NovelToon NovelToon
Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Dark Romance
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.

Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.

Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.

Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayo Ikut

Saat Morenzo sudah keluar kamar, Livia hampir saja merobohkan dirinya ke lantai yang dingin jika saja tidak ada sepasang tangan sigap dari dua orang pelayan wanita yang menahannya. Persendian kakinya terasa seperti jeli, tidak mampu menumpu beban kenyataan yang baru saja menghantamnya.

Dunia yang ia kenal baru saja runtuh dalam satu malam, dimulai dari perlakuan sang tunangan yang menyakitkan dan kini berakhir dalam sangkar emas seorang predator bernama Morenzo.

"Nyonya, tolong kuatkan diri Anda. Saya adalah Lucia. Kami diperintahkan untuk menyiapkan segala kebutuhan Anda."

Livia menjauhkan tangannya dengan gerakan refleks, "Aku bisa sendiri. Tolong, tinggalkan aku sendiri. Aku hanya butuh pakaianku kembali."

"Maafkan kami, Nyonya," pelayan satunya menyela sambil menunduk hormat, namun langkah kakinya tetap maju mendekat. "Pakaian lama Anda sudah dimusnahkan. Tuan Morenzo tidak ingin ada satu pun benda dari masa lalu Anda yang masuk ke dalam kediaman ini. Ini adalah perintah mutlak. Jika kami gagal melayani Anda, nyawa kami yang menjadi taruhannya."

Mendengar kata nyawa, Livia tertegun. Ia menatap wajah-wajah tanpa ekspresi di hadapannya. Ia menyadari bahwa di rumah ini, penolakan bukan sekadar ketidaksopanan, tapi merupakan ancaman bagi orang lain. Dengan napas yang berat, Livia akhirnya pasrah. Ia membiarkan mereka membimbingnya ke ruang rias yang lebih luas dari kamar lamanya.

Sambil para pelayan itu dengan cekatan mengeringkan rambutnya dan memakaikan gaun yang jatuh sempurna di tubuhnya, Livia memberanikan untuk bertanya.

"Dimana ponselku? Aku perlu menghubungi keluargaku. Mereka pasti mencariku."

"Semua barang pribadi Anda ada pada Tuan Morenzo, Nyonya," jawab Lucia singkat sembari menyisir rambut panjang Livia dengan lembut.

Livia menghela napas frustrasi. Rupanya segala akses miliknya ke dunia luar telah diputus secara paksa. Namun ia tidak boleh menyerah. Jika ia ingin keluar dari sini, ia harus berhadapan dengan sumber masalahnya. Ia harus meminta ponsel itu kembali, apa pun risikonya.

Setelah penampilannya dianggap sempurna oleh para pelayan, Livia digiring keluar kamar. Ia melihat sekitar hingga lupa untuk berkedip.

Livia akhirnya dibawa menuju sebuah area terbuka di bagian belakang mansion, semacam paviliun luas yang menghadap ke arah hutan. Mata Livia membelalak ngeri.

Di sana, Morenzo duduk dengan santai di sebuah kursi, sementara di hadapannya terdapat seorang pria bersimbah darah terikat di kursi kayu. Salah satu anak buah Morenzo baru saja melayangkan pukulan keras ke rahang pria malang itu. Suara tulang yang retak terdengar jelas.

"Logistik di pelabuhan adalah urusanku. Dan kau mencoba memotong jalurku?" Seru Morenzo dengan nada dingin.

Livia membalikkan badannya dengan cepat, tangannya membekap mulut untuk menahan mual. Pemandangan itu terlalu brutal. Ia merasa ingin lari kembali ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Namun suara berat langsung membekukan niatnya.

"Kau sudah rapi, Livia. Mendekatlah."

Suara itu seperti perintah yang harus dipatuhi. Livia berbalik, wajahnya pucat pasi. Namun mau tak mau Livia melangkah mendekati Morenzo daripada bernasib sama seperti pria malang tadi.

"Kau tampak jauh lebih baik sekarang. Aku ingin tahu, apa yang kau ingin lakukan saat ini?" ujar Morenzo.

"Tuan Morenzo, saya ingin ponsel saya kembali. Saya harus menghubungi orang tua saya. Mereka akan lapor polisi jika saya tidak memberi kabar."

Morenzo mengangkat satu alisnya, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk seringai tipis. "Untuk apa? Kau ingin mengadu? Atau ingin berpamitan?"

"Untuk mengabarkan bahwa saya baik-baik saja. Tolong, hanya satu panggilan."

Secara mengejutkan, Morenzo merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel milik Livia. Ia menyodorkannya tanpa keraguan sedikit pun. Livia tertegun sejenak. Ia tidak menyangka akan semudah ini. Ia pun menerima ponselnya.

"Terima kasih," Livia segera berbalik hendak mencari sisi yang lebih privat untuk berbicara.

"Saya akan menyingkir sebentar untuk menelepon."

"Tetap di sini."

Suara Morenzo yang dingin menghentikan langkah Livia. Wanita itu menoleh, "Ini pembicaraan pribadi dengan orang tua saya, Tuan."

"Di rumah ini, tidak ada yang pribadi bagiku. Bicaralah di sini. Sekarang."

Livia merasa terdesak. Ia mencari celah untuk berkelit. "Tapi mereka akan curiga jika mendengar suara bising atau jika saya tidak bisa bicara bebas."

Klik.

Suara kokangan senjata api terdengar serempak. Livia membeku. Empat anak buah Morenzo yang tadinya berdiri diam kini telah mengarahkan moncong senjata mereka tepat ke arah kepala Livia. Mata mereka dingin, tidak menunjukkan keraguan sedikit pun untuk menarik pelatuk jika sang tuan memberi perintah.

Livia menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.

"Lakukan sekarang, atau ponsel itu akan menjadi barang terakhir yang kau pegang."

Livia menarik napas dan mulai mendial nomor rumah orang tuanya. Ia menempelkan ponsel itu ke telinga, sementara matanya terus menatap moncong senjata yang mengincarnya.

"Halo? Mama?" suara Livia terdengar kaku saat panggilan diangkat.

"Livia! Sayang, kau di mana? Kenapa ponselmu mati semalaman? Kami sangat khawatir!" suara ibunya terdengar cemas dari seberang sana.

Livia melirik Morenzo. Pria itu memperhatikannya dengan intensitas yang mengerikan. Livia yang tadinya ingin berteriak meminta tolong dan meminta dijemput, kini harus menelan semua kata-kata itu. Nyawanya berada di ujung pelatuk.

"Ma, aku baik-baik saja. Maaf, ponselku kehabisan baterai dan aku menginap di tempat teman. Hujan sangat deras semalam."

"Syukurlah. Jangan membuat kami takut, Livia. Bagaimana dengan persiapan pernikahanmu besok? Apakah semuanya sudah beres? Axel bilang dia sedang mengurus sesuatu, tapi suaranya terdengar aneh."

Mendengar nama Axel, hati Livia berdenyut nyeri, namun ia segera menekan perasaan itu. Ia melihat Morenzo melangkah mendekat, jarinya memberikan kode agar Livia segera mengakhiri pembicaraan.

"Semua sudah rapi, Ma. Semua persiapan sudah selesai. Ibu tidak perlu khawatir. Aku akan mengabari lagi nanti. Aku mencintai kalian."

Livia langsung mematikan sambungan telepon sebelum ibunya sempat bertanya lebih lanjut. Ia merasa dadanya sesak karena telah membohongi orang tuanya, tapi ini adalah satu-satunya cara agar mereka tetap aman.

Morenzo berjalan mendekat ke Livia hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Morenzo tersenyum simpul.

"Jangan menakutinya berlebihan," seru Morenzo kepada para anak buahnya.

"Baik, Tuan!" seru mereka serentak.

Seketika para anak buahnya menurunkan senjata mereka dan kembali ke posisi siaga semula. Livia mengembuskan napas lega yang panjang, pundaknya yang tegang sedikit melonggar, meski ketakutan itu belum sepenuhnya hilang.

Jemari Morenzo mulai menyusuri pipi Livia, menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinganya. Sentuhan itu membuat Livia ingin menarik diri, namun ia tahu itu hanya akan memicu kemarahan sang mafia.

"Rupanya kau ingin menikah ya, Livia? Ibumu tadi bertanya tentang persiapan pernikahan. Jadi, beri tahu aku... siapa pengantin prianya?"

Livia terdiam sejenak. Pikirannya berputar cepat. Jika ia menyebut nama Axel, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Morenzo. Jika ia mengatakan yang sebenarnya bahwa pertunangannya telah hancur, Morenzo akan memiliki kendali penuh atas harga dirinya.

Livia menatap mata gelap Morenzo. Ia tahu hanya ada satu jawaban yang akan menjamin keselamatannya di rumah ini, setidaknya untuk saat ini. Ia harus memainkan peran yang telah dipaksakan padanya.

"Pengantin prianya adalah Anda, Tuan Morenzo."

Morenzo tertawa.

"Jawaban yang sangat tepat, Nyonya Morenzo. Ayo ikut aku. Kita punya banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menyambut dunia yang akan segera mengetahui siapa pemilikmu yang sebenarnya."

Kenapa aku jadi berurusan dengannya? Kesalahan berat apa yang sudah perbuat? Batin Livia menjerit. Ia bingung kenapa bisa bersinggungan dengan sosok Morenzo yang sangat dihindari orang-orang.

Livia mengikuti langkah Morenzo dengan perasaan campur aduk. Ia telah memasuki sebuah permainan berbahaya di mana taruhannya adalah kebebasannya sendiri. Tapi karena ia tak lagi memiliki arah, biarkan saja diri ini berada di belenggu seorang mafia. Begitu pikir Livia.

Bersambung.

1
Tevina Anggita
lanjuttt🤣🤣💪
aleena
Saya Baru tau mallah
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭
Tevina Anggita
lanjutt💪
〈⎳ FT. Zira
sekerang jijik,, sebelumnya ngejar🤧
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: munafik sih si axel.
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
kann dugaanku bener🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
vitamin subur mungkin🤭
〈⎳ FT. Zira
mana bisa gitu Livi/Facepalm//Facepalm/
Dewi Payang
sakit memang kalo dianggqp gak lwbih berharga dari harta🤭🤭🤭
Dewi Payang
dan sayangnya Axel gak jadi dpt warisan🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
lah emang bs gt?
Zenun: mbuh, mungkin pikir Livia bisa🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk apa itu puncaknya yah, apa kyk bukit teletubbies? 🤔
Zenun: kurang lebih segede gitu😁
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
seketat isi celananya si morenzo y liv
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: yah si livia ampe perih2 gt 🤣🤣
total 2 replies
Dewi Payang
11 12 si daddy sama anaknya🤭
Zenun: betul tu🤭
total 1 replies
Dewi Payang
Biar kagak malu dudukan ajanAxel sama Elenan🤣
〈⎳ FT. Zira
mungkin Livi pernah nyelametin morenzo🤔
Zenun: iyeu keuh?
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
sampe gak sadar gimana itu
〈⎳ FT. Zira: antara tidur terlalu nyaman atau emang senuhannya yg gak berasa..ehh/Silent//Silent/🤣
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
morenzo mungkin lagi anuu🤭
Zenun: anu apa nih😁
total 1 replies
aleena
bagian yang mana morenzoo
apakah Livia pernah menolongmu
Zenun: bagian yang paling sensitif dari Morenzo, gak sengaja di sentuh Livia
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
dirimu gak kelihatan El🤣🤣
aleena
🤣🤣kau hadir dengan penuh kebohongan, sekarang rasakan
betapa sakitnya diabaikan dan di lupakan🤭🤭
Zenun: uhuuuy, udah mulai ngerasain dicuekin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!