Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Ruang Kedap Suara dan Luka di Lengan
Kegelapan menelan kamarku secara tiba-tiba. Desingan pelan dari pendingin ruangan mati seketika, menyisakan keheningan malam yang terasa begitu pekat dan menekan.
Aku terbangun dengan napas memburu. Mataku berusaha menyesuaikan diri dengan gulita. Selama tiga detik pertama, otakku mencoba mencari penjelasan logis. Pemadaman bergilir? Tidak mungkin. Rumah rahasia ini dilengkapi generator otomatis berkekuatan industri yang seharusnya menyala dalam waktu kurang dari dua detik.
Namun, detik keempat berlalu, dan lampu tetap mati.
Lalu, terdengar suara itu.
PRANG!
Bunyi kaca tebal yang pecah berkeping-keping dari lantai bawah. Suaranya teredam, namun di tengah malam yang sunyi ini, bunyinya setajam silet yang mengiris gendang telinga.
Jantungku berdentum menghantam tulang rusuk. Adrenalin meledak di nadiku, mengusir seluruh sisa kantuk. Ingatanku tentang ritsleting gaun dan debaran manis beberapa jam lalu menguap, digantikan oleh insting bertahan hidup purba.
Seseorang telah menerobos masuk. Rendra menemukan kami.
Aku menyingkap selimut dengan tergesa-gesa. Kaki telanjangku menyentuh lantai kayu yang dingin. Baru saja aku meraih jubah tidur satin untuk menutupi tubuhku, pintu kamarku berderit terbuka dengan sangat pelan.
Sebuah bayangan tinggi besar masuk, menyatu dengan kegelapan.
Aku nyaris menjerit, tanganku meraba nakas mencari benda tumpul apa saja, sebelum sebuah tangan besar dan hangat dengan cepat membekap mulutku. Aroma sabun mandi dan wangi kasturi yang familier langsung menyerbu indra penciumanku.
"Ssst... ini aku," bisik suara bariton itu tepat di telingaku. Hembusan napasnya terasa hangat di leherku.
Bumi.
Aku mengangguk cepat, tanganku mencengkeram lengan kausnya. Bumi melepaskan bekapannya, lalu menggenggam tanganku dengan erat. Di tengah gulita, matanya yang mulai terbiasa dengan gelap menatapku tajam.
"Sistem kelistrikan dan alarm diputus dari luar secara profesional. Ada sekitar empat orang bersenjata tajam yang baru saja menjebol jendela ruang tamu," lapor Bumi, suaranya sangat rendah, nyaris tanpa getaran panik. Dia sedang berada dalam mode bertahan hidup sepenuhnya. "Tim Garda di luar sepertinya sedang diserang atau dialihkan. Kita harus memindahkan Ibu dan Sifa sekarang."
"Kamar Sifa," bisikku cepat, otak CEO-ku langsung bekerja mengambil alih kepanikan. "Rumah ini kubangun dengan protokol darurat. Di balik lemari pakaian di kamar Sifa, ada sebuah panic room (ruang aman) berlapis baja. Sepenuhnya kedap suara dan memiliki ventilasi independen."
Bumi mengangguk. "Ayo."
Kami mengendap-endap keluar dari kamarku, menelusuri lorong lantai dua bagai dua bayangan. Lantai kayu jati di bawah kaki kami tidak berderit berkat karpet tebal yang melapisinya. Dari arah tangga utama, aku bisa mendengar suara langkah kaki berat yang melangkah naik secara perlahan. Terdengar bunyi gesekan logam—pisau atau parang—yang sengaja digesekkan ke dinding.
Rasa mual menyerang perutku. Rendra tidak mengirim pencuri; dia mengirim tukang jagal.
Kami tiba di kamar Sifa. Hajah Fatimah sudah terbangun, duduk di tepi ranjang lipatnya dengan wajah pucat pasi dan bibir yang berkomat-kamit melantunkan ayat suci.
"Ibu," bisik Bumi, segera memeluk wanita itu. "Jangan bersuara. Pegang tangan Bumi."
Aku bergegas menuju lemari pakaian raksasa di sudut ruangan. Aku menekan sebuah panel tersembunyi di balik ukiran kayunya, lalu memindai sidik jariku pada pemindai biometrik darurat yang masih menyala dengan daya baterai internal.
Klik.
Lemari itu bergeser tanpa suara, memperlihatkan sebuah pintu baja tebal yang terbuka. Ruangan di dalamnya tidak terlalu besar, hanya cukup untuk empat orang, namun memiliki suplai oksigen dan kotak P3K lengkap.
"Bantu aku mendorong brankar Sifa," bisikku pada Bumi.
Dengan sisa tenaga, kami berdua mendorong ranjang medis beroda itu masuk ke dalam panic room. Hajah Fatimah menyusul masuk dengan tubuh gemetar hebat.
Aku baru saja akan melangkah masuk, namun langkahku terhenti saat menyadari Bumi melepaskan genggaman tangannya dari brankar. Pria itu mundur satu langkah, tetap berada di luar panic room.
"Bumi? Apa yang kamu lakukan? Cepat masuk!" desisku panik, menahan pintu baja yang siap tertutup otomatis.
Bumi menggeleng. Di bawah cahaya temaram lampu darurat dari dalam panic room, rahangnya terlihat mengeras. "Ruangan ini tahan peluru, tapi jika mereka tidak bisa masuk, mereka mungkin akan membakar rumah ini untuk memancing kita keluar. Seseorang harus tetap di luar untuk memancing perhatian mereka ke arah yang berlawanan dan mengulur waktu sampai tim Garda berhasil mengamankan area."
"Kamu gila?!" Air mataku tiba-tiba merebak. Aku melangkah keluar, mencengkeram kausnya dengan kedua tangan. "Mereka pembunuh bayaran, Bumi! Kamu tidak punya senjata!"
Bumi menatap tanganku yang meremas kausnya, lalu perlahan menatap mataku. Tangan besarnya naik, menangkup sebelah pipiku. Sentuhannya terasa sedikit kasar, namun menyalurkan rasa aman yang luar biasa pekat.
"Dulu, kamu mengorbankan keamananmu sendiri demi menyelamatkan napas Sifa," bisik Bumi, matanya memancarkan kedalaman samudra yang siap menelan badai. "Sekarang, giliranku memastikan nyawa istri dan ibuku tidak tersentuh seujung kuku pun oleh bajingan-bajingan itu."
Terdengar suara pecahan vas keramik dari ujung lorong, tak jauh dari posisi kami. Mereka sudah sampai di lantai dua.
"Kunci pintunya dari dalam, Aruna. Jangan buka sampai aku yang meminta," perintah Bumi mutlak.
Sebelum aku sempat menolak, Bumi sedikit mencondongkan tubuhnya dan mengecup keningku. Singkat, cepat, namun terasa seperti sebuah stempel kepemilikan yang membakar jiwaku.
Lalu, ia mendorong bahuku pelan hingga aku mundur ke dalam ruangan. Bumi menekan tombol merah di sisi luar.
Pintu baja itu bergeser menutup. Pemandangan terakhir yang kulihat adalah punggung lebarnya yang berbalik menghadapi kegelapan lorong, menyongsong bahaya dengan tangan kosong.
BAM.
Pintu terkunci rapat. Ruangan seketika kedap suara. Keheningan di dalam panic room ini terasa lebih menyiksa daripada suara bising apa pun di dunia.
"Ya Allah... lindungi putraku," isak Hajah Fatimah, terduduk di lantai sambil memeluk lututnya.
Aku jatuh terduduk di sebelahnya, menyandarkan punggungku ke dinding baja yang dingin. Tanganku gemetar hebat. Aku menutup mata, namun yang kulihat hanyalah wajah Bumi. Pria kaku yang dulu kuanggap hanya sebagai alat pelindung perusahaan, kini mempertaruhkan daging dan darahnya sendiri demi diriku.
Jangan mati, Bumi. Kumohon... jangan mati!, batin berdoa dengan penuh harapan.
Waktu terasa berhenti berdetak. Setiap detiknya adalah siksaan mental yang menyobek kewarasanku. Aku menatap layar monitor CCTV internal yang terpasang di dinding panic room, namun layarnya gelap gulita karena sistem kelistrikan utama mati. Aku sepenuhnya buta terhadap apa yang terjadi di luar sana.
Entah sepuluh menit atau satu jam berlalu, tiba-tiba terdengar ketukan pelan dengan ritme yang khas di pintu baja.
Tok. Tok-tok. Tok.
Jantungku melonjak ke tenggorokan. Itu ritme sandi yang kuberitahukan pada Bumi saat di rumah sakit dulu.
Aku segera berdiri, menekan panel pembuka pintu. Pintu baja itu bergeser perlahan.
Udara luar yang berbau asap mesiu tipis dan keringat langsung menyergap masuk. Lampu lorong lantai dua sudah kembali menyala.
Di ambang pintu, Bumi berdiri dengan napas terengah-engah.
Rambutnya berantakan, kaus hitamnya robek di bagian bahu kiri. Ada darah segar yang mengalir dari luka sayatan memanjang di lengan kirinya, menetes pelan ke lantai kayu. Namun, matanya tetap memancarkan ketenangan yang menakutkan.
"Bumi!" Hajah Fatimah menjerit tertahan, menutupi mulutnya melihat darah itu.
Aku tidak bisa menahan diriku lagi. Aku berhambur ke arahnya, menabrakkan tubuhku ke dada bidangnya. Kedua tanganku melingkari pinggangnya erat-erat, membenamkan wajahku di ceruk lehernya. Aku tidak peduli dengan bau darah atau keringat. Aku hanya ingin memastikan pria ini nyata dan masih bernapas.
Bumi sedikit terhuyung menahan beban tubuhku, namun tangan kanannya yang tidak terluka dengan sigap merengkuh punggungku.
"Aku tidak apa-apa," bisiknya parau, dagunya bersandar di puncak kepalaku. "Tim Garda berhasil menetralisir tiga orang di bawah. Satu orang berhasil naik, tapi aku berhasil melumpuhkannya sebelum dia mendekati kamar ini. Area sudah aman sepenuhnya."
Aku mendongak, mataku basah oleh air mata kemarahan dan kelegaan. "Kamu bodoh! Lenganmu berdarah!"
Bumi menunduk, menatap lengan kirinya seolah luka sayatan pisau itu hanyalah gigitan nyamuk. "Ini hanya luka gores, Aruna. Pisau orang itu meleset saat aku memelintir tangannya. Tidak dalam."
Terdengar derap langkah berat dari arah tangga. Garda, kepala keamanan pribadiku, muncul bersama dua anak buahnya bersenjata lengkap.
"Nyonya Aruna, Tuan Bumi," lapor Garda dengan napas memburu. "Kondisi sudah terkendali. Pelaku sudah kami ikat di halaman belakang dan sedang diinterogasi. Genset sudah kami nyalakan manual. Mohon maaf atas keterlambatan kami, sistem komunikasi kami disabotase dengan jammer (pengacak sinyal) militer."
"Bawa mereka ke polisi?" tanyaku dingin, melepaskan pelukanku dari Bumi, kembali menjadi CEO.
Garda menggeleng pelan. "Tidak disarankan, Nyonya. Jika ini diserahkan ke polisi sekarang, Rendra akan menyuap aparat dan menutupi jejaknya. Kami akan 'mengurus' mereka dengan cara kami untuk menggali informasi lebih dalam tentang siapa penyusup di sistem kita."
Aku mengangguk. "Kerja bagus. Pastikan rumah ini menjadi benteng tak tertembus malam ini."
"Biar Ibu obati lukamu, Le," Hajah Fatimah melangkah maju dengan wajah penuh air mata.
Bumi menggeleng lembut, memaksakan senyum untuk menenangkan ibunya. "Ibu temani Sifa saja di dalam. Bumi kuat, Bu. Biar... biar Aruna yang mengobati Bumi."
Aku menatapnya terkejut, namun langsung memahami maksudnya. Bumi tidak ingin ibunya melihat kedalaman lukanya dan semakin syok.
"Ya, Bu. Biar saya yang urus Mas Bumi. Ibu beristirahatlah di dalam, pintunya akan tetap terbuka," bujukku.
Aku menarik pelan tangan kanan Bumi yang tidak terluka, membimbingnya berjalan menuju kamar mandi utama di kamarku.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, keheningan yang sangat intim melingkupi kami. Cahaya lampu yang terang memantulkan bayangan kami di cermin wastafel yang besar.
"Duduklah di tepi bathtub," perintahku pelan.
Bumi menurut tanpa protes. Posturnya yang tinggi besar terlihat sedikit gontai saat ia duduk. Adrenalinnya pasti mulai menurun, digantikan oleh rasa perih.
Aku membuka kotak P3K darurat di dinding kamar mandi, mengeluarkan cairan antiseptik, kapas, salep antibiotik, dan perban. Tanganku masih sedikit gemetar saat aku berlutut di depannya.
"Aku harus merobek kausmu agar bisa membersihkan lukanya," gumamku, tidak berani menatap matanya.
Bumi mengangguk. Dengan tangan kanannya, ia meraih ujung kausnya dan menariknya ke atas, melepaskan kaus itu melewati kepalanya, lalu melemparkannya ke keranjang pakaian kotor.
Aku menelan ludah dengan susah payah.
Ini adalah pertama kalinya aku melihat suamiku tanpa atasan. Tubuhnya tidak seperti model majalah yang dibentuk di gym mewah, melainkan tubuh yang dipahat oleh kerja keras dan disiplin. Bahunya sangat lebar, otot perutnya terbentuk tegas, dan... ada beberapa bekas luka pudar di punggung dan tulang rusuknya. Luka-luka masa lalu dari kehidupan jalanan yang keras sebelum ia mengenal bangku kuliah.
Pandanganku terhenti pada sayatan memanjang di lengan kiri atasnya. Luka itu cukup panjang, beruntung tidak terlalu dalam hingga mengenai urat nadi.
"Tahan sedikit," bisikku, menuangkan antiseptik ke atas kapas.
Bumi mendesis pelan saat kapas basah itu menyentuh lukanya. Rahangnya mengeras, namun ia tidak menarik lengannya.
"Kamu sangat nekat, Bumi," gumamku sambil membersihkan sisa darah di lengannya dengan telaten. Suaraku masih bergetar. "Kenapa kamu selalu mengorbankan dirimu? Kamu bisa saja mati di lorong tadi."
"Karena nyawamu ada di balik pintu baja itu, Aruna," jawab Bumi tanpa ragu. Suaranya rendah, bergema di dinding kamar mandi berlapis marmer ini.
Aku menghentikan gerakanku. Aku perlahan mendongak, menatap wajahnya. Jarak kami sangat dekat. Helaan napasnya menerpa dahiku.
"Tapi aku tidak mau kamu terluka," suaraku pecah. Setetes air mata jatuh membasahi punggung tangannya. "Aku benci melihat orang yang kulindungi... terluka karena aku."
Bumi mengangkat tangan kanannya. Jari-jarinya yang kasar namun hangat menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga, membelai garis rahangku dengan kelembutan yang sangat kontras dengan pria yang baru saja melumpuhkan pembunuh bayaran.
"Luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan melihatmu menangis," bisik Bumi. Matanya menatap bibirku sejenak, sebuah tatapan yang memancarkan kerinduan dan kepemilikan yang murni, sebelum kembali menatap mataku. "Mulai sekarang, biasakan dirimu untuk dilindungi, Aruna. Kamu tidak perlu lagi menjadi kuat setiap saat."
Jantungku berdetak gila-gilaan. Pria ini... dia tidak hanya menghancurkan zirahku, dia menjadi pelindung baruku.
Aku kembali menunduk, buru-buru mengoleskan salep dan melilitkan perban di lengannya dengan rapi untuk menyembunyikan wajahku yang merona hebat. Aku menahan diri agar tidak melakukan tindakan impulsif memeluk tubuh tanpa atasannya itu.
Saat aku selesai mengikat ujung perban, ketukan keras di pintu kamar tidurku membuat kami berdua tersentak.
"Nyonya Aruna," suara Garda terdengar berat dari balik pintu. "Maaf mengganggu. Ada hal penting yang harus Anda dan Tuan Bumi ketahui segera."
Aku dan Bumi saling bertatapan. Aku bangkit berdiri, sementara Bumi dengan cepat meraih kemeja cadangan dari lemari lemariku dan mengenakannya tanpa mengancingkannya secara penuh.
Kami keluar dari kamar mandi. Garda berdiri di depan pintu kamar tidur dengan wajah muram, memegang sebuah alat kecil seukuran koin di tangannya.
"Ada apa, Garda?" tanyaku.
Garda mengangkat alat itu. "Kami menginterogasi salah satu penyusup yang berhasil dilumpuhkan Tuan Bumi di lantai dua. Mereka mengakui bahwa mereka bisa mematikan alarm dan mengetahui posisi persis letak kamar Sifa bukan karena mereka meretas sistem kita dari luar."
Kening Bumi berkerut tajam. "Lalu dari mana?"
"Seseorang dari dalam," Garda menelan ludah, menatapku dengan sorot mata penuh penyesalan. "Pelaku mengatakan mereka mendapat peta denah rumah ini dan password panel listrik eksternal dari seseorang yang Anda percaya. Seseorang yang memiliki akses ke semua properti rahasia Anda, Nyonya."
Darahku kembali membeku. Otakku berputar cepat. Sarah tidak tahu tentang rumah ini. Hanya ada satu orang di kantor yang mengatur pembayaran pajak dan utilitas rahasia semua properti pribadiku.
"Orang yang selama ini mengurus pajak dan utilitas properti rahasiaku... Pak Haris," bisikku dengan ngeri. "Aku pikir setelah kita mengancam dan membungkamnya dengan data audit di depan lift waktu itu, dia akan diam ketakutan. Ternyata dia justru semakin nekat! Dia benar-benar anjing peliharaan Rendra yang sesungguhnya!"
Bumi mengusap wajahnya dengan kasar. "Musuh kita menguasai separuh dari lantai eksekutif."
"Karena ancaman dari dalam ini sudah sangat fatal," sela Garda dengan nada sangat formal, "mulai detik ini, saya memberlakukan Protokol Keamanan Tingkat Merah. Nyonya Aruna dan Tuan Bumi tidak diizinkan berada di ruangan yang berbeda saat di dalam rumah. Kalian harus berada dalam jangkauan visual saya atau asisten saya setiap saat."
Aku mengerjapkan mata, mencoba memproses kalimat Garda. "M-maksudmu?"
"Maksud saya," Garda menunjuk ke arah kamar tidur utamaku, "demi keamanan, mulai malam ini, Anda dan Tuan Bumi harus tidur di kamar yang sama. Di ranjang yang sama. Tidak ada pengecualian."
____________________________________________
Aku dan Bumi membeku di tempat. Wajah Bumi yang tadi pucat karena kehilangan darah, kini perlahan berubah menjadi merah padam. Tidur di satu kamar? Di satu ranjang?! Ketegangan maut yang baru saja kami lewati tiba-tiba tergantikan oleh ketegangan jenis lain yang membuat kakiku nyaris lemas. Aku menoleh ke arah suamiku, dan dari jakunnya yang bergerak menelan ludah dengan susah payah, aku tahu malam ini akan menjadi malam terpanjang dalam hidup kami.
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘