Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kepala Desa
Rumah kepala desa berbeda dari rumah-rumah lain yang mereka lewati. Lebih besar. Lebih kokoh. Dindingnya dari kayu belian yang hitam legam dan mengkilap karena usia. Pintunya tinggi, diukir dengan motif-motif yang tidak bisa Bambang pahami bentuknya. Di halaman depan, ada tiang bendera tanpa bendera. Di samping rumah, ada sebuah bangunan kecil yang mungkin kantor desa. Tapi tidak ada lampu menyala. Tidak ada orang. Hanya kesunyian yang tebal.
Bambang mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Dia mengetuk lagi, lebih keras. Masih tidak ada jawaban. Ucok mendorong pintu perlahan. Pintu itu tidak terkunci. Terbuka dengan suara berdecit yang panjang dan melengking.
Di dalam, ruang tamu yang luas. Meja kayu panjang di tengah. Kursi-kursi mengelilinginya. Dinding-dinding dipenuhi foto. Foto orang-orang dengan pakaian adat. Foto pemuda-pemudi dengan senyum lebar. Foto seorang pria tua dengan kumis tebal dan sorot mata yang tajam. Di sudut ruangan, ada radio tua. Di meja, ada telepon. Telepon kabel. Warna krem. Tutupnya berdebu. Tapi itu telepon. Itu harapan.
"Kepala desa?" panggil Bambang.
Tidak ada jawaban.
Mereka berjalan lebih dalam. Melewati ruang tamu. Melewati lorong pendek. Sampai di sebuah ruangan yang mungkin kamar tidur. Pintunya setengah terbuka. Bambang mendorongnya pelan.
Seorang pria tua terbaring di ranjang. Pakaiannya rapi. Kemeja putih lengan panjang. Celana hitam. Rambutnya disisir ke belakang. Matanya terpejam. Dadanya naik turun pelan. Dia tidur. Atau mungkin pingsan. Atau mungkin...
"Bapak?" panggil Bambang.
Pria tua itu membuka mata. Perlahan. Matanya sayu. Menatap Bambang tanpa ekspresi. Kemudian matanya beralih ke Ucok. Masih tanpa ekspresi.
"Kalian dari pabrik karet," kata pria tua itu. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
"Iya, Pak," jawab Bambang. "Kami kabur. Kami butuh bantuan. Boleh kami pinjam telepon?"
Pria tua itu tidak menjawab. Dia terus menatap Bambang dengan mata sayu itu. Kemudian dia menghela napas panjang. Napas orang yang sudah lama lelah. Napas orang yang sudah kehabisan harapan.
"Kalian tidak bisa pulang," katanya pelan.
"Apa maksud Bapak?"
"Kontrak kalian. Perusahaan akan menagih. Keluarga kalian jadi jaminan."
"Kami tidak peduli kontrak, Pak. Kami lebih baik bayar denda daripada mati di sana."
Pria tua itu tertawa. Tertawa kecil. Tertawa pahit. "Denda? Kalian pikir perusahaan akan terima denda? Mereka tidak butuh uang kalian. Mereka butuh kalian. Kalian adalah... bahan baku."
Bambang merasakan dingin di punggungnya. "Bahan baku." Kata yang sama dengan yang diucapkan Ucok dulu. "Umpan. Bahan baku. Manusia karet."
"Bapak tahu tentang pabrik itu?" tanya Ucok dari belakang Bambang.
Pria tua itu mengangguk pelan. "Anak saya bekerja di sana. Lima tahun lalu. Dia satpam. Seperti kalian. Suatu malam, dia pulang. Tapi bukan pulang seperti biasanya. Dia berdiri di halaman rumah ini. Tengah malam. Matanya kosong. Kulitnya hitam. Keras. Seperti karet."
Bambang dan Ucok saling bertatapan.
"Anak Bapak bernama?" tanya Ucok.
"Slamet."
Bambang mengingat-ingat nama-nama di dinding kantin. Tidak ada Slamet. Mungkin dinding kantin tidak mencatat semua korban. Atau mungkin Slamet termasuk batch pertama. Sebelum dinding itu mulai dicoret.
"Apa yang terjadi dengan Slamet setelah itu?" tanya Bambang.
Pria tua itu menutup matanya. Tangannya yang keriput menggenggam sprei ranjang. "Dia dibawa perusahaan. Mereka bilang dia kecelakaan kerja. Mereka bilang dia akan dirawat. Tapi saya tidak pernah melihatnya lagi. Hanya surat. Surat pemberitahuan bahwa dia meninggal. Juga uang. Uang banyak. Uang tutup mulut."
"Kenapa Bapak tidak lapor polisi?"
Pria tua itu membuka matanya. Sorotnya tajam sekarang. Tajam dan penuh kemarahan. "Polisi? Polisi di sini juga takut. Perusahaan ini besar. Perusahaan ini punya siapa saja. Gubernur. Jenderal. Semua bisa dibeli."
Bambang terdiam.
"Pak, kami tetap harus coba," kata Bambang akhirnya. "Kami tidak bisa diam. Kami tidak bisa menyerah."
Pria tua itu menatap Bambang lama. Matanya berubah. Tidak lagi tajam. Tidak lagi marah. Yang ada hanya kesedihan yang dalam.
"Telepon di meja itu tidak pernah berfungsi," katanya pelan. "Sudah lima tahun. Tidak ada yang pernah memperbaikinya. Desa ini terisolasi. Tidak ada sinyal. Tidak ada internet. Satu-satunya akses ke dunia luar adalah jalur darat. Itu pun harus melewati pabrik kalian."
Bambang merasakan harapannya runtuh seketika.
"Jadi kita tidak bisa minta bantuan?" bisik Bambang.
Pria tua itu menggeleng. "Tidak dari sini. Satu-satunya harapan kalian adalah terus berjalan. Ke selatan. Dua hari perjalanan dari sini, ada kota. Kecil. Tapi ada kantor polisi. Ada telepon. Tapi kalian harus melewati hutan. Dan malam akan segera tiba."
Ucok melangkah maju. Wajahnya tegang. "Dua hari? Kita tidak punya bekal. Kaki kita luka-luka. Kita tidak akan kuat."
Pria tua itu bangkit dari ranjangnya dengan susah payah. Tangannya gemetar memegang tongkat kayu di samping ranjang. Dia berjalan pelan menuju lemari di pojok ruangan. Lemari kayu tua dengan cat coklat mengelupas. Dia membukanya. Di dalam, ada beberapa potong pakaian. Sepatu boot tua. Dan sebuah tas ransel besar.
"Ini punya anak saya," katanya. "Ambil. Ada juga makanan. Tidak banyak. Tapi cukup untuk dua hari."
Bambang menerima tas ransel itu.
"Pak, kami tidak tahu harus membalas apa," kata Bambang dengan suara serak.
"Balas dengan hidup," kata pria tua itu. "Hidup. Dan lupakan pabrik ini. Lupakan semua yang kalian lihat. Jangan pernah kembali. Jangan pernah cerita ke siapa pun. Karena tidak ada yang akan percaya. Dan yang percaya pun tidak akan bisa membantu."
"Tapi Pak, kita tidak bisa diam. Perusahaan ini harus dihentikan."
Pria tua itu tersenyum. Senyum yang pahit. "Saya sudah lima tahun berusaha menghentikan mereka. Saya sudah kirim surat ke mana-mana. Ke pemerintah. Ke LSM. Ke media. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang peduli. Karena pabrik ini memberi uang. Banyak uang. Pajak untuk daerah. Lapangan kerja untuk masyarakat. Siapa yang mau menghentikan sumber uang?"
Bambang mengepalkan tangannya.
"Kami akan coba," kata Bambang. "Coba sampai ke kota. Coba lapor polisi. Coba cari wartawan. Siapa saja yang mau dengar."
Pria tua itu mengangguk pelan. "Semoga kalian berhasil. Tapi ingat, jangan berhenti di desa ini. Kalian harus terus jalan. Karena kalau kalian berhenti... mereka akan menemukan kalian."
"Siapa mereka?"
"Makhluk-makhluk itu. Dan juga... perusahaan. Mereka punya mata di mana-mana. Bahkan di desa ini. Bahkan mungkin di antara kita."
Bambang menatap pria tua itu dengan mata terbelalak. "Maksud Bapak, di desa ini ada mata-mata perusahaan?"
"Saya tidak tahu siapa. Tapi saya yakin ada. Karena setiap kali ada yang mencoba kabur dari pabrik dan sampai ke desa ini... mereka selalu ditemukan. Keesokan paginya. Di hutan. Sudah berubah. Atau sudah mati."
Bambang menggigil. "Jadi mereka yang kabur sebelum kami... mereka sampai di sini?"
"Beberapa. Tapi tidak ada yang selamat. Tidak ada yang bisa lanjut ke kota. Mereka selalu... diambil. Sebelum matahari terbit."
"Lihatlah ke luar," kata pria tua itu sambil menunjuk ke jendela.
Bambang mendekati jendela. Di luar, matahari mulai condong ke barat. Langit berwarna jingga. Bayangan-bayangan memanjang di tanah. Sebentar lagi magrib. Sebentar lagi malam.
"Kalian harus pergi sekarang," kata pria tua itu. "Jangan tunggu gelap. Jalanlah secepat mungkin. Jangan berhenti sampai kalau kalian lihat cahaya kota."
"Pak, bagaimana dengan Bapak?" tanya Bambang. "Kalau mereka tahu Bapak membantu kami..."
Pria tua itu tersenyum lagi. "Saya sudah tua. Saya sudah kehilangan anak saya. Saya tidak takut mati. Lagipula, mereka tidak akan berani menyentuh saya. Saya masih punya pengaruh di desa ini. Untuk sekarang."
Bambang menunduk dalam-dalam. Ucok melakukan hal yang sama.
"Terima kasih, Pak," kata Bambang.
"Pergilah," kata pria tua itu. "Dan jangan lihat ke belakang."
Mereka berjalan keluar dari rumah kepala desa. Matahari semakin rendah. Udara mulai dingin. Desa yang tadi sunyi kini semakin sunyi. Tidak ada suara anak-anak bermain. Tidak ada suara ayam. Yang ada hanya suara angin yang berdesir di antara rumah-rumah kayu.
Mereka berjalan cepat menuju ujung desa yang lain. Arah selatan. Jalan setapak membentang di depan mereka. Membelah ladang-ladang yang mulai gelap. Di kejauhan, hutan menunggu.
"Ucok," panggil Bambang.
"Iya."
"Kita akan sampai, kan?"
Ucok tidak menjawab.
Bambang mengikuti.
"Karena berhenti berarti mati. Karena berhenti berarti berubah. Karena berhenti berarti menjadi salah satu dari mereka."
"Dan dia tidak ingin menjadi makhluk."
Di belakang mereka, desa mulai gelap.
"Tapi di dalam hatinya, dia ingin sekali menoleh."
"Dia tidak menoleh."
"Dia terus berjalan."
Dan di belakang mereka, dari arah pabrik, dari arah hutan, dari arah desa yang mereka tinggalkan, suara-suara mulai terdengar. Samar. Jauh. Tapi jelas.
"Suara seperti karet diregangkan."
"Mereka datang."