AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI PASAR
Matahari sudah mulai condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang memantul dari atap-atap bangunan Kota Alengka. Suasana pasar masih sangat ramai dan hiruk pikuk. Pedagang berteriak menawarkan dagangan, pembeli tawar-menawar, dan gerobak-gerobak berseliweran.
Genpo dan Deon berjalan perlahan menyusuri kerumunan. Di tangan Genpo tergenggam erat kotak kayu berisi bahan pewarna mahal itu, sementara Deon berjalan di sebelahnya, masih sibuk mengoceh soal batu Giok Zamrud 3 kg yang baru saja mereka dengar.
"Bayangin Kek, 3 kg murni... Struktur kristalnya pasti sempurna. Itu nilai sejarahnya lebih tinggi daripada harganya," kata Deon masih takjub.
"Iya, iya... jalan yang bener Deon, jangan melamun!" peringatan Genpo.
Namun terlambat.
Saat Deon menoleh ke kanan untuk melihat sebuah toko perhiasan, tubuhnya menabrak sesuatu yang lunak namun kokoh. Bugh!
Sudut Pandang Deon Key
Aduh!
Aku terhuyung mundur. Mataku langsung menatap siapa yang kutabrak.
Di hadapanku berdiri seorang gadis. Cantik? Bukan. Dia lebih dari cantik. Wajahnya anggun, kulitnya putih bersih, dan matanya tajam seperti belati. Tapi yang paling mencolok adalah pakaiannya. Gaun sutra berwarna biru langit dengan sulaman benang emas yang rumit, jelas bukan pakaian orang sembarangan. Aura kekayaannya terasa sampai ke hidung.
Tapi... ekspresinya mengerikan.
"Heh! Mata kamu buta apa bagaimana?!"
Suaranya melengking, memecah kebisingan pasar.
"Berani-beraninya orang kampung sepertimu menabrakku! Lihat ini! Gaunku kotor karena debu bajumu! Kamu tahu berapa harga kain ini?! Bisa buat makan keluargamu setahun!"
Aku hanya diam, mengusap bahu yang sedikit kesentuh. Dalam hati aku bergumam, Wah... galak sekali. Padahal tabrakan itu mutual kok, kamu juga jalan ngebut sambil lihat kanan-kiri.
"Maaf, Nona. Saya tidak sengaja," jawabku pelan dan sopan, mencoba menyingkir.
"TIDAK SENGAJA APA BERMALAS-MALASAN?!" Dia malah semakin emosi, suaranya makin keras. "Kamu pikir cukup bilang maaf selesai?! Dasar bodoh! Kutu buku! Orang miskin yang sok tenang! Hari ini nasibmu sial bertemu denganku!"
Dia terus memaki, kata-katanya tajam dan menusuk. Mulai dari penampilanku yang lusuh, cara jalanku yang aneh, sampai menyebut aku pengangguran tak berguna.
Aku hanya mengerutkan kening. Yaelah... cuma ketabrak dikit doang. Secara fisika, gaya tabrakannya cuma 5 Newton, nggak bakal bikin gaunnya rusak kok. Drama banget sih ini nona.
"Sudah Non, saya sudah minta maaf. Silakan lewat kalau mau jalan," jawabku lagi sebisanya, berusaha tetap tenang layaknya orang berilmu.
Tapi malah jadi bensin untuk api.
"LIHAT INI! DIA MASIH BERANI MENJAWAB! TANGKAP DIA! AKU INGIN TANGANNYA DIPOTONG KARENA TELAH MENYENTUHKU!" teriaknya histeris.
Karena suaranya yang luar biasa keras, perlahan orang-orang mulai berhenti berjalan. Penonton berkerumun membentuk lingkaran besar. Suasana jadi tegang. Aku mulai merasa tidak nyaman. Ini bukan lagi soal tabrakan, ini soal gengsi.
Tiba-tiba, kerumunan orang terbelah.
Seorang lelaki tinggi besar berjalan masuk. Ia mengenakan jubah hitam panjang yang terbuat dari bahan tebal dan mahal. Di dada dan punggung jubah itu terdapat sulaman besar berwarna putih perak berbentuk awan bergulung.
Langkahnya berat dan wibawa. Ia berdiri di samping gadis itu dengan postur siap siaga.
"Nona Prizeyl, tolong tenangkan diri Anda," suara lelaki itu berat dan tegas.
Prizeyl... nama itu terngiang di telingaku.
"Apa dia masih belum mau minta maaf dengan benar, Vorn?!" celetuk gadis itu—Prizeyl—masih dengan napas memburu. "Orang rendahan ini berani menentangku!"
"Nona, kita memiliki misi penting," bisik lelaki berjubah itu dengan nada mendesak. "Kita di sini mewakili Klan Awan untuk urusan batu Giok Zamrud 3 kg itu. Kita tidak boleh membuat keributan di tempat umum. Nanti merusak nama baik klan."
Baru sadar aku. Oh... jadi dia orang penting. Makanya gaya bicaranya seperti ratu yang terinjak injak.
Sudut Pandang Kakek Genpo
Duh, Gusti... ini bahaya besar.
Jantungku berdegup kencang. Darah seolah berhenti mengalir saat melihat simbol awan di jubah lelaki itu.
Klan Awan.
Salah satu dari Empat Klan Besar yang menguasai wilayah Alengka. Mereka bukan sekadar orang kaya, mereka adalah penguasa sesungguhnya di balik layar. Orang-orang mereka sombong, kuat, dan tidak main-main kalau sudah marah. Kalau sampai Deon berurusan dengan mereka, bisa-bisa tulang belulang cucuku ini dijadikan arang!
Melihat situasi makin panas dan penonton makin banyak, aku tidak bisa diam lagi.
"Mohon maaf! Mohon maaf yang sebesar-besarnya!!"
Aku langsung maju, menangkupkan kedua tanganku tinggi-tinggi di depan wajah, membungkuk dalam-dalam sampai punggungku hampir sejajar dengan tanah. Sikap penghormatan tertinggi.
"Anak saya bodoh, tidak tahu adat! Mohon ampun Nona yang cantik dan mulia! Mohon Klan Awan mau memaafkan kesalahan kami yang tidak berharga ini!"
Tanpa menunggu jawaban, tanganku dengan cepat menyambar lengan Deon yang masih bengong.
Cepet!
"AYO PULANG DEON!!" bisikku keras sambil menariknya sekuat tenaga.
"Tapi Kek, dia yang salah..." protes Deon masih polos.
"DIAM! JANGAN BICARA! JALAN!"
Kami berdua menunduk, menyelinap keluar dari lingkaran penonton dengan kecepatan tinggi. Aku mendengar teriakan Prizeyl masih terdengar di belakang, tapi lelaki berjubah itu sepertinya menahannya agar tidak mengejar. Untunglah.
Kami terus berjalan cepat, bahkan hampir berlari, sampai jarak antara kami dan pasar cukup jauh. Hanya ketika masuk ke jalan setapak yang sepi menuju hutan, aku baru menghela napas panjang dan memperlambat langkah.
Deon masih terlihat kesal dan bingung.
"Kek... kenapa kita lari? Kan aku yang ditabrak. Dia yang maki-maki duluan!"
Aku menatap cucuku, wajahku serius sekali.
"Deon, dengarkan Kakek baik-baik. Di Kota Alengka ini, ada kekuatan yang lebih besar dari hukum dan logika. Itu adalah Klan-Klan Besar."
Aku mulai menjelaskan sambil berjalan, napasku masih sedikit memburu.
"Ada Klan Api yang panas baran, Klan Air yang licin, Klan Tanah yang keras kepala, dan yang tadi... Klan Awan. Mereka yang paling tinggi dan angkuh. Mereka menganggap diri mereka setara bangsawan. Kalau kita melawan sedikit saja, bukan cuma kita yang celaka, tempat tinggal kita pun bisa mereka hancurkan dalam sekejap mata. Mereka punya kekuatan dan uang segalanya..."
"Terus soal batu Giok Zamrud itu Kek? Berarti Nona Prizeyl itu yang mau..."
Belum selesai kalimat Deon, dan belum selesai juga penjelasanku...
BRUK!!!
Tiba-tiba dari balik semak-semak di sisi jalan, sesuatu yang besar dan berat meluncur turun dari tebing tepat menghadang jalan di depan kami! Debu beterbangan dan tanah bergetar!
Kami berdua terlonjak kaget dan langsung menghentikan langkah seketika.
"Apa itu?!" seru Deon sigap, matanya langsung menganalisis benda besar yang menghalangi jalan itu.