Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Ganda dengan Makhluk Astral
Setelah keberhasilan Satria menjadi "makhluk penjinak arwah galau" di gudang musik, reputasinya di kalangan penghuni tak kasat mata SMA Wijaya Kusuma melonjak drastis. Sayangnya, ketenaran di dunia ghaib tidak pernah membawa keuntungan finansial, melainkan hanya menambah beban sosial. Hal ini terbukti pada Sabtu malam, ketika Satria berniat mengajak Arini berkencan normal untuk pertama kalinya sejak Arini bisa melihat "mereka".
Rencananya sederhana: makan bakso di pinggir jalan, lalu jalan-jalan ke taman kota. Tanpa gangguan dimensi lain. Tanpa bau kemenyan. Hanya Satria dan Arini.
Namun, saat Satria memarkir motor bututnya di depan gerbang rumah Arini, ia melihat dua sosok sudah duduk manis di jok belakang motornya. Yang satu adalah Pocong Dudung yang tampak berusaha melipat dirinya agar muat, dan yang satu lagi adalah Mbak Suryani yang sudah berdandan heboh dengan bunga kamboja segar di telinganya.
"Kalian ngapain di situ?!" desis Satria, mencoba tidak berteriak agar tetangga Arini tidak menganggapnya gila.
“Aduh, Mas Satria sombong ya sekarang. Kita kan juga mau malam mingguan!” seru Mbak Suryani sambil mengibas-ngibaskan selendang transparannya. “Saya sama Dudung sudah sepakat, malam ini kita 'kencan ganda'. Kalian kencan di dunia nyata, kami kencan di dunia bayangan mengikuti kalian.”
“Iya, Mas Sat... saya pengen lihat lampu warna-warni di taman kota. Di kuburan gelap terus, bosen,” tambah Dudung dengan wajah melasnya.
"Gak bisa! Ini kencan pribadi gue sama Arini!" tegas Satria.
Tepat saat itu, Arini keluar dari pagar rumahnya. Ia mengenakan gaun simpel berwarna biru muda yang membuatnya tampak sangat cantik di bawah cahaya lampu jalan. Namun, senyumnya sedikit memudar saat melihat motor Satria sudah "penuh".
"Sat... itu mereka ikut juga?" tanya Arini sambil menunjuk ke arah Dudung yang sedang berusaha menjaga keseimbangan di atas lampu belakang motor.
Satria menghela napas pasrah. "Katanya mau kencan ganda, Rin. Gue udah usir tapi mereka malah ngancem mau nangis darah di depan rumah lo."
Arini tertawa kecil, meskipun sedikit ngeri. "Ya sudah, biarin aja, Sat. Kasihan juga Dudung, biasanya dia cuma lompat-lompat di pojokan mading."
Maka dimulailah perjalanan kencan paling absurd dalam sejarah umat manusia dan perhantuan. Satria membonceng Arini di depan, sementara Dudung "nangkring" di pundak Satria dan Mbak Suryani melayang mengikuti di samping motor dengan kecepatan yang menyamai mesin 110cc itu.
Sepanjang jalan, Mbak Suryani tidak berhenti berkomentar tentang gaya berpakaian orang-orang di jalanan. “Ih, itu mbak-mbak pakai baju kurang bahan, apa nggak takut masuk angin ghaib? Lihat saya dong, kebaya tertutup tapi tetep modis!”
Sementara itu, Dudung sibuk mengingatkan Satria tentang rambu lalu lintas. “Mas Sat, itu lampu merah! Berhenti! Jangan sampai kita mati dua kali gara-gara terobos jalan!”
"Dudung, diem atau lo gue taruh di knalpot!" ancam Satria yang mulai stres.
Sesampainya di tempat bakso langganan, Satria memilih meja yang paling pojok dan sepi. Ia memesan dua porsi bakso urat. Masalah muncul ketika pesanan datang. Mbak Suryani duduk di kursi kosong di sebelah Arini, sementara Dudung berdiri kaku di pojok ruangan karena tidak bisa duduk.
"Rin, lo ngerasa nggak kalau orang-orang ngeliatin kita?" bisik Satria.
"Iya, soalnya kamu daritadi ngomong sama kursi kosong di sebelah aku, Sat," jawab Arini sambil menahan tawa.
“Aduh, baunya enak banget... Noni Arini, boleh saya minta satu pentolnya? Cuma mau nyedot sarinya aja kok!” rengek Mbak Suryani.
Arini, yang sekarang sudah lebih berani, diam-diam menyisihkan satu butir bakso ke pinggir mangkok dan menggesernya sedikit. Mbak Suryani langsung menempelkan tangannya di atas bakso itu. Seketika, uap panas dari bakso itu seolah tersedot dan baksonya mendadak terlihat lebih pucat dan dingin.
“Nyam! Rasanya kayak... memori tentang daging sapi,” gumam Mbak Suryani puas.
Setelah makan, mereka menuju taman kota yang ramai oleh muda-mudi. Cahaya lampu hias melilit pepohonan, menciptakan suasana romantis. Satria dan Arini berjalan beriringan, mencoba menikmati momen berdua. Namun, "pasangan ghaib" di belakang mereka mulai berulah.
Dudung melihat ada penjual balon gas yang talinya tersangkut di dahan pohon yang tinggi. Tanpa izin, Dudung melompat setinggi tiga meter dan melepaskan tali itu. Si penjual balon kaget luar biasa melihat balonnya terlepas sendiri, sementara anak kecil pembelinya menangis karena mengira ada hantu yang mencuri balonnya (yang sebenarnya memang benar).
"Dudung! Balikin!" perintah Satria dengan isyarat tangan.
Dudung malah membawa balon itu ke hadapan Mbak Suryani. “Ini buat Nona Suryani yang cantik... biar makin melayang,” ucap Dudung puitis (versi hantu).
Mbak Suryani tersipu, yang justru membuat aura di sekitar mereka menjadi sangat dingin. Orang-orang yang lewat di sekitar mereka mendadak menggigil dan menggosok-gosok lengan. "Duh, kok di sini dingin banget ya? Padahal lagi musim kemarau," keluh seorang pejalan kaki.
"Sat, kita harus pindah tempat. Mereka bikin orang-orang nggak nyaman," bisik Arini.
Mereka akhirnya sampai di area bermain. Ada sebuah komedi putar besar—bukan yang berhantu seperti di pasar malam tempo hari, tapi yang asli dan modern. Mbak Suryani matanya langsung berbinar.
“Mas Sat! Saya mau naik itu lagi! Tapi kali ini mau yang normal!”
Satria awalnya menolak, tapi Arini justru setuju. "Ayo Sat, kita naik. Sekalian biar mereka puas. Kalau mereka seneng, mungkin mereka mau pulang duluan."
Satria akhirnya membeli dua tiket. Ia dan Arini naik ke atas kuda kayu. Di samping mereka, secara ghaib, Mbak Suryani duduk menyamping dengan anggun di atas kuda kayu warna putih, sementara Dudung "diikat" oleh Mbak Suryani menggunakan selendangnya di tiang komedi putar supaya tidak jatuh.
Saat komedi putar mulai berputar, Satria melihat kebahagiaan yang tulus di wajah Arini. Cahaya lampu warna-warni memantul di matanya. Di saat yang sama, ia juga melihat Mbak Suryani tertawa lepas, rambut panjangnya tertiup angin ghaib.
"Ternyata, mereka cuma mau ngerasain apa yang kita rasain, Sat," ujar Arini lembut. "Keinginan buat ngerasa 'hidup' itu nggak pernah hilang, meskipun raganya udah nggak ada."
Satria tertegun. Ia meraih tangan Arini. "Lo bener, Rin. Kadang gue terlalu fokus buat ngusir atau ngelawan mereka, sampai gue lupa kalau mereka juga punya perasaan."
Keharmonisan kencan ganda itu terusik ketika mereka melewati sebuah pohon beringin besar di sudut taman yang sudah lama terkenal angker. Di sana, ada sekelompok hantu preman lokal yang tidak suka melihat ada "hantu sekolah" yang masuk ke wilayah mereka.
“Woi! Mau ke mana lo pocong rebahan dan mbak kunti dasteran? Ini wilayah kita!” geram sesosok hantu pria bertato ghaib dengan mata merah.
Dudung yang biasanya penakut, tiba-tiba berdiri di depan Satria dan Arini. “Jangan ganggu! Ini temen-temen saya! Mas Satria ini indigo sakti, sekali lempar garam kalian jadi asinan semua!”
Hantu preman itu tertawa meremehkan dan mulai mengepung mereka. Satria sudah siap merogoh sakunya, tapi Mbak Suryani justru yang maju. Ia mengeluarkan teriakannya yang paling melengking hingga frekuensinya memecahkan beberapa bola lampu di taman tersebut.
“PERGIIIIII! JANGAN RUSAK MALAM MINGGU SAYA!”
Teriakan Mbak Suryani begitu kuat hingga hantu-hantu preman itu lari kocar-kacir masuk ke dalam batang pohon. Orang-orang di sekitar hanya mengira itu adalah suara gesekan kabel listrik yang korslet.
Setelah keributan kecil itu, mereka berakhir di tepi danau buatan yang tenang. Satria dan Arini duduk di bangku taman, sementara Dudung dan Mbak Suryani duduk di atas permukaan air danau (karena mereka tidak punya berat badan).
"Rin, maaf ya kencan pertamanya jadi ramai begini," kata Satria tulus.
Arini menyandarkan kepalanya di bahu Satria. "Nggak apa-apa, Sat. Malah jadi kencan yang paling nggak terlupakan. Lagian, aku jadi ngerasa punya pengawal pribadi yang super banyak."
Tiba-tiba, Ucok muncul dari bawah bangku taman. “Ehem! Jangan lupakan saya! Saya tadi sibuk nyopet kelereng anak-anak di sana buat biaya operasional ghaib kita!”
"Ucok! Balikin kelerengnya!" seru Satria dan Arini berbarengan.
Mbak Suryani melayang kembali ke daratan, ia tampak lebih bersinar dari biasanya. “Makasih ya, Satria, Arini. Sudah lama banget saya nggak ngerasa sebahagia ini. Dunia manusia ternyata tetep indah ya, kalau dilihat bareng orang yang tepat.”
Dudung hanya mengangguk-angguk setuju, balon gasnya masih ia pegang erat.
Saat mengantar Arini pulang, suasana menjadi jauh lebih tenang. Mbak Suryani dan Dudung sudah "tidur" di dimensi mereka masing-masing, mungkin kelelahan setelah berkeliling taman.
"Sat, makasih buat malam ini," ucap Arini di depan pagar rumahnya.
"Sama-sama, Rin. Besok-besok kalau mau jalan lagi, gue bakal pasang segel ghaib di motor supaya nggak ada yang numpang."
Arini tertawa dan mengecup pipi Satria singkat sebelum berlari masuk ke dalam rumah. Satria terpaku di tempat, wajahnya memerah padam. Ia menyentuh pipinya dengan tangan gemetar.
“CIEEEEEEEEE! BOS SATRIA DICIUM! CIEEEEE!” teriak Ucok, Mbak Suryani, dan Dudung serempak dari dimensi sebelah, membuat kesunyian malam itu pecah seketika.
"Kalian! Diem nggak?!" teriak Satria sambil buru-buru menyalakan motornya dan pergi dengan kecepatan penuh karena malu.
Bab 33 ditutup dengan Satria yang pulang sambil senyum-senyum sendiri di bawah sinar bulan. Ia menyadari bahwa hidupnya sebagai seorang indigo tidak akan pernah bisa "normal" sepenuhnya. Tapi dengan adanya Arini di sampingnya, dan sekumpulan makhluk astral yang (meskipun menyebalkan tapi) setia, ia merasa bahwa dunianya yang aneh ini jauh lebih berwarna daripada dunia manusia biasa.