan sayup-sayup terdengar sampai kamar. Kamar di mana Edward sedang bersiap menjelang ijab qabul. Tidak menolak atau menunda, ia menyanggupi permintaan Wira untuk menikahi Aya. Jangan sampai berubah pikiran, jalan sedang terbentang luas, pikirnya. Beda dengan Anji malah membahas adegan dewasa kalau ia menikahi Aya hari ini juga. Dasar teman lakn4t.
Menatap pantulan dirinya di cermin, mengenakan beskap hitam dengan sulaman benang emas terlihat berbeda. Namun, ada rasa gugup dan khawatir juga. Bukan pernikahan pertama, tapi rasa gugupnya melebihi rasa yang pernah ia lalui dulu. Biasanya percaya diri dengan kemeja serta jas putih kebanggaannya, kali ini meski tampak gagah dan keren ia merasa ciut.
"Woi, napas. Muka lo beneran kayak vampir," ejek Anji. Entah kapan pria itu masuk dan kini mendekat membenarkan letak keris di pinggangnya. “Heran gue, orang sini demen amat maen keris. Kenapa nggak golok aja sekalian, lebih gede.”
“Udah adat budayanya, nggak usah ribut. Nggak enak terdengar mereka.”
Edward menghela nafasnya. "Nji, jujur nyali gue ciut. Kita kayak semut di hamparan gula pasir ada di tengah keluarga ini. Bangsawan Nji.”
“Salah, lo kayak ee kucing di hamparan rumput hijau.” Edward berdecak karena ia sedang serius malah ditanggapi dengan lelucon. “Heran gue sama lo bisa-bisanya insecure gitu. Si Aya bisa lo kasih 2 rumah di pondok indah hari ini juga, mobil tinggal tunjuk. Belaga kayak orang miskin di dunia. Orangtua lo emang udah nggak ada, tapi peninggalan mereka banyak. Lo mah gabut doang sibuk di SM,” tutur Anji sedangkan Edward memilih untuk duduk bergantian dengan Anji yang mematut dirinya di cermin. “Busyet gue ganteng banget ini, seragaman sama si Oka. Fotoin gue Ward, mau kirim ke Bela. Termehek-mehek dia, udah nyuekin gue.” Anji dan Asoka mengenakan beskap juga dengan warna senada berbeda dengan beskap sang pengantin.
“Katanya tarik ulur. Ada juga jangan dikirim ke dia, lo jadikan pembaruan status aja. Ambil angle yang pas, agak misterius."
“Bener juga. Gue minta tolong fotografer aja, sama elo belum tentu estetik.” Sudah sampai pintu, bahkan tangannya sudah berada di handle. “Astaga hampir lupa, elo diminta keluar. Acara mau dimulai.”
“Ya Tuhan,” gumam Edward. Bisa-bisanya diminta menjemput malah lupa sama tujuan.
***
Sejuk hembusan dari air cooler terasa dingin menyentuh wajah, begitupun dengan telapak tangan yang basah karena keringat. Di depannya, Wira duduk dengan tatapan tajam dan angkuh. Mungkin raut wajahnya memang sering begitu, entahlah. Bukan itu yang menjadi perhatiannya. Edward khawatir kalau ia mendadak lupa lafadz yang harus diucapkan saat ijab qabul nanti. Menghafal baru setengah jam yang lalu sambil berganti pakaian.
Suasana hening meski area itu cukup ramai. Kerabat dan keluarga besar Janitra. Sedangkan dari pihaknya hanya ada Asoka dan Anji. Beberapa orang yang yang dibawa dari Jakarta, sebagian ia minta ikut masuk untuk mengikuti acara. Benar kata Rama, orang-orang ini bisa dilibatkan sebagai tim perusuh bisa juga sebagai rombongan besan.
"Saudara Edward Wijaya, sudah siap?" tanya penghulu.
Edward menelan ludah lalu mengangguk mantap. “Siap, pak.”
“Mempelai wanita boleh diminta hadir.”
Suara gamelan mengiringi kedatangan Aya. Gadis itu tampak jelita dibalut kebaya dengan warna senada dengan beskap yang dikenakan Edward. Serta ronce melati yang wanginya semerbak saat semakin dekat. Nafasnya seakan sesak saat tatapan bertemu dan senyum merekah.
Andini yang mendampingi Aya mengarahkan untuk duduk di samping Edward. Dengan posisi ini sudah tidak bisa saling pandang.
Pria dengan setelan rapi senada dengan beberapa panitia memandu jalannya acara akad tersebut. Suara merdu dan sesekali bercampur dengan bahasa lokal. Saat tiba ijab Qabul, identitas kedua mempelai sudah dibacakan dan dipastikan
“Kedua saksi sudah siap?”
Asoka sebagai saksi dari pihak Edward mengangguk lalu pria paruh baya kerabat Aya menjadi saksi lainnya.
“Kita mulai ya, silahkan berjabat tangan.”
Edward menjabat tangan pria itu. Pria yang akan menjadi ayah mertuanya. Pria dengan karakter dan sikap otoriter, bahkan menyebalkan menurut Aya. Wira, mengucapkan sederet kalimat dan ….
"Saya terima nikah dan kawinnya Cahaya Sekar Sekar Janitra binti Wira Janitra dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"
“Bagaimana para saksi?”
“SAH”
Bukan hanya kedua saksi yang berucap, tapi yang hadir dan menyaksikan. Bahkan suara Anji paling nyaring sambil melakukan panggilan video, siapa lagi kalau bukan dengan geng pria terkutuk.
***
Edward dan Aya saling tatap sambil tersenyum, malah Edward terkekeh karena situasi yang canggung. Anji sudah berteriak cium, cium. Padahal diarahkannya untuk memakaikan cincin. Memang sar4f temannya itu. Andin mengulurkan kotak beludru yang sudah terbuka milik Edward. Cincin yang dia siapkan sebagai simbol keseriusan hubungan nyatanya dia gunakan sebagai cincin nikah.
Mahar yang dipikirkan secara cepat dan ia sanggupi. Rumah yang saat ini ia tempati baru satu tahun ia jadikan mahar serta sejumlah uang deposito. Mungkin kalau tidak dadakan begini ia bisa lebih siap dan lengkap, termasuk menyiapkan hantaran pernikahan. Seperti kata Anji, gas aja yang penting halal dulu. oke, kali ini ia sepakat.
Menyematkan cincin di jari manis lalu menangkup wajah Aya dan mendaratkan bibirnya di kening Aya. Tampangnya boleh sedikit bule seperti yang sering diteriaki gengnya, karena memang keturunan indo. Kakeknya berkebangsaan Eropa, menikah dengan pribumi. Begitupun dengan Papi dan sekarang dirinya. Edward menyentuh kepala Aya, sambil bergumam doa.
“Kamu cantik banget Ay,” bisik Edward, Aya menunduk malu sambil terkekeh.
Belum selesai, acara itu masih berlanjut dengan sungkeman dan foto bersama. Apalagi Wira sudah menyampaikan kalau akan berlanjut resepsi sampai dengan besok.
“Nggak salah Ay, besok masih resepsi,” bisik Edward yang digusur ke kamar untuk berganti busana. Sedangkan di tempat ijab qabul sudah dikondisikan sedemikian rupa untuk menyambut tamu. Hari ini hanya keluarga besar dari pihak Wira dan Diah serta kerabat, besok tamu undangan para tetangga dan masyarakat juga rekan bisnis.
“Ini belum seberapa Om, biasanya lebih ribet bahkan beberapa hari sebelum nikahan ada rangkaian adat juga. Kayak upacara siraman, terus apalagi ya aku lupa. Untungnya Romo nggak pake, karena awalnya buru-buru nikahin aku biar nggak kabur lagi.”
“Masih mau panggil aku, om?”
“Hm. Gimana ya, lebih enak aja nyebutnya.” Aya berdiri dan merangkul tangan di leher Edward yang duduk di tepi ranjang. Keduanya saling tatap meski tanpa kata, tapi seolah saling bicara dengan isi pikiran masing-masing.
Edward menarik pinggang Aya dan mendudukkannya di pangkuan. Tidak lagi memberi aba-aba langsung meraih bibir Aya dan memagutnya. Di kok0p dulu, udah paling bener, mendadak teringat pesan Rama. Memang sesat kawan-kawannya itu. Pagutan yang dalam bahkan mulai tidak terkendali, akhirnya terhenti karena ketukan pintu.
“Ndoro Ayu, makan siangnya. Setelah ini harus bersiap untuk sambut tamu.”
Dengan nafas terengah dan degup jantung tidak biass, Aya beranjak dari pangkuan Edward menuju pintu. “Iya mbok.”
“Kent4ng banget,” gumam Edward lalu menghela nafas. “Sabar, udah halal.”
Bang Anji lak mesti sibuk live steaming trussss dan yg pasti tukang kompor 🤣🤣🤣 ini untung Rama gk ikut , klo ada yg pasti hebohnya ngalah2i satu Rt 😂😂😂
kalo pake golok orang betawi noh rama mungkin masih nyimpen golok nya 🤭
emang temen laknat🤭