''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Keesokan harinya, aku kembali menjadi wanita porselen yang sempurna. Tidak ada sisa isak tangis semalam, yang ada hanyalah Rana yang tajam dan presisi. Aku menenggelamkan diriku dalam tumpukan berkas penting dari berbagai klien besar. Monitor laptopku penuh dengan angka, grafik, dan laporan strategi yang harus kuselesaikan sebelum siang berakhir.
Pekerjaan adalah obat bius terbaik. Dengan menyibukkan diri pada urusan klien-klien lain, aku mencoba membungkam bisikan dendam yang tadi malam membara di kepalaku. Aku memilah data, membedah risiko, dan menyusun rencana promosi seolah-olah hidupku tidak sedang berada di ambang kehancuran emosional.
Namun, setiap kali jemariku menyentuh tumpukan berkas Wira Pratama yang terselip di sudut meja, hatiku berdenyut dingin. Aku tahu, di dalam sana ada data sensitif yang sudah kumulai "tandai". Aku hanya butuh waktu yang tepat untuk menarik benang yang bisa meruntuhkan istana itu.
"Mbak Rana, kopi hitamnya," Maya meletakkan cangkir di meja, menatapku dengan sedikit khawatir. "Mbak terlihat sibuk sekali hari ini. Jangan lupa makan siang, Mbak. Sore nanti kan ada jadwal rutin dengan Abiwangsa Group."
Aku mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Terima kasih, May. Siapkan saja ruangannya jam empat sore nanti. Pastikan data distribusi kain sutra terbaru sudah siap untuk ditinjau Pak Farez."
Waktu berlalu begitu cepat saat otak dipaksa bekerja melampaui batas. Sore pun tiba, membawa aroma hujan yang mulai tercium dari balik jendela kantor.
Tepat pukul empat, pintu ruang rapat terbuka. Farez masuk dengan langkah mantapnya. Ia mengenakan kemeja abu-abu gelap yang lengannya sudah tergulung rapi. Tatapannya langsung tertuju padaku, seolah ia bisa melihat menembus lapisan riasan tebal yang kupakai untuk menutupi kelelahan semalam.
"Selamat sore, Ibu Rana," ucapnya, suaranya yang soft-spoken kini terdengar lebih berwibawa di dalam ruang profesional ini.
"Selamat sore, Pak Farez," jawabku formal, membuka laptop dan menyodorkan beberapa berkas fisik ke hadapannya. "Sesuai jadwal konsultasi rutin mingguan kita, hari ini kita akan meninjau efisiensi jalur distribusi kain untuk tiga proyek besar, termasuk... Wira Pratama."
Farez tidak langsung melihat berkas itu. Ia justru menopang dagu, menatapku dengan intensitas yang membuatku gelisah. "Kamu terlihat sangat sibuk hari ini. Maya bilang kamu bahkan tidak keluar ruangan untuk makan siang."
"Saya hanya ingin memastikan semua urusan klien tertangani dengan baik, Pak," jawabku datar, mencoba menjaga jarak profesional agar pertahananku tidak jebol lagi seperti di taman atau di mobil tempo hari.
Farez menghela napas pendek, lalu mulai membuka berkas di depannya. Namun, saat jemarinya menyentuh laporan strategiku untuk Wira Pratama, ia berhenti. Matanya menyipit, membaca satu klausul kecil yang baru saja kusisipkan di sana secara halus—sebuah klausul yang bisa menjadi "bom waktu" bagi aliran kas perusahaan Ayah jika terjadi sedikit saja keterlambatan pengiriman.
"Rana," panggilnya, kali ini tanpa embel-embel 'Ibu'. Ia memutar berkas itu ke arahku, menunjuk poin yang kumaksud. "Klausul ini tidak ada di draf minggu lalu. Ini sangat berisiko bagi pihak klien. Apa yang sedang kamu rencanakan?"
Aku menelan ludah, menatap matanya yang seolah mampu membaca isi kepalaku yang penuh dengan rencana balas dendam. "Itu hanya bentuk perlindungan ekstra bagi perusahaan konsultan kami, Pak Farez. Bisnis harus jujur dan transparan, bukan?"
Farez menutup berkas itu dengan bunyi brak yang cukup keras, membuatku tersentak. Ia berdiri, berjalan memutari meja hingga posisinya kini tepat di samping kursiku.
"Jangan gunakan pekerjaanmu sebagai senjata untuk menghancurkan dirimu sendiri, Rana," bisiknya tajam namun penuh kekhawatiran. "Aku mengenalmu. Aku tahu cara kerjamu. Dan aku tahu... mata ini tidak sedang bicara soal bisnis."
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku Rez,Rana yang kamu kenal sudah mati lima tahun lalu','' desisku tanpa sedikit pun keraguan di mataku.
Aku berdiri, membuat jarak di antara kami. Suara kursiku yang berderit nyaring di lantai ruang rapat yang sunyi seolah menegaskan batasan yang baru saja kubuat. Aku menatapnya lurus, menantang dominasi yang coba ia bangun.
"Rana yang dulu itu naif. Dia percaya pada janji, dia percaya pada kesetiaan, dan dia percaya bahwa dunia ini adil," lanjutku, suaraku merendah namun tajam seperti sembilu. "Rana yang sekarang tahu bahwa di dunia ini, hanya ada pemangsa dan mangsa. Dan aku tidak akan pernah menjadi mangsa lagi."
Farez tidak mundur. Ia justru mengambil satu langkah lebih dekat, hingga aku bisa merasakan radiasi kemarahan sekaligus kepedihan yang memancar dari tubuhnya.
"Menjadi pemangsa bukan berarti kamu harus menghancurkan martabatmu sebagai profesional, Rana," sahutnya dengan nada yang bergetar menahan emosi. "Aku melihat draf ini. Jika Wira Pratama menandatanganinya, satu kesalahan kecil dalam distribusi—yang bahkan di luar kendali mereka—bisa membuat aset mereka disita. Kamu tidak sedang mengamankan kontrak, kamu sedang menggali lubang kubur untuk mereka."
"Lalu apa bedanya dengan apa yang dia lakukan pada Ibuku?!" teriakku tertahan, emosi yang kupendam sejak tadi malam akhirnya merembes keluar. "Dia mencuri ide Ibu, dia membangun kejayaannya di atas keringat Ibu, lalu dia membuang kami seolah kami tidak pernah ada! Aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi hak kami, Rez. Lewat cara yang mereka mengerti: angka dan kontrak."
Farez terdiam. Wajahnya mengeras, namun sorot matanya melembut, seolah ia baru saja melihat seorang anak kecil yang sedang memegang pisau karena ketakutan.
"Aku tahu mereka pantas mendapatkannya," bisik Farez, suaranya kini kembali menjadi soft-spoken yang menyesakkan dada. "Tapi kamu tidak pantas menjadi kotor hanya untuk membalas orang yang kotor, Na. Jangan biarkan kebencianmu pada 'beliau' merubahmu menjadi sosok yang paling kamu benci di dunia ini."
Aku memalingkan wajah, tidak sanggup menatap ketulusan di matanya. "Aku tidak butuh ceramah moral, Pak Farez. Kita di sini untuk urusan bisnis. Jika Anda merasa klausul ini mengganggu integritas Abiwangsa Group, silakan beri catatan resmi. Jika tidak, tanda tangani laporan progres ini agar saya bisa kembali bekerja."
Farez menatap berkas di meja, lalu kembali menatapku. Tanpa diduga, ia meraih pulpennya, namun bukannya menandatangani, ia justru menuliskan sesuatu di sudut kertas dengan tulisan tangannya yang tegas.
“Disetujui dengan catatan: Distribusi di bawah pengawasan ketat Direktur Utama Abiwangsa.”
Ia meletakkan pulpen itu dengan denting halus. "Aku akan menandatanganinya. Bukan karena aku setuju dengan caramu, tapi karena aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini sendirian. Jika kamu ingin menarik benang itu, aku yang akan memegang ujungnya, agar saat semuanya runtuh, kamu tidak ikut terkubur di dalamnya."
Ia merapikan jasnya, memberikan satu tatapan terakhir yang sarat akan proteksi sebelum berbalik menuju pintu.
"Sampai bertemu besok pagi di lokasi peninjauan, Rana. Pak Bagaskara bilang, Pak Wira sendiri yang akan turun langsung untuk memfinalisasi kontrak ini. Siapkan dirimu, karena besok bukan lagi soal berkas, tapi soal menatap matanya."
Pintu tertutup rapat, meninggalkan aku yang luruh kembali ke kursi dengan tangan yang bergetar hebat. Aku menatap catatan kecil dari Farez di atas berkas itu. Dia tahu rencanaku, dia menentangnya, tapi dia tetap memilih untuk berdiri di sisiku.