Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 29
YANG MENGEJUTKAN
Jet pribadi itu membelah awan tipis Sisilia sebelum roda menyentuh landasan terpencil. Pintu terbuka, angin laut asin langsung menampar. Lorenzo de Santis turun tanpa menoleh. Mantel hitamnya berkibar, wajahnya datar. Dingin.
Empat pria sudah menunggu di bawah. Kaos hitam ketat, tato merayap dari leher sampai punggung tangan. Senjata terselip jelas di pinggang. Tapi tidak ada yang berani menatap mata Lorenzo lebih dari dua detik.
Salah satu yang paling besar melangkah maju. “Lorenzo de Santis. Ikut kami.”
Lorenzo tidak menjawab. Dia hanya menatap, lalu mengangguk sekali dan berjalan mengikuti mereka, tanpa pengawal dari pihak Lorenzo.
Mereka masuk ke SUV hitam. Tidak ada basa-basi. Mesin meraung, mobil meluncur membelah jalan berbatu yang diapit pohon zaitun dan tebing. Lorenzo duduk di belakang, punggung tegak, matanya menatap jendela, tapi pikirannya menghitung. Berapa tikungan? Berapa pria? Berapa peluru?
Dua puluh menit. Mobil berhenti di depan mansion kecil. Tidak sebesar miliknya di Italia, tapi elegan. Dinding batu putih, tanaman ivy merambat, penjaga bersenjata di setiap sudut.
Pintu belakang dibuka. Pria tadi menunduk. “Di dalam, Tuan Don Vito sudah menunggu Anda.”
Lorenzo turun. Langkahnya pelan tapi pasti. Sepatu kulitnya beradu dengan lantai marmer saat dia masuk.
“Kalian yakin tidak mau ikut? Mungkin saja aku membawa senjata tersembunyi untuk bos kalian.” kata Lorenzo yang sengaja menakuti mereka.
Para penjaga disana saling memandang, namun mereka percaya dan yakin. “Semoga beruntung.” balas salah satu penjaga yang hanya sekedar bercanda dingin dengan Lorenzo hingga pria bermata silver itu melangkah masuk.
Ruang tengah hangat. Perapian menyala meski Sisilia tidak dingin. Di sofa singel, seorang pria tua duduk. Rambut putih disisir rapi, jas abu-abu, mata tajam yang sama seperti di foto lama ayahnya. Dia lah, Don Vito.
Di sampingnya, seorang wanita cantik berambut gelap berdiri dan diam. Senorita.
Begitu Lorenzo masuk, Senorita menunduk. “Permisi.” Dia melangkah keluar tanpa suara sampai pintu tertutup pelan.
Tinggal mereka berdua.
Untuk sepersekian detik, tidak ada yang bicara. Don Vito menatap keponakannya. Ada sesuatu di matanya. Rindu? Sesal? Sulit dibaca. Lorenzo juga sama. Rahangnya keras, tapi tidak ada benci di sana. Hanya jarak.
“Kenapa harus ada penjagaan ketat?” Lorenzo buka suara. Dingin. Langsung. “Kenapa bertemu diam-diam seperti buronan? Dan kenapa kau memantauku?” Jeda. “Bahkan istriku yang sedang hamil.” kata Lorenzo yang mulai duduk tanpa diperintah.
Don Vito tersenyum kecil. Dia meraih botol beer dingin di meja, menuang ke gelas kristal. Didorong pelan ke arah Lorenzo. “Minumlah dulu setelah perjalanan jauh.” katanya, lalu kembali bersandar. “Pertanyaanmu begitu banyak untuk seseorang seperti de Santis.”
Lorenzo tidak menyentuh gelas itu. Dia hanya menatapnya beberapa detik, lalu meraih gelas itu dan meneguknya hingga habis hanya sekali tegukan.
Don Vito menghela napas, hati-hati. “Karena kalau de Santos tahu aku masih bisa bicara denganmu, mereka akan habisi kita berdua sebelum matahari terbit.”
“Bagus.” Lorenzo bersandar dengan tangan kiri bertengger di lengan sofa singel lainnya. “Langsung ke intinya. Aku tidak ke sini untuk reuni.”
Don Vito mengangguk. “Dulu aku dan Emilio seperti saudara. Darah boleh tidak sama, tapi sumpah kita sama. Sampai perempuan itu datang menjemputmu.”
“Monica.” Nama itu keluar dari mulut Lorenzo seperti meludah. “Aku sudah tahu semua cerita itu.”
“Ya.” Don Vito menatapnya lurus nan datar. “Kau tahu soal Leonor, ibumu. serta... Kematiannya.”
Lorenzo tidak menjawab. Tapi jarinya mengetuk lengan lutut sekali dan tatapannya tajam, dingin serta rahangnya mengeras.
“Hampir 20 tahun aku akan dipenjara, Loren. Karena kebodohan Emilio.” ujar Don Vito yang meneguk minumannya.
Lorenzo masih diam menatapnya, hingga pria tua itu kembali menatapnya lagi. “Kau berpikir kau yang membunuh ibumu.” Don Vito melanjutkan dengan merogoh saku jas, mengeluarkan sesuatu, Peluru— Diletakkan di meja kaca di antara mereka. Ctakk! “Ini.”
Lorenzo menunduk, mengambil peluru itu. Memutar di jarinya seolah tatapannya tengah menghafal bentuknya. Peluru latihan miliknya.
“Itu peluru yang kau pakai latihan waktu kau remaja.” Suara Don Vito pelan. “Kau menembak tupai di halaman belakang. Tembakan yang melenceng. Dan kau tidak menembak ibumu, tapi kau menangis, terpojok ketika seseorang berpikir kaulah yang menembaknya.”
Lorenzo mengangkat wajah. Dinginnya retak sedikit. Ingatan akan kematian ibunya benar-benar mengiris dadanya.
“Mereka mengatakan bahwa akulah yang membunuhnya.” kata Lorenzo dingin, serak namun seperti pasrah, sedih yang tertahan mengingat ibunya.
Don Vito menggeleng kecil. “Peluru yang menembus tubuh Leonor bukan ini.” Don Vito menatapnya tajam. “Itu milik Emilio.”
Nama itu jatuh ke ruangan seperti batu.
Sebelum Lorenzo bisa bicara, telinganya menangkap siulan pelan. Lalu mengeras dan
BLUMMM!
Dunia meledak. Kaca pecah, api menjilat dinding. Mansion itu terangkat setengah sebelum runtuh tepat mengenai Lorenzo dan Don vito. Suara tembok ambruk itu, kayu terbakar, teriakan anak buah di luar. Hingga semuanya langsung hening seolah benar-benar tak tersisa.
Hanya suara api yang melahap sisa mansion di sana.
.
.
.
Matahari Sisilia naik malu-malu, tapi di Italia sudah siang.
Aria menggeliat. Selimut tebal, bantal empuk, dan bau Lorenzo di kemeja hitam yang masih dia peluk. Tidur paling nyenyak setelah berminggu cemas.
Dia meremas kemeja itu sekali lagi. Menghirup dalam. “Kau akan mabuk jika lama-lama menghirup aromanya!” gumamnya ke perut sembari tersenyum kecil, lalu bangkit.
Kakinya membawa keluar, karena dia butuh udara segar dan butuh waras.
Pintu rumah kedua terbuka pelan. Dia melangkah ke halaman samping. Rumput basah, angin pagi, bau melati dari kebun. Semuanya begitu tenang. Jauh dari Fabio yang berjaga di pintu utama. Jauh dari semua mata.
Dia menutup mata, menghirup udara dalam-dalam, sementara tangannya mengelus perut. “Bukankah ini segar?!”
“Udara segar memang bagus untuk kesehatan. Aku yakin dia juga menyukainya.”
Suara itu bikin bahu Aria menegang dan langsung membuka matanya, menatap lurus sedikit berkerut alis.
Matteo.
Berjalan santai dari arah rumah utama. Kaos putih, celana putih, sedikit kelombor di pinggangnya sebuah sabuk melingkar rapi. Lalu arloji perak mengilat serta rambut disisir rapi, senyuman miring. Tampan. Aria akui, tapi dia tidak suka.
Dia berhenti dua langkah dari Aria. Terlalu dekat sehingga aroma cologne-nya yang mahal itu tercium, tapi pria itu menganggu, tak berani lebih dekat.
Aria mengerutkan alis. Mundur selangkah. “Lorenzo tidak ada di rumah.” kata Aria.
Matteo tersenyum tipis. “Aku tahu. Itu sebabnya aku datang menemui mu.”
Tentu saja Aria mencoba tenang dan berani. Ia sedikit mendongak, menatap tegas ke Matteo. “Berikan aku alasan kenapa kau ingin menemui ku?” tanya Aria yang menahan aroma Matteo yang sama-sama memabukkan untuknya.
pria itu berjalan satu langkah lebih dekat, sehingga Aria tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah pria itu.
“Untuk mengatakan, kalau aku ingin bertemu dengan calon bayi ku.” kata Matteo yang seketika Aria mendorong kasar dada pria itu hingga reflek, tubuh Matteo mundur, namun senyuman terukir kecil di bibirnya.
Sementara Aria menatap marah. “Omong kosong apa itu? Jaga ucapanmu, Tuan de Santos. Mungkin kau lupa, siapa aku di rumah ini dan bayi siapa yang aku kandung. Jangan membuatku mengadukan mu pada Lorenzo.” kesal Aria yang seketika dia sadar kenapa Lorenzo ia jadikan tamengnya?
Namun Aria tak peduli, itu adalah cara satu-satunya untuk menggertak orang-orang di sana.
“Aku hanya mengatakan faktanya!” kata Matteo yang kembali mendekat, “Semua orang tahu... Bahwa yang kau kandung bukanlah milik Lorenzo, tapi milikku.” ucapannya semakin meyakinkan, begitu juga dengan tatapannya.
Aria terkejut sampai tak bisa berkedip hingga dadanya naik turun.
Langkah kaki Matteo mulai berjalan mundur. “Kita terus terang saja. Aku yang menghamili mu, dan tidak tahu kenapa, Lorenzo memanfaatkan semua itu. Dan aku mengatakannya sekarang karena aku sadar, dan aku ingin menjaga milikku.”
Kedua tangan Aria terkepal, matanya mulai berair. “Kau benar-benar yang melakukannya?”
Matteo tak menjawabnya, namun dia tersenyum yakin, sehingga Aria berpaling menahan kesedihannya.
“Jika kau tidak percaya, tanya pada pelayan di sini, bahkan mereka pun tahu. Dan percayalah, aku tidak berbohong.”
Wanita itu menatap tajam, mengangguk kecil lalu segera masuk dengan langkah cepat ia menemui Teresa di kamarnya, namun Teresa sudah tidak ada di sana.
“Teresa!” panggil Aria dengan jantung yang menggebu, hingga ia keluar kamar dan berpapasan dengan Teresa yang memang saat itu juga mencarinya.
“Nyonya Aria— ”
“Siapa ayah anak ini?” pertanyaan yang langsung menohok membuat Teresa kaget dan kebingungan.
“Kau tidak tahu?” Aria mencengkram ringan lengan Teresa. “Katakan dengan jujur, siapa ayahnya?”
Dengan gugup dan ikut bingung. Teresa menatap sendu dan menunduk. “Tu-tuan...”
“Matteo.” potong Fabio yang datang tanpa diundang.
_________________________________________