SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Formula
Kegelapan di dalam cairan kimia hijau itu terasa seperti pelukan yang mencekik namun tidak mematikan. Arga tenggelam semakin dalam, dan meskipun cairan itu memenuhi paru-parunya dengan sensasi dingin yang membakar, tubuhnya tidak mati. Secara aneh, ia masih bisa bernapas, menyerap oksigen melalui pori-pori kulit dengan cara yang melanggar segala logika biologi manusiawi. Tinta hitam di lengannya berdenyut liar, memancarkan cahaya ungu yang menjadi satu-satunya penanda arah di tengah lautan cairan yang pekat.
Saat tubuhnya akhirnya menghantam dasar yang keras dan dingin, sebuah mekanisme otomatis bekerja. Cairan hijau itu tersedot keluar melalui saluran pembuangan dengan suara desisan yang panjang, meninggalkan Arga tergeletak lemas di atas lantai besi yang berkarat dan licin.
Ia berada di Ruang Isolasi.
Ruangan ini jauh lebih tua dan lebih suram dibandingkan laboratorium di lantai atas. Dindingnya terbuat dari beton tebal yang lembap, ditumbuhi lumut hitam yang tampak hidup dan berdenyut pelan seolah memiliki nadi sendiri. Di tengah ruangan terdapat meja kerja kayu yang sudah rapuh dimakan waktu, dipenuhi tumpukan berkas-berkas yang sebagian besar sudah hancur menjadi bubur kertas. Namun perhatian Arga tertuju pada sebuah lemari besi kecil di sudut ruangan yang masih terkunci rapat, dengan lampu indikator merah yang berkedip-kedip dengan ritme yang menegangkan.
Arga berjalan tertatih-tatih mendekati meja kerja. Di sana, tergeletak sebuah buku catatan bersampul kulit tebal yang masih utuh. Ia mengambilnya dan membuka halaman pertama. Tulisan tangan tua tertulis rapi dengan tinta hitam pekat.
PROYEK AMARANTH. LOG PENELITIAN 1970.
Setiap baris yang dibaca Arga terasa seperti pukulan palu yang menghancurkan kewarasannya.
Catatan itu menceritakan tentang penemuan "Titik Nol" di bawah tanah sekolah ini. Energi yang ada di sana bukanlah energi mistis biasa, melainkan sisa-sisa kekuatan murni dari entitas yang belum selesai. Sang Arsitek memiliki obsesi untuk menciptakan Siswa Abadi, sebuah konsep di mana pengetahuan dan keabadian disatukan dalam tubuh yang terbuat dari campuran daging dan mesin.
Namun bagian yang paling membuat darah Arga membeku adalah catatan bertanggal Agustus 1970. Tertulis jelas bahwa mereka membutuhkan darah dengan resonansi Indigo yang spesifik, dan keluarga Widya adalah target yang telah ditentukan sejak awal. Semua yang menimpa Raka dan dirinya bukanlah kebetulan, melainkan takdir yang telah dirancang puluhan tahun lalu bahkan sebelum mereka lahir.
Catatan selanjutnya mengungkapkan konflik internal. Dr. Elena menemukan cara memisahkan rasa sakit dari kesadaran, namun Sang Arsitek mulai menunjukkan tanda-tanda kegilaan, berniat bukan hanya menguasai sekolah, melainkan menjadi sekolah itu sendiri.
Suara langkah kaki yang berat menggema dari lorong gelap, memutuskan bacaan Arga. Ia segera menyelipkan buku catatan itu ke balik seragamnya.
"Membaca sejarah orang mati tidak akan menyelamatkanmu, Arga," suara Dr. Elena terdengar lembut namun penuh ancaman.
Wanita itu muncul, melayang beberapa sentimeter di atas lantai. Gaun peraknya berpendar, membuat lumut di dinding tampak meringis seolah kesakitan. Ia berargumen bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah kejahatan, melainkan evolusi. Untuk mencapai kesempurnaan, kemanusiaan yang lemah harus dibuang.
"Kemanusiaan bukan kelemahan!" bantah Arga tegas.
Elena hanya tersenyum sinis dan mengibaskan tangannya. Dinding di belakangnya terbuka, menampakkan tabung kaca raksasa yang menjadi pusat ruangan. Di dalamnya, Raka mengapung tenang. Tubuh kakaknya kini penuh dengan sambungan logam dan kabel yang menancap ke tulang belakang. Namun yang paling mengerikan adalah bagian dadanya yang transparan, memperlihatkan bahwa jantung organiknya telah hilang, digantikan oleh sebuah mesin jam kecil yang berdetak dengan cahaya biru yang intens.
"Dia adalah mahakarya kami," ujar Elena bangga. "Tapi mesin itu butuh pelumas. Dan hanya darah Indigo-mu yang bisa melakukannya."
Serangan dimulai tanpa peringatan. Kabel-kabel dari dinding melesat seperti ular hidup mencoba melilit Arga. Arga menghindar dan membalas dengan ledakan energi kecil, namun ruangan itu mulai bergetar hebat. Suara alarm yang memekakkan telinga tiba-tiba berbunyi bertalu-talu.
"Sistem pembersihan otomatis aktif!" teriak suara Lintang dari pengeras suara yang entah bagaimana masih berfungsi. "Arga, kau punya waktu tiga menit sebelum seluruh ruangan ini terisi asam pekat!"
Situasi menjadi genting. Namun di tengah kepanikan, mata Arga menangkap sesuatu di bawah meja. Sebuah brankas kecil yang retak, dan di dalamnya terdapat sebuah wadah kaca kecil berisi cairan yang berkilauan seperti emas cair. Itu adalah "Penetral Amaranth" yang disebutkan dalam catatan lama, satu-satunya zat yang bisa melawan formula buatan mereka.
"Jangan sentuh itu!" raung Elena. Wajahnya mulai berubah, kulitnya mengelupas menampakkan bahwa ia pun bukan manusia seutuhnya, melainkan campuran daging dan logam yang sama mengerikannya dengan manekin-manekin itu.
Arga tidak peduli. Ia merangkak, menghindari semburan energi perak, dan berhasil meraib botol emas itu. Ia tahu ia tidak bisa memecahkan tabung Raka secara fisik tanpa membunuh kakaknya. Ia harus memasukkan formula ini ke dalam sistem sirkulasi utama.
"Lintang, arahkan aliran ke pipa masukan tangki utama!" teriak Arga.
"Amanah diterima!"
Arga berlari menembus genangan cairan yang mulai naik dan membakar sepatunya. Elena menerjang dengan kecepatan kilat, kuku tajamnya mencakar bahu Arga hingga mengeluarkan darah. Namun Arga berhasil melewatinya, mencapai bagian belakang tabung raksasa dan menemukan lubang kecil dengan simbol matahari.
Dengan tangan gemetar, ia memasukkan botol emas itu ke dalam saluran tersebut dan mendorong isinya masuk sepenuhnya.
Reaksinya instan dan dahsyat. Cahaya biru di dalam dada Raka berubah menjadi putih menyilaukan. Cairan di dalam tabung mendidih bukan karena panas, melainkan karena reaksi kimia yang meluruhkan semua unsur buatan. Rantai-rantai logam melemah dan terlepas.
Elena menjerit histeris saat formula penetral itu menyebar melalui udara. Tubuhnya mulai meluruh dan meleleh, kembali menjadi gumpalan daging dan cairan yang tidak berdaya. Ia mengutuk Arga dengan sisa napasnya sebelum akhirnya lenyap tak berbentuk.
Seluruh struktur Ruang Isolasi runtuh. Langit-langit ambruk, dan tabung kaca tempat Raka berada pecah berkeping-keping. Arga berlari menyambar tubuh kakaknya yang jatuh. Kali ini, tubuh Raka terasa hangat. Mesin di dadanya telah mati, dan di tempatnya, detak jantung manusia yang lemah namun nyata mulai bisa dirasakan.
"Arga..." Raka berbisik pelan, matanya terbuka sedikit. "Asisten lainnya... mereka masih ada..."
Arga menoleh ke arah pintu keluar. Dari kegelapan lorong, puluhan sosok baru mulai bergerak maju. Mereka adalah prototipe-prototipe yang baru selesai dirakit, mata mereka menyala merah seragam.
Buku catatan tahun 1970 di saku Arga terasa sangat panas. Ia menyadari bahwa mengalahkan Elena hanyalah mematikan satu keran dari sungai racun yang besar. Konspirasi Proyek Amaranth sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah, dan mungkin bahkan ke luar gerbang.
Arga menggendong Raka di punggungnya. Tinta hitam di lengannya bersinar terang, membentuk pedang energi ungu yang lebih besar dan lebih tajam dari sebelumnya.
"Ayo pulang, Kak," bisik Arga. "Mereka ingin perang? Kita beri mereka perang."
Dengan langkah tegap, Arga maju menyambut pasukan sains dan kegelapan yang menunggu di depan pintu. Babak di Laboratorium Kimia telah usai, namun misteri mengenai keluarga mereka dan asal-usul kekuatan Indigo baru saja mulai terkuak.