NovelToon NovelToon
Everything About You

Everything About You

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:457.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

"Bukan karena aku sudah bahagia, hanya saja aku sangat pandai dalam menyembunyikan luka"

Anisa Rahmawati

Tidak ada yang indah dari sebuah pernikahan tanpa cinta, begitulah yang di rasakan oleh Dimas Prasetyo hingga dia memilih menghadirakan kembali kekasihnya sebagai istri kedua di tengah - tengah pernikahannya dengan Anisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

** Selamat membaca semuanya, tolong tinggalkan jejak dukungannya 🙏🏼**

Sekuat apapun logika seorang wanita, hati akan selalu menjadi pemenangnya. Semua luka yang membuat hati Anisa pergi dulu tidak lagi berguna sekarang. Saat melihat tawa bahagia dari dua orang yang istimewah di dalam hatinya ini semua rasa yang tidak berbentuk dulu mulai kembali membaik.

Malam kelam beberapa tahun lalu, yang membuat hati dan harga dirinya hancur, mulai pergi perlahan dari ingatannya. Luka itu semakin tersembunyi di sudut yang tidak bisa lagi orang lain lihat, saat dia melihat tawa bahagia di hadapannya. Secepat inikah semua kesakitan itu pergi. Semudah inikah semua air mata berganti dengan tawa.

Dan pada akhirnya, bahagia itu hanyalah sebuah kata yang akan di nikmati oleh orang-orang yang pandai dalam menyembunyikan luka.

Bulsiht jika semua kesakitan itu benar-benar sudah pergi, sungguh ibarat noda di sebuah pakaian, walaupun kita sudah membersihkan dengan berbagai produk tetap saja masih akan membekas di pakaian itu meskipun tidak nampak jelas terlihat dengan mata orang lain. Tapi kembali lagi pada diri masing-masing, apakah ingin terus larut dalam kesedihan ataukah melihat peluang bahagia yang Allah berikan.

Percayalah, akan sangat beruntung jika menjadi orang yang selalu berlapang dada dengan apapun yang datang menyapa. Dan Anisa menjadi salah satu dari sekian orang yang tidak ingin berlarut-larut dalam duka yang menimpanya.

Angin malam di lantai dua rumah ini begitu menyenjukkan, membuat Anisa masih belum ingin beranjak dari balkon kamar tempat dia berdiri. Menikmati hembusan angin malam yang begitu dingin yang datang menerpa wajahnya hingga mampu menyejukkan jiwanya. Sesekali dia menutup matanya sekaan menikmati perasaan yang kini mulai berbalik dari beberapa tahun lalu. Sungguh Allah adalah maha pembolak balik hati manusia, kini dia merasakannya.

"Kenapa belum tidur ?" Tanya Dimas sambil melangkah menuju pagar besi yang menjadi pagar balkon tempat Anisa berada. Tentu saja Anisa terkejut dari lamunannya saat melihat Dimas sudah berdiri di sampingnya.

Sejenak tatapannya menatap ke arah Dimas yang ikut melihat ke arah taman yang berhiaskan lampu malam di halaman rumahnya.

"Masih belum mengantuk mas." Jawab Anisa lalu kembali mengalihkan tatapannya pada objek yang kini di tatap oleh mantan suaminya.

"Ini untukmu." Dimas menyodorkan paper bag kecil ke arah Anisa.

Anisa mengalihkan tatapannya dari rerumputan juga lampu-lampu yang ada di taman, menatap sejenak pada paper bag yang menggantung di hadapannya, lalu kembali menatap ke arah Dimas.

"Itu apa ?" Tanya Anisa. Dia benar-benar tidak tahu apa yang ada di dalam paper bag ini membuat dirinya ragu untuk menerimanya.

"Ambillah dan lihatlah sendiri. Kamu akan mengetahuinya jika sudah melihatnya." Ujar Dimas masih terus menyodorkan paper bag itu ke arah Anisa. "Jika kamu tidak menginginkannya, simpanlah untuk Zia sebagai kenang-kenangan dariku." Sambung Dimas.

Anisa tersenyum lalu meraih paper bag yang ada di hadapannya namun belum berniat untuk membukanya.

"Terimakasih." Ucap Anisa tulus.

"Istirahatlah, besok pagi aku akan mengantar kalian ke Bandara." Ujar Dimas dan di angguki oleh Anisa.

Dimas lebih dulu berbalik menuju pintu pembatas balkon meninggalkan Anisa yang masih berdiri di balkon kamar sambil menatap punggungnya yang sudah memasuki kamar. Melangkah menuju kamar tidur di mana putrinya sedang terlelap. Hatinya mencelos saat tatapannya kembali tertuju pada kotak cincin yang dia berikan masih berada di atas nakas yang sama. Semuanya berakhir, hubungannya dengan Anisa hanyalah sebatas Zia dan tidak bisa lebih dari itu. Wanita itu sudah menunjukan penolakannya tanpa kata.

Setelah mengecup seluruh bagian wajah putrinya, Dimas melangkah gontai keluar dari kamar pribadinya. Mencoba menguatkan hatinya menerima penolakan dari wanita yang sudah di sia-siakan dulu. Mungkin ini setimpal dengan apa yang sudah dia berikan pada wanita itu. Penyesalan, jika kata penyesalan itu bisa di tampung seperti air di sebuah loyang, mungkin saja rumah ini tidak akan lagi bisa menampung penyesalan yang terus saja mengerogoti jiwanya.

Meskipun kali ini sudah jauh lebih baik, karena wanita itu memberikan akses penuh padanya untuk memeluk putrinya, namun tetap saja rasa sesak membuat nafasnya terasa sulit untuk di hirup.

Perjuangannya berakhir, dua wanita berharga dalam hidupnya besok akan kembali pada kehidupan mereka dan akan semakin jauh dari jangkauannya. Biarlah, mungkin inilah yang terbaik. Melepaskan adalah pilihan paling baik saat orang yang ingin kita raih tidak lagi ingin bersama.

Yah, memang sudah seharusnya seperti ini. Semua sudah menjadi jalannya, kita baru akan menyadari sesuatu itu penting dalam hidup kita, setelah kita sudah kehilangan.

"Maafkan aku, aku menyesali semuanya." Ujar Dimas lalu kembali menutup pintu kamar itu perlahan lalu turun menuju kamar tamu untuk mengistirahatkan tubuh dan perasaanya.

Setelah malam ini, wangi vanilla itu hanya akan dia nikmati di dalam kamarnya saja. Dan mungkin seiring berganti hari, wangi yang sudah menjadi kesukaanya juga akan menghilang.

Anisa masuk kedalam kamar yang baru saja di tinggalkan Dimas, lalu menutup pintu balkon dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur lelap putrinya.

Langkahnya berhenti di depan meja rias, kemudian mendudukkan tububnya di kursi yang pernah dia gunakan dulu saat masih menjadi istri Dimas.

Kotak berwarna merah itu terbuka, lalu dengan hati-hati Anisa mengambil cincin emas putih dengan berlian diatasnya itu lalu memasukkanya ke dalam kalung yang sudah dia leluarkan dari dalam paper bag sata di balkon tadi.

"Cantik." Ujar Anisa sambil tersenyum saat cincin itu sudah menggantung di lehernya bersama dengan kalung yang ada di paper bag yang Dimas berikan tadi.

"Terimakasih mas." Ujarnya lagi sambil menatap dua benda pemberian Dimas itu di depan kaca. Kata tulus itu dia ucapkan dari dalam hatinya untuk laki-laki yang sudah tidak lagi bisa mendengarnya.

***

"Baik-baik ya di sana." Ujar Ibu Mirna pada gadis kecil yang kini duduk di pangkuannya.

"Iya Eyang." Jawab Ziane dengan suara menggemaskan.

Mobil yang di kebdarai Dimas sudah melaju di jalanan Jakarta menuju Bandara. Suara nenek dan cucu itu terus terdengar di dalam mobil.

Anisa masih terus tersenyum, sungguh selama ini belum pernah dia merasa sesenang ini. Senyum yang tidak di paksakan itu terus terbirit di bibirnya. Semua beban luka yang selama ini terus mengganggunya perlahan mulai pergi.

Berbeda dengan Dimas, laki-laki itu kini terdiam. Tidak ada lagi senyum hangat seperti kemarin namun Anisa tidak terlalu mempermasalahkan. Mungkin saja Dimas belum tahu apa yang sudah dia putuskan, karena kotak cincin itu masih ada di atas meja di dalam kamar namun isinya kini sudah menggantung di lehernya yang tertutup hijab.

Suara bariton milik laki-laki itu sama sekali belum terdengar hingga mereka sampai di Bandara.

"Nis jangan lupa sering-sering kabari ibu ya nak." Ujar Ibu Mirna saat mereka sudah berada di ruang tunggu keberangkata.

"Pasti bu." Jawab Anisa.

Dimas masih diam sambil memeluk erat putrinya seakan tidak rela jika Anisa benar-benar tidak ingin bersamanya dan membawa Zia pergi.

"Mas kami pergi ya." Pamit Anisa sambil meraih tubuh kecil Zia agar berpindah kedalam pelukannya.

"Nisa..."

"Mas, kita pasti akan bertemu lagi." Sela Anisa sebelum Dimas melanjutkan kata-katanya dan semakin membuatnya tidak bisa pergi.

"Baiklah. Manchester, aku bisa kesana kapanpun kan ?" Tanya Dimas.

Anisa tidak menjawab dan hanya tersenyum ke arah mantan suaminya itu. Manchester, ah kota yang ada di negara Ratu Elisabeth itu sangat dia rindukan, namun disinilah kehidupannya.

"Sampai ketemu lagi bu." Ucap Anisa kemudian berlalu dari sana. Ibu Mirna tersenyum, dia tahu meskipun Dimas sudah melukai hati Anisa, namun putranya masih menempatkan tempat terbaik di hati mantan menantunya itu.

Dan pagi ini dia mendapatkan jawabannya, Anisa memberi kesempatan itu. Dia sudah menduga hal ini, namun tetap saja dia sangat bahagia mendengarnya.

1
falea sezi
g jelas ne novel pantes sepi like
falea sezi
tau agama tp kumpul. satu rmh ma mantan suami. yg buat novel gmna /Pooh-pooh/
falea sezi
males klo ujungnya balikan/Drowsy/ bekas rania aja. lu doyan nis begooo
falea sezi
goblok aja g bs. move on dr laki bekas jalang di kasih spek. baik kayak angga g mau oon
Annie Soe..
Cerita yg bagus thor, cuma tlg revisi typo nya ya..
Fardiana Hamsah
Luar biasa
Yunior
typo lagi
Yunior
nama orang banyak yang typo
Saini Jamudin
anak sya sja suda 5 thn masi mnyusu
Jumadin Adin
jgn ada pelakor ya thooor kasian anisa
Jumadin Adin
akhirnya cinta yg menang....horee cinta
Jumadin Adin
perasaan mengalahkan luka
Jumadin Adin
Ya Allah ANISA kamu bkn muhrim,kenapa mau di gandeng
Jumadin Adin
cinta mmg tdk masuk akal,sesakit apapun pada seseorang tp di hadapkan dg hati yg masih bersamanya...perih itu tak terasa
Jumadin Adin
sakitnya hati ini thoorr..melihat nereka berdua sama² tersakiti
Jumadin Adin
lho dimas dan ANISA kan hidupnya di apartemen.kenapa melihatnya trenyuh di rumah Dimas
Jumadin Adin
pergumulan yg menyakitkan
Jumadin Adin
sesuatu baru terasa setelah kehilangan.Pada saat msh bersama sering terabaikan
Jumadin Adin
dimas betul² jomblo ngenes.Anisa menggugat ceria,Rania di cerai krn memilih hidup dg suami orang
Jumadin Adin
thooorrr banyak typo²
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!