NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Makam yang Berbicara

Xiao Chen tidak bergerak. Yue Que di tangannya siap diayunkan kapan saja, tapi sesuatu dalam suara Jenderal Tanpa Bayangan menahannya. Bukan ancaman. Melainkan... kelelahan. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunggu dan hampir menyerah.

Ren Li tidak sama sabarnya. Belati hitam di tangannya berputar, siap dilempar. "Jangan dengarkan dia, Xiao Chen. Dia Utusan Langit. Mereka pintar memanipulasi."

"Manipulasi?" Jenderal Tanpa Bayangan tertawa—separuh suaranya merdu, separuhnya seperti serak mayat. "Anak Bayangan Bulan, kau bahkan tidak tahu apa yang kau buru. Kau pikir aku membelot karena aku ingin? Kau pikir aku memilih menjadi... ini?"

Ia menunjuk wajahnya yang separuh membusuk.

Xiao Chen melangkah maju selangkah. Ren Li ingin menahannya, tapi Xiao Chen memberi isyarat untuk berhenti. "Apa yang terjadi padamu?"

Jenderal itu menatapnya lama. Mata emasnya yang masih utuh menatap Xiao Chen dengan sesuatu yang aneh—bukan permusuhan, melainkan kerinduan.

"Aku dulu seperti kau," katanya akhirnya. "Bukan pewaris Ras Dewa Patah, tentu saja. Tapi seseorang yang menolak takdir. Aku adalah kultivator biasa, naik ke Alam Surga Sejati, lalu dipilih menjadi Utusan Langit. Kupikir itu kehormatan. Kupikir aku akan melayani keseimbangan alam semesta."

Ia berhenti sejenak, separuh wajahnya yang membusuk berkedut.

"Ternyata menjadi Utusan Langit bukanlah kehormatan. Itu adalah perbudakan. Surga mencabut kehendakmu, menggantinya dengan perintah-perintah yang tidak bisa kau tolak. Kau menjadi boneka. Alat. Pembunuh atas nama 'keseimbangan'."

Ren Li menyeringai. "Lalu kenapa kau membelot? Bagaimana caranya?"

Jenderal itu menatap Ren Li dengan mata hitamnya yang kosong. "Karena aku dikirim untuk memburu sisa-sisa Ras Dewa Patah. Seratus tahun lalu, ada desas-desus tentang seorang wanita yang melarikan diri dari pembersihan Surga. Aku diperintahkan untuk menemukannya dan membunuhnya."

Xiao Chen menegang. "Wanita?"

"Ya. Dia adalah keturunan terakhir Ras Dewa Patah saat itu. Dia bersembunyi di Benua Timur Liar, menyamar sebagai manusia biasa. Aku menemukannya di sebuah desa kecil. Dia sudah tua, lemah, hidup sebagai tabib desa. Tidak ada ancaman sama sekali."

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku tidak bisa membunuhnya." Suara Jenderal itu bergetar. "Untuk pertama kalinya sejak menjadi Utusan Langit, aku merasakan sesuatu. Keraguan. Dan keraguan itu... memutuskan kendali Surga atasku. Hanya sesaat. Tapi cukup untuk membuatku berbalik dan melarikan diri."

Ren Li memotong, "Itu tidak mungkin. Kendali Surga atas Utusan Langit seharusnya absolut."

"Seharusnya." Jenderal itu tersenyum pahit. "Tapi ada satu hal yang tidak diperhitungkan Surga. Wanita itu... dia adalah ibuku. Aku tidak tahu sampai aku melihat tanda lahir di lengannya—tanda yang sama yang kumiliki. Surga telah menghapus ingatanku sebelum menjadikanku Utusan. Tapi darah... darah tidak bisa dihapus."

Ruang itu hening. Xiao Chen merasakan sesuatu yang berat di dadanya. Bukan Energi Chaos. Hanya... kesedihan.

"Aku melarikan diri ke sini," lanjut Jenderal itu. "Membangun kota ini di atas katakomba kuno peninggalan Ras Dewa Patah. Formasi di sini menyembunyikanku dari pengawasan Surga. Tapi ada harganya." Ia menunjuk wajahnya. "Tanpa kendali Surga, tubuhku mulai membusuk. Setengah dari diriku masih menjadi Utusan Langit, setengah lagi manusia biasa. Aku terjebak di antara dua keberadaan. Tidak hidup, tidak mati."

Xiao Chen menatapnya. "Kenapa kau menungguku?"

"Karena kau adalah pewaris berikutnya. Wanita tua itu—ibuku—meninggal bertahun-tahun yang lalu. Tapi sebelum mati, dia berbisik padaku tentang seorang anak yang akan lahir dengan Tulang Patah Surga. Dia bilang, suatu hari nanti, anak itu akan datang ke sini. Dan dia akan membutuhkan apa yang kujaga."

"Apa yang kau jaga?"

Jenderal itu bangkit dari altarnya. Gerakannya kaku, seperti mayat hidup. Ia berjalan ke sudut ruangan, ke sebuah peti batu yang sebelumnya tidak terlihat oleh Xiao Chen. Ia membukanya.

Di dalamnya, ada sebuah bola kristal hitam. Di dalam bola itu, sesuatu berputar—seperti galaksi mini yang terperangkap.

"Ini adalah Inti Kenangan Leluhur. Ibuku menyimpannya selama puluhan tahun, menunggu pewaris yang tepat. Di dalamnya ada semua pengetahuan Ras Dewa Patah—bukan hanya teknik kultivasi, tapi juga sejarah, peta dunia kuno, dan... lokasi senjata terkuat yang pernah diciptakan ras-mu."

"Senjata apa?"

"Pematah Langit. Senjata yang digunakan Leluhur Pertama untuk membunuh lima Bencana Surgawi. Senjata itu tersembunyi di suatu tempat, dan hanya Inti Kenangan ini yang tahu di mana."

Ren Li menatap bola itu dengan mata berkilat. "Itu yang kau cari, Xiao Chen. Dengan senjata itu, kau bisa—"

"Tidak secepat itu." Jenderal itu menatap Ren Li dengan curiga. "Anak Bayangan Bulan, kau terlalu bersemangat. Apa sebenarnya tujuanmu?"

Ren Li tersenyum tipis. "Aku sudah bilang. Sekteku ingin tahu cara memutuskan kendali Surga."

"Itu bohong." Mata Jenderal itu menyipit. "Sekte Bayangan Bulan sudah lama dimusnahkan Surga. Tiga puluh tahun yang lalu. Aku tahu karena aku merasakan Bencana yang dikirim ke Pegunungan Barat."

Ren Li membeku.

"Jadi," lanjut Jenderal itu, suaranya berubah dingin. "Siapa kau sebenarnya... Utusan?"

Senyum Ren Li perlahan menghilang. Wajahnya yang tadinya ramah berubah menjadi sesuatu yang lain—kosong, tanpa emosi, seperti boneka.

"Kau terlalu pintar, Jenderal," katanya, suaranya kini datar dan bergema. "Harusnya kau tetap diam dan memberikan Inti itu."

Tubuh Ren Li mulai berubah. Kulitnya mengelupas, memperlihatkan cahaya putih menyilaukan di bawahnya. Matanya berubah menjadi bola-bola cahaya murni. Sayap-sayap cahaya muncul dari punggungnya—bukan sayap burung, tapi sayap yang terbuat dari tulisan-tulisan kuno yang terus bergerak.

"Utusan Langit," desis Jenderal itu. "Mereka akhirnya menemukanku."

Xiao Chen mencabut Yue Que sepenuhnya. Energi Chaos di seluruh tulangnya menyala serempak. Hui, yang merasakan perubahan dari atas, melolong panjang.

Utusan Langit yang menyamar sebagai Ren Li menatap Xiao Chen dengan mata cahayanya. "Pewaris Ras Dewa Patah. Kau dan Jenderal akan mati di sini. Lalu aku akan mengambil Inti Kenangan itu dan menghancurkannya. Ras Dewa Patah akan benar-benar punah... selamanya."

Xiao Chen mengangkat pedangnya. "Coba saja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!