NovelToon NovelToon
ISTRI TENGIL OM DUDA

ISTRI TENGIL OM DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Beda Usia / CEO
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi Weddang Jahe

Lantaran tertidur lelap sepanjang penerbangan menuju Bali dan kehilangan momen perjalanan, Kiara Masita mendadak terperangah saat menjejakkan kaki ke dalam jet pribadi milik suaminya untuk perjalanan pulang ke Jakarta.

Bagaimana tidak? Seumur hidupnya, Kiara hanya sekali merasakan masuk ke dalam kabin pesawat. Itu pun hanya bangkai pesawat yang sudah dialihfungsikan menjadi objek wisata. Bisa dikatakan, inilah pengalaman pertamanya mengudara dengan pesawat sungguhan dan ia langsung mendapatkan fasilitas paling eksklusif yang bisa dibayangkan.

"Wow... ini luar biasa!"

Sepasang matanya membulat sempurna, mengagumi interior mewah yang menyapa indra penglihatannya. Kiara berlarian kecil dari satu sudut ke sudut lain layaknya seorang bocah yang baru menemukan taman bermain baru. Ia menyentuh setiap permukaan benda yang tampak berkilau di hadapannya, membuat para kru kabin hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah polos gadis remaja SMA tersebut.

"Ada susu tidak, Om?" tanyanya antusias sembari melompat pelan ke atas sofa kulit yang empuk.

"Ada." jawab Bara dengan nada yang dipenuhi kesabaran.

"Susu putih atau cokelat?"

"Ada susu putih, cokelat, stroberi, melon... semua rasa tersedia di sini."

"Yey! Kalau begitu, saya minta kopi saja deh."

Bara tertegun sesaat. Mengapa gadis yang kini berstatus istrinya itu semakin hari semakin sulit ditebak pola pikirnya? "Makanannya ingin apa? Ada sereal, kau mau?"

"Sereal ada? Tapi Om pasti mengira aku akan minta nasi goreng, kan?" tebak Kiara, seolah bisa membaca keraguan di wajah suaminya.

"Memang begitu pikirku. Jadi, mau nasi goreng?"

"Tidak, saya tetap mau sereal. Nasi gorengnya dibungkus saja untuk dibawa pulang." jawab Kiara tanpa dosa.

Seorang pramugari spontan tertahan tawanya mendengar jawaban polos Kiara. Namun, begitu Bara menoleh, wanita itu segera merapikan ekspresinya menjadi sangat formal dan profesional.

"Saya boleh berkeliling lagi kan, Om?" tanya Kiara yang sebenarnya sudah mengitari kabin sebanyak tiga kali. Bara hanya mengangguk pasrah.

Kiara bertepuk tangan kegirangan, kembali menjelajahi setiap jengkal jet pribadi itu. Sesekali suara Bara terdengar memenuhi ruangan, memperingatkan istri kecilnya yang terlalu aktif.

"Awas Kiara, nanti kamu jatuh!"

"Jangan mengganggu Om Pilot, Kiara!"

"Jangan buka jendelanya!"

Sederet larangan terus terlontar dari mulut Bara, hingga pria itu sendiri hampir tidak bisa menikmati ketenangan perjalanannya.

Setelah hampir satu jam mengeksplorasi pesawat, rasa kantuk akhirnya menyerang Kiara. Ia jatuh tertidur di atas sofa panjang sembari masih menyesap setangkai permen. Bara, yang menyadari suasana mendadak sunyi tanpa celotehan istrinya, mulai mendekat. Dengan gerakan perlahan, ia mengangkat kepala Kiara agar bersandar di pangkuannya.

"Selimutnya, Pak Bara." tawar seorang pramugari yang segera disambut oleh Bara. Ia menyelimuti tubuh istrinya dengan penuh perhatian agar Kiara merasa nyaman dalam tidurnya.

**

Kiara mengerjap saat merasakan getaran halus pesawat yang telah mendarat. Ia sedikit kebingungan mendapati dirinya terbangun di pangkuan Bara, terbungkus selimut hangat yang nyaman.

Bara, yang rupanya sempat terlelap, masih melingkarkan sebelah tangannya di bahu Kiara. Perlahan, gadis itu mengusap lembut tangan suaminya, lalu terdiam menatapi wajah tampan yang tengah memejamkan mata tersebut.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Kiara tersentak. Ia langsung melepaskan tangan Bara dengan gugup. Tak disangka, pria itu ternyata tidak benar-benar tertidur.

"Ngapain Om menidurkan saya di sini?" protesnya menutupi rasa malu.

"Lalu kau maunya ditidurkan di mana?" goda Bara, yang langsung dihadiahi sabetan selimut tepat di wajahnya.

Kiara bergegas merapikan rambut dan mengucek matanya yang masih terasa berat. "Pesawatnya kok diam saja, Om? Apa sedang macet?"

"Sudah landing, Kiara. Ayo turun."

Bara mengulurkan tangannya, dan Kiara menyambutnya dengan ragu. Ia segera menjauhkan wajah saat Bara hendak menyentuh sudut bibirnya.

"Cuci muka dulu sana... ilermu dimana-mana.”

Kiara refleks menyapu sudut bibirnya dengan punggung tangan sembari bersungut kesal.

"Pasti celanaku kotor kena ilermu." gerutu Bara, meski tangannya tetap menggenggam erat jemari Kiara saat menuruni tangga pesawat.

Ketenangan yang Kiara rasakan ternyata hanya bertahan beberapa jam. Setibanya di rumah, kehadiran mereka disambut atmosfer mencekam. Di sana sudah berdiri Bu Monika, sang mertua, yang datang bersama Meisya pasangan duet sejatinya dalam urusan mengusik Kiara. Belum lagi ponsel Bara yang berdering tiada henti, rentetan pesan dari Hanum yang mengadu bahwa dirinya terkunci di toilet restoran di Bali selama satu jam.

Kiara berpura-pura tidak tahu apa-apa, meski Bara sebenarnya menaruh curiga besar bahwa istrinyalah dalang di balik insiden yang menimpa Hanum.

"Selamat datang kembali, Bara. Kau bahkan tidak memberi tahu aku kalau pergi ke Bali." sambut Meisya dengan binar mata penuh sukacita.

Bagi Kiara, jika Hanum diibaratkan seperti ulat yang mengganggu, maka Meisya adalah belut sawah, gerakannya begitu lincah dan licin setiap kali mencoba mendekati Bara.

"Seharian ini Mama dan Meisya mencarimu, Bara. Asisten rumah tangga di sini tidak ada yang tahu kau ke mana. Baru setelah bertanya pada Yudha, kami tahu kau ke Bali. Kenapa kau tidak pernah menjawab telepon Mama?" protes Bu Monika panjang lebar.

"Maaf, Ma. Bara sibuk rapat." jawab Bara singkat sembari melangkah menuju kamar. Namun, langkahnya segera dihadang oleh ibu sambungnya itu.

"Mama dan Meisya sudah meracik minuman hangat untukmu. Ayo cicipi dulu."

Bu Monika menuntun putra sambungnya menuju meja makan, diikuti Meisya yang dengan sengaja menyikut bahu Kiara agar menyingkir dari sisi Bara.

"Sebaiknya kau mandi dulu, Kiara." ujar Bu Monika dengan tatapan meremehkan pada menantu barunya.

"Nanti saja mandinya, saya juga ingin mencicipi minuman hangat itu." sahut Kiara berani. Namun, Bu Monika dengan sigap menghalangi langkahnya.

Bara menoleh ke arah istrinya, lalu mengulurkan sebelah tangan, mengajak Kiara ikut serta. Gadis itu menyambutnya dengan penuh kemenangan, sembari menyunggingkan senyum usil ke arah sang mertua dan Meisya.

"Ini ada wedang jahe merah campur madu, khusus diracik Meisya untukmu, Bara." ucap Bu Monika sembari meletakkan gelas di hadapan putranya, yang justru langsung direbut oleh Kiara.

"Punya kamu yang ini, Kiara!" sergah Meisya dengan suara berat yang tertahan, sembari menyodorkan gelas yang lebih kecil.

"Biarkan saja Kiara minum yang itu.” sela Bara membela. Kiara kembali merasa di atas angin.

Gadis itu mengerutkan hidung, mencium aroma minuman yang cukup asing baginya. Remaja seusianya biasanya lebih akrab dengan rasa manis susu atau boba.

Pffffftttt!

Kiara menyemburkan cairan jahe itu tepat mengenai wajah Meisya yang tengah menatap Bara dengan senyum manjanya. Wanita itu memekik histeris saat cairan hangat tersebut membasahi wajah mulusnya.

"Iyuuh! Menjijikkan!" umpat Meisya tajam, menatap Kiara dengan amarah yang meluap. Kiara benar-benar tidak sengaja, sensasi panas yang membakar lidahnya tadi benar-benar mengejutkan.

"Maaf, Tante... saya tidak sengaja." Kiara meraih tisu, berniat membantu membersihkan wajah Meisya. Namun lagi-lagi, seolah takdir sedang usil, ia menyenggol gelas minuman jahe hingga isinya tumpah membasahi pakaian mahal yang dikenakan Meisya.

"Oh my God, kau pasti bercanda!" Meisya mengeram dengan tangan mengepal. Namun, Bara segera bergerak melindungi istrinya.

"Kiara tidak sengaja, Meisya. Kau sebaiknya pulang dulu untuk ganti baju."

1
merry
cemburu di bar bar 🤣🤣🤣🤣tp kshnn seann klo ngk di ksh tau klo Kiara dh pyn laki hrs y di ksh tau lhh ki minimal cari alsann atau cari keburuknn seann supaya pyn alsann buat putusinn seann
Siti Zumaroh
semangat thor💪 up nya
merry
hidup mu penuh wrna bar 🤣🤣🤣🤣
merry
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 klurga somplak pants Kiara juga usil
merry
kyk y bags cerita y moga Kiara thnn dgn mertua sambung Dan sepupu tiri y Bara🤭🤭🤭
Daryl Daryl
semangat thor
aku
makan ati bgt sikap bara. cb hargai dkit posisi istrimu. biarpun msh labil. 😭
Siti Zumaroh
up lagi dong💪
Nining Komalasari
masa sih sekelas CEO didompetnya ada uang sepuluh ribuan?
Rose
mana ni lanjutanya
Noona Rara: Nanti malam yah kak. Beberapa hari ini sangat sibuk
total 1 replies
Evi Lusiana
waduh,si ibu dgr jabatan ny bara lgsg luluh
Siti Zumaroh
ditunggu up nye thor
Siti Zumaroh
semangat thor💪
Siti Zumaroh
ceritanya menarik....
semangat💪 crazyup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!