NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Gema dari Masa Silam

Pesawat hercules militer yang membawa Arkan dan Aisyah mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma saat gerimis tipis mulai membasuh landasan. Mereka turun bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai aset negara yang baru saja mematikan sumbu ledak biokimia di jantung hutan Kalimantan. Namun, Arkan tahu betul, Jakarta tidak pernah benar-benar membiarkan seseorang beristirahat dalam damai.

Setibanya di rumah panti yang telah direnovasi sebagian, Arkan disambut oleh pemandangan yang tak terduga. Di ruang tamu yang diterangi lampu temaram, duduk seorang pria tua dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi. Rambutnya putih perak, dan di tangannya ia memegang sebuah tongkat kayu hitam dengan kepala perak berbentuk serigala.

Arkan membeku di ambang pintu. "Tuan Malik?"

Bukan Rahman Malik, melainkan Malik Senior, kakak tertua dari mendiang ayah Aisyah yang selama ini dikabarkan mengasingkan diri di Swiss. Ia adalah arsitek finansial di balik kejayaan klan Xavier dan klan Malik tiga dekade lalu.

"Arkan... kau mirip sekali dengan ayahmu saat ia pertama kali membunuh nuraninya demi takhta," suara Malik Senior tenang, namun tajam seperti silet. "Tapi kau memiliki mata ibumu. Mata yang penuh dengan keraguan yang berbahaya."

Aisyah segera berdiri di samping Arkan. "Paman? Kenapa Paman kembali sekarang? Ayah sudah tiada, dan kami tidak ingin lagi berurusan dengan bisnis lama."

"Bisnis lama tidak pernah benar-benar selesai, Aisyah," Malik Senior berdiri, menggunakan tongkatnya untuk menunjuk ke arah brankas kuno yang kini berada di pojok ruangan. "Kau pikir Adrian dan Julian Baskara bertindak sendiri? Mereka hanyalah anak kecil yang bermain api.

Pemilik korek apinya baru saja terbangun dari tidurnya di Eropa."

Malik Senior meletakkan sebuah amplop kulit tua di atas meja. Di dalamnya terdapat surat wasiat asli dari Xavier Senior yang tidak pernah masuk ke pengadilan. Surat itu menyebutkan adanya sebuah "Zonasi Kedelapan"—sebuah protokol keamanan yang akan aktif otomatis jika seluruh garis keturunan utama Xavier (Arkan dan ibunya) dianggap "berkhianat" pada kode etik organisasi.

"Protokol itu telah aktif saat kau menyerahkan dokumen menteri ke Jaksa Hendra, Arkan," Malik Senior menatap keponakannya itu dengan prihatin. "Sekarang, aset-aset Xavier di seluruh dunia sedang dikumpulkan oleh dewan direksi rahasia yang disebut 'The Elders'. Mereka tidak ingin membunuhmu... mereka ingin kau memimpin mereka kembali, atau mereka akan menghapus seluruh jejakmu, termasuk panti ini dan istrimu."

Arkan mengepalkan tangannya. "Aku sudah selesai dengan mereka. Aku adalah calon dokter, bukan pemimpin mafia."

"Dunia tidak peduli apa yang kau inginkan, Arkan. Dunia hanya peduli siapa kau sebenarnya," Malik Senior melangkah menuju pintu. "The Elders akan mengirimkan utusan mereka besok malam.

Jika kau tidak hadir di pertemuan itu, mereka akan menganggap panti ini sebagai zona perang."

Setelah keberangkatan Malik Senior, suasana panti menjadi mencekam. Bimo dan Leo segera memperketat penjagaan, namun mereka tahu senjata api tidak akan cukup melawan pengaruh politik dan finansial 'The Elders'.

Di kamar mereka, Arkan duduk di tepi tempat tidur, menatap tangannya yang bersih dari darah namun terasa sangat berat. Aisyah mendekat, duduk di depannya, dan menggenggam kedua tangan Arkan.

"Kita bisa lari, Arkan. Jaksa Hendra bisa membantu kita bersembunyi di luar negeri," bisik Aisyah.

"Tidak, Aisyah. Jika kita lari, kita hanya akan memindahkan medan perang ke tempat lain. Dan anak-anak di sini... mereka tidak punya tempat lari," Arkan menatap mata istrinya. "Aku harus menghadapi mereka. Tapi bukan sebagai Arkan Xavier sang ahli waris. Aku akan menghadapi mereka sebagai Arkan sang penyembuh."

Aisyah mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"The Elders terdiri dari orang-orang tua yang sangat kaya dan... sangat sakit," Arkan menunjukkan sebuah data medis yang sempat ia curi dari laptop Adrian di hutan. "Mereka mendanai Proyek Chimera bukan untuk tentara, tapi untuk diri mereka sendiri. Mereka mencari 'Elixir' untuk memperpanjang usia. Jika aku bisa membuktikan bahwa obat itu adalah racun yang akan membunuh mereka lebih cepat, aku bisa menghancurkan koalisi mereka dari dalam."

Keesokan malamnya, sebuah limosin hitam menjemput Arkan. Ia menolak membawa senjata. Ia hanya membawa tas medisnya dan sebuah tablet berisi data penelitian yang telah ia sempurnakan bersama Aisyah selama di perbatasan.

Pertemuan diadakan di griya tawang sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Di sana, tujuh orang pria dan wanita lanjut usia duduk mengelilingi meja bundar. Mereka tampak rapuh, namun otoritas di mata mereka sangat mengerikan.

"Arkan Xavier," salah satu dari mereka, seorang wanita bernama Madam Vora, berbicara.

"Ayahmu berjanji bahwa Proyek Chimera akan memberikan kami keabadian. Tapi kau justru menghancurkan laboratoriumnya."

Arkan berdiri di tengah ruangan, tenang dan berwibawa. "Ayahku membohongi kalian. Adrian Baskara membohongi kalian. Proyek Chimera bukan tentang keabadian. Itu adalah tentang percepatan degenerasi seluler yang disamarkan dengan stimulan saraf. Kalian merasa kuat untuk sesaat, tapi organ dalam kalian sedang membusuk dua kali lebih cepat."

Arkan membuka tabletnya, memproyeksikan data biokimia di dinding kaca ruangan itu. "Lihat hasil autopsi para subjek di Kalimantan. Jantung mereka meledak setelah enam bulan penggunaan. Apakah ini yang kalian inginkan? Mati dengan kekuatan palsu, atau hidup lebih lama dengan pengobatan regeneratif yang jujur?"

Suasana ruangan menjadi sangat dingin. 'The Elders' saling berpandangan. Ketakutan akan kematian adalah satu-satunya hal yang lebih kuat daripada keserakahan mereka.

"Apa tawaranmu, Arkan?" tanya seorang pria tua dari sudut meja.

"Bubarkan 'The Elders'. Serahkan seluruh aset ilegal kalian ke Yayasan Malik untuk pembangunan rumah sakit riset. Sebagai gantinya, aku dan Aisyah akan memimpin tim medis untuk memberikan terapi regeneratif yang legal dan aman bagi kalian. Kalian akan hidup sebagai warga negara biasa, bukan sebagai penguasa kegelapan yang selalu diburu waktu," Arkan memberikan ultimatumnya.

Madam Vora tertawa kecil. "Kau sangat berani, Anak Muda. Tapi kau lupa satu hal. Kami memiliki tentara. Kami memiliki 'The Ghost'."

"The Ghost sudah tidak memiliki pemimpin sejak Julian ditangkap," Arkan membalas dengan senyuman tipis. "Dan sekarang... mereka bekerja untuk kebenaran."

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Leo masuk bersama Bimo dan sekelompok pria bertato 'The Ghost' yang tempo hari diselamatkan Aisyah. Mereka tidak membawa senjata, namun kehadiran mereka menegaskan bahwa loyalitas telah berpindah.

Setelah negosiasi yang alot selama berjam-jam, 'The Elders' akhirnya menyerah. Bukan karena mereka menjadi orang baik, tapi karena mereka sadar bahwa tanpa Arkan, mereka tidak memiliki masa depan medis. Mereka menandatangani kesepakatan pembubaran organisasi rahasia tersebut dan pengalihan dana triliunan rupiah untuk kemanusiaan.

Arkan keluar dari gedung itu saat fajar mulai menyingsing. Aisyah sudah menunggu di bawah, bersandar di mobil mereka.

"Bagaimana?" tanya Aisyah waswas.

Arkan menarik napas dalam, membuangnya perlahan. "Selesai, Aisyah. Benar-benar selesai. Tidak ada lagi Xavier Senior, tidak ada lagi Elders. Hanya ada kita."

Arkan memeluk Aisyah erat-erat di tengah trotoar Sudirman yang mulai ramai oleh orang-orang yang berangkat kerja. Mereka adalah dua orang asing di tengah kerumunan, namun mereka adalah pemenang dari perang yang tak pernah tercatat di buku sejarah.

Enam bulan kemudian, aula Universitas Indonesia dipenuhi oleh wisudawan. Arkan Xavier berdiri di barisan depan. Saat namanya dipanggil, tidak ada lagi bisikan tentang "Sang Serigala". Yang ada hanyalah tepuk tangan meriah.

Profesor Darmono menjabat tangannya erat. "Selamat, Dokter Arkan Xavier. Gunakan pisaumu dengan bijak."

Arkan turun dari panggung, disambut oleh Aisyah yang sedang menggendong bayi laki-laki mereka yang baru berusia tiga bulan. Di belakangnya, anak-anak panti bersorak gembira.

"Kita mulai dari sini, Dokter Aisyah?" tanya Arkan sambil mencium kening istrinya.

Aisyah tersenyum, matanya berbinar penuh harapan. "Kita mulai dari sini, Dokter Arkan. Di bawah cahaya yang tidak akan pernah padam lagi."

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!